Fenomena Pelakor dan Valakor

Fenomena pelakor dan valakor mendadak jadi trending topic di berbagai media sosial sejak munculnya kasus dokter versus dokter beberapa waktu lalu. Ditambah postingan provokatif di akun gosip LamTur, kasus ini semakin digoreng. Berbagai kasus lainpun menyusul terbongkar dan istilah pelakor atau valakor pun semakin populer. Fenomena pelakor dan valakor kian ramai dibicarakan dan ditulis di status-status para netizen.

Apa sih sebenarnya pelakor dan valakor itu? Pelakor adalah singkatan dari Perebut Laki Orang, sedangkan valakor singkatan dari Pemalak Laki Orang. Mirip tapi agak berbeda sebenarnya.

Pelakor motivasinya lebih karena ikatan rasa. Sementara valakor motivasinya lebih cenderung ke materi. Valakor bisa mendekati lebih dari satu lelaki karena tujuannya adalah harta, sementara pelakor cenderung ke satu lelaki. Namun apapun itu, baik pelakor atau valakor sama berbahayanya karena keduanya berpotensi merusak pernikahan yang sah. Oke, saya kasih dua contoh kasus retaknya pernikahan karena hadirnya orang ketiga bernama pelakor dan valakor ini. Ini saya ambil dari status Facebook saya beberapa bulan lalu.

Contoh Kasus Pertama

Gimana kita gak ikut emosi, kalau ada teman bercerita bahwa suaminya yang pejabat suka banget main hati dengan bawahannya. Kebeneran bawahannya itu juga sudah bersuami. Ada semacam pemanfaatan kekuasaan di situ oleh si lelaki dan ada pemanfaatan materi oleh si perempuan. Dan ini bukan kasus pertama. Teman saya ini berencana menghubungi suami dari selingkuhan suaminya itu supaya dia menasehati istrinya. Tapi rencana tersebut terpaksa ia batalkan begitu mendengar komentar suaminya sendiri.

Tahu apa komentar suami teman saya itu?

“Kalau kamu laporin ke suaminya dan dia dicerai, maka aku akan menikahinya. Tapi kalau kamu diam gak banyak menuntut maka kamu tetap jadi istriku satu-satunya.”

Ini lebih pahit dari makan buah simalakama. Di satu sisi dia masih ingin mempertahankan rumah tangga karena pertimbangan anak-anak tapi di sisi lain hatinya babak belur.

Yang lebih menyakitkan, si suami yang lagi kasmaran ini juga menceritakan kekurangan-kekurangan istrinya pada selingkuhannya. Seolah mencari pembenaran atas perbuatannya. Si perempuan pun seakan di atas angin, dengan enteng dia mengatakan, jika dia dicerai oleh suaminya maka dia siap dinikahi oleh si lelaki atasannya ini, lalu mereka akan pindah dari daerah tersebut dan membangun kehidupan baru di daerah lain dengan membawa serta anak-anak mereka.

Wow! Persis remaja yang tengah kasmaran ya. 😀

“Dia sudah tahu kekuranganku itu sejak sebelum menikah. Kenapa baru dipersoalkan sekarang setelah anak kami banyak dan mereka beranjak besar? Dan kenapa ceritanya ke perempuan lain?” keluh teman saya gak habis pikir.

Begitulah pernikahan, tak selamanya berisi cerita indah.

Contoh Kasus Kedua

Buat yang gak percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya valakor dan pelakor, tentu gak perlu cek akun gosip meskipun istilah itu dipopulerkan oleh mereka. Kamu cukup percaya sama cerita saya yang satu ini.

Jadi ceritanya teman saya yang satu ini sudah cukup kenyang lah menghadapi perempuan yang menyusup di antara dia dan suaminya. Sebenarnya antara valakor dan pelakor ini beda tipis aja kok. Kalau pelakor lebih dilihat dalam usahanya untuk merebut suami orang. Sementara valakor lebih dilihat usahanya dalam memoroti suami orang. Bisa saja pelakor ini merangkap valakor tentunya.

Nah, teman saya di atas sepertinya berhadapan dengan pelakor yang merangkap valakor. Sebut saja namanya X. Dari info teman akrabnya sendiri, si X ini punya modus jitu untuk menjalankan missinya, yaitu dengan menjual drama kehidupannya entah di medsos atau curhat langsung ke laki-laki incarannya.

You know-lah, para lelaki kebanyakan bodoh jika berhadapan dengan modus beginian. Gak cuma bodoh, para lelaki juga suka jadi pahlawan kesiangan. Merasa jadi orang paling berjasa sedunia ketika bisa membantu orang lain. Sayangnya yang dibantu adalah perempuan lain sementara dia sendiri sudah beristri. Sebuah bentuk empati yang tabu! Begitupun suami teman saya ini. Pengen menolong si X, eh istrinya sendiri diabaikan. Makanya saya bilang, jangan pernah curhat atau dicurhati oleh lawan jenis!

Mungkin ada yang nanya, kok bisa sahabat si X menceritakan aib temannya sediri? Biasalah, persahabatan mereka sepertinya cuma karena uang, begitu retak langsung saling buka aib. Mereka pun sepertinya setali tiga uang, suka deket-deketan sama suami orang, apalagi yang tengah bermasalah sama istrinya, sasaran empuk banget. Jadi mereka bersaing di lahan yang sama.

Dan ternyata gak cuma sahabatnya yang tahu kondisi si X ini, banyak teman-teman kita yang lain mengendus kelakuan dia. Misalnya dia gabung di banyak kelompok dan berusaha masuk ke ring 1 dengan tujuan uang. Gak peduli caranya harus pakai menyingkirkan orang lain dengan cara menjelek-jelekkan. Kalau saya menyebut orang seperti si X ini dengan sebutan opportunis sejati. Dan percayalah, orang seperti ini paling pintar bermain akting, dia bisa berperan cantik sebagai teman, namun di sisi lain menikam dalam-dalam. Bersikap seperti orang terzalimi padahal hatinya bersorak kegirangan.

Nah, suami teman saya ini adalah salah satu yang sangat diincarnya. Karena gak cuma faktor valakor, sudah masuk wilayah rasa dan siap jadi pelakor. Maklum mereka memang sering jalan bareng, ikut berbagai kegiatan bareng, wajar kalau lama-lama jadi saling suka. Tinggal menunggu teman saya pisah dari suaminya, maka bertepuk tanganlah si X untuk kemenangan yang sejatinya sangat nista. Alih-alih merasa berdosa, yang ada dia malah bangga jadi orang ketiga. Itulah pelakor sejati.

Sampai sekarang teman saya ini masih memilih diam, meski hatinya geram luar biasa. Duh, jadi orang sabar banget deh. Jadi biarlah saya yang menulis, semoga teman-teman yang baca bisa paham, beginilah bejatnya dunia akhir zaman. Orang bangga bikin dosa. Tapi percayalah, orang semacam ini akan menuai apa yang ia tanam. Hanya soal waktu.

Bener kata temen saya, di akhir zaman ini kita gak cuma harus berdoa terhindar dari fitnah dajjal, tapi juga dari fitnah pelakor dan valakor!

Ini Sudut Pandang Istri

Mohon maaf bagi para suami, ini memang dari sudut pandang istri, karena kita melihat istri sebagai korban di sini. Bolehlah besok-besok kita bahas para pebinor alias Perebut Bini Orang, ya. 😀

Dalam kasus-kasus pelakor atau valakor ini, entah kenapa si istri seringkali berbalik jadi tersangka alias sosok yang dipersalahkan. Segala aib dan kekurangannya disebut-sebut sebagai penyebab berpalingnya si suami. Menurut saya, banci sekali jila ada seorang suami menceritakan kekurangan istrinya pada orang lain, apalagi jika untuk mendekati perempuan incarannya. Hallooo, mungkin dia lupa, baik buruk seorang istri juga sangat tergantung pada kepemimpinan seorang suami.

Dia haru kembali memutar otak, mengingat proses ijab qabul-nya dulu. Dalam sebuah pernikahan pasti wali hakim mengingatkan peran seorang suami ketika tanggung jawab berpindah dari pundak orang tua istrinya ke atas pundaknya. Ya, dia adalah imam, pemimpin bagi istrinya. Tugasnya menjaga, mendidik, menafkahi dan merawat istrinya agar si istri menjadi sosok yang pintar, sholehah, cantik dan berkecukupan lahir batin. Dan yang penting sekali, jangan pernah membandingkan istrimu dengan seorang pelakor atau valakor, karena itu dua kualitas yang jauh berbeda. Seperti emas dan imitasi.

Saran saya sih begini. Bagi para suami yang sudah terlanjur masuk dalam jebakan pelakor atau valakor, lebih baik segeralah melakukan ruqyah, karena setan berbentuk manusia itu lebih berbahaya lho, hehehe… (NSR)

Baca juga: 7 Langkah Menuju Poligami

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


13 thoughts on “Fenomena Pelakor dan Valakor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *