Berlalu Dalam Sunyi

23Aku melewati rumah susun itu dengan langkah agak cepat karena hari sudah hampir Magrib. Dan tanpa bisa dicegah, mataku melirik ke arah jendela salah satu rumah susun yang sedang terbuka di lantai dua. Seperti biasa, aku kembali mendapati seraut wajah lelaki yang tengah menatapku dengan sorot matanya yang tajam.Ups! Aku cepat-cepat berpaling dan mempercepat langkahku melewati halaman samping rumah susun tersebut.

Tatapan itu… kenapa membuatku gelisah? Sudah lebih dua bulan aku melewati rumah susun itu jika hendak pergi dan pulang mengaji di hari Sabtu. Berarti jika dihitung-hitung, sudah lebih delapan kali aku melihat sosok itu berdiri di depan jendela rumahnya dan menatapku tak berkedip. Sosok yang tampak agak dekil dengan rambut gondrong sebahu. Rambut yang sedikit ikal dan terlihat kusut seperti jarang disisir.

Kadang, jika aku berjalan bersama teman-temanku yang lain, aku berusaha untuk tidak melihat ke atas. Namun tetap saja firasatku mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah menatapku dari lantai dua rumah susun itu. Dan tetap saja kegelisahan itu mengekori perasaanku sampai pulang. Ah, sebenarnya siapa lelaki itu? Apa maunya menatapku sedemikian rupa? Aku benar-benar tak mengerti.

Catatan:

Antologi cerpen saya yang satu ini banyak terinspirasi dari kehidupan dan pengalaman sehari-hari, juga dari bacaan yang pernah saya baca sejak kecil. Banyak ingatan-ingatan bermunculan yang pada akhirnya mendorong saya menuliskannya kembali. Ada beberapa cerpen yang saya angkat dari sejarah masa lalu seperti kisah Muchtar Luthfi yang terkenal sebagai seorang orator di zamannya dan tewas secara tragis di pangkuan istri beliau.

Juga kisah legenda Maipa Dea Pati yang menolak dijodohkan dengan peguasa Belanda yang kafir karena dia menginginkan seorang suami yang bisa menjadi imam keluarga, dan pilihannya jatuh pada Datu Museng yang kemudian menjadi buronan Belanda.

Begitupun sebuah cerpen yang berkisah tentang perjuangan kelompok Melayu di Pattani, Thailand Utara, untuk mempertahankan aqidah mereka dari tekanan penguasa. Ada juga kisah Residen Le Febvre yang selalu memihak rakyat di Sumatera Barat pada masa penjajahan Belanda dulu.

Cerpen-cerpen lain dalam buku ini juga mengangkat kisah keseharian karena buku antologi ini memang memiliki tema yang berbeda dan tetap mengasyikkan buat saya. (V)