Budaya Membaca dan Menulis Bangsa

Dunia literasi sedang bergeliat akibat tulisan Tere Liye tentang pajak buku. Beberapa sudut pandang juga disampaikan oleh pakar penerbitan buku dan tokoh dari Pusat Studi Analisis Perpajakan. Semoga semua bisa menyerap dengan baik dan yang tak kalah penting semoga permasalahan yang diangkat mendapat perhatian dari pihak yang berwenang dan mendapatkan jalan tengah terbaiknya.

Sebenarnya ini menjadi bahan koreksi yang bagus bagi bangsa kita, bahwa dunia literasi sudah saatnya dapat perhatian serius. Kesadaran bahwa dunia literasi adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan budaya bangsa yang positif. Namun sebagaimana yang saya tulis di status Facebook saya, bagi saya dunia literasi ini adalah bagian dari cinta yang sulit ditepiskan. Maka budaya menulis dan membaca menjadi bagian tak terpisahkan dari diri seorang penulis. Penghargaan yang sepantasnya tentu akan semakin meningkatkan semangat literasi itu sendiri.

Saya, yang baru muncul di media cetak sebagai penulis di tahun 2002, mungkin masih belum banyak tahu seluk beluk literasi itu sendiri. Namun saya merasakan rendahnya minat baca masyarakat kita. Dari 20 teman yang saya miliki misalnya, yang suka membaca dan nyambung diajak ngomongin buku paling hanya satu orang. Apalagi yang bisa menulis, lebih parah lagi tentunya.

Memang, sulit jika dibandingkan dengan negara lain. The World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun lalu merilis daftar negara-negara dengan peringkat literasi di dunia. Hasilnya? Dari 61 negara yang ada, Indonesia menempati urutan ke 60 dalam The World’s Most Literate Nations (WMLN). Ini adalah hasil studi yang dilakukan Presiden Central Connecticut State University, New Britain Jhon W. Miller.

Lima peringkat tertinggi diduduki oleh Finlandia, Islandia, Denmark, Swedia dan Norwegia. Di wilayah Asia lima urutan tertinggi dipegang oleh Korea Selatan, Jepang, Singapura, China dan Malaysia. Indonesia ada di urutan ke-60 dari 61 negara yang dinilai. Penilaian ini berdasarkan banyak variabel seperti jumlah perpustakaan, koran, sistem pendidikan (input/output), serta ketersediaan komputer. Hal ini pula yang menjadi alasan Perpustakaan Nasional RI melakukan beberapa program untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Saya dan Literasi

Saya lahir dan besar di sebuah kampung yang cukup jauh dari kota, sempat dijuluki sebagai desa tertinggal di zaman Orde Baru. Duh, mau malu juga udah lewat. Namun meski begitu, bapak saya yang seorang PNS selalu membelikan berbagai jenis majalah dan buku tiap kali ke Kota Payakumbuh. Bapak saya pecinta buku, pintar menulis juga. Namun tentu kesukaan saya menulis tidak lahir dari bakat genetik belaka. Ada pupuk yang disebarkan sejak saya kecil, yaitu majalah dan buku-buku yang selalu disediakan oleh orang tua saya. Di sini kita bisa melihat, peran orang tua juga sangat penting dalam menyuburkan minat baca seorang anak, yang kelak akan berkembang menjadi minat menulis.

Di tahun 2002 bakat dan hobby membaca serta menulis saya mulai menemukan salurannya. Tulisan saya yang pertama berhasil menembus media adalah sebuah cerita bersambung. Alhamdulillah, senang, bangga dan entah perasaan apalagi saat itu. Saya seperti ikan yang mendadak bertemu air. Begitulah. Seperti cinta yang menemukan tempat berlabuhnya. Lebay, ya?

Seiring berjalannya waktu, kesibukan sebagai istri dan ibu rumah tangga menjadi alasan saya untuk pensiun dini dari menulis buku. Sesekali saat rindu memuncak, saya masih mengirim naskah cerpen ke majalah, dan masih bisa melihat nama saya tercantum di media cetak. Lumayan untuk menjaga semangat menulis saya. Beberapa kali juga muncul undangan menulis atau menjadi juri lomba menulis. Jadi saya tidak benar-benar meninggalkan dunia kepenulisan sebenarnya. Apalagi di saat yang sama, saya menemukan media lain untuk menulis yaitu blog.

Saya dan Blog

Dunia blogging mulai saya kenal di tahun 2005 dengan platform Multiply, sebelum akhirnya kandas dan saya pun beralih ke platform Blogdrive, yang kemudian juga kandas dan akhirnya jatuh cinta pada WordPress. Di sinilah saya mulai membuat TLD dengan domain noviasyahidah.com di tahun 2008. Di tahun 2013 saya ganti menjadi tintaperak.com.

Saya benar-benar jatuh cinta pada blog meskipun kemampuan utak-atik blog saya ala kadarnya dan otodidak. Namun setidaknya saya menemukan 7 manfaat blog yang paling saya rasakan, makanya saya serius ngeblog.

  1. Memajang Karya

Karya yang saya maksud di sini adalah fiksi atau artikel saya yang pernah dimuat di media massa atau dibukukan. Dalam pikiran saya, inilah jejak saya kelak yang akan dibaca oleh orang lain. Orang bisa menikmati cerpen bahkan novel saya melalui dunia digital meskipun mereka tak memiliki buku atau media cetaknya.

  1. Menuangkan Ide dan Gagasan

Ada banyak ide dan gagasan yang bercokolan di kepala saya tentang berbagai hal. Ide dan gagasan ini ingin saya bagikan pada orang lain dengan harapan ada yang tercerahkan atau mendapat solusi darinya. Nah melalui blog semua ide dan gagasan ini bisa dituliskan secara blak-blakan, runut dan tuntas. Ide dan gagasan harus memiliki berbagai argumen dan alasan, maka untuk menuangkan semua itu kadang perlu secara panjang lebar, maka blog adalah media yang sangat tepat.

  1. Menyampaikan Kritik dan Saran

Nah, ini yang tak kalah penting. Kita sering kecewa melihat sebuah kondisi dan kita ingin melontarkan kritikan. Misalnya ke sebuah lembaga atau pemerintah. Dengan menulisnya di blog, kita bisa membagikannya ke berbagai jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan sejenisnya. Menulis kritik dan saran melalui blog tentu lebih terkesan bertanggung jawab dan serius dibanding jejaring sosial apalagi ngedumel tak karuan. Ini zaman keterbukaan informasi, maka menyampaikan kritik dan saran pun sudah bisa dengan cara terbuka. Yang penting disampaikan dengan bahasa yang baik dan benar.

  1. Catatan Harian

Fungsi inilah yang paling banyak ditemukan pada blog-blog pribadi terutama blog kaum perempuan. Perempuan itu tipe makhluk yang β€˜nguneg-nguneg’ dimana ketika uneg-unegnya tidak dikeluarkan maka bisa jadi bisulan. Maka solusi cerdasnya adalah dengan menuliskannya di sebuah catatan semacam Diary. Nah blog ini adalah Diary Digital yang sangat digemari oleh kaum perempuan.

  1. Penyeimbang Informasi

Fungsi yang satu ini menjadi sangat penting karena blogger biasanya cenderung kritis. Ketika berbagai media mulai tidak berimbang (berat sebelah) dalam memberi informasi maka blogger bisa menulisnya di blog secara berimbang. Apalagi dengan banyaknya situs dan broadcast dan berita hoax yang beredar, maka sangat dibutuhkan informasi aktual yang meluruskan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Di sini peran media sosial semacam blog dengan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sangat diharapkan bisa saling bersinergi dalam membangun dan menyebarkan informasi yang benar.

  1. Menjadi Arsip Mobile

Blog berbeda dengan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter yang time limit keterbacaannya sangat singkat. Jejaring sosial lebih dominan sebagai sarana berinteraksi langsung dan cepat (spontan). Berbeda dengan blog yang merupakan media sosial, dimana time limit keterbacaannya panjang bahkan nyaris tanpa batas selama media tersebut ada. Mencari tulisan yang dibutuhkan pun sangat mudah karena bisa dibagi berdasarkan kategori atau waktu postingan. Bisa dibilang blog itu seperti buku dengan berbagai bab di dalamnya, kapanpun kita mau dan butuh sebuah tulisan, kita bisa mencarinya di halaman dan bab yang sudah kita tentukan. Jadi semua tulisan kita akan terarsip dengan rapi secara digital dan mobile, bisa kita akses kapanpun dan di manapun kita mau.

  1. Menjadi Rumah Yang Nyaman

Bagi saya pribadi, blog itu seperti rumah yang nyaman. Sehari tak berkunjung rasanya ada yang kurang. Berkunjungpun kadang tak menulis apa-apa, hanya melihat-lihat isinya yang mungkin ada kekurangan di sana-sini, maka dengan penuh semangat saya perbaiki. Rumah saya harus cantik karena rumah ini akan menjadi (ehm!) personal branding pemiliknya. Jika rumahnya terlihat berantakan, maka orang akan berpikir selera saya juga berantakan. Maka membuat tampilan blog terlihat cantik, elegan dan mengesankan keperempuanan menjadi sebuah tuntutan bagi saya. Berlebihan? Menurut saya tidak, jika orang tahu betapa menyenangkannya memiliki sebuah blog. Tapi lebih dari sekadar tampilan, isi blog tentu jauh lebih penting.

Nah, itulah kurang lebih 7 manfaat blog bagi saya. Bisa sebagai tempat eksisnya karya-karya saya, bisa menjadi tempat bagi sampah-sampah di kepala, hingga bisa menjadi sebuah rumah yang nyaman di jagad maya. Setidaknya, blog membuat semangat literasi kita bisa tetap dijaga dan dikembangkan. Karena meskipun medianya blog (online) kita tetap harus menjaga kualitas tulisan kita. Harus tetap banyak membaca, apapun medianya. (NSR)

#PostinganTematik

#BloggerMuslimahIndonesia

Note: Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia dengan tema Budaya Membaca dan Menulis.

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


34 thoughts on “Budaya Membaca dan Menulis Bangsa

  1. Ipeh Alena

    Setuju…saya ngeblog juga sering untuk tujuan mengarsipkan beberapa hal penting. Salah satu contoh pada tulisan saya yaitu cara mengubah faskes BPJS yang lumayan membantu kalau saya lupa nama aplikasinya.

    Reply
  2. eva arlini

    yup, tanpa dukungan orangtua plus negara, sulit rasanya mengembangkan budaya membaca bangsa kita ya mbak.. heran juga kok untuk masalah keilmuan yang notabene demi kebaikan bangsa tak jua dimudahkan ataupun dimotivasi oleh pemerintah..

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Iya, tak hanya kesadaran masyarakat, kesadaran pemerintah pun perlu ditingkatkan. Idealnya, yang memegang pimpinan di kementerian pendidikan seharunya orang yang memang sangat peduli dengan dunia pendidikan.

      Reply
  3. Dian Restu Agustina

    Salut dengan cara Mbak Novia tetap eksis di dunia kepenulisan meski sudah pensiun dini dari menulis buku:)

    Saya juga menjadikan blog sebagai sarana seperti yang disebutkan di atas. Selain itu, blog juga saya jadikan hiburan..karena kini anak-anak sudah sekolah sampai siang, padahal saya tipe rumahan. Blog (menulis) saya jadikan pilihan kegiatan. Karena hobi baca, nyambungnya ke nulis akhirnya.

    Terima kasih sudah membagikan kisahnya dan ulasan tentang budaya baca tulis ini:)

    Reply
  4. denik

    Memang faktor orang tua sangat penting peranannya ya Mba dalam minat baca anak. Saya sempat kesal dengan orang tua murid yang gak bisa lepas dari hp. Sementara saya sedang berjuang mengajar baca tulis, di rumah seperti itu. Bagaimana si anak bisa cepat pandai membaca dan menulis? Orang tuanya cuek saja. Grrrrrrrhhhh

    Reply
  5. Lulu Khodijah

    Fungsi catatan harian kerasa banget saat ingin mengingat-ingat kembali apa yang udah dilakukan. Menambah rasa bersyukur juga karena ada catatan tentang berbagai macam hal..

    Reply
  6. Yurmawita

    Mba Novia tidak asing lagi namanya, aku mengenal nama Mba Novia dari majalah Annida, berlanjut ke tahun 2012 sering sekali nama Mba Novia mengiasi cover buku. Aku penggemarmu mba hehe..

    Reply
  7. Tatiek Purwanti

    7 hal tentang “saya dan blog” mengena banget, Uni. Saya sedang terus belajar jadi Mom Blogger yang konsisten πŸ™‚ Memang beda rasanya menuangkan isi kepala di blog dengan di facebook. Nulis di blog itu berasa sedang jadi jurnalis walopun dalam lingkup yang sederhana. Pun tulisannya memang tidak akan ‘klelep’ karena terarsip dengan baik. Terima kasih atas ilmunya πŸ™‚

    Reply
  8. siwilih

    Budaya baca di negara kita emang rendah banget, contohnya aja anak-anak sekarang kalau mau mengerjakan soal-soal pelajaran lebih enak bertanya daripada membaca bahan pelajarannya untuk mencari jawabannya. Kita membutuhkan peran banyak pihak untuk peningkatan minat baca di negara kita, mungkin yang paling awal adalah peran keluarga terutama ibunya sebagai contoh untuk anak-anaknya. Alhamdulillah di sekolah si kembar diwajibkan pinjam buku di perpustakaan sekolah setiap hari Senin setelah itu gurunya kadang meminta untuk menuliskan isi dari buku yang di pinjam, semoga ini jadi awal untuk meningkatkan minat baca dan menulis buku buat anak-anakku.

    Reply
  9. Novianti Islahiah

    Alhamdulillah Novi dipertemukan dengan teman-teman di komunitas blogger muslimah indonesia yang membuat selalu semangat menulis. Terimakasih uni atas sharing nya..bermanfaat banget πŸ™‚

    Reply
  10. Damar Aisyah

    Konsisten ngeblog memang hal baru bagi saya, karena sebenarnya sudah sejak lama punya blog yang kemudian penuh sarang laba-laba, hehe … Dan benar, begitu ketemu feel-nya, langsung deh, jadi rumah kedua.

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Iya Mbak Damar, motivasi kita harus terus dipupuk, motivasi yang lebih dari sekadar materi. Karena nilai tulisan yang bermanfaat itu sebenarnya gak bisa diukur dengan materi.

      Reply
  11. Helena

    blog jadi tempat menyampaikan kritik dan saran ya. Tapi aku masih ragu lho karena baca kasus yang berawal dari curhatan di blog malah bisa dipidanakan.

    Reply
  12. Haeriah Syamsuddin

    Saya banget tuh yang no 7, adem rasanya melihat rumah maya (blog) sendiri. Di sana ada curhat-curhatan gak jelas, ada pengalaman-pengalaman seru, ada foto-foto yang mengingatkan pada kenangan. Huah, banyak lagi pokoknya. Sukaaaa banget nge-blog.

    Reply
  13. Nabila

    Perlu langkah nyata bagi Indonesia, khusunya para penulis untuk menghidupkan dunia literasi kembali.

    Dunia membaca dan menulis sekarang sudah tak diminati anak-anak muda. Apakah ini berarti para penulis harus berinovasi, un?

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Sebenernya menyediakan ruang baca di dunia maya juga inovasi. Tinggal kita bantu menyediakan konten-konten berkualitas bagi generasi muda. Juga terus memotivasi semangat membaca dan menulis, termasuk melalui program PosTem ini.

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *