212: The Power of Love

Akhirnya bisa juga nonton film 212 The Power of Love. Bukan di Jakarta seperti rencana semula tapi di Cirebon. Bukan ngambek karena kehabisan tiket mulu tapi memang ada tugas negara ke Cirebon. Meskipun penonton lumayan banyak tapi gak kehabisan kayak di Jakarta. Luar biasa memang sambutan penonton, tiket sampai sold hingga di beberapa bioskop perlu penambahan layar.

Sejak awal tahu film ini diproduksi, saya sudah berniat nonton. Pengen tahu seperti apa sudut pandang yang akan ditayangkan terkait Aksi Damai 212 yang fenomenal itu. Maklum, saya tidak ikut dalam aksi tersebut, hanya membaca dan menonton saja. Apalagi melihat para pemainnya, lumayan mengundang rasa ingin tahu.

Mau menonton di hari pertama gagal karena tiket habis, di hari kedua saya yang gak bisa, akhirnya nonton juga di hari selanjutnya. Sempat agak excited juga karena ternyata animo masyarakat untuk menonton film ini luar biasa. Di sini saya berpikir bahwa spririt 212 yang telah membuat film ini diserbu. Mal tempat bioskop memutar film ini jadi penuh ibu-ibu berjilbab kayak habis pengajian. Pantas saya kehabisan tiket.

Lalu setelah menonton, apa kesan saya terhadap film ini?

Spirit Nasionalisme

Saya menangkap semangat atau spirit yang telah menjalar luas ke dalam jiwa kaum Muslim Indonesia. Spirit Nasionalisme saya menyebutnya. Sebab Aksi Damai 212 memang diikuti oleh semua kalangan Muslim tak peduli apa kelompoknya. Boleh percaya boleh tidak, Aksi Damai 212 juga diikuti oleh non Muslim dan mereka lah yang jadi saksi bahwa ini adalah aksi yang murni karena kecintaan terhadap agama, jadi mustahil akan menjadi aksi anarkis. Nah, film ini jadi terasa seperti sebuah reunian bagi peserta Aksi Damai 212. Aksi tersebut memang fenomenal, tak bisa dipungkiri telah menjadi semacam monumen persatuan ummat dalam membela agama mereka dan meneguhkan kembali semangat cinta NKRI.

Dalam film ini saya bisa melihat usaha untuk menonjolkan semangat tersebut. Bahwa Islam tidak anti NKRI, justru Islam sangat pro NKRI. Indonesia dulu diperjuangakan bersama tetasan darah para ulama, mustahil ummat Islam jadi anti NKRI. Saya sebagai seorang Muslimah juga meyakini itu, bahwa cinta tanah air adalah bagian dari keimanan itu sendiri.

Makanya perjuangan mengusir penjajah dari tanah air adalah jihad dalam Islam. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan negara pun termasuk bagian dari jihad itu sendiri. Jadi jangan berpikir jihad itu hanya berperang dan berperang saja. Jihad itu luas maknanya. Bahkan jihad yang paling besar dikatakan adalah jihad melawan hawa nafsu kita sendiri.

The Power of Love dipilih sebagai judul tentu untuk mengatakan bahwa kekuatan cinta terhadap agama akan memberi dampak luar biasa. Cinta yang melahirkan teror (apapun agamanya) bukanlah wujud cinta pada agama, mereka hanya cinta pada pemikiran dan diri mereka sendiri. Berharap menjemput surga tapi dengan cara yang batil. Itu bukanlah cinta pada agama. Karena cinta pada agama pasti melahirkan kedamaian dan kasih sayang.

Penokohan yang Pas

Film 212 The Power of Love ini menurut saya memiliki tokoh dan penokohan yang bagus. Saya kepo juga dengan dipilihnya Fauzi Baadila sebagai pemeran utama. Dan setelah melihat filmnya ternyata Fauzi memang cocok. Berkali-kali saya tersenyum melihat aktingnya, dialognya bersama tokoh yang lain dan karakternya dalam film ini, bisa diperankannya dengan baik. Saya rasa, inilah pertama kalinya saya suka dengan sosok Fauzi Baadila. Tokoh-tokoh lain pun tak kalah keren. Humaidi Abbas, seniman senior yang berhasil memerankan sosok Abah di film ini. Saya sangat salut, aktingnya luar biasa, dan ini adalah pertama kali saya melihat sosok beliau dalam film. Begitupun Hamas Syahid yang membangun karakter aktivis dalam perannya kali ini. Adhin Abdul Hakim yang kocak juga berhasil mencuri perhatian saya.

Meyda Sefira dengan peran gadis kampung pun tak kalah keren. Yang spesial tentu kehadiran Asma Nadia sebagai pemain, biasanya beliau adalah sosok di belakang layar, ternyata aktingnya oke juga, hehehe. Rony Dozer dan Echie Yiexcel yang non Muslim juga terbilang cemerlang akting dan penokohannya, saya suka. Buat saya, mereka sudah berada di posisi yang tepat untuk tokoh-tokoh yang mereka mainkan. Congrats deh pokoknya! Film besutan sutradara Jastis Arimba dan diproduseri oleh Helvy Tiana Rosa bersama Oki Setiana Dewi ini memang menyajikan sesuatu yang baru di dunia . Ada nama beken lainnya yang ikut mendukung film dan mempromosikannya di media sosial mereka, sebut saja Arie K. Untung, Dimas Seto, Tommy Kurniawan, Ria Ricis, Peggy Melati Sukma, dan lain-lain.

 

Pesan yang Disampaikan

Jelas film ini mengusung satu pesan bahwa ummat Islam mencintai agama mereka dan akan membelanya jika dihina, sebab itu adalah kecemburuan yang diperintahkan Allah kepada ummat Islam. Justru iman kita dipertanyakan ketika kita santai saja agama kita dihina. Namun melakukan pembelaan pun ada adabnya, tak boleh anarkis, tetap menjaga kedamaian dan kerukunan. Melalui film ini terlihat bagaimana kaum non Muslim tetap bisa beraktivitas karena Islam itu agama damai. Kalaupun ada oknumnya yang kasar (seperti salah satu tokoh di film ini) maka itu bukan berarti Islam mengajarkan kekerasan, itu kembali kepada personalnya masing-masing. Jangan memukul rata.

Jalan Cerita

Dari awal menonton saya merasa mulai menikmati film ini. Pengenalan tokoh utama, Rahmat (Fauzi Baadila) mulai diperlihatkan di sini, dengan pemikiran liberal dan buruk sangkanya terhadap Islam. Terus bergulir mengenalkan tokoh-tokoh lain. Konflik utama dalam film ini adalah masalah pemikiran dan sudut pandang terhadap Islam. Pemikiran si tokoh utama yang memandang Islam sebagai agama teror, agama bar-bar dan penilaian buruk lainnya yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan di media massa. Pemikiran ini ia dapat dari hasil pergaulan dan pendidikan barat yang dijalaninya. Juga didorong oleh masa lalu yang tak menyenangkan sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara ia dan ayahnya yang dia panggil Abah. Sepuluh tahun tak pulang, ia baru pulang ketika ibunya meninggal di Ciamis, kampung halamannya. Dan dimulailah adegan-adegan ‘menarik’ antara anak dan ayah yang berseberangan pemikiran tersebut. Sebenarnya kedua tokoh ini sama, sama-sama keras dalam prinsip masing-masing.

Sampai kemudian diceritakan Rahmat ikut dalam Aksi Damai 212 yang berangkat dari Ciamis menuju Jakarta dengan jalan kaki. Rahmat terpaksa ikut karena ayahnya ngotot ikut. Bujukannya agar sang ayah naik mobil saja bersamanya ditolak mentah-mentah. Dia hanya gak mau terjadi sesuatu pada ayahnya, baik dalam perjalanan maupun setelah sampai di Jakarta, sebab nanti dia juga yang ikut susah karena dia anak satu-satunya. Ia berkeyakinan aksi ini ditunggangi oleh suatu kepentingan, dibayar oleh sekelompok oknum politik. Selama perjalanan inilah kita bisa melihat adegan-adegan yang saya sebut ‘menarik’ tadi. Ada ributnya, ada sinisnya, ada khawatirnya dan ada lucunya. Termasuk adegan di kamar mandi yang memicu tawa dan terasa natural sekali, saya sangat menikmati saat ayah dan anak ini tertawa bersama, mentertawakan diri mereka sendiri. Inilah pertama kalinya mereka bisa terawa bareng.

Aksi Damai 212

Aksi yang dilakukan di Monas ini menggambarkan kekhawatiran kaum non Muslim termasuk teman Rahmat sesama jurnalis yang bernama Rara. Namun ketakutan itu akhirnya sirna ketika realitanya di lapangan berbeda. Ia justru diperlakukan dengan baik, diberi makanan oleh peserta aksi. Digambarkan juga sepasang pengantin yang akan menyeberang ke Gereja Katedral untuk pemberkatan pernikahan, mereka dibantu dan diberi jalan oleh peserta aksi yang ramai. Semua cerita ini tentu bukan sekadar karangan belaka, semua berangkat dari kejadian-kejadian nyata saat Aksi Damai 212 dulu.  Banyak kisah-kisah menarik dan mengharukan namun tentu tak semua diangkat dalam film ini. Setidaknya film ini ingin meluruskan kesalahpahaman orang terhadap aksi tersebut.

Penutup

Secara keseluruhan film ini menarik dan bagus. emosi yang dibangun pelan-pelan bisa dirasakan oleh penonton, termasuk saya. Saya yang biasanya suka mengamati hal-hal detil saat menonton, kali ini bisa mengikuti arus film ini tanpa terganggu. Saya menikmatinya.

Sedikit saja yang membuat saya agak lost. Sadarnya Rahmat akan pemikirannya yang salah terasa cepat dari perkiraan saya. Saya berharap sebelum kesadarannya muncul, ada adegan-adegan pengamatan dulu terhadap orang-orang di sekitarnya. Yah, semacam perenungan pribadi gitu, entah ke masa lalu atau pada adegan-adegan di sekitarnya yang menyentuh hati. Sebab sebelumnya dia baru saja bertengkar hebat dengan ayahnya di lokasi tersebut.

Nah seharusnya ada masa-masa cooling down dulu, sebab mengubah pemikiran seseorang yang sudah begitu mendalam tentu tak mudah. Padahal di adegan-adegan sebelumnya film ini sudah begitu sabar membangun emosi penonton hingga tak terkesan buru-buru. Sangat bisa dinikmati. Hanya di bagian akhir itu saja, saat Rahmat menemukan kesadaran dirinya menurut saya kurang tergali. Itu saja yang agak mengganjal di hati saya, selebihnya film ini keren menurut saya. Saya menikmatinya dan berharap bisa nonton sekali lagi di Jakarta. Semoga makin banyak film-film dengan bobot moral seperti ini. (NSR)

 

Attention!

Mungkin kamu juga tertarik membaca tulisan saya tentang usaha saya menjaga suami dalam mencari rezeki yang berkah? Silakan diintip di sini: 5 Syarat Rezeki yang Berkah. Agar sebagai istri kita tak hanya tau meminta dan menerima uang, kita juga harus melakukan sensor terhadap rezeki yang kita terima.

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *