7 Langkah Menuju Poligami

Heboh lagi soal pelakor dan poligami di timeline media massa dan media sosial. Memang, topik yang satu ini seperti tak ada habisnya dibahas dan diulang dari waktu ke waktu. Meskipun buat saya agak terasa membosankan tapi rasanya saya perlu membuat sebuah catatan untuk topik ini di blog saya. Oya, sebenarnya antara pelakor dan poligami itu beda, gak bisa dipukul rata. Untuk pelakor, kita bahas lain kali ya, sekarang fokus ke soal poligami dulu.

Catatan ini saya beri judul manis: 7 Langkah Menuju Poligami.

Nah, apa sih 7 langkah yang perlu dilakukan itu? Kaum suami mungkin perlu merapat sedikit biar bisa memahaminya dengan baik jika memang Anda punya cita-cita mulia berpoligami tanpa polemik dan intrik-intrik.

Pertama

Didiklah diri Anda sendiri terlebih dahulu untuk siap berpoligami. Mendidik diri agar bagus dan rajin membaca Al Quran, membiasakan rutin sholat malam, puasa sunnah dan berbagai ibadah utama lainnya. Karena semua ibadah itu kelak akan sangat berguna dalam Anda menahkodai dua rumah tangga atau lebih. Karena Anda harus bisa mengendalikan emosi lebih dari lelaki beristri satu. Anda harus bisa menyelesaikan banyak masalah melebihi masalah lelaki beristri satu. Anda juga harus bisa mendidik istri-istri Anda secara terus menerus agar hati mereka tidak lemah di tengah jalan dan mundur dari kehidupan berpoligami.

Jika bacaan Al Quran saja masih berlepotan, ngajinya juga kadang inget kadang lupa, sholat malam bisa dihitung dengan jari seumur hidup, puasa sunnah jarang-jrang, apalagi kalo sholat lima waktu pun masih mencla-mencle, kadang di awal kadang molor bahkan tertinggal, entar dulu yaaa…! Anda masih kudu bersabar, masih harus banyak belajar untuk meraih cita-cita poligami yang mulia itu.

Kedua

Didiklah istri untuk siap dipoligami. Jangan cuma Anda yang siap, istri pun harus siap agar hidup berumah tangganya aman, nyaman dan bahagia hingga akhirat. Siapkan istri agar mau berbagi tugas dan bekerjasama dengan madunya, siapkan hati istri agar tak lagi lekat cinta dunianya. Karena hati yang masih lekat cinta dunianya akan sulit membagi sesuatu yang dianggap sebagai ‘milik’nya. Jika Anda kaum suami, mendidik istri saja jarang, hanya bisa ngasih uang belanja tapi tak mendidik hatinya, tak menguatkan iman dan agamanya, sebaiknya jangan dulu bercita-cita untuk poligami, ya. Karena mendidik satu istri saja belum bisa, bagaimana mendidik dua, tiga atau empat istri?

Ketiga

Pastikan secara finansial Anda memang sudah siap. Tak harus kaya raya, tapi setidaknya cukup untuk menghidupi lebih dari satu istri dan sekian anak dari para istri tersebut. Jika untuk menghidupi satu istri dan anak-anaknya saja masih ngos-ngosan, bagaimana menghidupi dua, tiga atau empat istri? Jangan dulu berpikir mau menolong perempuan lain, jika perempuan yang sudah mendampingi Anda selama ini saja masih belum ternafkahi dengan baik. Jatuhnya bukan menolong tapi malah menzalimi.

Keempat

Jangan terlalu sering berimajinasi atau berfantasi menikah dengan gadis belia atau janda semok. Khawatirnya nanti itu yang jadi pendorong Anda untuk berpoligami, sementara poligami yang Islami itu landasannya haruslah agama. Sama seperti memilih istri yang disarankan dalam Islam, utamakan agamanya, bukan body-nya. Menikahi seseorang karena nafsu tentu kelak kemudian hari akan terlihat juga akibatnya, baik bagi Anda pribadi maupun bagi istri Anda sendiri. Percayalah, secantik apapun perempuan yang Anda nikahi, jika agamanya buruk maka tetap saja dia kelak akan menyeret Anda pada kesusahan hidup dunia akhirat.

Kelima

Jaga pergaulan dengan perempuan yang bukan mahram. Ini penting agar alasan berpoligami bukan lagi “dari pada berzina” ya mending nikah aja. Harusnya bukan begitu, tapi memang dengan cara dan alasan yang benar. Kok bisa “dari pada berzina” alasannya? Artinya Anda sudah mendekati zina, sudah melampaui batas dalam bergaul dengan perempuan yang bukan mahram. Melampaui batas menurut Islam ya itu, mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Mendekati zina itu termasuk sering berduaan, berkumpul-kumpul dengan lawan jenis, ngobrol bareng, sampai curhat-curhatan. Kondisi ini mendekatkan kepada zina, dan ini dilarang oleh agama. Maka jargon “dari pada berzina” sebagai alasan untuk menikah atau poligami tentu alasan yang mengesankan pembenaran belaka. Tetap harus ada alasan yang lebih syar’i.

Keenam

Tidak sembunyi-sembunyi. Menyembunyikan pernikahan dari istri pertama tentu bukti salahnya cara yang ditempuh. Bukti bahwa Anda masih gagal meyakinkan dan mendidik istri untuk siap dipoligami. Bukti bahwa Anda kurang gentle dalam menjalani hidup. Bukti bahwa ego Anda masih lebih besar dibanding iman Anda. Terbayangkah oleh Anda jika pernikahan itu mampu Anda sembunyikan sampai puluhan tahun dan tiba-tiba anak Anda mengenalkan calon pendampingnya yang ternyata anak Anda juga dari pernikahan yang lain? Dahsyat lho akibat dari pernikahan yang sembunyi-sembunyi itu dan kasus seperti ini sudah banyak. Dan Islam jelas melarang menyembunyikan pernikahan karena khawatir mengaburkan silsilah keturunan.

Ketujuh

Terakhir, poligami itu pilhan, bukan paksaan. Jangankan perempuan zaman sekarang, Fatimah putri Rasulullah saja tidak siap dipoligami sehingga pernah dibuat perumpamaan betapa rasa cemburu Fatimah sangatlah besar, panasnya api cemburu di dada beliau bisa menghanguskan pohon kurma. Begitu hebat perumpamaannya. Jadi ketika perempuan belum siap dan Anda memaksakannya maka resiko paling besar yang akan dihadapi adalah perceraian. Tapi apalah artinya membangun mahligai yang baru dengan menghancurkan mahligai yang lama? Itu tentu bukan prestasi yang patut dibanggakan. Bukan seperti itu seharusnya cara kita meraih syurga. Poligami memang dibolehkan tapi tidak boleh dipaksakan.

Okelah ada yang berdalih bahwa hati lelaki diciptakan lebih lapang dari perempuan sehingga bisa memupuk beberapa cinta di tempat yang sama. Sementara perempuan hanya bisa mencintai satu lelaki pada waktu yang sama. Tapi fakta menunjukkan tak semua lelaki begitu. Bahkan Nabi Adam diciptakan dengan satu pasangan, padahal apa susahnya diciptakan dua perempuan sekaligus untuk mendampingnya? Jika poligami harus diikuti oleh seluruh ummat Islam, kenapa banyak juga para sahabar Rasul yang tidak melakukannya?

Pesan Penutup

Jadi sebelum menunaikan cita-cita mulia itu, maka layakkanlah diri Anda terlebih dahulu. Persiapkan istri Anda untuk bisa menerimanya. Banyak kok pernikahan poligami yang bagus, yang tujuannya memang mengandung kebaikan. Saya secara pribadi menganggap poligami bisa jadi solusi untuk kondisi-kondisi tertentu. Misalnya untuk menyelamatkan para perempuan muslimah yang sudah berusia matang namun belum menemukan jodohnya. Untuk menyelamatkan perempuan-perempuan janda muslimah yang menanggung beban hidup berat dan tetap menjaga maruahnya. Dan mungkin masih ada alasan lain yang bisa diterima oleh iman dan logika.

Oke, terimakasih sudah menyimak ocehan saya, semoga 7 Langkah Menuju Poligami ini tak dianggap sebagai bentuk kontra saya terhadap poligami, karena prinsip saya mengatakan poligami itu halal selagi caranya juga benar.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


10 thoughts on “7 Langkah Menuju Poligami

    1. Novia Syahidah Post author

      Nah, mundur di tengah jallan berarti. Poligami gak hanya berat di awal, di tengah jalan pasti ada aja masalah, makanya suami harus bisa terus menguatkan istri-istrinya.

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *