Buzzer Juga Manusia

Jadi begini, beberapa waktu yang lalu beberapa buzzer curhat ceritanya. Inti curhatnya aja yang saya kasih tahu ya, karena kalau dijembrengin semua bakal panjang banget, khawatir kamu yang baca ikut baper dan emosi 😀

Curhatnya kira-kira begini:

“Gue sebel banget Mbak, pas ikut event A kemaren. Koordinatornya gak banget deh! Dia memperlakukan kita seolah-olah kita anak buah dia, padahal kita kan sama-sama kerja buat klien A. Emangnya kalo tanpa kita-kita dia bisa nge-buzz sendiri? Harusnya mikir dong, dia juga butuh kita, jangan berpikir kalo kita doang yang butuh dia. Udah gitu, asal ada masalah, didramain di grup, kayak orang terzalimi sedunia. Padahal dia yang kerjanya gak becus!”

Cut! Cukup segitu aja ya, takut emosinya mulai merasuki kamu hehehe…

Di atas itu hanya contoh kasus yang terjadi pada seorang oknum koordintaor. Tentu enggak semua koordinator yang meng-hire buzzer berbuat seperti itu.

Ok, Gaes. Sekarang mari kita sama-sama coba pahami apa yang dicurhatin oleh para buzzer di atas. Terus terang ini mengingatkan pada status saya di Facebook beberapa waktu lalu tentang tidak mudahnya mengelola sebuah komunitas atau kelompok yang terdiri dari berbagai pemikiran dan latar belakang. Biar enggak kepo saya culik juga deh status itu untuk dibaca di sini ya.

~~~~~

Mengelola sebuah komunitas atau kelompok itu susah-susah gampang. Susahnya adalah ketika komunikasinya macet. Maklum, yang digawangi gak cuma satu kepala tapi banyak kepala dengan berbagai tingkah polahnya.

Kalau pemimpin atau pengurusnya mutungan, bisa semakin sulit membangun komunikasi. Belum lagi kalau ada konflik yang berujung pada versi-versian. Jika tidak ditengahi dengan bijak dan lapang dada, alamat mumet tak berkesudahan. Di sinilah pentingnya menguasai seni berkomunikasi, yang belum tentu ada di bangku kuliah. Karena seni berkomunikasi dengan manusia yang beragam itu lebih banyak kita pelajari dari kehidupan sehari-hari.

Blogger Muslimah, meskipun isinya Muslimah semua, bukan berarti gak ada percikan konflik. Ada aja. Maklum, isinya beragam juga. Ada yang suka drakor, ngebahas drakor bisa sampai 400 chat semalam. Ada yang sukanya ngebahas pelem India, ngomongin jodoh, curhat ini itu, ada lagi yang seneng bahas kondisi terkini, bisa politik, agama, gosip (eh bentar, gak cuma ibu-ibu lho, bapak-bapak pun suka kok ngegosipin orang lain kalo dah kumpul wkwkwkwk) dan lain sebagainya.

Dan gak semua satu frekuensi. Mulai dari frekuensi emosi, wawasan, kedewasaan, pengalaman dll, semua beragam. Nah, di sinilah perlu penengah, ketika cipratan konflik terjadi. Harus ada yang bisa melihat dari kedua sisi, memberi pandangan dan penjelasan tanpa emosi serta mencairkan ketegangan tanpa intervensi.

Tidak mudah, tapi itulah resiko berkelompok. Jika gak mau pusing, ya gak usah bikin kelompok.

Ingat lho, tanpa anggota, maka pendiri ataupun pengurus bukanlah siapa-siapa.

~~~~~

Nah itulah yang saya tulis waktu itu. Kesimpulan status Facebook itu sebenernya ada di paragraf-paragraf akhir, bahwa jika seseorang enggak mau dipusingkan oleh berbagai masalah anggota, enggak usah bikin kegiatan yang melibatkan orang banyak. Karena tanpa anggota yang banyak itu, apalah yang bisa dilakukan oleh seorang koordinator atau pengurus sebuah kelompok. Karena itu, gaya nge-bossy sebaiknya benar-benar dihindari.

Ingat, semua dibayar oleh klien!

Kembali ke curhat para buzzer di atas, ketika seseorang ditunjuk sebagai koordinator sebuah acara maka karakter pertama yang harus dimilikinya adalah mampu berkoordinasi dengan baik, termasuk di dalamnya pandai berkomunikasi. Jika sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit baper, sedikit-sedikit playing victim, ngedrama dan sebagainya, saya sarankan orang ini sebaiknya pensiun dini saja. Dia bukan seorang koordinator yang baik!

Ingat, para buzzer ini dibayar oleh klien (pemilik dana) bukan oleh si koordinator. Koordinator justru dibayar juga oleh klien untuk mengatur dan menyelesaikan semua masalah di lapangan dengan baik, termasuk masalah-masalah dengan buzzer itu sendiri. Kalau belum apa-apa sudah mengeluh dan malah bikin rusuh para buzzer, maka orang ini tidak layak dibayar oleh klien. Lebih baik cari orang lain yang lebih profesional.

Ingat, para buzzer itu juga manusia meski pola kerja mereka seperti robot. Perlakukanlah mereka sebagai mitra kerja, bukan sebagai anak buah yang boleh disuruh-suruh seenaknya, dimarahi, atau dipojokkan sesuka hati. Apalagi diancam tidak akan dikasih job lagi. Ini kanak-kanak dan tidak menyelesaikan masalah. Karena itulah perlu sekali kemahiran berkoordinasi dan berkomunikasi. Perlu juga kemahiran menghadapi orang banyak, kemahiran mengantisipasi resiko dan sebagainya. Karena seorang koordinator dibayar oleh klien untuk itu.

Setidaknya beberapa point berikut harus dimiliki oleh seorang kordinator:

  • Kamampuan Memenej

Seorang koordinator harus paham detail pekerjaan yang dibebankan kepada buzzer, harus bisa mengarahkan dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kegiatan nge-buzz dilakukan. Harus bisa mengatur sedemikian rupa sehingga apa yang diharapkan klien tercapai dan para buzzer pun tak dizalimi haknya.

  • Kemampuan Briefing

Briefing ini penting agar tidak ada yang salah paham terhadap pekerjaan mereka, misalnya saja saat nge-buzz apa saja tagar yang digunakan, hal-hal apa saja yang harus dihindari dan kapan batas waktu pekerjaan para buzzer. Tentunya juga soal bayaran, berapa dan kapan akan diberikan. Semua harus jelas dari awal.

  • Kemampuan Berkomunikasi

Kemampuan berkomunikasi ini sangat penting karena dari sinilah segala hal bisa tersampaikan dengan baik, segala permasalahan yang muncul terselesaikan dengan baik pula, serta dari komunikasi yang baik pula hubungan baik antara buzzer dan koordinator akan terus terjaga.

  • Kemampuan Mengontrol

Kemampuan mengontrol juga diperlukan agar para buzzer tidak melenceng dari tugas mereka sebenarnya. Juga agar tetap fokus pada tujuan. Tak hanya mengontrol pekerjaan, seorang koordinator juga harus bisa mengontrol emosinya dan emosi para buzzer-nya saat terjadi kesalahpahaman.

  • Kemampuan Bekerjasama

Ada yang membedakan sama-sama bekerja dengan bekerjasama. Sama-sama bekerja itu hal gampang. Sementara bekerjasama menuntut kekompakan, koordinasi, saling pengertian dan kepercayaan. Membangun kerjasama ini harus dimulai dari koordinatornya. Jangan menuntut para buzzer memahami sementara koordinatornya sendiri tidak menunjukkan sikap yang sama.

Nah, kurang lebih itu yang harus dikuasai oleh seorang koordinator.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, mungkin sebaiknya setiap komunitas atau kelompok benar-benar perlu mempertimbangkan siapa yang sebaiknya dipilih sebagai koordinator dalam sebuah acara karena efeknya nanti pada nama baik kelompok atau komunitas Anda. Dan jangan lupa, buzzer juga manusia, punya rasa punya hati… halah!

Salam Komunitas!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


18 thoughts on “Buzzer Juga Manusia

  1. Anisah

    Saling aja yah,namanya juga sama2 butuh. Nah itu dia pentingnya jaga sikap dan komunikasi,susyah tapi harus di manage,hehe. Saya pribadi juga masih susah kalau berkoordinasi,hehe,masih twrus berlatih.

    Reply
  2. Junjoewinanto

    Waaaaawww. Ini sedap banget, gurih, renyah, dan kriuk-kriuk. Hahaha. Begitulah kondisinya. Komunikasi itu sangat penting. Buat brief juga tak kalah penting. Koordinator itu ya berkoordinasi dan problem solver, bukan diktator atau intimidator. Keren!

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Hehe memang gurih apalagi kalo digoreng lagi, Jun. Ini tulisan beberapa bulan lalu tapi kejadiannya akan terus berulang kalo gak ada yang instrospeksi diri. Kalo mau nge-bossy, bikin perusahaan aja sendiri. 😀

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *