Belajar Dari Thawaf

Habis baca broadcast di sebuah grup beberapa waktu yang lalu, saya jadi terus berpikir tentang ibadah thawaf di sekeliling Ka’bah. Betapa perjalanan thawaf mengelilingi Ka’bah itu adalah gambaran sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan hanya karena buruknya perlakuan manusia terhadap kita.

Lihatlah, banyak yang terjatuh, kena sikut dan sikat, ditarik dan didorong, yang bisa membuat kita jadi sakit dan terluka. Namun semua perlakuan buruk itu tak membuat kita meninggalkan thawaf apalagi melawan arah sebagai bentuk kekecewaan kita. Tidak. Kita akan terus berputar mengikuti arus yang sudah ditetapkan sebagai bentuk keyakinan bulat pada Sang Pencipta, seburuk apapun perlakuan yang kita terima.

Andai dalam segala kondisi kita bisa seperti itu…

Ketika dalam bekerja kita tak mendapat respon yang diharapkan dari rekan sekantor, baik atasan maupun bawahan, sementara kita tahu apa yang kita lakukan sudah benar dan baik, seharusnya dalam kondisi tersebut kita tak langsung berkecil hati dan menurunkan kualitas pekerjaan kita.

“Ngapain aku kerja maksimal kalau gak diapresiasi dengan semestinya.” Begitulah biasanya gumamam hati kita.

Tak pula buru-buru keluar dari pekerjaan tersebut. Kita harus berpikir bahwa kita bekerja secara profesional, melakukan yang terbaik semampu kita. Hasilnya tak melulu untuk mendapat penilaian bagus dari atasan atau rekan kerja kita, melainkan untuk membentuk jiwa profesional itu sendiri, membuat kita menjadi kepribadian yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan berprestasi untuk diri sendiri meskipun minim respon.

Begitupun ketika kita berbuat baik pada orang lain, sejatinya kita sedang melatih diri kita sendiri jadi sosok yang mulia. Tak perlu pujian dari orang lain, karena kita tahu kita berbuat baik karena mengharap ridho Allah. Bahkan ketika kita membantu orang lain pun kita tak perlu berharap ucapan terimakasih apalagi puja-puji dan balas jasa. Karena kita sedang berbuat baik bagi diri kita sendiri.

Jika sikap atau respon buruk orang lain membuat kita jadi menyesali dan mengungkit-ungkit kebaikan kita maka kita telah terjerumus pada kesia-siaan. Kita sudah dikendalikan oleh sikap orang lain. Ketika orang lain bersikap baik maka kita juga baik, namun ketika orang lain bersikap buruk maka kita pun ikut bersikap buruk.

Ini menyedihkan. Seharusnya kita belajar dari thawaf. Maka ketika kita melakukan sebuah pekerjaan maka tanamkan dalam-dalam bahwa kita sedang berbuat baik pada diri kita sendiri, bukan orang lain. Karena mutiara tetaplah bernilai tinggi meskipun terbenam di dalam lumpur. Bukan begitu? (NSR)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


8 thoughts on “Belajar Dari Thawaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *