Bayang-bayang Hitam (Bukan Resensi)

bayang-bayang-hitamIyasu tersenyum sinis, “Bagiku kematian tidaklah penting dan aku tidak memikirkannya. Yang kupikirkan adalah jalan kesengsaraan yang harus ditempuh negeri ini akibat ketololanmu yang telah menghilangkan semuanya. Kau telah menyerahkan negeri ini pada Italia dan kini mau melarikan diri dari tanggung jawab. Sesungguhnya kau lari dari kematian dan meninggalkan rakyat dalam kesengsaraan mereka. Aku akan berperang, menang atau syahid!”

“Hanya ada kematian bagimu!” tukas Tafari penuh dendam, lalu memberi isyarat dengan tangannya.

Lima orang algojo berwajah sangar maju mencekik leher Iyasu. Ia tidak merintih ataupun mengaduh sama sekali.
Justru Tafari yang berteriak-teriak seperti orang gila. “Lenyapkan senyum itu dari bibirnya! Pecahkan kepalanya agar darah membanjiri wajahnya!”

Salah seorang dari algojonya dengan bercucuran keringat berkata, “Dia telah mati, Tuan.”

“Bunuh dia untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya! Lenyapkan bangkainya dari hadapanku! Bawa dia ke pemakaman yang jauh dan tidak dikenal oleh seorangpun! Orang jelek ini harus disembunyikan selama-lamanya! Keputusanku untuk menghabisi bajingan inilah yang akan meringankan beban kekalahan yang kita terima dari Italia. Huh, orang gila ini tersenyum! Dia masih saja tersenyum! Bagaimana ini?! Padahal dia itu mayat!!”

Tafari makin kalap, “Aku tadi mendengar dia mengucapkan dua kalimah syahadat. Dia begitu berani di depan kematian! Aku kira dia akan bersujud di depan sepatuku sambil mengucapkan kata-kata yang memelas. Aku pikir dia akan menangis dan meminta maaf. Tapi ternyata dia menemui kematiannya dengan tersenyum. Lumuri wajahnya dengan debu agar senyumnya hilang!!!”

Tafari menendang mayat Iyasu. Kemudian ia menoleh ke orang-orangnya dan mencaci maki mereka habis-habisan. Mereka hanya bingung tak tau apa yang harus dilakukan.

Setelah kembali sadar, Tafari bergumam, “Sekarang hatiku merasa tenang dan kebencianku telah hilang.” Tafari kemudian membisu. Air matanya menetes.

Salah seorang yang terdekat dengannya bertanya keheranan, “Kenapa kau menangis, Tuan?”

“Karena aku merasa bahwa aku adalah orang yang lemah. Aku telah membunuh Iyasu tapi aku masih takut padanya. Aku merasa senyum pucatnya itu menghina dan mengejekku. Dan kata-katanya yang memuakkan itu masih menempel di kepalaku dan membayang-bayangiku.”

“Dia telah mati, Tuan, dan urusannya telah selesai.”

“Aku meragukan itu. Orang-orang akan menangisinya, bukan menangisi kekalahan Ethiopia atas Italia. Mereka akan mendendangkan namanya di setiap tempat. Urusannya sama seklai belum selesai. Aku akan lari ke Inggris sebagai pengecut yang dibenci rakyat. Sementara Iyasu, meskipun ia sudah jadi mayat, akan tetap disini dan dielu-elukan sebagai pahlawan! Aku sangat bodoh!!”

Catatan:

Di atas adalah cuplikan dari novel karya Najib Kaylani yang berjudul Azh-zhilalul Aswad dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Asy Syaamil dengan judul Bayang-bayang Hitam. Sebenarnya ini novel sudah lama sekali namun saya selalu tertarik untuk memostingnya. Novel berlatar sejarah Islam di Afrika ini adalah novel epik pertama yang membuat saya jatuh cinta pada sastrawan Najib Kaelani.

Najib Kaylani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideologi yang terjadi di Ethiopia. Membaca novel ini kita akan dilibatkan secara emosional, dan seolah-olah berhadapan dengan tokoh-tokohnya yang memiliki karakter kuat. Selain itu, kita juga akan mendapat sebuah pencerahan dalam memandang kebenaran secara universal dan hakikat dari sebuah perjuangan. Juga pergumulan antara kesetiaan dan penghianatan.
Jadi, jangan lewatkan untuk membaca novel yang satu ini! (V)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


One thought on “Bayang-bayang Hitam (Bukan Resensi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *