Bersabarlah Dalam Perbedaan

Bersabarlah dalam perbedaan…

Dalam sebuah perjalanan, dua orang sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassallam tak menemukan air untuk berwudhu, lalu mereka bertayamum dan shalat. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka menemukan sumber air. Salah satu dari sahabat tersebut berwudhu dan mengulang shalatnya karena berpikir shalat dengan wudhu lebih utama selagi masih dalam waktu shalat yang sama. Tapi sahabat yang satu lagi tidak mengulang shalatnya dengan alasan shalat dengan tayamum sudah sah, tak perlu diulang lagi.

Setelah kembali ke hadapan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam mereka menanyakan perihal tersebut karena mereka sudah berbeda pendapat.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassallam menjawab bahwa sahabat yang tak mengulang shalatnya mendapat pahala karena sudah mengikuti sunnah beliau. Sementara sahabat kedua mendapat dua pahala karena melakukan dua shalat dengan dua cara bersuci. Keduanya benar dan tak perlu saling menyalahkan.

Masih banyak contoh perbedaan pendapat di antara sahabat yang lain dan Rasulullah tak pernah menyalahkan. Itu terus terjadi sampai Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassallam meninggal. Para khalifah pengganti beliau pun sering berbeda pendapat padahal sudah tak ada lagi manusia mulia yang akan mereka tanya, namun mereka tak sampai bermusuhan.

Di zaman Abu Bakar shalat tarawih dilaksanakan 8 rakaat dengan surat yang panjang-panjang. Namun di zaman Umar bin Khatthab shalat Tarawih dilaksanakan 20 rakaat dengan surat yang pendek-pendek. Pertimbangan Umar adalah semakin lemahnya semangat dan fisik ummat Islam di zaman pemerintahannya untuk shalat Tarawih dengan surat-surat yang panjang. Maka suratnya dipilih yang pendek namun rakaatnya ditambah. Ingat, yang diperpendek adalah suratnya, bukan tumakninahnya.

Tidak ada pertengkaran di kalangan sahabat dan kaum muslimin atas perbedaan tersebut. Mereka percaya pada ijtihad ulama mereka. Namun hari ini, para ulama pun ikut bertengkar saling menyalahkan. Para pengikut mereka jadi ikut gontok-gontokan. Ditambah mantel organisasi masing-masing, pertikaian kian terasa meruncing sebab sudah disertai ashobiyah, kebanggaan terhadap golongan masing-masing.

Ternyata kita belum mampu bersabar atas perbedaan. Padahal persatuan ummat adalah misi pertama Rasulullah sebelum beliau membahas hukum syariat. Jika Al Quran saja mengatakan tak ada paksaan dalam beragama (aqidah), maka tentu lebih tak patut lagi kita memaksakan dalam masalah fiqih (cabang).

Sebab ketika ulama mujtahid berijtihad, yang benar mendapat dua pahala dan yang tidak benar mendapat satu pahala. Jadi sudah saatnya kita berhenti menyibukkan diri meributkan hal-hal khilafiyah. Perbedaan adalah sunatullah, tak mungkin dilawan. Yang perlu dilawan adalah ego kita masing-masing yang merasa paling benar. Tidak masalah jika kita memang benar namun menunjukkan sikap ‘paling benar’ itu yang salah.

Bagi seorang Muslim, Islam adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah, itu jelas Allah sebutkan dalam Al Quran. Menganggap semua agama sama adalah sebuah pengingkaran terhadap apa yang telah difirmankan Allah. Ini adalah masalah aqidah. Namun keyakinan bulat ini tak ujug-ujug membolehkan kita memaksakan aqidah kita pada orang lain yang berbeda aqidah. Silakan melakukan syiar, dakwah atau nasihat namun jangan memaksakan jika orang lain tetap pada keyakinan mereka.

Di sinilah kita perlu paham bahwa yang dinilai Allah bukan hasil tapi usaha kita untuk menyampaikan kebenaran. Jika patokan kita hasil maka akan muncul sikap memaksakan karena kita berharap hasilnya sesuai keinginan kita. Ini masalahnya. Sedangkan Rasulullah saja tak mampu membujuk pamannya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat apalagi kita yang masih jauh dari kualitas seorang Muhammad.

Sekarang di media sosial kita sering melihat bagaimana tidak sabarnya kita atas perbedaan dalam masalah furu’ atau cabang. Saking tidak sabarnya, masalah furu’ ini lalu kita kait-kaitkan dengan aqidah. Maka muncullah tudingan-tudingan bid’ah, kafir dan munafik yang diarahkan pada saudara seiman sendiri. Lalu terjadilah perpecahan, saling sindir dan saling tuding. Sungguh ini adalah perpecahan yang mengkhawatirkan. Bahkan perbedaan metode dakwah pun dijadikan masalah. Sungguh hati terasa sempit atas kondisi ini.

Yuk, mari kita mulai melapangkan hati atas segala perbedaan, mari bertolak ansur atas hal-hal furu’ yang diselisihi. Tetaplah ajak saudara kita melakukan kebaikan dengan cara yang baik, insya Allah cara yang baik dan berhikmah seperti ajaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan lebih cepat masuk dan diterima oleh hati manusia. (NSR)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *