Al Multazam Boarding School, Sekolah Berasrama Unggulan di Kuningan

Putri saya, RA. Dinda Hilwasyahidah, tampak bersemangat mengikuti tes masuk Al Multazam.

Sekitar setahun yang lalu saya sibuk mencari sekolah buat anak sulung saya. Ya, setahun yang lalu, beberapa bulan sebelum kelulusannya. Sebab untuk memilih sekolah yang sesuai harapan tentu gak bisa mendadak, harus jauh-jauh hari. Saya ingin dia masuk sekolah berasrama (boarding) agar terlatih untuk mandiri dan bersosialisasi secara luwes, juga agar dia bisa fokus belajar. Mencari sekolah berasrama yang bagus untuk putri saya tak semudah yang saya bayangkan semula. Setelah survei langsung ke lokasi, ada saja yang terasa kurang pas. Di sini saya tak hanya berpatokan pada penilaian saya pribadi dan suami tapi juga menimbang pendapat putri saya tentunya. Sebab dia yang akan menjalaninya. Apalagi keinginan masuk sekolah berasrama ini tak hanya kemauan saya tapi keinginan dia juga. Maka memilih sekolahnya pun harus sesuai harapan kami semua.

Setelah melakukan survei langsung ke beberapa sekolah berasrama di sekitar Jawa Barat, akhirnya kami menemukan kata sepakat, yaitu memilih SMPIT Al Multazam Boarding School. Sekolah yang memadukan kurikulum umum dan kepesantrenan ini terletak di Desa Manis Kidul, Kuningan, Jawa Barat. Sebelumnya kami selalu tidak kompak. Saya suka, suami saya gak suka. Saya dan suami suka, anaknya gak suka. Suami suka, saya yang gak suka. Alhamdulillah begitu survei ke Al Multazam, semuanya langsung suka. Baik dari segi fasilitas sekolah, juga kurikulum dan kegiatan harian siswa di sana. Cocok dengan yang saya cari.

Padahal sekolah ini bersebelahan dan satu yayasan dengan Pesantren Husnul Khotimah yang mungkin lebih populer dibanding Al Multazam sendiri, sebab Husnul Khotimah lebih dahulu didirikan. Bedanya, Husnul Khotimah berada di bawah kurikulum Kemenag, sementara Al Multazam di bawah kurikulum Diknas. Makanya sebutan untuk jenjang pendidikan di Husnul Khotimah adalah Tsanawiyah dan Aliyah sementara di Al Multazam sebutannya SMPIT dan SMAIT. Kedua sekolah ini berada di bawah Yayasan Al Multazam Husnul Khotimah. Tapi saat diajak tes di Husnul Khotimah, anaknya malah terlihat setengah hati dan beberapa kali berbisik ke saya kalau dia gak suka di sana, sukanya di Al Multazam. Waktu itu saya memang mengajaknya ke Al Multazam karena janjian dengan seorang teman saya yang bekerja di sana. Itulah pertama kali saya tahu tentang Al Multazam. Bagaimana bisa sekolah sebagus ini tak sampai informasinya ke saya selama ini? Itu yang menjadi keheranan saya waktu itu. Kuningan harus bangga punya sekolah seperti ini.

Fase Uji dan Kelulusan

Setelah melakukan pendaftaran secara online di website www.almultazam.sch.id, berikutnya mengikuti serangkaian tes lengkap, baik tes fisik, tes tertulis dan wawancara, alhamdulillah putri saya diterima di kelas 7. Dia juga sangat excited dan bersemangat, itu yang membuat saya tidak khawatir menitipkannya di sekolah tersebut. Kami pun memenuhi semua persyaratan administrasi dan juga persiapan masuk asrama. Barang apa saya yang harus dibawa dan apa saja yang gak boleh dibawa, semua sudah tercatat dengan rapi. Kedisiplinan memang sangat ditekankan. Saat upacara pertama, upacara penyambutan siswa baru, saya melihat kiriman foto-foto penghancuran beberapa gadget di lapangan upacara karena membawa gadget termasuk pelanggaran.

Fase Adaptasi

Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah mendorong putri saya untuk bersosialisasi dengan teman-teman baru yang akan membaur setiap hari dan sepanjang hari dengannya kelak. Pasti tak semudah membalik telapak tangan karena mereka masih tergolong anak-anak, baru tamat SD. Harus belajar membaur, menerima kekurangan masing-masing dan mengatasi pergesekan antar mereka. Begitupun adaptasi dengan aktifitas baru dan menu makanan yang mungkin juga baru. Saya dan para orangtua lain pun berusaha mengakrabkan diri dan mendorong anak-anak kami untuk akrab juga satu sama lain.

Fase Baper

Ini tahap paling baper biasanya. yaitu berpisah dan meninggalkan anak-anak di tempat mereka yang baru. Saya tahu, banyak para orangtua yang begitu berat menjalani fase ini. Maklum, anak yang sejak lahir selalu dilihat dan dibersamai, kini harus berpisah dan diajarkan untuk mandiri di tempat yang sama sekali asing buat mereka. Saya termasuk yang gak terlalu baper, justru suami saya yang terlihat baper, hehe…

Tapi semua akan berjalan sesuai waktunya. Perlahan para orangtua dan anak-anak mereka semakin bisa beradaptasi dengan kondisi yang baru. Apalagi wali asrama dan guru wali kelas juga selalu menginformasikan kegiatan anak-anak melalui WA grup dan orangtua bisa bertanya apa saja mengenai anak-anak mereka. Melihat wajah ceria anak-anak dalam setiap kegiatan mereka menjadi obat rindu dan pengusir kegalauan para orangtua akan kondisi anak-anak mereka. Termasuk saya yang merasa sangat terharu melihat perkembangan putri saya sejak masuk boarding, banyak sekali perubahannya terutama dalam hal kemandirian, kedewasaan dan cara bersikapnya. Alhamdulillah.

Idealisme Saya

Saya memiliki idealisme sekolah untuk putri saya dengan kategori yang mungkin cukup ribet tapi itu penting bagi saya dalam menilai sebuat sekolah Islam yang baik. Di antara hal yang saya anggap penting adalah pemisahan ruang belajar, asrama dan lokasi beraktifitas antara siswa laki-laki dan perempuan. Ini jelas berlaku di Al Multazam dengan adanya pembatasan wilayah Ikhwan (laki-laki) dan wilayah Akhwat (perempuan). Masjid, koperasi, kantin dan lapangannya pun dibedakan. Kamar asrama juga saya perhatikan sebelum memilih sekolah ini. Kamar berisi 8 orang siswa dengan kamar mandi di dalam menurut saya sudah pas.

Kemudian model pakaian siswa perempuan harus menutup sempurna auratnya. Inipun saya dapati di Al Multazam dengan berlakunya peraturan panjang jilbab siswa perempuan minimal satu jengkal di bawah lengan dan pastinya menutup dada. Lalu saya ingin aktifitas hariannya ada wirid Al Ma’tsurah atau zikir pagi dan petang, ada Qiyamul-lail, ada sholat Dhuha, puasa sunnah dan tentunya target hapalan Qur’an. Alhamdulillah semua ada di Al Multazam. Bahkan ada halaqah pekanannya juga untuk lebih membina mental dan pemikiran para siswa dalam memahmi Islam.

Biaya Yang Terjangkau

Sebenarnya soal biaya ini relatif, mungkin bagi sebagian orang terasa murah dan sebagian lagi terasa mahal. Jika dibandingkan, biaya pendidikan di Al Multazam sangat standar untuk sebuah sekolah berasrama. Tidak kemahalan seperti beberapa sekolah yang sempat saya survei. Sebab hal ini penting bagi saya mengingat 3 tahun kemudian ada anak nomor dua saya yang juga akan masuk jenjang SMP. Artinya, jika si Kakak masih sekolah di boarding untuk level SMA, maka saya akan mengeluarkan dua biaya pendidikan sekaligus dengan jumlah yang hampir sama. Tentunya ada kenaikan biaya nantinya untuk anak kedua saya. Itu semua saya hitung. Jangan sampai nanti malah kebobolan ketika harus menyekolahkan dua anak sekaligus. Sebab saya maunya anak kedua saya juga masuk boarding school.

Lokasi Yang Sejuk

Nah, ini adalah pertimbangan kesekian saya dalam memilih sekolah. Saya ingin sekolah anak saya berada di wilayah atau daerah yang dingin atau sejuk. Sebab udara dan cuaca yang sejuk akan membuat anak nyaman dan betah meskipun tanpa pendingin udara. Jadi sejuknya alami. Al Multazam Boarding School terletak di Desa Manis Kidul, Kuningan, yang merupakan wilayah kaki Gunung Ciremai. View sekolah ini sangat menarik bagi saya. Tidak jauh dari jalan raya yang membelah Kota Kuningan. Oya, Al Multazam juga punya kampus kedua di Desa Linggar Jati, Kuningan, khusus untuk siswa laki-laki. Area sekolah ini terbilang luas dengan beragam fasilitas.

Berbagai kegiatan positif mengiringi hari-hari para siswa sehingga mereka nyaris tak pernah membuang-buang waktu, tentu berbeda jika mereka tetap berada di rumah bersama orangtua. Minimal buat saya akan sangat terasa bedanya. Di rumah anak-anak cenderung manja, tidak mandiri. Sementara di asrama mereka melakukan berbagai kegiatan edukasi termasuk program-program yang mengajak mereka tetap membaur dengan masyarakat sekitar. Buat saya, Al Multazam adalah sekolah yang ideal buat anak saya.

Terbukti ia begitu antusias tiap kali bercerita tentang kegiatannya di sana. Termasuk ketika menunjukkan namanya yang tercantum sebagai salah satu tim buletin sekolah karena dia memang mengambil ekstra kurikuler Jurnalistik. Juga saat ia bercerita, “Bunda, di perpustakaan sekolah ada buku Bunda lho. Trus temen-temen aku jadi pengen diajarin nulis sama Bunda. Guru Bahasa Indonesia aku tuh, Bun, ngebacain cerpen aku di kelas 7B, jadinya semua pada tau, Bun, kalo Bunda penulis.”

Saya cuma ketawa mendengarnya. Saya tahu dia malu dan risih orang jadi tahu banyak tentang dirinya, tentang bundanya. Itu sangat terlihat pada saat kunjungan saya ke sana di suatu malam (pasca pembacaan cerpennya di kelas 7B), teman-teman seasramanya datang mengerubungi saya, minta tanda tangan. Wuih, jadi seleb dadakan, hehe… Pada saat itu putri saya malah lari,  ngumpet di kamar. Wak-waw!

Itu sekelumit cerita tambahan aja buat intermezo. ?

Penerimaan Siswa Baru 2018-2019

Nah, bagi para orangtua yang sedang mencari sekolah berkualitas dengan sistem boarding mungkin Al Multazam bisa saya rekomendasikan sebagai sekolah yang bagus untuk putra-putrinya. Terutama yang mencari kurikulum di bawah Diknas plus kepesantrenan, bisa melihat di halaman Pendaftaran Siswa Baru.

Yang penasaran mengetahui profil Al Multazam, silakan lihat video berikut ini.

Oke, semoga semua informasi di atas bermanfaat ya, buat siapapun yang membaca, terutama para orangtua dalam mencari sekolah unggulan buat anak-anak mereka. Aamiin.

(Salam Hangat)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


6 thoughts on “Al Multazam Boarding School, Sekolah Berasrama Unggulan di Kuningan

  1. Muawanah

    Tulisanya bgus bun….jdi sedih tpi senang….semoga kita sebgai org tua bisa mendukung anak anak kita belajar disna semoga jdi anak solehah…aamiin

    Reply
  2. Ki Demang

    Wah menarik nih… Buat rujukan saya. Anak saya sebentar lagi ke jenjang ini. Tahun ini Mau masuk TK. *Loh

    Beneran kan nggak kerasa Tau Tau udah SMP aja, perasaan Baru kemarin masuk TK.

    Reply
  3. Yulie

    Kok tulisannya saya banget nih bun ?. Cm sy ga bs menuangkan perasaan lwt tulisan sprti ini, tulisan bunda sprti mewakili perasaan sy ketika sy memutuskan utk melepas putra sy di pesantren Al Multazam thn 2017 yg lalu. Alhamdulillah smp saat ini ananda betah, senang, mandiri, yg pasti dr segi keimanannya bertambah. Semoga kedepannya org2 bs lebih mengenal Al Multazam ya bun…?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *