Agar Cahaya Islam Itu Tak Padam

Kyrgyzstan-Uzbekistan-Tajikistan- Kazakhstan ketika dijajah oleh Uni Soviet cukup lama mengalami kondisi yang tragis. Di bawah kekuasaan Gorbachev, Alquran dilarang keras untuk dibaca dan dipelajari karena penguasanya adalah orang komunis dengan keyakinan atheis. Begitulah contoh betapa berbahayanya ideologi komunis bagi agama.

Musim berganti, tahun berlalu, kekuasaan pun bertukar dari Gorbachev ke tangan Boris Yeltsin, disusul kehancuran Uni Soviet hingga negara-negara di bawah jajahannya merdeka, termasuk Kyrgyzstan-Uzbekistan-Tajikistan- Kazakhstan. Maka Boris Yeltsin adalah presiden pertama Rusia yang dipilih melalui pemilu langsung. Kekuasaan kemudian berpindah lagi ke tangan perdana menterinya yaitu Vladimir Putin yang saat ini jadi presiden kedua Rusia.

Apa yang terjadi pada rakyat di negara Kyrgyzstan-Uzbekistan-Tajikistan- Kazakhstan setelah bertahun-tahun dijauhkan dari Alquran? Ternyata di sana bermunculan para penghafal Alquran yang membuat orang heran, bagaimana bisa di negara yang Alquran dilarang untuk dibaca malah lahir para penghafal Alquran? Bagaimana bisa di negara yang agama telah diharamkan, Alquran dibakar dan para penghafalnya banyak yang dibunuh, justru generasi mudanya banyak yang hafal Alquran?

Rupanya selama bertahun-tahun dalam tekanan dan kezaliman, diam-diam rakyat di negara-negara berpenduduk Muslim tersebut mengorek lantai rumah mereka sedikit demi sedikit pada tengah malam. Hingga akhirnya bisa membentuk suatu ruangan di bawahnya yang kemudian ditutup dengan papan dan karpet. Di dalam ruangan gelap itulah seorang guru mengajari anak-anak mereka membaca dan menghafal Alquran dengan sistem talaqi, sebagaimana dulu Rasulullah mengajarkannya pada para sahabat, para sahabat mengajarkannya kepada para tabi’in.

Dalam gelap, penuh tekanan dan ketakutan jika sampai ketahuan, mereka belajar dan mengajarkan Alquran kepada generasi penerusnya. Di antara sunyinya tahajjud mereka, mereka tutupi ghirah yang masih menyala di dada mereka. Demikian kerasnya usaha mereka agar cahaya Islam tak punah dari kehidupan generasi penerus mereka. Sehingga ketika negara-negara tersebut merdeka, maka muncullah generasi penghafal Alquran yang luar biasa.

Kisah lain di Albania, negara yang juga melarang Alquran dibaca dan dipelajari. Diceritakan bahwa ada seorang ayah yang membawa anaknya secara rutin ke sebuah bukit dengan keadaan mata anaknya ditutup kain. Di sana ada sebuah lubang berbentuk gua, dan di dalam gua itulah ia membacakan Alquran pada anaknya dengan cara ditalqin juga. Kedua mata anaknya tetap dalam keadaan ditutup kain. Setelah selesai mengajarkan Alquran, sang ayah menyimpan kembali mushaf itu di balik batu-batu dan membawa anaknya kembali pulang dalam kondisi mata tetap tertutup. Kenapa ia menutup kedua mata anaknya? Agar jika ketahuan oleh penguasa, maka anaknya tak bisa menjawab di mana Alquran itu tersimpan. Ia khawatir jika anaknya diinterogasi penguasa maka si anak tak sanggup menutupi rahasianya. Demikian keras usaha sang ayah untuk mengenalkan Alquran, mengenalkan Islam pada anaknya agar cahaya iman itu tak padam.

Kita, di tengah kehidupan yang merdeka ini, tak ada larangan beragama, bebas belajar dan mengajarkan Alquran, masihkah tertarik membaca dan menghafal Alquran? (Via)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *