Bayangan Yang Setia

Aku melangkah menyusuri Jalan Ahmad Yani yang menuju ke pasar Ibuah, pasar yang khusus menjual sayuran, daging, ikan dan kebutuhan dapur lainnya. Tapi aku bukan mau ke pasar tersebut, hanya ingin menikmati sesuatu yang telah hampir dua tahun aku tinggalkan. Menikmati lalu-lalang manusia di sepanjang ruas jalan kota Payakumbuh, terutama Jalan Ahmad Yani ini. Menyusuri pertokoan yang semakin padat, sambil berbagi senyum dengan orang-orang yang kukenali.

Sebuah rutinitas yang dulu sangat kunikmati tiap kali melewati jalan ini. Ya, semuanya masih sama seperti biasa. Udara yang sejuk, penduduk yang ramah, dan juga keramaian yang tak sampai menyesakkan dada seperti kota-kota besar. Payakumbuh memang bukan kota besar, ia hanya sebuah kota kecil di kaki Gunung Sago. Sebuah kota yang damai dan sejuk. Ya, semuanya masih sama seperti dulu.

Satu-satunya yang tidak sama adalah; Da[1] Yuda tak ada lagi di sisiku! Lelaki lembut dan penyayang itu telah kembali ke pangkuan-Nya dua tahun yang lalu. Sebuah kepergian yang memahatkan luka mendalam di hatiku. Lelaki terkasih yang rasanya sulit kucari tandingannya. Bahkan boleh dikatakan, tidak mungkin bagiku untuk mencari penggantinya. Dia terlalu sempurna bagiku, terlalu dalam mendiami relung hatiku.

“Mil, kamu tahu tidak, aku selalu berdo’a agar kebersamaan kita ini abadi…” Suara Da Yuda bergema di sampingku.

Aku menoleh sejenak. “Abadi? Apakah Uda percaya bahwa ada sesuatu yang abadi di dunia ini?”

“Kenapa tidak? Cinta adalah sesuatu yang abadi. Sesuatu yang tak kan mampu dipisahkan oleh apapun, meskipun oleh sebuah kematian,” jawabnya mantap. Wajahnya berseri yakin.

Aku jadi tersenyum. “Tapi aku tidak percaya, Da. Entah berapa di dunia ini orang yang mengaku mencintai pasangannya, tapi tak sedikit pula dari mereka yang kemudian berkhianat.”

“Yang pasti orang itu bukan aku! Dan aku yakin, mereka yang kamu katakan itu adalah orang-orang yang tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya.” Ia menatapku lembut.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Da Yuda memang selalu begitu sejak dulu. Dia selalu berbicara tentang cinta, seolah-olah ia memiliki kamus dan kosa kata yang begitu banyak tentang cinta. Dan kurasa hal itu jugalah salah satu penyebab kenapa ia banyak dikagumi gadis-gadis di kota ini. Tak hanya karena ia berasal dari keluarga berada dan berpendidikan, atau karena penampilan fisiknya yang gagah. Tapi juga karena kepiawaiannya berbicara tentang cinta.

 Sungguh tidak salah jika aku merasa jadi gadis paling beruntung karena Da Yuda telah memilihku untuk mendampinginya. Bukan karena aku gadis paling cantik, tapi karena ia yakin bahwa akulah yang paling cocok mendampinginya. Merajut hari-hari indah yang begitu sulit untuk dilupakan.

“Kamu bukanlah gadis paling cantik yang aku kenal, Mil. Tapi kamu adalah gadis paling tepat untuk aku cintai. Karena kamu adalah orang yang pandai menghargai cinta yang diberikan orang lain terhadapmu. Dan aku percaya, di hatimu cintaku akan terjaga selamanya,” katanya waktu itu dengan mata berbinar.

Ah, sungguh aku tersanjung. Da Yuda pun selalu berusaha menunjukkan bahwa ia adalah orang paling beruntung karena memiliki aku. Ia benar-benar menyiramiku dengan cinta, menghiasi hati-hariku dengan pelangi, dan menaburkan bintang di tiap helai rambutku. Hari-hariku sungguh seindah mimpi.

“Cinta itu tak bisa hanya diucapkan, sebab cinta sejati kadang tak memerlukan kata-kata untuk mengungkapkan keberadaannya,” ujarnya di lain waktu, masih di ruas jalan yang sama. Waktu itu Jalan Ahmad Yani mulai terlihat ramai oleh pedagang malam yang tengah bersiap-siap mendirikan tenda mereka.

“Misalnya?” Aku melingkarkan tangan di lengannya yang kokoh.

“Aku akan melepaskanmu jika seandainya ada orang lain yang mampu mencintaimu melebihi aku. Yang membuatmu merasa lebih bahagia berada di sisinya daripada di sisiku. Sebab… kebahagiaanmu adalah kesempurnaan dari cintaku.”

“Oya?” Mataku membulat takjub menatapnya.

“Ya. Tapi jika dia tidak mampu mencintaimu melebihi aku, maka jangan harap aku akan rela melepaskanmu!” Ia menjawil hidungku.

Aku tersenyum. Da Yuda memang hebat dalam mengungkapkan segala hal tentang cinta, meski kadang juga terdengar aneh di telingaku.

“Eh, Mil! Kemana saja dua tahun menghilang?” Sebuah teguran membuatku terlengak. Da Yuda pun lenyap dari sisiku. Aku mendapati diriku sudah sampai di sisi Jembatan Ratapan Ibu, tidak jauh dari pasar Ibuah. Fifi, sahabat akrabku sejak SMA dulu kini berdiri manis di hadapanku dengan senyum lebarnya. Aku jadi histeris, tak menyangka akan bertemu setelah dua tahun tak saling bertukar kabar.

“Aku di Solok. Di tempat Inyiak[2]. Kamu apa kabar, Fi?”  seruku gembira. Maka kami pun terlibat pembicaraan seru, melepas rindu dan saling bertukar cerita. Terakhir kami bertemu ketika pemakaman Da Yuda dua tahun yang lalu.

@@@

“Kamu terlalu berlebihan dalam mencintai suamimu itu, Mil,” kata Ayah suatu hari. “Sampai-sampai kamu menutup hatimu bagi lelaki lain. Itu namanya menzalimi diri sendiri.”

“Ayah kan bisanya bicara saja,” jawabku santai. “Buktinya, sampai setua ini, Ayah sama sekali belum menikah lagi. Padahal sudah puluhan tahun Ayah ditinggal Ibu. Ayo, Ayah mau mungkir?”

Ayah tersenyum masam. “Tapi kamu kan perempuan. Siapa yang akan melindungi kamu kalau ada yang mengganggumu? Siapa yang akan membetulkan listrik yang korslet, genteng yang bocor atau…”

“Atau radio yang rusak, motor yang mogok, iya kan?” potongku cepat. “Ayah jangan takut, ada banyak montir, puluhan bengkel, dan ratusan tukang di kota ini, begitupun di Solok. Mereka yang akan membantu Emil memperbaiki semua itu, Yah.”

“Kamu ini memang…”

“Memang sama saja dengan Ayah!” potongku lagi. “Ayah kan juga begitu. Ketika dulu Ni[3] Ema dan Ni Pit menyuruh Ayah kawin lagi, Ayah juga banyak alasan. Ayah takut kami punya ibu tiri lah, takut perhatian ayah terbagi lah. Ayah bahkan memuji-muji masakan pembantu kita karena kami selalu membanding-bandingkannya dengan masakan Ibu. Dan parahnya lagi, Ayah menganggap Beo bodoh itu bisa mengusir kesepian Ayah. Padahal sudah bertahun-tahun Ayah memeliharanya, sampai sekarang belum juga burung itu bisa bicara.” Aku menunjuk kandang burung Beo yang terletak di depan rumah.

Ayah terdiam menatapku. Sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar. Tangannya bergerak cepat mengacak rambutku. “Kamu ini memang bisa saja memojokkan Ayah. Tapi ingat, jangan bawa-bawa Beo segala! Apalagi menyebutnya bodoh. Suatu saat dia akan bicara lebih pintar dari kamu.” Kami pun tergelak.

Begitulah, selalu saja ada alasan bagiku untuk menolak kehadiran lelaki lain selain Da Yuda. Selalu saja ada kelebihan Da Yuda yang membuatku membanding-bandingkannya dengan lelaki yang datang mendekati. Dan selalu pula terbayang segala kebaikannya yang membuatku tak tega menduakannya di hatiku. Lucunya, aku malah merasa bahagia dengan ‘kesetiaan’ku yang aneh itu.

@@@

“Saya memang bukan lelaki ideal, yang diidamkan oleh banyak wanita. Saya hanyalah lelaki dengan banyak kekurangan.” Mata hitam itu menatapku sejenak sebelum akhirnya kembali menunduk. Aku dan Ayah saling memandang dalam diam.

“Tapi andai saya diberi kesempatan, saya akan memberikan yang terbaik yang mampu saya berikan. Meski itupun belum akan mampu menandingi segala kelebihan Yuda. Saya memang bukan apa-apa dibandingkan dia. Dalam keluarga besar kami, Yuda adalah yang terbaik. Yang selalu tampil dengan segala kelebihan dan kesempurnaannya. Sementara saya, tak lebih dari sosok yang…” Kalimatnya terhenti.

“Yang apa, Zan?” tanya Ayah yang duduk di sampingku dengan mimik heran.

“Yang datangnya tak ditunggu dan perginya tak dilepas. Bahkan hilangnya pun tak dicari.”

Ayah tersenyum mendengar jawaban itu. Beliau pasti paham bahwa Da Fauzan memang selalu merendah. Padahal sekolahnya saja di luar negeri. Dia adalah tipe lelaki rendah hati. Da Yuda pun dulu sering mengatakan hal itu.

Aku masih terdiam dengan perasaan bingung bercampur cemas. Bingung bagaimana harus menyampaikan jawabanku pada pemuda bernama Fauzan yang kini duduk di hadapanku itu. Dan cemas jika nanti jawabanku hanya akan mengecewakan hatinya. Walau bagaimanapun Da Fauzan bukanlah orang asing bagiku. Dia adalah kakak lelaki Da Yuda yang sudah hampir sepuluh tahun tinggal di Kanada. Herannya, justru sejak tinggal di negeri sekuler itulah ia jadi berubah religius. Jujur saja, aku dan Da Yuda sangat bangga padanya.

Ah, bayangan almarhum suamiku tiba-tiba berkelebat. Wajah penyayang dan penuh cinta, yang bayangannya senantiasa mengikuti dan menamaniku dengan setia. Tidak! Aku tidak akan menduakannya, apalagi dengan saudaranya sendiri. Aku tidak sanggup melakukannya. Aku masih teramat mencintai Da Yuda!

@@@

“Saya tidak bisa, Yah!” kataku tegas. Sebenarnya sudah sejak tadi siang aku ingin mengatakannya, tapi Ayah masih belum juga membuka pembicaraan tentang lamaran Da Fauzan itu. Baru malam ini Ayah menanyakan pendapatku.

“Ingat, Mil, kamu sudah menolak banyak lelaki yang ingin menikahimu. Seharusnya kamu melihat bahwa Fauzan memiliki banyak kelebihan dibanding mereka semua. Lagi pula, kenapa harus selalu membanding-bandingkan setiap lelaki dengan almarhum suamimu itu?” ujar Ayah memberi pengertian.

Aku mendengus. “Hati saya belum bisa menerima lelaki mana pun, Ayah!”

“Kamu tidak sedang mencari alasan kan, Mil?” Ayah memicingkan matanya. “Ayah yakin kamu bukannya tidak bisa, tapi kamu tidak mau. Kamu masih belum bisa menerima kepergian Yuda dengan hati ikhlas. Kamu teramat membanggakannya hingga tak siap kehilangan.”

Aku terlengak, tak menyangka Ayah mengucapkan kalimat itu. “Apa Ayah tidak dengar apa yang dia sampaikan tadi siang? Dia ingin istrinya pakai kerudung lah, ingin membina keluarga sakinah lah, ingin ini lah, itu lah! Setahun menjadi istri Da Yuda, tak pernah sekalipun Da Yuda berharap yang muluk-muluk pada saya! Dia menjaga dan mencintai saya sedemikian rupa tanpa saya merasa didikte harus begini atau begitu!”

 “Muluk-muluk bagaimana? Bukankah wajar jika seorang lelaki saleh ingin punya istri yang juga salehah? Wajar juga jika ia ingin membina keluarga sakinah. Ayah rasa itu bukan muluk-muluk. Ayah saja ingin punya keluarga seperti itu. Dan jika dia mengatakan hal itu secara langsung jauh-jauh hari, tentu maksudnya bukan untuk mendikte. Tapi agar kamu mengerti bahwa itulah jalan hidup yang diinginkannya. Dan agar kamu bisa berpikir panjang sebelum menerima atau menolak lamarannya.”

“Terserah apapun maksud dia, Yah! Yang penting saya punya hak untuk menerima atau menolak. Dan untuk Da Fauzan, jawaban saya adalah tidak! Satu lagi, saya tidak ingin menemui dia lagi jika hanya untuk membicarakan masalah ini!” Suaraku bergetar namun tegas.

Ayah menarik napas panjang. Ditatapnya aku lekat-lekat. “Baiklah. Jika demikian, biar besok Ayah yang bicara langsung pada Fauzan. Semoga dia mengerti dengan penolakanmu dan semoga kamu juga tidak menyesal dengan keputusan ini.”

Aku terdiam. Sungguh tak kumengerti, mengapa emosi begitu menguasai perasaanku saat ini. Seperti ada rasa takut yang menghantuiku jika bertemu lagi dengan Da Fauzan. Rasa takut yang membuatku berkali-kali menyebut nama Da Yuda.

Aku masih terdiam ketika Ayah berlalu dengan segaris senyum getir di bibir tuanya. Senyum yang menandakan kemaklumannya atas keputusan dan sikapku. Ah, maafkan aku, Yah, bisik hatiku galau. Seharusnya aku sadar, bahwa Ayah selalu berusaha mengerti perasaan putri-putrinya dan tidak seharusnya aku meluapkan emosiku di hadapannya. Dan kalau mau jujur, sebenarnya aku tidak ingin mengecewakan beliau dengan penolakan ini, tapi… sungguh aku tidak bisa!

Sepeninggal Ayah, aku masih terus duduk di ruang tengah dengan pikiran yang berputar kesana-kemari. Sosok Da Fauzan yang santun dan pendiam itu ikut mengusik kesendirianku. Teringat bagaimana dulu ia selalu berkirim surat dari Kanada di awal-awal pernikahanku dengan Da Yuda. Surat yang berisi nasehat-nasehat dan do’a demi kebahagiaan kami. Juga keikhlasannya dilangkahi oleh Da Yuda.

Isi surat yang sempat membuat aku dan Da Yuda bertatapan haru saat membacanya tiga tahun silam. Kuakui, Da Fauzan sangat baik. Dia lah yang membela Da Yuda saat seluruh anggota keluarganya keberatan dengan pernikahan kami karena mereka tidak rela Da Fauzan dilangkahi. Da Fauzan dengan sabar dan tenang menjelaskan bahwa masalah jodoh adalah urusan Tuhan, tak boleh dihalang-halangi tanpa alasan yang dibenarkan agama. Sungguh, waktu itu aku begitu salut dan terharu melihat sikap yang ditunjukkan kakak iparku itu.

Kalimat Da Yuda terngiang lagi di telingaku, “Jika kelak aku tak lagi ada di sisimu, aku ingin kamu segera mendapatkan penggantiku, Mil. Pengganti yang lebih baik dari aku. Seperti… Da Fauzan! Dialah yang mengajariku bagaimana menjadi suami yang baik, yang mengajariku bagaimana harus mencintaimu dengan cara yang benar. Aku mungkin lebih bisa mengungkapkan perasaanku lewat perhatian, tapi dia lebih bisa menempatkan perasaannya meski dengan cara diam.”

Kalimat itu dulu kutanggapi dengan tawa geli. Tapi siapa yang menduga jika ternyata Da Yuda benar-benar meninggalkan aku beberapa bulan kemudian. Dan kalimat itu, adalah kalimat yang terus menghantuiku sejak kedatangan Da Fauzan tempo hari. Setidaknya aku cukup percaya pada kata-kata Da Yuda itu, bahwa Da Fauzan adalah lelaki terbaik yang mampu menggantikan posisinya di sampingku. Dan rasa percaya itu justru membuatku takut. Takut menggeser Da Yuda dari hatiku.

Tapi, kini ketakutan lain juga hadir. Ketakutan jika Da Fauzan benar-benar berlalu dari kehidupanku. Duh, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada hatiku? Aku jadi cemas. Cemas jika nanti Ayah tak bisa menyampaikan keputusanku dengan bahasa yang baik. Cemas jika Da Fauzan tersinggung dan berlalu. Cemas… cemas untuk sesuatu yang kini tak kumengerti. (NoS)

 

Cipinang Melayu, Maret 2004 

[1] Uda, abang

[2] Kakek

[3] Uni, kakak perempuan

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


4 thoughts on “Bayangan Yang Setia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *