Cadar dan Kisah Panjang di Belakangnya

Cadar atau niqab yang belakangan sering saya pakai dan menghiasi media sosial saya bukanlah ajang ‘pamer’ sembarang pamer. Aih, apa pula ini? Ya, ada maksud tertentu kenapa saya mulai memosting foto-foto itu sejak beberapa bulan lalu. Termasuk foto-foto bercadar saat saya ngetrip ke Malaysia beberapa bulan lalu. Salah satu maksudnya adalah untuk pembiasaan bagi teman-teman saya di media sosial, agar kelak ketika bertemu mereka gak kaget. Jadi sudah ada isyarat jauh-jauh hari.

Dan setelah foto bercadar yang saya posting pas lebaran kemarin, banyak yang bertanya apakah itu serius atau hanya iseng belaka? Maka untuk menjawabnya saya sediakan waktu khusus untuk membahasnya di sini. Semoga siapapun yang penasaran bisa memahaminya, tak berpikir bahwa ini hanyalah tindakan ikut-ikutan atau trend fashion semata.

Cadar bukanlah hal baru bagi saya. Sudah sejak tiga tahun lalu terlintas soal ini, namun karena saat itu saya ngantor, rasanya sulit sekali bagi saya untuk memutuskan. Meksipun mungkin tidak akan dilarang juga karena kantor saya cukup Islami. Tapi ya hanya terlintas saja, tidak benar-benar saya pikirkan. Setahun yang lalu terpikir lagi untuk memakainya, kali ini lebih serius. Meski serius, namun saya memang tak langsung memakai cadar sebab putri  sulung saya masih keberatan.

Dia memang tak mengatakan secara gamblang alasannya tapi saya bisa memahami. Mungkin dia khawatir bundanya akan diejek, dituding teroris, jadi gak gaul, gak fashionable lagi dan sebagainya. Ya, sesuai pikiran seorang remaja deh. Bagi saya cadar itu sunnah maka menjaga perasaan putri saya serta menunggu kesiapannya lebih penting bagi saya. Saya gak terlalu berusaha meyakinkan dia dengan alasan-alasan saya, namun saya menguatkan doa saja agar Allah memudahkan segala niat baik saya. Jika itu memang baik, semoga diringankan, jika tidak semoga saya tak lagi dilanda kegalauan.

Hingga entah kenapa, tiba-tiba pada malam terakhir Ramadhan, selepas tarawih saya merasa begitu tersentak, hati saya begitu yakin bahwa tanggal 1 Syawal saya akan mulai memakai niqab secara konsisten. Sulit sekali dijelaskan bentuk perasan saya. Pikiran saya seakan diarahkan pada satu keputusan yang selama ini membimbangkan. Saya bingung, apakah ini jawaban dari Allah atas kegalauan saya selama ini? Saya pun jadi mendadak mellow. Saya bawa baca Al Quran, eh baru baca sedikit malah nangis, dibawa shalat tetep nangis. Pokoknya mellow banget tanpa bisa dicegah. Keesokan harinya, di hari terakhir puasa, seharian saya memikirkannya. Sampai malam takbiran pun masih saya pikirkan karena perasaan dan pikiran saya seakan sudah mengonsepnya seperti itu, bahwa 1 Syawal adalah hari start bagi saya. Hati saya seakan terus membisikkan, “Lakukan dan tenang, semua akan baik-baik saja.”

Saya belum menyampaikan apapun pada suami saya, sementara waktu sudah semakin dekat. Tapi saya harus bicara, saya juga gak mau membuat dia kaget meskipun saya tahu dia mendukung. Saya pun memilih diam dan tidur menemani putri bungsu saya di kamar. Sumpah, saya gak tahu bagaimana menyampaikannya. Lalu tengah malam, saat suami saya belum tidur dan saya tiba-tiba terbangun, saya langsung bilang, “Yah, mulai besok aku pakai cadar ya. Gak tau kenapa, sejak kemaren malam hatiku begitu yakin.”

Dia tampak heran, tapi gak melarang. Mungkin dia masih bingung dengan keputusan mendadak saya. Tapi tetap special thanks buat suami saya yang selalu mendukung keputusan saya soal ini. Tinggal satu lagi, putri sulung saya yang selama ini belum merestui. Anak-anak saya yang lain malah asyik-asyik saja melihat saya pakai cadar. Yang cowok apalagi, dia sampai bilang, “Bunda cantik deh, pakai aja terus, Bun.”

Dan keesokan harinya, saat saya benar-benar memakainya, putri sulung saya cuma bertanya, “Bunda pakai cadar?” Saya tersenyum mengangguk. Komentarnya gak banyak melihat penampilan baru saya dengan jilbab merah, cadar merah dan gamis hitam, “Iiih, Bunda lucu.”

Itu sudah cukup bagi saya. Yang saya khawatirkan hanya penolakannya di saat hati saya sudah bulat. Alhamdulillah semua terasa dimudahkan. Saat bersalaman dengan tetangga untuk mengucapkan selamat lebaran, mereka pun tampak woles aja, gak terlihat kaget atau menolak.

Sebagian teman sudah tahu bahwa saya sudah lama mengenal cadar, jauh sebelum cadar familiar seperti sekarang. Sekitar tahun 1995 saya sudah pernah memakainya meskipun hanya di saat-saat tertentu. Saat itu cadar masih sangat asing, sehingga pandangan masyarakat pada kita terasa sangat menusuk jantung, hehe. Di bawah ini adalah foto-foto jadul saya.

Ya, saat itu kumpulan yang terkenal dengan pakaian cadarnya adalah jamaah Al Arqam yang berpusat di Malaysia. Saya memiliki banyak teman dari jamaah tersebut. Hal pertama yang menarik hati saya untuk membersamai mereka adalah nasyid-nasyidnya yang bagus dan menyentuh, salah satunya adalah nasyid Munajat yang fenomenal. Hal kedua adalah cadar. Bagi saya pakaian cadar ini sangat unik, menarik dan sesuai dengan syariat Islam. Begitu pikiran saya waktu itu. Mungkin itu bisikan fitrah saya sebagai muslimah. Meskipun jilbab panjang juga sudah saya kenal sebelumnya, namun cadar ini terasa lebih menarik perhatian saya. Saat itu usia saya masih 20 tahun dan memang masih senang-senangnya bertualang, mencari teman dan pengalaman sebanyak mungkin.

Jamaah yang divonis sesat ini bagi saya sebenarnya tak terlalu merisaukan. Sebab sebagai mahasiswa saya sudah cukup bisa berpikir kritis, apa yang bisa saya terima dan apa yang gak bisa saya terima dari jamaah ini. Saya menerima nasyid mereka, menerima cadar mereka, menerima ajaran akhlak mereka yang memang bagus begitupun ibadah rutin seperti shalat yang selalu dijalankan di awal waktu. Tapi saya belum bisa menerima amalan di luar itu seperti zikir-zikir dan keyakinan bersifat ghaib lainnya semisal masalah Imam Mahdi yang gak sejalan dengan apa yang saya yakini. Saya gak bisa percaya pada apa yang mereka percayai. Maka bisa dibilang kaki saya hanya sebelah yang berada dalam jamaah ini, satunya lagi ya di luar.

Di jamaah inilah saya mengenal keluarga Gen Halilintar. Suatu ketika, saya membaca sebuah artikel di majalah. Saya terkejut. Cerita tentang keluarga Gen Halilintar yang fenomenal. Saya amati dengan seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya. Ya, ampun! Ini kan keluarganya Ustadz Halilintar yang saya kenal dengan nama Ustadz Jundullah. Ya, waktu masih akrab dengan jamaah Al Arqam dulu,  saya sudah mengenal Ustadz Halilintar atau Ustadz Jundullah, bersama istri beliau Kak Lenggogeni. Kebetulan Kak Geni ini kampungnya juga bersebelahan dengan kampung saya di Payakumbuh. Jadi saya cukup mengenal beliau.

Saya pertama mengenal mereka waktu ikut acara pertemuan Keamiran se-Indonesia yang dilangsungkan di Riau, dan Ustadz Halilintar waktu itu menjabat sebagai Amir tertinggi untuk Indonesia, di bawahnya ada Ustadz Riesdam Effendi (almarhum) sebagai Amir nomor dua di Indonesia. Ustadz Effendi ini adalah suaminya Kak Gina Puspita yang sama-sama bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) di bawah pimpinan Pak BJ Habibie waktu itu. Di sanalah saya pertama kali bertemu dengan Kak Geni dan Kak Gina, dua muslimah dengan posisi penting dalam jamaah tersebut. Seingat saya, Atta Halilintar waktu itu masih batita. Sekarang sudah jadi selebgram dan youtuber ngetop. Aih, mendadak saya merasa tua. 😀

Saat ini keduanya (Kak Geni dan kak Gina) sudah sama-sama membuka cadar mereka dan sepertinya juga sudah berpisah haluan. Setahu saya, Ustadz Halilintar sudah terlebih dahulu meninggalkan jamaah ini, semasa Abuya (panggilan untuk pendiri jamaah Al Arqam yaitu Ustadz Azhari Muhammad) masih hidup. Dan saat ini keluarga Gen Halilintar sudah begitu populer dan wara-wiri di TV sebagai seleb yang sukses. Kisah keluarga mereka menginspirasi banyak orang karena keunikannya. Meski sudah tak menampakkan lagi tanda-tanda bekas jamaah Al Arqam tapi rupanya masih ada yang mengenali.

Sempat beredar berita yang ditulis oleh seseorang bahwa jamaah Al Arqam mengumpulkan dana dari jamaah mereka dan hasilnya diserahkan pada pemimpin-pemimpin Al Arqam, makanya Ustadz Halilintar yang dijuluki Sang Duta ini bisa hidup mewah seperti sekarang. Saya rasa itu tudingan yang keliru. Sebab setahu saya, sejak dulu Ustadz Halilintar dan Kak Geni ini memang sudah terkenal pintar berbisnis. Mereka dari keluarga berada, orangtua mereka sama-sama bekerja di Caltex, Dumai. Kepintaran berbisnis sudah ia kuasai sejak muda. Makanya tak heran jika beliau jadi andalan dan orang nomor satu dalam jajaran Keamiran jamaah Al Arqam dan juga sukses membangun bisnis di berbagai negara. Itu terlihat pula pada anak-anak mereka yang sejak kecil sudah diajari mandiri dan berbisnis.

Secara umum jamaah Al Arqam memang hebat dalam membangun bisnis. Mereka tidak memungut uang dari jamaah tapi justru memberikan pekerjaan untuk jamaahnya. Mereka membangun berbagai bisnis, mulai dari produksi kaset nasyid yang laris manis dan digemari berbagai kalangan, sebut saja grup nayid Nada Murni (kemudian berubah jadi Rabbani), Hijjaz, Hawari, Mawaddah (khusus muslimah), Raihan dan sebagainya. Mereka juga merintis bisnis salon muslimah, klinik kesehatan, kosmetik halal dan sebagainya. Sungai Pencala sebagai pusat perkembangan jamaah ini telah menjadi sebuah wilayah percontohan untuk sebuah perkampungan Islam di Malaysia sebelum dilebur oleh pemerintah Malaysia. Jadi jamaah ini memberdayakan anggotanya untuk berbisnis bersama, meskipun sebagian masih tetap pada pekerjaan mereka seperti almarhum Ustadz Effendi dan Kak Gina yang tetap jadi karyawan IPTN, begitupun yang lainnya.

Buat saya, pernah mengenal mereka semua merupakan kenangan tersendiri yang membuat saya sering berpikir, betapa orang tak kan pernah menduga apa yang akan terjadi keesokan harinya. Semua bisa berubah sedemikian rupa. Yang hari ini tersesat, besok bisa kembali ke jalan yang lurus. Yang hari ini merasa sudah lurus, boleh jadi besok membelok dan tersesat. Sebab memang itulah sunatullah di akhir zaman ini, iman sungguh tak bisa dijamin, pagi beriman sore sudah kafir, malam beriman pagi sudah kafir. Kafir bukan berarti ganti agama di KTP tapi kafir dalam tingkah laku dan perbuatan. Maka perbanyaklah berdoa pada Allah agar senantiasa menjaga iman Islam kita.

Ya, memang begitulah hidup, setiap perjalanannya adalah pelajaran berharga yang bisa kita petik untuk melangkah ke depan. Saya bersyukur pernah mengenal mereka semua, karena banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapat selama membersamai jamaah ini. Saya jadi lebih bisa menerima perbedaan, lebih bisa bertoleransi dan gak selalu merasa paling benar.

Saya tahu rasanya disinisin dan diceletukin dengan sebutan yang gak enak di kuping saat memakai cadar. Pernah pula seorang pedagang iseng menarik cadar teman saya di pasar. Bahkan saya pernah mengalami saat rumah kediaman teman-teman Al Arqam dilempar oleh masyarakat yang gak suka dengan kehadiran mereka. Pernah pula membantu mereka pindahan karena diusir oleh RT setempat. Ya, pokoknya cukuplah ikut ngerasain perlakuan buruk dari masyarakat selama dekat dengan teman-teman Al Arqam. Dan semua itu membuat saya jadi lebih paham arti menghargai perbedaan.

Saya juga tahu rasanya disudutkan dan disindir oleh teman-teman pengajian saya sebelumnya saat mereka tahu saya berhubungan dekat dengan teman-teman di jamaah Al Arqam. Mungkin mereka khawatir saya terbawa sesat. Padahal tak semestinya terlalu menunjukkan sikap penolakan, sebab saya juga bisa berpikir mana yang masih masuk dalam logika dan mana yang tidak. Meskipun agama tak melulu bisa diukur dengan logika, toh ada dalil yang bisa kita jadikan pegangan. Kira-kira begitu pikiran saya waktu itu.

Tapi saya cukup bisa memaklumi sikap teman-teman pengajian saya. Kondisi waktu itu memang berbeda dengan kondisi sekarang. Dulu dunia pengajian terasa saklek sekali. Atau mungkin saya yang terlalu longgar dan beranggapan semuanya baik-baik saja, meski berteman dengan siapapun. Mungkin saya aja yang beranggapan bahwa kita bisa belajar dari kelompok manapun, ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Ya, pada akhirnya saya memang tak menyalahkan siapapun, merapat dan menjauhnya saya dari jamaah Al Arqam adalah keputusan saya sendiri, tanpa paksaan atau bujukan dari siapapun. Dan saya tak pernah menyesal mengenal mereka, sebab banyak ilmu juga yang saya dapat bersama mereka.

Alasan pertama mungkin iman saya belum sekuat yang diharapkan untuk mempertahankan cadar saya. Kedua karena dalam lingkungan pengajian saya cadar masih dianggap hal yang memberatkan dakwah, jadi bab-nya adalah bab Fiqhud Dakwah. Cadar adalah sesuatu yang sunnah sementara dakwah adalah sesuatu yang wajib. Maka mendahulukan dakwah adalah lebih penting, kira-kira begitu. Namun seiring berjalannya waktu, perubahan demi perubahan dalam cara berdakwah telah membuka banyak pintu-pintu dakwah yang lain. Dakwah sudah lebih terbuka, sudah merambah dunia politik, fashion, televisi, film dan sebagainya. Siapapun bebas memilih mana yang lebih sesuai dengan diri mereka. Tak ada paksaan dalam bergama, apalagi dalam memilih cara berdakwah.

Mana yang lebih baik dari semua metode itu? Saya rasa tak perlu ada klaim-klaiman mana yang lebih baik dan benar, setiap orang memiliki hujjah sendiri. Silakan pilih dan lakukan metode yang paling sesuai dengan keyakinan masing-masing, tak perlu merendahkan atau menghujat cara orang lain. Di akhir zaman ini, orang mau berdakwah saja sudah bagus karena tantangan dakwah semakin berat, godaan dan ujian kian banyak. Mungkin hijab syar’i dan cadar sudah semakin familiar dan diterima, namun godaan dan ujian semakin berat dalam bentuk yang berbeda dibanding dulu.

Tak perlu mereka yang sudah bercadar puluhan tahun lalu merasa mereka lebih baik, atau mereka yang baru bercadar hari ini merasa lebih baik pula dari yang gak pake cadar. Atau yang sudah berhijab syar’i meremehkan mereka yang berjilbab pendek. Jangan! Karena itu adalah kesombongan yang ditiupkan iblis ke dalam hati kita secara halus. Dan sifat sombong adalah sifat yang sangat dibenci Allah, kesombongan lah yang membuat Iblis terusir dari surga Allah. Pakaian hanyalah satu dari sekian banyak amalan dan ibadah yang wajib dan sunnah dikerjakan. Boleh jadi mereka yang tak bercadar ibadahnya jauh lebih banyak, jauh lebih ikhlas. Who knows?

Cukup Allah yang menilai kualitas diri hamba-hamba-Nya. Jika memang ada yang kita anggap kurang maka perbaikilah dengan cara yang baik, jangan menghujat, menyudutkan atau menghakimi karena itu bisa membuat orang malah menjauh dari hidayah. Sampaikanlah yang baik dengan cara yang baik pula. Hal yang sangat sering saya ulang-ulang adalah bahwa setiap orang butuh proses untuk menjadi lebih baik, maka tahanlah diri kita untuk tidak men-judge seseorang ketika mereka masih dalam proses tersebut. Jangan sampai sikap kita malah membuat prosesnya jadi terhalang bahkan mental.

Jelas tak mudah untuk istiqamah, karena istiqamah adalah hal yang paling berat. Namun saya berharap (meskipun meyakini sebagai sunnah) saya tetap bisa istiqamah memakainya. Tentu cibiran, ejekan, tatapan sinis dan sebagainya tak bisa dinafikan, namun bukankah setiap pilihan ada positif dan negatifnya, setiap pilihan ada resikonya. Hidup di dunia ini adalah deretan resiko demi resiko. Karena dunia adalah temapt ujian bagi seorang Muslim. Muslimah bercadar pun tak kurang-kurang ditempa fitnah. Yang terberat adalah fitnah teroris seperti yang baru-baru ini terjadi.

Namun Allah memang Maha Hebat. Di saat muslimah bercadar diidentikkan dengan teroris, muncul pula berita  di berbagai media bahwa istri polisi korban teroris di Riau ternyata memakai cadar juga. Masya Allah. Terlihat foto Kapolri mengunjungi ruang perawatan polisi tersebut untuk menyerahkan penghargaan. Dan tak hanya satu itu saja istri polisi yang memakai cadar, masih ada beberapa orang lagi. Di bawah ini hanya contoh foto-foto yang banyak beredar di internet.

Muslimah bercadar juga manusia biasa yang tentunya bisa berbuat salah dan khilaf. Sama seperti muslimah berjilbab lainnya. Hukum cadar tak ujug-ujug bisa dikaitkan dengan hukum akhlak. Keduanya butuh waktu untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan. Tak ada manusia yang sempurna. Saya sering membaca atau mendengar tudingan begini misalnya, “Percuma berjilbab atau bercadar, mulut gak dijaga!”

Meskipun tudingan itu tak diarahkan pada saya namun membacanya tetap saja hati saya tertohok. Sebab saya juga berjilbab, itu seperti pecut buat diri saya juga. Namun sekali lagi setiap orang perlu proses. Dari mana ia memulai proses itu bisa jadi berbeda-beda pada setiap orang. Yang sudah berjilbab atau bercadar, perlu proses untuk menyempurnakan akhlaknya. Mereka yang belum berjilbab perlu proses untuk mempelajari dan meyakini wajibnya hukum menutup aurat. Memang sebaiknya akhlak berbanding lurus dengan penampilan namun tetap saja hukum keduanya berbeda dan hisabnya nanti juga berbeda. Hukum membuka aurat beda azabnya di akhirat dengan hukum bergunjing atau berzina misalnya.

Khusus tentang hukum Ccadar sendiri, silakan dibaca di sini: Hukum Cadar yang Saya Yakini

Jadi mari kita saling mendukung, saling mengingatkan dengan cara yang baik, singkirkan ego dan perbedaan mazhab, perbedaan kelompok dan semoga Allah turunkan ampunan-Nya atas dosa-dosa kita di masa lalu. (NSR)

 

 

Salam Ukhuwah

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


15 thoughts on “Cadar dan Kisah Panjang di Belakangnya

  1. Yayu arundina

    Tulisan yang menarik. Aku ikut nangis juga liat videonya. Semoga ada hikmah positif untuk umat islam dari setiap peristiwa yah. Semoga kita selalu menjadi lebih baik. Aamiin

    Reply
  2. Cahya Naurizza

    Baarokallah Uni Novia…

    Selalu mewek lihat video peluk itu.

    Etapi kali ini gagal fokus sama itu baju putih, siapakah dia? Kok bisa B Indo?

    Wkwk maaf saya kudet

    Reply
  3. denik

    Semoga dimudahkan dalam segala hal ya Mba. Memang tidak mudah menjadi berbeda itu. Apalagi tidak semua orang bisa dengan mudah menerima perbedaan. Semangaaaattt …Mba!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *