Hantu Sungai

2824Sambil tertawa-tawa mereka naik ke atas tanggul sungai dan menghanyutkan diri ke arah hilir. Rasanya asyik sekali ketika tubuh kecil mereka dibiarkan pasrah terlentang, dibawa arus sungai yang tidak begitu deras. Dan ketika sudah sampai di dekat kincir air, mereka akan segera berdiri dan kembali ke arah tanggul. Kincir air itu selalu mereka jadikan batas untuk menghanyutkan diri.

Tapi keceriaan mereka tiba-tiba buyar ketika melihat Neti hanyut ke arah semak belukar yang tadi diceritakannya sebagai tempat tinggal hantu sungai. Dan mereka semakin panik ketika melihat tubuh Neti mulai terseret ke arah semak belukar yang lebih rimbun.

“Tolong!” teriak Neti gelagapan. Ia rupanya baru sadar kalau arah hanyutnya keliru. Yaya dan Azimah berusaha mengejar, sementara Tary hanya tertegun cemas dekat tanggul.

“Tolooong! Aku ditariknya! Hantu itu menarikku!” Suara Neti penuh ketakutan.

Dan memang benar, tubuh Neti semakin terseret dalam. Ia berusaha menggapai-gapai semak di atasnya untuk mempertahankan tubuhnya agar tetap mengapung. Dan ketika pegangannya pada semak-semak itu terlepas, maka tubuhnya jadi kian jauh tertelan arus. Bahkan yang kini terlihat cuma kepalanya yang timbul tenggelam.

Catatan:

Novel anak pertama yang saya tulis dan sampai sekarang masih jadi satu-satunya buku anak saya. Cerita di dalamnya sangat lekat dengan keseharian seorang Novia Syahidah waktu kecil. Ya, saya mencoba mengenang, menggali dan memaparkan kembali pengalaman-pengalaman masa kecil yang asyik. Meski tak semuanya menggambarkan sosok saya, tapi ide ceritanya rata-rata diambil dari masa kecil saya di kampung halaman nun jauh di Payakumbuh Utara. Tepatnya di sebuah desa yang asri, sejuk dan indah. Padang Kandis terchintah! Alamaaaak… (V)