Di Selubung Malam

26“Kakak, entah bagaimana nasibmu kini…” tanpa sadar bibir Saqnah berbisik mengenang kakaknya.

“Aku tidak tahu, Kak, apakah menjadi dedare toaq memang lebih menyiksa daripada memiliki seorang suami seperti Lalu Gerantang. Aku juga tidak tahu apakah kehilangan gelar denda itu lebih menghinakan dibanding caci maki seorang lelaki yang tiap malam tidur di samping kita. Aku sungguh-sungguh tidak tahu…” Suaranya berdesah pilu.

Butiran-butiran bening itu kian membanjir di pipinya. Menciptakan garis berkilau saat cahaya rembulan menerpanya.Tanpa disadarinya, sesosok tubuh telah berdiri di sampingnya. Saqnah terkejut, buru-buru menghapus air matanya. “Lika? Sedang apa kamu di sini, Nak? Kamu tidak tidur?”

Gadis itu hanya diam. Ditatapnya wajah setengah baya itu dalam-dalam. Sembilu itu terasa kian mengiris jantungnya. Wajah itu tak bisa membohonginya. Wajah yang tengah terluka, meski seulas senyum coba ditawarkannya pada Baiq Mandalika.

“Inaq…,” Gadis itu menjatuhkan dirinya perlahan, bersimpuh di kaki ibunya. Perlahan pula kepalanya rebah di pangkuan Saqnah, pangkuan yang telah belasan tahun menghangatkan tubuhnya. “Biarkan saya menemani Inaq menangis malam ini. Di sini. Biarkan, Inaq…!” Suaranya serak, tertelan lara.

Saqnah menahan napas di dadanya, berharap air matanya tak segera berhamburan lagi demi mendengar kalimat itu. Perlahan tangannya mulai mengelus kepala Baiq Mandalika, mengurai rambut panjang gadis itu di sela-sela jari tangannya yang kasar karena banyak bekerja. Tiba-tiba ada cairan hangat mengaliri kain sarungnya, merembes menembus sampai ke kulit pahanya. Cairan yang ia pastikan adalah air mata putrinya.

Gadis itu menangis tanpa suara. Bahkan isak atau sedunya tak terdengar sedikitpun. Ia seperti menangis dengan ketulusan jiwa, seolah tak berharap siapapun menanggapi dukanya. Ia pun seperti ingin mengatakan pada ibunya bahwa tangisannya bukanlah sebuah ratapan, apalagi pemberontakan terhadap nasib yang menimpa. Tangisnya adalah cinta, cinta yang tak kan pernah mati untuk wanita yang telah melahirkannya. Ia seperti ingin berkata; Inaq tidak perlu menangis, sebab air mataku masih cukup banyak untuk mewakilinya…

Catatan:

Lahirnya novel ini dilatar belakangi perjalanan saya ke NTB pada bulan Mei 2003. Banyak catatan dan cerita menarik yang saya kantongi sepulangnya dari sana. Namun meskipun demikian, bukanlah hal yang gampang menyorot sesuatu yang berada di luar lingkungan keseharian kita. Saya tetap harus (sangat) berhati-hati dalam memilih persoalan yang akan diangkat menjadi konflik cerita. Unsur SARA yang begitu sensitif adalah pertimbangan terberat buat saya. Padahal bisa jadi inilah hal yang sangat perlu disorot, sekaligus sangat rawan pula untuk disinggung. Namun mungkin itulah ujian dan tantangan buat saya.

Meski lelah, saya sangat bersyukur karena novel ini mendapat apresiasi yang cukup menyemangati saya untuk terus menulis, terus belajar meningkatkan kualitas tulisan dan tak cepat puas dalam berkarya. Seperti yang ditulis Mas Joni Ariadinata pada kata pengantarnya, “Novia Syahidah telah berhasil mengajak pembacanya untuk tetap terpaku pada jalinan cerita yang tengah ia mainkan. Ditambah oleh kemampuannya mengemas cerita dengan baik maka novel ini lumayan memberi tambahan wawasan bagi para pembaca di luar Lombok untuk mulai mengenal Lombok. Muatan seperti inilah yang sesungguhnya justru dikehendaki oleh sebuah karya sastra. Ia tak hanya cukup mementingkan kemasan dengan komunikasi yang lancar dan ringan tapi juga mulai berpikir tentang isi atau muatan sebagai prasyarat bagi sebuah karya sastra yang bermutu.”

Alhamdulillah, meski banyak kekurangan disana-sini, novel ini dianugerahi penghargaan oleh Forum Lingkar Pena sebagai Novel Remaja Terpuji 2005.

Terima kasih untuk semua apresiasi pembaca semua. Semoga ia menjadi pelecut semangat saya untuk terus berkarya lewat tulisan. Amin. (V)