Belajar Bijak Mengelola Keuangan

SafirSaya termasuk blogger yang beruntung karena berkesempatan menghadiri sebuah acara yang sarat ilmu beberapa waktu lalu. Tepatnya tanggal 1 Agustus 2015.  Kenapa saya katakan beruntung? Karena materi yang disajikan sangat tepat buat saya sebagai ‘pemboros sejati’ hehe… How about you?

Temanya “Yuk, Kelola Keuangan Dengan Bijak!” Nah, nampol banget kan 😀

Materi yang disampaikan oleh pakar perencana keuangan, Safir Senduk ini digelar oleh salah satu perusahaan asuransi tertua di Indonesia, Sun Life Financial Indonesia. Sebelum melanjutkan ke tema keuangan di atas, sedikit saya infokan bahwa Sun Life ini ternyata sudah ada di Indonesia sebelum masa kemerdekaan lho. Makanya saya sebut perusahaan asuransi tertua. Nah, karena kondisi politik yang waktu itu cukup panas jelang kemerdekaan, akhirnya perusahaan yang berpusat di Toronto Kanada ini menarik pulang karyawannya yang bekerja di Indonesia dan menutup untuk sementara kantor mereka di Indonesia.

Elin Waty

Presentasi oleh Elin Waty sebagai Direktur dan Chief Distribution Officer Sun Life

Nah, barulah pada tahun 1995 Sun Life kembali membangun kantor di Indonesia. Dan masih aktif sampai sekarang. Sun Life juga punya produk Asuransi Syariah yang dipisahkan pengelolaannya dari Asuransi Konvensional. Ini yang saya catat baik-baik, karena sebagai muslim saya tetap lebih nyaman menggunakan produk-produk yang berbasis syariah. Produk syariah ini mulai diluncurkan pada tahun 2010. Dan menurut penuturan Elin Waty sebagai Direktur dan Chief Distribution Officer, Sun Life merupakan perusahaan asuransi yang sudah teruji berhasil melewati berbagai kondisi ekonomi. Inilah salah satu yang perlu dipastikan sebelum kita memilih sebuah produk asuransi. Dan ternyata Sun Life juga menjadi perusahaan asuransi pertama yang mendapat izin dari MUI untuk mewakafkan sebagian hasil marginnya. Alhamdulillah ya 🙂

Oke, kembali ke topik utama, tentang pengelolaan keuangan! Jika masih penasaran dengan Sun Life, kamu bisa langsung lihat di website resminya ya, Sun Life Finacial Indonesia 🙂

Safir Senduk yang telah mendirikan Biro Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan pada tahun 1998 ini benar-benar berhasil menghidupkan suasana siang itu tanpa dihampiri kantuk. Biasanya kalau materi semacam ini paling membosankan untuk disimak apalagi siang hari selepas makan siang, perut kenyang, hati senang, kantuk datang hehe…

safir3

Safir Senduk dengan gayanya yang kocak, energik dan cerdas

Alhamdulillah kali ini beda. Saya yang sudah lama terkena penyakit akut ‘pemboros sejati’ merasa dapat amunisi untuk melawan penyakit itu. Buat kamu yang punya penyakit sama, yuk simak poin-poin penting ini:

1. Karakter Pribadi Mempengaruhi Keuangan

Maksudnya, karakter seseorang itu sangat besar pengaruhnya pada pola pengelolaan keuangannya. Kita tahu, otak manusia terdiri dari otak kiri dan otak kanan. Otak kiri cenderung logis dan sesuai dengan logika, sementara otak kanan cenderung intuitif atau mengikut insting. Nah, orang yang lebih condong ke otak kiri biasanya lebih perhitungan dalam mengelola keuangan hingga lebih bisa berhemat, namun jeleknya saking perhitungan justru jadi tidak berani mengeluarkan modal untuk memulai sebuah bisnis karena terlalu memikirkan resiko kerugiannya.

Sementara orang yang condong ke otak kanan biasanya cenderung boros karena suka membelanjakan uang tanpa berpikir panjang, yang penting dia suka. Bagusnya, karakter ini berani mengeluarkan modal untuk bisnis karena yang penting baginya adalah mencoba, soal rugi itu urusan nanti. Karakter ini juga bisa mengelola berbagai usaha sekaligus.

Jadi mana yang lebih bagus dari dua karakter ini? Yang bagus adalah yang tahu kapan menggunakan otak kiri dan kapan menggunakan otak kanan. Yup, setuju!

2. Mengelola Cashflow

Tahu apa itu cashflow? Cashflow adalah arus keluar masuk uang. Ini yang tak kalah penting. Jika uang keluar sama jumlahnya dengan uang masuk, itu artinya kita belum bisa mengatur cashflow dengan benar, apalagi jika pengeluaran malah lebih besar (gue bingit hiks!). Yang betul itu, jumlah uang keluar harus lebih kecil dari jumlah uang masuk. Sengaja dimerahin biar gak pada lupa 😀

Caranya gimana dong? Yuk simak caranya!

Pertama: Miliki Investasi Sebanyak Mungkin!

Mulai sekarang berhentilah berpikir bahwa kita bekerja untuk mendapatkan gaji besar, lalu gaji besar itu habis untuk memenuhi kebutuhan kita yang ikut membesar juga. Ini keliru. Bicara kebutuhan maka kebutuhan itu tak akan ada habisnya. Makin besar penghasilan seseorang, biasanya makin tinggi pula gaya hidupnya, hingga hasilnya uang gaji hanya habis untuk kebutuhan hidup tiap bulan.

Saatnya mengubah mindset yang nyaris sesat itu! 😀

Mulailah berpikir bahwa gaji yang kita dapat itu harus bisa untuk membeli aset masa depan. Saat gaji kecil, belilah aset yang mampu dibeli, sekecil apapun itu. Ketika gaji semakin besar, maka carilah aset yang juga bernilai besar di masa depan.

Satu tips dari Safir Senduk yang melekat di otak saya nih. Ketika kita membeli sebuah rumah, jangan langsung berpikir kelak rumah itu akan kita jual dengan harga yang lebih tinggi. Misalnya untuk menutupi kebutuhan mendadak kita, seperti sakit, sekolah anak dll. Jangan! Karena menjual aset seperti rumah atau tanah itu tidak semudah menjual emas atau gadget. Butuh waktu cukup lama.

Jadi aset berupa rumah sebaiknya dijadikan sebagai pemasukan yang tak ada habisnya. Misalnya dengan dikontrakkan pertahun. Mau lebih mahal lagi? Kontrakkan perbulan. Mau lebih mahal lagi? Jangan kontrakkan untuk satu keluarga, tapi kontrakkan pada beberapa orang sekaligus alias kos-kosan. Hehe…sampai disini sudah paham dong hitung-hitungannya.

Kedua: Siapkan Dana Untuk Masa Depan!

Tidak ada salahnya menyiapkan dana masa depan itu jauh-jauh hari. Perhatikan apa yang menjadi prioritas kita dalam hidup. Beberapa contoh pos-pos yang perlu diprioritaskan adalah:

– Pernikahan

– Rumah dan perabotannya

– Sekolah anak

– Pensiun

Setidaknya ketika kita menyiapkan semua itu jauh-jauh hari, maka kegalauan mengarungi masa depan akan tersingkirkan 😀

Ketiga: Atur Pengeluaran!

Nah ini nih yang penting sangat buat saya dan buat kamu yang punya penyakit ‘pemboros sejati’. Bagaimana caranya mengatur keuangan itu? Ternyata kita tak harus pelit juga, hanya perlu pandai mengaturnya. Simak kiat-kiat berikut!

1. Ketahui dimana boros kita, lalu kurangi pelan-pelan.

2. Kendalikan keinginan kita.

Bedakan antara WAJIB, BUTUH dan INGIN. Orang yang bisa mengendalikan keinginannya maka dia akan bisa mengendalikan keuangannnya.

3. Lakukan prioritas pada pengeluaran kita.

Misalnya:

~ Melunasi hutang, cicilan dan sejenisnya, maksimal 30% dari penghasilan.

~ Tabungan dan investasi, minimal 10% dari penghasilan.

~ Premi asuransi, minimal 10% dari penghasilan.

~ Biaya hidup sehari-hari, maksimal 50% dari penghasilan.

4. Miliki asuransi.

Sudah umum diketahui bahwa asuransi itu ibarat payung. Tidak menjamin hujan tak akan turun, namun menjamin kita tidak kebasahan saat kehujanan.

5. Hati-hati dengan SALE.

Diskon seringkali jadi daya tarik luar biasa untuk mengeluarkan uang dari dompet kita. Apalagi jika ditambah bonus menggiurkan. Bonus satu sachet shampoo aja sudah menggoda kok hehe…

Nah, kurang lebih itu poin-poin penting yang saya catat dari acara yang diadakan di Plasa Indonesia tersebut. Sangat membantu buat kita-kita yang masih amburadul mengelola keuangan. Sebagai blogger yang baik, saya siap diundang lagi jika materinya oke begini 😉

Oya, saya menghadiri acara ini bersama Blogger Muslimah yang alhamdulillah sekaligus jadi ajang kopi darat kita. Semoga hasil reportase kegiatan ini bermanfaat bagi yang belum berkesempatan hadir.

IMG-20150801-WA0003

Acara yang dimulai setelah makan siang ini semakin seru dengan doorprize yang keren-keren seperti ponsel, power bank, dan lain-lain. Kalau disebutin semua, nanti kamu yang gak hadir ngiler berat dan susah tidur. Jadi tunggu saja kesempatan selanjutnya ya hehe…

Nah sebelum artikel ini sampai ke ending, catat pesan Safir Senduk berikut: Tekanan berbanding lurus dengan gaya. Kalau hidup lo banyak tekanan mungkin lo kebanyakan gaya hahaha…

Salam Blogger!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


2 thoughts on “Belajar Bijak Mengelola Keuangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram