3 Hal Yang Membuat Komunitas Jadi Tidak Asyik

Saya itu gak suka berorganisasi tapi suka berkomunitas. Komunitas yang saya ikuti lumayan beragam, mulai dari komunitas penulis, blogger, wisata, bisnis lokal, dan beberapa yang memang saya sukai lainnya.

Dari sekian banyak komunitas tersebut rata-rata bikin hepi. Karena di komunitas yang berkumpul adalah orang-orang yang se-hobby, se-passion. Beda sama organisasi yang anggotanya berkumpul bukan karena hobby tapi karena kepentingan organisasi. Di komunitas enaknya kita gak terikat dengan aturan ketat kayak organisasi. Namanya ngumpul karena hobi dan kesenangan, ya begitu. Kalaupun ada aturan ya cuma buat menjaga kekompakan komunitas saja sebenarnya.

Oke, buat yang masih bingung bedanya, saya coba jelaskan sedikit beda komunitas dan organisasi.

Komunitas yang berasal dari kata communitas bermakna ‘kesamaan’. Jadi yang berkumpul di dalam komunitas ini adalah orang-orang yang memiliki kesamaan terhadap hal-hal yang mereka sukai (hobby). Misalnya komunitas penulis, komunitas pelukis, komunitas motor gede, komunitas pecinta burung dan lain sebagainya. Komunitas tidak memiliki struktur organisasi dan tugas yang mengikat, semua disesuaikan dengan keinginan anggota.

Sementara organisasi, memiliki struktur dan tugas yang mengikat anggotanya. Memiliki tujuan organisasi yang jelas, terencana dan sistematis yang didukung oleh dana, sarana dan pola kerja yang terstruktur pula. Di dalamnya bergabung orang-orang yang belum tentu memiliki hobby atau kesenangan yang sama, namun memiliki tujuan yang sama yaitu mengikut pada tujuan organisasi. Misalnya organisasi politik, organisasi perusahaan, OSIS, BEM, organisasi kepemudaan dan sebagainya.

Kira-kira begitcu. Dari pengalaman saya berkomunitas, ada beberapa hal yang membuat anggota merasa gak nyaman dan akhirnya keluar dari komunitas. Mungkin bisa disimpulkan menjadi tiga point utama yang membuat sebuah komunitas jadi gak asyik. Ini sih menurut pendapat teman-teman yang saya tanya kenapa mereka keluar dari komunitas, serta yang saya rasakan sendiri.

Pertama: Ketua yang nge-bossy.

Jadi ketuanya merasa seolah-olah dia berhak mengatur seperti bos ngatur anak buah. Padahal kita ngumpul kan bukan buat dia, bukan digaji juga. Nah ketua yang nge-bossy inilah yang bikin anggota jadi malas. Mau levelnya seleb tingkat dewa sekalipun, sikap nge-bossy ini tetap saja menyebalkan dalam sebuah komunitas. Kita ikut komunitas buat hepi-hepi, bukan buat diperlakukan seperti karyawan. Ini yang sering tidak disadari oleh ketua atau petinggi sebuah komunitas.

Ia berpikir bahwa anggota yang bergabung adalah orang-orang yang butuh dia, bisa diatur dan diperintah sesuai keinginannya. Padahal para anggota dan pengurus komunitas sendiri adalah orang-orang yang tak dibayar, mereka bekerja secara sukarela demi membesarkan komunitas. Kalaupun kelak ada hasil yang didapat, maka itu adalah hasil kerja bersama, bukan semata kerjaannya ketua.

Istilah belagunya; Apalah arti ketua tanpa anggota, namun anggota tanpa ketua masih bisa cari ketua berikutnya 😀

Kedua: Aturan yang ketat.

Nah ini pengalaman saya banget waktu jadi mentor di sebuah komunitas kepenulisan X. Aturannya ketat banget, kalau ada anggota yang salah kirim postingan bisa di-suspend. Hahaha emangnya kita bisnis kemitraan pake di-suspend? Belum lagi aturan ini itu yang membuat anggota jadi merasa tidak bebas berekspresi. Ingat lho, kita berkumpul karena hobby, artinya untuk bersenang-senang. Untuk menyalurkan kesukaan kita, untuk berbagi dengan teman-teman yang sama passion-nya, dan untuk saling menyemangati. Aturan yang terlalu ketat hanya kan membuat komunitas menjadi lambat bergerak dan membuat anggota tidak enjoy.

Aturan yang biasa diterapkan dalam komunitas misalnya;

⊗Anjuran untuk berkata sopan

⊗ Larangan memosting sesuatu yang SARA, porno dan hoax.

⊗Tidak men-capture obrolan di grup dan menyebarkannya keluar.

⊗Tidak menjelek-jelekkan komunitas pada siapapun.

Nah, itu hanya contoh aturan-aturan yang berlaku umum. Untuk sanksinya bisa disepakati bersama, senyamannya anggota saja.

Ketiga: Obrolan SARA dan politik.

Nah ini yang sering juga bikin masalah antar anggota. Kalau ada anggota yang ngomongin topik tersebut, anggota lain ada yang sakit perut. Ada yang tersinggung dan nyolot. Ada yang mendadak alergi. Ujung-ujungnya berdebat gak ada endingnya. Dan komunitas pun jadi gak asyik lagi karena sudah terpecah-pecah. Di beberapa komunitas yang saya ikuti ini memang terjadi. Banyak akhirnya yang keluar.

Nah itulah tiga hal yang membuat komunitas jadi tidak asyik, ditinggalkan karena gak nyaman bagi anggotanya. Seharusnya sebuah komunitas diperlakukan sesuai fungsinya. Jangan sampai komunitas diperlakukan seperti organisasi. Punya visi dan missi tidak masalah meskipun komunitas tidak membutuhkan itu karena kembali ke penjelasan di atas, komunitas terbentuk karena hobby, maka jelas tujuannnya untuk mendukung hobby tersebut. Namun visi missi bisa dijadikan acuan saja agar komunitas memiliki arah yang jelas dan program-program yang dibuat juga mendukung kepada visi missi tersebut.

Tidak masalah juga sebuah komunitas punya aturan sendiri, namun aturan yang dibuat tentu bertujuan untuk membuat komunitas lebih nyaman, terarah dan mendukung kegiatan anggota dalam menjalankan hobby mereka. Bukan aturan yang mengikat dengan berbagai sanksi sebagaimana organisasi. Komunitas selayaknya membuat anggota merasa nyaman tanpa tekanan, serta berkembang tanpa paksaan.

Enjoy, Gaes!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


6 thoughts on “3 Hal Yang Membuat Komunitas Jadi Tidak Asyik

  1. Joni Delaroza

    Benar juga ya Bu Novi. Pada saya justru terjadi “tidak percaya diri” dan takut dibilang “malu-maluin, over, sok tau” dan diketawain blog saya. Padahal saya cukup banyak ide dan wawasan dan bisa menulis. Selama ini saya tidak ada yang fokus. Gonta-ganti terus. Karena sudah ada pencerahan oleh Bu Novi, kedepannya tentu empati komunitas lebih ditonjolkan. Buat orang senang dan bersahabat. Toh semakin mudah menjalin persahabatan di blog akan mendatangkan manfaat buat blogger.

    Reply
  2. Anis Khoir

    Benar sekali ya Uni, kalo di komunitas yg punya hoby sama kalo ngobrol bs nyambung
    Kalo dah sara memang ujung2nya bisa memutuskan tali silaturrahim

    Reply
  3. dewimariyana

    Bener banget, Uni. Kayak kominitas x yang saya ikuti. Ketuanya banyak aturan. Tanpa pikir panjang left dari grup

    Reply
  4. Munasyaroh Fadhilah

    Paling sebel kalau dalam komunitas asa yang bossy dan seenak sendiri. Kalau ketua sih wajar ajah krn kadang komunitas terbentuk karena ada dia, tapi kalau sama-sama anggota yang tidak memberi kontribusi apa-apa tentu bikin sakit hati sendiri

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *