10 Hal Yang Membuat Blogger Digunjingkan

Aha! Ini postingan bikin baper gak, ya? Boleh baper boleh enggak deh, tergantung sudut pandang masing-masing aja kok. Benarkah blogger sering digunjingkan? Ya, kehidupan sosial masyarakat online memang selalu riuh dan sulit menutupi sesuatu. Segalanya bisa menjadi viral tanpa diduga, termasuk bisik-bisik tetangga. Sebagai penulis yang juga senang ngeblog, saya tentu juga banyak bergaul dengan para blogger dari berbagai komunitas. Mulai dari zaman ngeblog di Mutiply tahun 2005, sampai mulai serius memperhatikan perkembangan blogger sejak tahun 2014, membuat saya iseng-iseng mencatat apa saja yang membuat para blogger sering dipergunjingkan, baik oleh sesama blogger ataupun oleh pihak lain.

Oke, kita mulai ya, Gaes!

Apa saja 10 hal yang membuat  blogger digunjingkan?

1. Pemburu Goody Bag

Memangnya salah? Enggak sih, siapapun berhak memburu sesuatu yang diinginkannya, memburu mantan pun kalau dia masih jomblo mah boleh-boleh aja, apalagi cuma goody bag. Nah kenapa blogger dibicarakan karena masalah ini? Penyebabnya tak lain adalah karena ada sekelompok orang (blogger dan non blogger) yang melihat para blogger begitu berhasrat mendapatkan goody bag di setiap acara. Padahal isinya kadang cuma buku agenda plus pulpen. Sampai-sampai gak malu menagih ke panitia jika ia gak kebagian goody bag.

Emangnya itu memalukan? Tergantung orangnya juga sih, jika dia merasa itu hak yang harus dia ambil dan dia gak mau pulang tanpa membawa goody bag ya wajar kalau dia menagih. Dan bagi dia, dapat goody bag saja sudah senang kok, sudah merasa waktu dan tenaganya terbayar untuk mendatangi sebuah acara. Mereka merasa mengeluarkan ongkos, “Masa pulangnya tangan kosong?”

“Kan dapat ilmu banyak biasanya di setiap acara.”

“Tapi kan yang mengundang itu brand, kita sudah bantu meramaikan, masa gratisan?”

Kira-kira begitu dialognya. Hehe, jadi sama-sama memaklumi saja.

2. Sarana Promosi Murah(an)

Kenapa ini jadi salah satu topik perbincangan juga? Karena standar setiap blogger berbeda. Bagi sebagian blogger, dibayar murah untuk menulis sebuah artikel promosi sudah syukur dari pada gak dibayar sama sekali. Namun bagi sebagian blogger, ini bisa merusak pasar blogger profesional. Meski pihak brand memilih blogger karena biayanya lebih murah dibanding membayar seorang artis, tapi blogger juga ogah dicap murahan. Lalu mana yang benar? Sama saja sebenarnya.

Kedua tipe blogger ini punya alasan sendiri kenapa yang satu mau dibayar murah dan yang lain merasa perlu memasang tarif tertentu. Ini kembali pada kondisi masing-masing, dimana ada blogger yang sudah bekerja lama, dan ada yang masih baru. Dimana ada blogger yang berkantong lumayan tebal (karena punya pekerjaan lain misalnya) dan ada juga yang ekonominya kepepet, mengandalkan hidup dari ngeblog sementara blognya sendiri masih dihargai murah oleh pihak brand. Jadi intinya dia tahu diri hehe…

3. Hutang Liputan Menumpuk

Nah, apa lagi ini? Biasanya di setiap kegiatan yang diikuti para blogger ini, mereka dituntut untuk menulis hasil kegiatan tersebut di blog. Ini sudah berlaku umum. Ngapain orang mengajak dan mengundang blogger kalau bukan untuk ditulis di blognya? Kalau cuma mau heboh dan seru-seruan ya mending ngundang supporter Jak Mania sekalian pasti lebih heboh dan seru. Dan bukankah setiap kali mengundang selalu menyantumkan alamat blog? Buat apa? Buat di-follow oleh pihak brand, gitu? Bukaaan! Kamu geer 😀

Pihak pengundang sudah pasti memperkirakan jumlah artikel yang akan memuat kegiatan mereka, sesuai dengan jumlah blogger yang hadir. Sementara sebagian blogger ada yang malas menulisnya atau menunda-nunda dengan berbagai alasan. Alhasil, menumpuklah PR liputan yang harus ditulis. Apa penyebabnya? Penyebab terbesar adalah banyaknya event blogger yang bisa diikuti dan mereka bernafsu untuk mengikuti banyak event karena berharap dapat banyak benefit dari kegiatan tersebut. Sementara di sisi lain kemampuan menulis masih terbatas sehingga akhirnya jadi menumpuk dan lewat tanggal yang ditentukan. Apalagi begitu tahu gagal dapat doorprize, gagal menang live tweet dan sebagainya, makin malas deh menulis liputannya.

4. Rendahnya Attitude

Ini juga jadi persoalan tersendiri di kalangan blogger. Sikap, tingkah laku di tempat acara yang mereka ikuti seringkali membuat malu rekan sesama blogger. Mulai dari menyomot makanan seenaknya, memotret seenaknya, merebut doorprize, datang tak diundang (jadi inget jelangkung), membatalkan kepesertaan secara mendadak karena bentrok dengan kegiatan blogger lain (yang lebih ia sukai tentunya) atau menanyakan sesuatu langsung ke panitia padahal seharusnya ia bertanya pada koordinatornya. Jadi peserta seharusnya tahu SOP, jika mereka datang melalui seorang koordinator maka sebaiknya menanyakan segala sesuatu melalui koordinator. Jangan main serobot ke panitia. Kecuali jika datang perorangan, silakan saja langsung ke panitia. Jangan justru membuat malu koordinator.

Seorang blogger pernah menulis tentang hal ini di blognya dengan menyebut istilah ‘blogger bodrex’ dan tulisan ini viral. Ia pun menuai komplain dari banyak blogger. Padahal apa yang ia sampaikan di artikel itu ada benarnya lho, dan seharusnya dijadikan bahan untuk introspeksi diri. Kalau setiap kritikan kita hadang dengan bully-an, kapan para blogger akan dewasa? Kapan kasus-kasus memalukan bisa diperbaiki? Yang ada kita akan terus mengulang-ulang kejadian yang sama. Ya, mungkin gaya bahasanya yang terasa cukup ‘menampar’ sehingga akhirnya menuai cemooh dari para blogger lain. Namun kita juga perlu mengubah cara kita merespon sesuatu, jangan kelewat agresif sehingga lupa mencerna dengan baik. Sebab cara merespon sesuatu ini juga bagian dari attitude di media sosial. Ketika orang kita cap salah, bukan berarti lalu kita boleh membalasnya dengan cara yang tidak elok.

Tapi semua bisa dimaklumi sih, karena blogger gak dikasih materi tentang attitude, kalaupun ada itu jarang. Mereka hanya dijejali materi SEO, cara nambah follower, cara menulis kalimat promosi dan segambreng tutorial blogging. Betul apa betul?

5. Pengutil

Emangnya ada? Ternyata ada. Mulai dari mengutil makanan pakai kresek, mengutil voucher belanja, mengutil goody bag yang kebetulan bersisa, sampai mengutil gadget dan uang sesama blogger. Saya sih gak melihat tentunya, tapi ini juga jadi bahan gunjingan di kalangan blogger. Jadi kemungkinan besar ini memang terjadi. Namun yang perlu diingat oleh para blogger adalah bahwa jika ingin kegiatan atau profesi sebagai blogger berumur panjang, maka buanglah jauh-jauh sifat buruk ini. Karena ketika sudah masuk black list maka kita akan ditinggalkan. Kalaupun kita diajak, mungkin hanya untuk memenuhi kuota, itupun membuat orang jadi berjaga-jaga, khawatir barangnya ada yang hilang saat duduk dekat kita. Parah kan efeknya?

6. TTM dan CinLok

What??? Gak usah kaget, ini hal biasa kok. Ketika dua orang berlainan jenis sering ikut kegiatan bareng, ya kalau lama-lama tumbuh rasa suka wajar dong. Namanya juga manusia. Cinta bisa tumbuh di mana saja. Kalau mereka sama-sama jomblo mah biarin aja, syukur-syukur berakhir di pelaminan seperti tetangga saya yang entu hehe… Masalahnya adalah ketika dua insan ini (atau salah satunya) sudah terikat pernikahan, sering jalan bareng, dikhawatirkan jadi fitnah baik bagi diri mereka sendiri (saling jatuh cinta) atau fitnah bagi orang lain (disangka selingkuh). Habis gimana, katanya teman tapi kok mesra. Kalau di depan pasangannya masih berani gak seperti itu? 😛

Emangnya ada yang begitu? Hehe, tentu gak perlu dibahas, karena kalau sudah ada yang menggunjingkan tentu ada yang tidak beres. Hanya perlu dijaga saja agar jangan sampai nama baik blogger tambah tercemar karena kasus segelintir orang seperti ini. Media sosial ini penuh mata yang bisa dengan jeli mengamati tingkah laku kita, orang bisa menilai mana yang wajar dan mana yang tidak wajar. Kita orang Timur pasti punya tata krama yang perlu dijaga juga agar tidak menimbulkan pergunjingan. Jangan sampai blogger dinilai tak punya rambu-rambu dalam bergaul, bisa bebas begitu saja kumpul sana kumpul sini, bepergian apalagi sampai menginap bareng di suatu tempat dengan alasan pekerjaan. Wow! Ehm, kayaknya saya bakalan banyak dijapri nih habis ini 😀 Jadi tetap jaga sikap dan norma-norma, inget, kita masih di Indonesia, Bos!

7. Blogger Instan

Harus diakui dunia perbloggeran ini cepat sekali bertumbuhnya. Banyak blogger baru bermunculan. Bagus sebenarnya. Namun yang disayangkan serta jadi perbincangan adalah sebagian dari blogger-blogger baru ini (inget, gak semua lho, ya) ingin yang serba instan. Melihat blogger senior tampil keren dengan berbagai produk endors, mereka juga kepengen. Melihat blogger senior dapat hadiah dan bayaran mahal, dia juga ngiler. Namun mereka gak bisa sabar. Gak mencoba setahap demi satahap. Maunya begitu 3 bulan punya blog, langsung dapat berbagai job. Mereka disebut blogger instan oleh para seniornya. Kamu boleh tertawa untuk yang satu ini. Saya pernah juga iseng-iseng mengecek blog beberapa blogger, asli baru 3 bulan dan isinya review semua. Gak dosa juga sih, karena cita-citanya bukan jadi dokter, melainkan mau jadi endorser dan reviewer 😀

Tapi perlu dicatat juga, para senior yang sudah ngetop-ngetop itu memulai karir mereka tidak dengan cara instan. Mereka memulainya dari kecintaan terhadap blog dan dunia tulis-menulis. Gak percaya? Silakan tanya Haya Aliya Zaki, Mira Sahid, Hazmi Srondol (Ada yang gak kenal mereka? Kenalan dulu gih!). Kalau mereka gak cinta menulis, mustahil bisa jadi seperti sekarang. Atau sebutlah blogger terbaik Indonesia seperti Maxmanroe, Medhy Aginta Hidayat, Raditya Dika (ini bukannya komika?), Trinity dan lain-lain, instankah cara mereka jadi blogger berpanghasilan wah? Kata Tom Cat: No! No! No!

Jadi belajarlah dengan sabar, jangan gopoh-gopoh pengen jadi sesuatu. Nikmatilah proses jadi blogger. Cobalah menulis 10 artikel hasil olah pikiranmu sendiri (non sponsor) dalam satu bulan. Kebanyakan? Oke, 5 artikel saja sebulan. Lakukan itu secara rutin selama 6 bulan saja. Sanggup? Itu semua adalah latihan yang akan membuat kualitas tulisan kita cepat berkembang. Ini juga latihan agar kelak tidak punya banyak PR seperti blogger di point nomor 3. Semua perlu dipelajari secara bertahap dan sabar, tidak bisa instan. Hidup ini adalah proses dan pengalaman dalam berproses itu mahal nilainya, lho. Rugi jika melewatkannya dan memilih potong kompas. Kalau masih gak percaya, tanya Ria Ricis deh bagaimana capeknya bikin video-video konyol hehehe…

8. Blog Penuh Review Produk

Sudah nulis banyak di blog kok masih diomongin juga? Hehe, jangan sewot. Semua pasti ada hikmahnya. Kenapa ada yang nyinyir melihat blog penuh sponsor? Karena pembaca kita yang bukan blogger sering mempertanyakan, tulisannya kok berisi promosi semua? Mana yang berupa ide dan hasil pemikiran dia sendiri? Ingat lho, Gaes, pembaca blog kita itu bukan cuma blogger. Kita punya ribuan teman di media sosial yang kita harapkan membaca blog kita, bukan? Kita senang kan kalau blog kita ramai pengunjung? Yakin semuanya blogger? Pasti enggak kan?

Dan tidak semuanya suka membaca tulisan berbau promosi, kadang mereka juga ingin membaca sesuatu yang memang ‘gue banget’ bukan berbau sponsor. Jadi sebaiknya jangan melulu menulis tentang job review, selingi dengan hal-hal lain yang merupakan hasil olah pikir kita, hasil pembelajaran kita dan hasil perenungan kita misalnya. Biarkan pembaca blog juga mengenal kita, tak melulu mengenal produk yang kita promosikan. Atau bisa juga diselingi dengan tutorial blog, tutorial desain, tips menulis dan sebagainya, jika kita memang punya ilmunya. Pembaca blog kita pasti lebih senang membacanya.

9. Oportunis

Apalagi ini? Ini adalah jenis manusia yang dalam pikirannya hanya bisa fokus pada keuntungan pribadi dan enggan berbagi. Seorang opportunis selalu punya motivasi pribadi ketika memasuki sebuah komunitas atau kelompok, pun ketika mengajak berteman seseorang. Jadi motivasinya berorintasi pada materi semata. Jeleknya, kaum opportunis ini tak peduli pada kerugian orang lain asalkan ia bisa mendapatkan keuntungan pribadi. Cara kerjanya tidak profesional. Di kalangan blogger pun tentu ada dan sempat jadi bahan bisik-bisik tetangga. Jadi matre boleh tapi opportunis jangan!

Salah satu contohnya sudah disebut di atas tadi, membatalkan ikut sebuah event karena mendadak dapat tawaran lain yang lebih menggiurkan. Banyakkah yang seperti itu? Entahlah, mungkin bisa ditanya pada blogger-blogger yang sudah biasa jadi koordinator. Ehm, saya pernah juga sih membatalkan ikut acara secara mendadak karena jalanan macet total dan saya sudah pusing duduk dalam taxi karena lamanya terjebak macet, akhirnya memutuskan balik pulang dan minta maaf pada koordinatornya. Padahal saya jarang lho mau daftar di event blogger, kecuali karena benar-benar tertarik dengan materi yang akan dibahas. Serius, saya baru dua kali ikut event. Pertama acara buka puasa bareng Brid, kedua saat mewakili Blogger Muslimah di sebuah acara bersama Safir Senduk. Kaum opportunis juga dengan gampang mendompleng dan menelikung teman sendiri. Kehilangan teman pun ia tak peduli, yang penting untung. Hati-hati, jangan kecolongan punya teman yang seperti ini 😀

10. Blogger Murni

Aih, apa pula ini? Ini bukan hal buruk sih, tapi juga jadi bahan perbincangan di sebagian blogger. Blogger murni ini bisa dibilang para blogger yang memang hanya senang menulis, menjadikan blog sebagai tempat menuangkan ide dan gagasan. Tidak tertarik menjadikan blognya sebagai tempat me-review produk. Inipun ada yang menggunjingkan? Ada dong. Mereka dianggap sok idealis, gak realistis, gak bisa memanfaatkan medianya untuk menambah penghasilan. Padahal setiap pilihan ada alasannya. Tidak semua orang menghargai karyanya dengan uang.

Saya membaca di beberapa blog bahwa blogger ini menolak jadi media sponsor karena tidak ingin blog mereka diintervensi, didikte dan diwarnai oleh pihak lain. Bagi mereka blog adalah milik pribadi yang isi dan pengelolaannya murni dari mereka sendiri. Meski banyak yang melirik blog mereka karena trafiknya yang bagus namun mereka tidak mau merusak pembacanya dengan berbagai ulasan produk sponsor. Ada juga yang bertahan sebagai blogger murni karena malas melihat blogger lain yang merangkap buzzer saling sikut-sikutan soal job, saling menjatuhkan, dan saling pecah kongsi (putus pertemanan) gara-gara job. Dan ketika mereka memutuskan jadi blogger murni, itu hak mereka yang perlu kita hargai.

Nah, 10 hal yang membuat blogger digunjingkan di atas tentu kita kembalikan ke diri masing-masing. Sengaja saya rangkum di sini biar jadi bahan introspeksi bersama, gak terus-terusan jadi gunjingan. Saya yang jarang ikut kumpul-kumpul dengan blogger aja bisa mengumpulkan 10 point ini, apalagi yang sering kumpul-kumpul, mungkin ada 100 aib blogger yang mereka ketahui 😀 Tapi yang perlu diingat, jangan sampai kita tidak sadar bahwa kita dipergunjingkan karena hal-hal buruk yang kita lakukan baik terhadap sesama blogger ataupun terhadap klien.

Baca juga: Yakin Mau Beli Follower?

Meskipun saya nyaris tidak pernah ikut event berbayar bersama blogger lain, saya bisa mengetahui fakta-fakta di atas dengan mudah. Kenapa? Karena dari sekian banyak jenis perteman saya di FB misalnya (kalangan pebisnis, karyawan, penulis, ibu rumah tangga, aktivis dakwah, pekerja media massa, blogger, trainer, sampai yang rada preman plus alay) maka yang paling berisik itu adalah kalangan blogger. Semua issue bisa terangkat ke permukaan dan menjadi viral. Mungkin karena kebiasaan nge-buzzer kali ya, semua diviralkan hehe…

Happy blogging!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


18 thoughts on “10 Hal Yang Membuat Blogger Digunjingkan

  1. hello fika

    hiks saya blogger baru loh Uni,, tapi saya ndak instant instant banget.. walau saya akui saya buat blog itu awalnya karena pingin ikut event, trus malah tulisan saya menang bareng salah satu blogger senior yang ditulis diatas, sebenarnya menurutku ndak papa kalau memang blogger baru itu menginginkan hal hal duniawi seperti yang disebutkan diatas, godiebag dll. yang pasti harus disertai kemampuan. istilahnya jangan seperti pungguk merindukan bulan. Sudah jelas jelas tulisan masih jelek, rada alay dan masih banyak typo disegala bidang. tapi sudah mikir mau macam macam dan hanya lihat yang indah indah saja.

    sejatinya masih banyak loh blogger blogger baru yang unyu unyu dan tetap dalam koridor ewuh pakewu ke blogger senior. Kita mah menghormati dan pingin belajar meniti karir di dunia blogger, walau mungkin ada yang bercita cita mau jadi blogger komersil, mereka tetap harus menjaga nama baik dan profesional blogger yang sudah susah payah dibangun oleh para pendahulu di dunia blogger.

    btw suamiku itu blogger murni. tiap dpt undangan event ga pernah hadir. pasti dikasih padaku xixixix..

    oh iya salam kenal ya uni… (hihihihi)

    Reply
  2. Chahakim

    Aku sering liat orang yg blognya full review. Dia share link blognya d fb. Nama produk yg direview muncul di judul postingannya. Mo ngeklik rasanya males. Liat d fb aj males 😒 tuh kan jd ngegunjing 🙊

    Reply
  3. Nona Nurul

    Assalamu’alaikum mbak novia, bagus banget ini tulisannya. bikin saya jadi menyelami dramanya dunia perblogan, udah kayak dunia seleb ya, hihi. sejak baca tulisan mbak langit yang tulisannya tentang ini juga bikin saya tertarik sama isu isu kayak gini. #halah. tapi blogger pemburu event tuh ada loh mbak, udah nulis jarang, sekali ada event paling kenceng larinya. Lah kok komen aku jadi panjang gini ya ? ::)

    Reply
  4. Belinda Kusumo

    Salam kenal Uni. Saya newcomer di era ini tapi akan selalu jaga nama baik pribadi (keluarga besar) juga kordinator event yg saya ikuti. Sebagai penghormatan saya kepadanya. Dahulu 2001-2005 blog saya Berbahasa Inggris lbh pribadi, sharing resep dan ilmu masak dan kuliner (traveling) tp sayang sdh lenyap dari ingatan tidak bs recovery krn yahoo mailku juga sdh dinonaktifkan oleh yahoo. Berbicara blogger bodrex saya pernah melihat blogger yg diundangan hanya diundang untuk satu orang tp bawa lebih. Semoga dalam list di artikel ini atau diartikel berbeda. Si koordinatornya mendapat pencerahan juga. Karena tahu blogger yang dibawanya hanya punya 2 artikel dalam blog dengan tulisan diartikelnya kurang dari 200 kata & punya etika tidak baik.

    Mohon bimbingan Uni. Agar saya bisa jadi blogger yg berintegritas. Terima kasih sebelumnya. Saya sdh add akunnya. Semoga diterima pertemannya di FB dan difolback di Twitter/IG.

    Reply
  5. Leyla

    Kenapa terlewat baca tulisan ini ya. Dibandingkan dgn penulis, gosip blogger memang cepat viralnya ya hehe. Masukannya bagus utk blogger2 pemburu goodiebag nih xixi

    Reply
  6. Ardiba

    Salam kenal Mbak. Tulisannya mengena banget. Amit2 deh punya teman pengutil dan penelikung. Mudah2n nggak ya mbak. Merugikan n mempermalukan citra blogger yes.

    Reply
  7. UB

    Ada lagi uni, yang tulisannya masih alay dan gak sesuai EYD maupun KBBI, kata tidak baku, dsb seperti blog saya juga ada yg menggunjing lho. katanya “Males banget sama blogpost yg alay dan tulisannya acak-acakan, baru baca paragraf pertama langsung close tab.”
    hihihi

    Reply
  8. Rebellina

    Aku beberapa kali coba ikutan event blogger. Sepertinya aku enggak cocok dan mantap memutuskan hanya ikut event blogger yang sesuai kata hatiku. Dan ada tawaran nulis postingan berbayar, tapi kok ya gimana.., enggak sreg aja. Rasanya yang datangnya enggak dari hati, aku susah nulisnya. Sekarang aku coba aktif menulis, tapi menjauh sejenak dari review-review sekedar dapat goodie bag atau uang. Aku lebih memilih yang membuat hatiku menyetujui apa yang ingin kutulis, sehingga nulisnya juga lancar. Tapi, ini pendapatku pribadi.

    Reply
  9. Liswanti

    Nah saya sendiri banyak revie, tapi untungnya 50% tulisan pribadi dan yang teratas adalah tulisan pribadi juga.
    Nah cinta lokasi tuh banyak banget mba.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *