CEMBURU

Di desa Guguak itu orang biasa memanggilnya Upik. Orangnya sangat pencemburu. Kemana pun suaminya melangkah, bawaannya pasti curiga. Padahal kadang Buyung, suaminya itu, cuma mau buang hajat di jamban belakang rumah. Atau mengambil pupuk kandang ke rumah Inyiak Itam yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah mereka. Pokoknya cemburunya benar-benar parah!

Konon Upik bersikap demikian karna Buyung dulunya adalah seorang pemuda yang tampan dan jadi rebutan para gadis di desa itu. Untunglah Buyung termasuk tipe laki-laki yang sabar dan tidak mau melayani sikap istrinya yang keterlaluan itu.

Seperti pagi ini, perempuan itu kembali berkicau. “Awas kalau Uda macam-macam! Upik laporkan Uda sama Datuk Leman, biar Uda tahu rasa!” ancamnya serius. Datuk Leman itu adalah ayah Buyung, alias ayah mertuanya sendiri.

Buyung cuma tersenyum acuh. “Lebih baik Upik pikirkan bagaimana caranya agar dagangan Upik itu laku keras. Dari pada memikirkan hal-hal yang hanya memusingkan kepala Upik sendiri,” kata Buyung geleng-geleng kepala.

“Eeehh, Uda mau berkelit, ya? Takut belang Uda ketahuan?” balas Upik mulai sewot.

“Upik, Upik! Sudah sepuluh tahun kita menikah, masih saja Upik tidak percaya sama Uda. Apa Upik tidak malu sama Neti, anak kita.” Buyung berusaha meredakan keributan yang mulai pecah.

Iyo, Mak. Neti malu sama orang-orang kampung. Katanya Amak tukang cemburu,” celetuk anak mereka yang sedang memakai sepatu sekolahnya di belakang Upik.

“Heh! Diam kau, paja nanah! Ikut campur saja urusan orang tua!” bentak Upik marah. Anak perempuan yang berusia 9 tahun itu merenggut, melirik Amaknya kesal-kesal takut.

“Anak kecil saja tahu kalau kelakuan Upik itu tidak baik. Masa Upik tidak sadar-sadar juga?” Buyung berusaha sabar menasehati istrinya.

“Alaaah..! Sudah! Ambo mau ke pasar! Kalau Uda mau berpidato, mengapa tidak ke mesjid saja? Banyak yang mendengarkan!” sungut perempuan itu sambil mengangkat bakul berisi lapek bugih dagangannya. Begitulah cara dia mengelak jika sudah merasa tersudut. Anaknya yang masih terus menatap punggung Upik, menjulurkan lidahnya, sebal.

“Hus! Tidak boleh begitu sama Amak kau!” Buyung melototkan matanya.

“Habis…, Neti kesal, Bak! Amak selalu mau menang sendiri. Selalu menuduh Abak yang tidak-tidak!” Bocah perempuan itu bersungut-sungut.

“Sudahlah. Jangan dihiraukan. Nanti terlambat pula sekolahnya,” kata Buyung sambil bangkit dari duduknya.

“Abak tidak ke sawah?” tanya anak perempuan itu pula sambil menyandang tas sekolahnya yang penuh buku.

“Hari ini Abak mau ke parak. Parak yang di mudik sudah lama tidak Abak siangi. Mungkin semaknya sudah tinggi-tinggi sekarang,” jawab Buyung.

“Neti pergi dulu ya, Bak. Assalaamu’alaikum.” Anak itu nampak tergesa menuju pintu.

“Wa’alaikum salam…” Tersenyum Buyung memandangi anaknya yang berlari ceria menuju jalan depan rumah mereka, mengejar serombongan teman sekolahnya yang sedang lewat.

@@@

“Ni Ros! Ni Rosma!” Upik setengah berlari mengejar seorang perempuan yang sedang berjalan masuk ke pasar Garegeh.

“Ada apa, Pik?” tanya wanita bernama Rosma itu.

Upik berdiri tepat di hadapannya. “Tadi Upik bertengkar dengan Da Buyung. Habis dia mulai macam-macam sama Upik. Kemaren malam Upik lihat dia duduk lama di lapau si Ida. Itu…, janda yang baru cerai itu!” Bibirnya maju beberapa centi.

“Lho, apa salahnya duduk di lapau? Mungkin Buyung mau minum kopi. Atau mau baganja barangkali,” jawab Rosma dengan alis berkerut.

“Aduh, Ni Ros ini! Yang namanya laki-laki, pantang melihat perempuan nganggur, Ni! Dan Da Buyung itu, walaupun sudah berusia 35 tahun, tapi masih tetap kelihatan gagah! Upik tidak yakin janda itu bisa tahan.” Upik terus meyakinkan.

“Pik, Buyung itu adik Uni! Sudah sejak kecil Uni mengenalnya. Dia tidak mungkin berbuat gila dengan si Ida. Lagi pula kenapa dulu kau mau punya suami gagah? Sekarang repot sendiri, kan? Sudahlah, jangan terlalu berburuk sangka!” Rosma menasehati.

“Justru karna dia adik Uni, makanya Upik mau minta tolong. Cobalah Uni nasehati dia, agar jangan suka singgah ke lapau si Ida lagi,” kata Upik memohon.

Rosma menarik nafas panjang. Benar-benar pusing menghadapi adik iparnya yang satu ini. “Baiklah. Nanti kalau sempat Uni sampaikan.”

“Jangan kalau sempat, Ni! Uni harus menyempatkannya!” Upik nampak gusar.

Sekali lagi Rosma menarik nafas panjang. “Iya, iya. Sudah, ya? Uni mau belanja. Lapek bugih-nya bagaimana? Sudah habis?” Rosma melongok ke dalam bakul milik Upik.

“Ehm, masih tinggal separo. Habis dari tadi Upik mencari Uni terus,” jawab Upik tersipu. Rosma menggeleng-gelengkan kepala seraya berlalu masuk ke pasar. Upik menatapnya dengan senyum dikulum. Hatinya kini sedikit lega, karna Rosma akan membantunya menjauhkan  Buyung dari janda baru itu.

@@@

“Pik, memikirkan apa lagi?” Sebuah teguran membuat Upik yang sedang duduk menjuntai di tangga rumahnya, menoleh seketika. Senyum Yusni mengembang menghampirinya.

“Pasti memikirkan Da Buyung lagi, ya?” tebak perempuan tetangganya itu. Upik cuma mengangguk tak menjawab. Yusni lalu duduk di anak tangga yang lebih rendah.

“Hati-hati lho, Pik. Belakangan ini aku lihat Da Buyung sering duduk di lapau si Ida. Lama lagi! Sama seperti Da Ujang.” Nada suara Yusni terdengar memanasi.

“Masa? Da Ujang juga sering ke sana?” Mata Upik membesar. Ia seperti menemukan teman senasib.

“Tapi aku tidak berani menegurnya, Pik. Kau kan tahu sendiri, Da Ujang itu suka main tangan. Bisa-bisa aku remuk dihantamnya,” kata Yusni dengan mimik sedih.

“Kau ini, Yus! Jadi perempuan kok penakut amat! Bisa dinjak-injaknya kita kalau diam saja!” Mata Upik menyala, seakan ingin memberi semangat pada teman senasibnya itu. Tapi sesaat kemudian ia nampak mendengus lesu, melarikan pandangannya ke arah halaman yang ditumbuhi rumput liar.

“Coba…kita punya satu cara untuk membuat para suami itu tak berkutik.” Mata Upik menerawang seperti memikirkan jalan keluar bagi sebuah masalah yang maha besar.

“Oya, bicara soal cara, aku tahu sesuatu, Pik! Tapi…” Kalimat Yusni yang semula bersemangat itu tiba-tiba menggantung ragu.

“Apa itu? Ayo katakan, Yus!” Upik menoleh penasaran. Yusni menggeleng dengan paras takut-takut.

“Ayolah, tidak usah takut!” desak Upik lagi. “Pasti berhubungan dengan dukun, ya?” tebaknya yakin. Yusni kembali menggeleng. Melihat itu Upik jadi kian penasaran.

“Ah, kau ini, Yus! Bikin penasaran saja,” gerutunya mulai kesal.

“Tapi aku mendengarnya dari orang Suliki, Pik. Meski kedengarannya konyol, katanya ramuan ini ampuh untuk mengendalikan para suami yang suka keluyuran,” kata Yusni kemudian.

“Tapi Da Buyung tidak suka keluyuran. Dia cuma suka duduk-duduk di lapau janda itu setiap pulang dari sawah,” kata Upik menjelaskan.

“Ya, itu kan sama saja. Yang penting dia tidak betah di rumah, kan?” Yusni mulai bersemangat lagi. Upik mengangguk membenarkan. Buyung memang selalu nampak tidak betah di rumah. Subuh-subuh dia sudah berangkat ke sawah, dan pulang sebelum Magrib. Selesai sembahyang Magrib dan makan malam, dia langsung keluar lagi. Kalau tidak nonton TV di Balai Desa, pasti duduk di lapau si Ida.

“Bagaimana Uda bisa betah di rumah, kalau kerja Upik tiap hari hanya menceracau dan menuduh Uda yang tidak-tidak!” Begitu kata Buyung dua bulan yang lalu.

“Alasan! Bilang saja Uda ingin main ke lapau janda itu!” ketus Upik cemberut.

“Lho? Uda suka duduk di lapau itu sudah belasan tahun, Pik! Waktu mendiang Apak si Ida masih hidup. Jauh sebelum kita menikah! Upik saja yang terlalu membesar-besarkan masalah! Mentang-mentang si Ida baru bercerai dari suaminya. Padahal dulu Upik tidak sewot begini kalau Uda main ke sana,” kata Buyung agak kesal.

“Jadi bagaimana, Pik?” Yusni membuyarkan lamunannya.

“Kau benar, Yus! Sekarang ayo katakan, apa ramuannya biar suami kita tidak keluyuran lagi,” Upik menatap Yusni tajam. Kini ia merasa sepakat dengan istilah ‘keluyuran’ itu. Karena artinya memang sama saja : Tidak betah di rumah!

“Tapi  aku tidak menyuruhmu melakukannya, Pik. Jadi hanya sekedar berbagi cerita saja.” Yusni masih nampak menggantung ceritanya.

“Iya! Jangan takut! Ayo ceritakan, ramuan apa yang kau dengar dari orang Suliki itu!” Upik benar-benar sudah tidak sabar. Gaya Yusni yang menggantung-gantung cerita itu membuatnya jadi gemas. Dan bersabar memang hal yang paling dibencinya sejak lahir.

Maka mulailah Yusni membisikkan sesuatu ke telinga Upik. Sedetik…dua detik…

“Haaa??? Hiiiii…” Upik bergidik ngeri.

“Aku kan sudah bilang, ini kedengarannya konyol. Cerita dari mulut ke mulut. Aku sendiri tidak begitu yakin akan kemanjurannya, apalagi untuk mencobanya, aku tidak berani,” kata Yusni mengakhiri ceritanya.

Upik terdiam, menatap halaman yang dipenuhi rumput liar. Halaman yang tiba-tiba saja seperti berubah menjadi taman seribu ilham. Entah kenapa sinar matanya memancarkan keyakinan penuh, bahwa ramuan yang dibisikkan Yusni barusan adalah solusi paling tepat untuk memecahkan masalah besar yang sedang dihadapinya.

@@@

“Da, sudah dimakan belum kolak yang Upik buatkan?” tanya Upik menyelidik.

“Sudah. Tapi kok rasanya masih seperti yang kemaren? Tetap kurang enak. Tidak seperti yang dulu Upik buat,” jawab Buyung tanpa curiga.

“Masa? Ah, mungkin Upik lupa lagi memasukkan salah satu bumbunya. Besok Upik buatkan lagi lah,” jawab perempuan itu dengan senyum lega. Akhirnya…, setelah berjuang menahan rasa geli dan jijik, ia berhasil juga melaksanakan rencananya. Ya, Buyung sudah memakan ramuan ajaib itu dua kali. Tinggal sekali lagi, maka ramuan itu akan segera bekerja. Upik tersenyum sendiri. Akhirnya ia bisa juga ‘mengikat’ suaminya di rumah.

@@@

Upik nampak senang melihat perubahan yang terjadi pada diri suaminya. Sudah dua hari ini Buyung tidak keluar malam. Ia mengaku malas untuk keluar. Begitu pulang dari sawah, ia langsung tidur. Bahkan ketika tadi pagi Upik membangunkannya untuk pergi ke sawah, bawaannya lesu sekali. Padahal biasanya dia lah yang membangunkan Upik untuk sembahyang Subuh. Upik tersenyum gembira. Berhasil juga, batinnya puas.

Namun ternyata kegembiraan Upik hanya bertahan sampai lima hari. Memasuki hari keenam, ia mulai dilanda cemas. Suaminya tak lagi sekedar malas bangun pagi. Ia juga selalu pulang dari sawah sebelum waktu Ashar. Aneh! Sampai di rumah bukannya mandi, Buyung malah langsung menggelung berselimut kain sarung. Lalu pulas tanpa bicara sepatah kata pun.

Kalau Upik mengajaknya bicara, buyung selalu terlihat bingung dan linglung. Dan yang lebih anehnya lagi, Buyung kini sangat pengejut. Sedikit saja ia dikejutkan, langsung mukanya terlihat pucat dan tubuhnya mengkerut seperti kucing. Tak hanya suara pintu dibanting yang membuatnya demikian, kadang teguran anak perempuannya juga membuat lelaki itu terkejut setengah mati.

Upik mulai panas dingin. Yang dilihatnya kini jauh dari bayangan semula. Hari ini, bahkan Buyung tidak mau pergi ke sawah. Ia lebih suka tidur di kursi rotan tua sambil menggelung berselimutkan sarung kesayangannya. Jangan ditanya bau yang tercium dari tubuh dan bajunya. Sangat menyengat. Sudah hampir seminggu Buyung tidak mandi-mandi. Upik mulai dilanda rasa takut. Rasa takut yang kemudian menggumpal menjadi rasa bersalah dan menyesal. Kecurigaan pun langsung menyelusupi hatinya.

“Ramuan itu pasti keliru! Pasti ada yang tidak beres!” Ia bergumam yakin. Tidak tahan berdiam diri, ia pun bergegas keluar.

“Ini gara-gara ramuan si Yusni itu! Awas kau, Yus! Awas!” Ia menggeram sambil mengayun langkah lebar-lebar, menuju rumah sebelah.

“Hei, ada apa, Pik? Pagi-pagi kemari?” sambut Yusni heran.

Kalera kau, Yus! Kau beri aku ramuan yang mencelakakan suamiku!” semburnya tanpa basa-basi. Dan berbasa-basi adalah hal kedua yang sangat dibencinya.

“Aku kan tidak menyuruhmu melakukannya. Ingat itu, Pik! Malah kau sendiri yang memaksa aku untuk mengatakannya,” Yusni membela diri.

“Tapi kau telah memancing rasa ingin tahuku. Dan kau tahu betul kalau aku sangat penasaran!”

“Itu urusanmu! Mengapa aku yang kau salahkan?”

“Bedebah! Kau memang musuhku sejak dulu, Yus! Musuh dalam selimut! Kau iri padaku karna aku berhasil mendapatkan Da Buyung! Iya, kan?”

“Mungkin. Tapi itu dulu. Sekarang…, kurasa tidak lagi!” jawab Yusni santai.

“Dasar perempuan jalang!” Upik menghentak membawa sumpah serapahnya. Ditinggalkannya Yusni yang menatapnya dengan senyum sinis.

“Hmm, ramuan langkibang tumbuk itu pasti sudah bekerja. Kini Buyung pasti sudah mengkerut dan menggelung tiap kali bertemu dengan orang lain. Sama seperti seekor langkibang! Hhhh, akhirnya dendam bertahun-tahun itu terbalas juga!” desisnya dengan raut puas. “Jika aku tak bisa memilikinya, maka kau juga tidak, Pik!” Yusni menutup pintu rumahnya dengan penuh kemenangan.

Sementara Upik di rumahnya nampak bersimpuh di kaki Buyung. Menatap suaminya dengan raut penuh penyesalan. Ia baru menyadari betapa lelaki yang ada di hadapannya itu terlalu baik untuk dicurigai, terlalu jujur untuk direcoki dengan kecemburuannya yang membuta-tuli. Kini Upik benar-benar merasa berdosa telah memperlakukan suaminya seburuk itu.

Buyung yang duduk menggelung di atas kursi dengan selembar sarung yang membalut tubuhnya, hanya menatap istrinya dengan mimik cemas. Tiap kali tangan Upik bergerak untuk menyentuhnya, lelaki itu nampak terkejut dan semakin mengkerut. Bahkan ketika air mata Upik jatuh satu persatu, Buyung hanya menatapnya bungkam, tetap dalam posisi yang waspada. Seolah-olah ‘insting’nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengancam jiwanya.

“Ya, Tuhan…! Tak ada…, tak ada lagi yang bisa kulakukan kini.” Ia menutup muka, terisak sendu di hadapan suaminya.

“Mak…” Tiba-tiba anak perempuannya, Neti, datang menghampiri. “Abak kenapa, Mak? Kok Abak sekarang tidak mau lagi bicara dengan kita?” Ada nada kehilangan dalam suara bocah itu. Dan itu membuat Upik kian tergugu. Direngkuhnya kepala bocah itu tanpa mampu bersuara. Segalanya terlalu menyesakkan dada, dan terlalu sulit untuk diterima. (NSR)

Baca juga: Cerpen Wali Nagari

Catatan :

Langkibang adalah sejenis binatang melata berkaki banyak, yang selalu menggelung jika terkejut atau tersentuh oleh sesuatu.

Kosa Kata :

lapau = kedai

lapek bugih = kue bugis

paja nanah = anak ingusan

iyo = iya

ambo = saya

parak = kebun

baganja = main domino

padusi = perempuan

kalera = makian (brengsek, keparat, dll)

 

 

 

 

 

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


3 thoughts on “CEMBURU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *