Biografi Singkat Nasruddin Hoja

Biografi Nasruddin HojaSaya termasuk penggemar cerita-cerita Nasruddin Hoja sejak kecil. Dulu saya sering bertanya-tanya, siapa sih Nasruddin Hoja itu sebenarnya? Apakah hanya tokoh dongeng yang melegenda? Ataukah dia benar-benar ada?

Sekarang kita bisa menemukan dari berbagai sumber tentang tokoh ini. Salah satunya di Wikipedia seperti yang saya kutip berikut ini.

Banyak penduduk Timur Dekat, Timur Tengah, dan Asia Tengah mengklaim Nasruddin sebagai milik mereka. Misalnya Turki, Afganistan, Iran,dan Uzbek. Namanya dieja dalam berbagai variasi: Nasrudeen, Nasrudin, Nasruddin, Nasr ud-Din, Nasredin, Naseeruddin, Nasr Eddin, Nastradhin, Nasreddine, Nastratin, Nusrettin, Nasrettin, Nostradin, Nastradin dan Nazaruddin.

Terkadang namanya diawali gelar: “Hoxha”, “Khwaje”, “Hodja”, “Hoja”, “Hojja”, “Hodscha”, “Hodža”, “Hoca”, “Hogea”, “Mullah”, “Mulla”, “Mula”, “Molla”, “Efendi”, “Afandi”, “Ependi” (أفندي ’afandī), “Haji”. Pada beberapa budaya, ia dipanggil gelarnya saja.

Pada negara-negara yang menggunakan Bahasa Arab, Nasruddin dikenal sebagai “Juha”, “Djoha”, “Djuha”, “Dschuha”, “Giufà”, “Chotzas”, “Goha” (جحا juḥā). Juha sebenarnya adalah tokoh yang berbeda dari literatur Arabik semenjak abad ke-9 Masehi, dan populer sejak abad ke-11. Kisah keduanya menjadi tercampur pada abad ke-19 saat kumpulan naskah cerita diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Turki dan Persia.

Ia dianggap orang banyak sebagai filsuf dan orang bijak, dikenal akan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Ia muncul dalam ribuan cerita, terkadang jenaka dan pintar, terkadang bijak, tetapi sering juga bersikap bodoh atau menjadi bahan lelucon. Setiap kisah Nasruddin biasanya mengandung humor cerdas dan mendidik. Festival Nasreddin Hodja dirayakan secara internasional antara 5–10 Juli setiap tahun di kota tempat tinggalnya.

Menurut Prof. Mikail Bayram yang mengadakan penelitian ekstensif mengenai Nasruddin Hoja, nama lengkapnya adalah Nasiruddin Mahmud al-Hoyi, gelarnya Ahi Evran (karena menjadi pemimpin organisasi ahi). Ia lahir di Kota Hoy di Azerbaycan, menempuh pendidikan di Horasan dan menjadi murid seorang mufassir Quran yang terkenal, Fakhr al-Din al-Razi, di Herat.

Ia dikirim ke Anatolia oleh sang Khalif di Baghdad untuk mengorganisasi pertahanan dan perlawanan terhadap invasi Mongol. Ia menjabat sebagai seorang kadı (hakim Islamik) di Kayseri. Hal tersebut menjelaskan mengapa dalam cerita dirinya diminta menjadi hakim, tidak hanya dalam segi religius saja. Selama kekacauan invasi Mongol, ia menjadi lawan politik Jalaluddin Rumi, tokoh hebat lain pada masa itu yang juga tinggal di Konya. Ia dikenal di Masnavi dalam anekdot juha karena alasan ini.

Ia menjadi pengawas dalam ruang sidang Kaykaus II di Konya. Karena telah tinggal di berbagai kota dan area luas dan setia melawan invasi Mongol serta memiliki karakter yang jenaka, ia diterima berbagai bangsa dan kultur dari Turki sampai Arab, dan dari Rusia hingga China, yang kebanyakan merupakan bangsa-bangsa yang menderita akibat invasi Mongol.

Setelah beberapa generasi berlalu, beberapa cerita baru ditambahkan dalam kumpulan kisah Nasruddin, beberapa cerita dimodifikasi, ia dan kisah-kisahnya menyebar ke berbagai wilayah. Teman-tema dalam cerita menjadi bagian cerita rakyat dari beberapa negara dan mengekspresikan imajinasi nasional dari berbagai kultur. Meskipun kebanyakan menggambarkan Nasruddin berada di lokasi desa yang kecil, beberapa kisah lain menggunakan konsep masa hidup Nasruddin tidak dibatasi waktu. Mereka melengkapi folklore-nya dengan kebijaksanaan ringkas tetapi tajam yang mengungguli semua ujian dan penderitaan. Manuskrip Nasruddin tertua berasal dari tahun 1571.

Nasruddin wafat saat berumur sekitar 80 tahun. Ia dimakamkan di Aksehir, Konya. Makam marmernya dinaungi sebuah kubah kecil yang disangga enam pilar. Di makamnya terdapat tulisan: “Di sini dimakamkan Nasruddin, meninggal pada tahun 386”. Sebenarnya Nasruddin meninggal pada tahun 683 Hijriyah (sekitar 1284-1285 M), tulisan di makamnya dimaksudkan untuk lelucon dengan cara ditulis terbalik.

Nah, memang lucu kan tokoh satu ini, sampai makamnya pun dibuat anekdot hehe…

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih senang jadi relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *