Cinta, Jemputlah Aku! (Part 2)

Waktu memang tak kan berhenti hanya untuk menungguku. Ia akan terus berputar mengubah segala keadaan sesuai titah Sang Pencipta. Begitupun dengan Samira. Kini ia telah resmi jadi istri Danang. Seorang laki-laki baik yang kupercaya sangat pantas untuk adikku meski usianya lebih muda dua tahun dari Samira. Kedewasaan dan kepribadiannya yang matang tercermin jelas dari keyakinannya saat meminang Samira.

“Sabar ya, Nak, nanti juga tiba giliranmu,” bisik Bu Diah, tetangga sebelah rumah yang rajin membantu persiapan pernikahan Samira.

Aku tersenyum kecil, “Tidak apa-apa kok, Bu. Saya ikhlas kok Mira menikah lebih dulu, memang sudah jodohnya. Yang namanya jodoh kan Allah yang mengatur.”

Bu Diah tersenyum, senyum yang mengandung iba. Dan aku tidak suka itu. Senyum dan tatapan iba seperti itu pulalah yang membuatku kemudian memutuskan untuk kos dekat kantor. Samira masih tinggal di rumah Ibu, dan aku tidak mau setiap orang yang melihat kebersamaan kami akan berujung pada tatapan iba terhadapku. Aku tidak ingin dikasihani karena kondisi yang aku sendiri tak mampu mengubahnya.

Tak ada orang yang bisa memaksakan harus berjodoh dengan siapa, kapan datangnya dan berapa lama berjodohnya. Semua penuh teka-teki dan benar-benar menjadi rahasia illahi. Itu yang kupahami selama ini. Maka ketika orang-orang bertanya kapan aku akan menikah maka itu sama seperti bertanya pada takdir. Mungkin bagi yang sudah punya calon bisa sedikit memberi gambaran kapan akan menikah, tapi bagi yang belum punya calon seperti aku? Apa yang harus kujawab?

 Pekerjaan menumpuk. Begitu banyak naskah yang harus diedit . Aku melirik jam di dinding, sepuluh menit lagi tepat pukul enam sore. Magrib akan segera menjelang. Kubenahi tas dan tumpukan kertas di meja. Setelah itu aku bergegas menuju mushala Al Furqon, sebuah mushala kecil di samping kantor.

Aku sangat suka menghabiskan waktu magrib di mushala itu. Selain tidak terlalu ramai, suara imamnya yang membacakan ayat-ayat di waktu shalat sangat khas di telingaku. Irama bacaan shalat beliau mengingatkan aku pada imam masjid di kampungku dulu, sangat indah di telinga. Sepertimembawakupadasuasana masa kecildulu. Ya, seperti déjà vu rasanya!

Aku dulu memang tinggal di salahsatusudutprovinsi Sumatera Barathinggausia remaja. Menginjak kelas dua SMA kami pindah ke Jakarta dan menetap hingga sekarang. Tapi sayang, baru saja berhasil membeli rumah yang kami tempati selama ini, Ayah meninggal. Dan kami melanjutkan hidup bertiga, Ibu, aku dan adikku. Syukurlah ada uang pensiun Ayah yang bisa digunakan untuk menopang kehidupan kami, ditambah usaha sampingan Ibu di toko yang menjual perlengkapan kue.

“Sudah wudhu, Neng?” tanya seorang ibu berusia cukup sepuh menyapaku.

“Sudah, Bu,” jawabku sambil memakai mukena.

“Saya titip tas ya, mau wudhu dulu,” katanya sambil meletakkan tas di sampingku. Ibu tua itu cukup sering bertemu denganku di mushala ini, kami sering shalat magrib berjamaah di sini. Jadi sedikit banyak sudah mulai kenal. Kantor tempatku bekerja memang tidak terletak di wilayah perkantoran, melainkan di tengah pemukiman penduduk.

Dan mushala yang sering kukunjungi ini adalah mushala tua yang sudah lama berdiri di daerah tersebut, namun masih terawat dengan baik. Makanya yang sering kutemui adalah masyarakat sekitar mushala ini, bukan sesama pekerja kantoran. Dan aku sangat menikmati suasana seperti itu. Hampir setiap shalat magrib kulalui di mushala tersebut, seperti halnya magrib kali ini.

Yang berbeda kali ini adalah kepulanganku selepas shalat magrib. Jika biasanya aku akan bergegas mengejar bis menuju Cawang, maka hari ini aku lebih santai karena akan pulang ke kamar kos. Tempat kosku memang tidak jauh dari kantor, hanya sekitar 200 meter dari mushala mungil ini.

Selepas shalat magrib aku langsung menuju tempat kos, melepas penat yang membekap sekujur tubuhku. Mandi dan merebahkan tubuh di kasur adalah kenikmatan yang aku rindukan sejak tadi sore. Dan inilah malam pertamaku di kamar kos, sendirian. Tak ada suara lembut Ibu, tak ada kesibukan Samira yang sangat senang memasak dan beberes rumah. Hanya ada aku.

Entah kenapa aku sangat menikmati kesendirianku kali ini. Rasanya aku jadi lebih bisa memandang ke dalam diriku, mengeja setiap helaan napasku dan merasakan setiap denyut jantungku. Aku pun bisa merasakan betapa jauh di lubuk hatiku, ada segumpal asa yang berontak namun kubungkam dalam diam. Asa untuk segera memiliki seorang pendamping. Asa yang sangat manusiawi.

@@@

“Mbak, mau nggak menikah dengan abangku?” tanya Sarah, adik kelasku di SMA dulu.

“Kok tiba-tiba kamu nanya begitu?” aku balik bertanya.

“Soalnya…, aku suka sama Mbak Saki, orangnya baik, pinter, cantik…”

“Hush! Memuji jangan berlebihan, ntar kepalaku gede lho,” potongku melotot.

“Aku serius Mbak. Abangku sudah siap menikah, dia maunya menikah dengan orang seperti Mbak Saki ini. Pakai kerudung, alim deh pokoknya.”

Aku tertawa. Aku bukannya tidak kenal siapa abang Sarah itu, dia adalah laki-laki yang baik. Waktu kuliah kami satu jurusan tapi beda angkatan. Dia seniorku. Aktif di kegiatan kampus. Tapi rasanya aku tidak bisa menikah dengannya. Tak hanya itu, rumah kami pun masih satu kompleks, hanya beda RT. Jadi baik Sarah maupun abangnya sudah cukup lama aku kenal.

“Gimana, Mbak?” desak Sarah.

Aku tersenyum, “Sarah, Mbak pikir-pikir dulu ya. Istikharah dulu, minta pendapat orang tua dulu dan sebagainya. Jadi kamu sabar ya, menikah itu tidak gampang lho, harus ditimbang baik-baik sebelum memutuskan.”

“Oke deh,” jawab Sarah sambil tersenyum.

Pembicaraan antara aku dan Sarah itu sudah terjadi sekitar 17 tahun yang lalu, saat aku baru selesai kuliah. Dan aku tak pernah memberikan jawaban pasti ke Sarah, karena aku tak tega menyampaikan alasanku menolak abangnya. Aku tidak tega melihat reaksinya jika kukatakan bahwa aku tidak bisa menerima lantaran abangnya belum bekerja mapan. Sebab dalam pikiranku ketika itu, aku harus memiliki suami yang punya pekerjaan mapan, agar bisa menyokong biaya hidup Ibu dan adikku yang masih kuliah.

Menurutku alasan itu adalah alasan yang realistis. Aku melihat betapa beratnya beban Ibu membiayai hidup kami sekeluarga, sebagai anak aku ingin membalas jerih payahnya. Setidaknya, pada saat itu aku tengah senang-senangnya bisa menyerahkan sebagian besar gajiku pada Ibu karena aku baru beberapa bulan bekerja. Dan aku tidak ingin gaji yang sudah rutin aku serahkan pada Ibu harus kutarik lantaran suamiku belum sanggup memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami.

Kata sebagian temanku aku terlalu naif, memprediksi masa depan secara kasat mata.

“Siapa tahu justru setelah menikah denganmu dia memiliki pekerjaan yang mapan, Saki. Rezeki itu kan dari Allah,” komentar seorang temanku.

“Jangan terlalu berpatokan pada materi, Saki. Pikirkan juga kebahagiaan ibumu jika melihat kamu menikah,” komentar yang lain.

“Pernikahan itu ibadah, ada banyak berkah di dalamnya.”

“Banyak kok orang yang setelah menikah dan punya anak, rezeki mereka jadi berlimpah.”

Masih banyak lagi komentar dan nasehat yang kuterima. Tapi tidak satupun yang mampu mengubah keputusanku. Mungkin aku belum bisa sedewasa mereka dalam memandang hidup namun aku juga yakin dengan apa yang kuputuskan. Seyakin aku memutuskan untuk kos saat ini. Aku melakukannya juga demi Ibu. Aku tidak ingin beliau sedih melihatku harus serumah dengan adikku yang sudah menikah lebih dulu. Meski keputusanku untuk kos juga tidak membuat beliau bahagia tentunya. (Bersambung)

 

Ikuti Kuis CJA Part 2

Dapatkan hadiah buku (judul buku tergantung stok) dengan menjawab pertanyaan di bawah ini:

Apa pendapatmu tentang sikap Saki yang masih menolak menikah dengan Abang Sarah?

Tulis jawabannya pada bagian komentar di bawah cerbung ini. Jawaban paling menarik akan jadi pemenang dan berhak atas hadiah buku.

 

Pemenang Kuis CJA Part 1

Firsty Ukhti Molyndi

Silakan kirim alamat lengkapnya ke nomor 0812-8595-7722

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih senang jadi relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


One thought on “Cinta, Jemputlah Aku! (Part 2)

  1. Syakrey

    Manusiawi sekali. Setiap orang punya pertimbangan sendiri untuk menerima orang lain jadi pasangan hidupnya. Yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *