Film 3 (Alif Lam Mim) Yang Menakjubkan

nobar3Sabtu kemaren, saya diundang untuk nonton bareng di GOR Bulungan, Blok M. Berhubung Sabtu waktu saya longgar maka dengan semangat saya pun ikut. Nah, nah, nah, sudah tahu kan hari yang pas ngajak saya nobar, hehehe modus! Tapi embeeer, jarang-jarang lho saya semangat nonton film. Dulu aja pas diajak suami nonton film Shah Rukh Khan terbaru di Mal Of Indonesia, Kelapa Gading, saya menolak dengan berbagai alasan. Saya sih ikut ke malnya, tapi gak ikut masuk bioskop. Saya malah ngelayap nyari sepatu hehe…

Nah kemaren itu, film yang mau ditayangkan berjudul 3 (Alif Lam Mim) yang sebenernya sudah turun dari bioskop. Acara ini gak sekadar nobar tapi juga bedah filmnya sekaligus bersama Arie Untung (Produser), Fitra (Wartawan Senior TV) dan Kang Arul (Pengamat Media). Kalau sudah urusan beda-membedah kan seru, kita jadi tahu dapurnya. Apalagi sudah jadi rahasia umum, kalau salah satu nara sumbernya Kang Arul pasti bakal ngakak mulu saking konsistennya dia melucu.

Film ini bercerita tentang tiga sahabat bernama Alif, Lam dan Mim. Berguru pada sosok yang sama, ketiganya kemudian melanjutkan hidup dengan profesi berbeda. Alif menjadi aparat keamanan, Lam menjadi seorang jurnalis dan Mim menjadi pendakwah. Ketiganya memiliki idealis yang sama namun dijalankan sesuai bidang masing-masing. Mereka sama-sama memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Dan memang itulah yang dibolehkan pada saat itu karena menggunakan peluru tajam oleh siapapun (termasuk aparat) diharamkan dan merupakan kriminalitas.

poster-3-official-419x600

Satu yang sama dari mereka, sama-sama masih percaya pada Tuhan. Setting film ini adalah Jakarta tahun 2036, dimana Indonesia sudah maju sangat pesat dalam hal duniawi namun sangat hancur dalam hal kepercayaan. Agama menjadi hal yang ditabukan dan dianggap sebagai biang kerusakan. Citra Arab (Islam) sangat buruk. Setiap teror dialamatkan pada agama. Adanya konspirasi yang bertujuan pada kekuasaan menjadi warna tersendiri dalam film ini.

Yang mengagumkan, film yang diproduksi oleh Multivision ini menggunakan teknologi digital yang keren dalam ceritanya. Gadget dan komputer yang digunakan bikin kita serasa di masa depan yang jauh lebih moderen. Tambah kagum lagi melihat akting pemeran ciliknya yang bikin gemes dan menggambarkan sosok bocah masa depan yang cerdas. Ah, pokoknya keren abiz deh! Susah diceritain karena memang harus disaksikan sendiri biar tahu luar biasanya film ini. Saya aja yang bukan penikmat film, jadi pengen nonton lagi 😀

Ditambah pemainnya yang juga keren-keren seperti Cornelio Sunny (Alif), Abimana Aryasatya (Lam), Agus Kuncoro (Mim), Prisia Nasution, Tika Bravani, Cecep Rahman, Donny Alamsyah, Verdi Solaiman, Piet Pagau, dan Tanta Ginting. Sutradara sekaligus penulis skenarionya, Anggy Umbara dan Produsernya Arie Untung.

032241000_1443502751-Gal280985_Film_3-Presscon_1

Berikut sedikit sinopsis cerita film 3 yang saya kutip dari internet:

Film “3” adalah film laga futuristik pertama di Indonesia yang menceritakan tentang persahabatan, persaudaraan dan drama keluarga. Jakarta 2036, begitu banyak terjadi perubahan. Negara sudah kembali damai dan sejahtera sejak perang saudara dan pembantaian kaum radikal berakhir di Revolusi tahun 2026.

Hak asasi manusia menjadi segalanya. Penggunaan peluru tajam sebagai senjata sudah menjadi ilegal. Aparat menggunakan peluru karet untuk menangkap penjahat dan teroris yang masih tersisa. Satu dilema yang sangat menyulitkan bagi aparat mengingat beberapa kelompok radikal kembali bangkit dan berjuang untuk menganti wajah demokrasi sehingga aparat mengandalkan kemampuan bela diri yang tinggi untuk menumpas para penjahat.

Alif, Lam dan Mim adalah tiga sahabat dari satu perguruan silat yang dibesarkan bersama di padepokan Al-Ikhlas.
Alif yang lurus dan keras dalam bersikap memilih menjadi aparat negara. Ia bertekad membasmi semua bentuk kejahatan dan mencari para pembunuh kedua orangtuanya. Lam yang sikapnya lebih tenang menjadi seorang jurnalis. Bertujuan untuk menyebarkan kebenaran dan menjadikan dirinya mata dari rakyat. Sementara Mim yang bijak memilih mengabdi menjadi pengajar dan menetap di padepokan. Ketiganya dipertemukan kembali setelah terjadi kekacauan pasca ledakan bom di sebuah cafe.

Bukti-bukti dan investigasi mengarah pada keterlibatan Mim beserta anak-anak padepokan. Alif harus menghadapi sahabatnya sendiri dan menghancurkan padepokan yang telah membesarkannya. Lam yang terjepit di antara kedua sahabat berusaha mencari titik temu demi menghindari kehancuran yang lebih parah. Mim memilih mengahadapi para aparat dan rela mengorbankan jiwanya tanpa kompromi.

Alif, Lam dan Mim dipaksa bertempur satu sama lain dalam mempertahankan dan memperjuangkan kebenarannya masing-masing, seraya harus terus menjaga keluarga dan orang-orang yang mereka hormati dan cintai

Dalam bedah filmnya, Arie Untung menjelaskan bahwa para pemain dalam film ini adalah teman-teman dekatnya sehingga proses pembuatan pun berjalan lancar dan akrab. Film yang dibuat berdasarkan riset ini cukup menguras kantong namun kepuasan batin karena bisa membuat karya yang terbilang idealis tentu tak bisa diukur dengan materi. Apalagi ternyata di luar negeri sambuatan dan apresiasi orang terhadap film ini cukup menggembirakan.

bedah film 3

Saya sendiri ketika mulai menonton film ini nyaris tak lepas mengamati setiap adegan. Openingnya begitu memukau, dimana ada adegan Alif harus melakukan fighting selama beberapa menit dengan memakai seragam seberat 7 kilogram. Dan itu diambil dengan teknik one shoot. Nyaris sempurna seperti film-film Hollywood sono. Bisa dibilang ini adalah film action yang dramatis. Adegan laganya keren, cut to cut-nya cepat namun tak memutus konsentrasi. Seperti mengajak kita berkejaran dari scene satu ke scene berikutnya tanpa buyar kemana-mana.

Itu juga yang disampaikan oleh Kang Arul sebagai Pengamat Media (aslinya sih beliau itu penikmat film hehe), bahwa film ini memiliki teknis sinematografi yang luar biasa, nyaris tanpa cacat. Berhasil memukau penonton mulai dari awal sampai akhir, diselingi drama yang mengharukan. Latar setiap adegan dalam film yang nyaris tanpa sinar matahari ini berhasil mengaduk emosi penonton. Beberapa penonton menitikkan air mata, termasuk saya hehehe…

Pasang foto dulu biar gak dibilang hoax :-P

Pasang foto dulu biar gak dibilang hoax 😛

Acara nonton bareng ini digagas oleh berbagai kelompok bekerjasama dengan pihak produser, dan telah diselenggarakan di berbagai tempat dan daerah seperti kampus UI Depok, UNAND Padang, UNJ Jakarta, Bandung, Pontianak dll. Untuk informasinya mungkin bisa dilihat di akun Twitter sang sutradara, Anggy Umbara (@anggy_umbara) atau akun 3 The Movie (@3_themovie).

Selepas nonton film ini, dalam hati saya berdecak kagum, “Gila ya, filmnya bagus banget! Keren! Sayang film sebagus ini gak begitu diketahui oleh masyarakat! Cuma bertahan seminggu di bioskop, bener-bener sayang banget!”

Film bagus ini memang hanya bertahan 7 hari di layar bioskop. Beberapa issu pun menyebar, menyebut penyebab turunnya film ini. Salah satu adalah kurangnya promosi film ini sehingga banyak yang tidak tahu. Kemudian ada juga issu kepentingan kelompok tertentu yang terganggu dengan isi film ini sehingga film 3 dipaksa turun. Entahlah, kalau saya sih berharap film ini  ada sequel keduanya karena sepertinya ada #kode ke arah sana di bagian ending.

Semoga film ini juga diapresiasi dan mendapat penghargaan di berbagai ajang kompetisi bergengsi di luar sana ataupun di dalam negeri, karena film ini asli keren banget! Sineas luar aja sampe melongo katanya.

Kemunculan film 3 (Alif Lam Mim) menjadi bukti kemampuan sineas Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, film ini sanggup membuat sineas asing berdecak mengetahui penggarapannya yang sangat kilat. Diakui Anggy, saat itu film 3 sedang ikut di festival Balinale.

“Salah satu respon yang gue inget dari Dona. Dia itu kerja di Universal Studio dan sudah banyak garap film deh. Saya bilang budget cuma segini dan syuting cuma 26 hari. Di kaget sampai-sampai mau pingsan di bangku. Menurut dia enggak mungkin,” ungkap Anggy Umbara di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2015).

Respon positif pun diberikan kepada film arahan sutradara Anggy ini. Padahal keikutsertaan film 3 di festival itu terkesan terburu-buru. Karena, proses editing film tersebut baru rampung hanya beberapa jam dari jadwal pemutarannya.

“Film ini 50 persen yang tonton bukan orang Indonesia, melainkan panitia ke 26 negara. Deg-degan sih. Waktu di sana film itu baru mateng jam 3 pagi dan langsung dibawa ke Bali,” tutur Arie Untung, produser film 3.

Arie dan Anggy pun belum memutuskan apakah karyanya akan ikut dalam festival film asing. Adapun banyaknya penggunaan bahasa Inggris di film ini hanya untuk menyingkronkan konsep dari kondisi Jakarta 20 tahun mendatang.

“Ceritanya kan 20 tahun ke depan. Makanya memacu bahasa internasional. Itu sih konsepnya. Kalau festival belum spesifik. Tapi sudah ada pembicaran ke situ,” tandas Anggy Umbara.

Nah, kalo kamu belum nonton dan kepo berat, silakan cari info nonton barengnya ya. Atau kamu ajak temen-temenmu buat nobar dan request tuh bedah filmnya ke produsernya. Oke, tetep beri apresiasi untuk film-film bagus!

Happy watching!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


6 thoughts on “Film 3 (Alif Lam Mim) Yang Menakjubkan

  1. Ade Delina Putri

    Aaa aku salah satu yg nyesel nglewatin film ini 🙁 cuma nonton via youtube yg dishare bnyk org tp banyak adegan dipotongnya, alhasil jd ga maksimal. Kalo ngliat potongannya aja udh bagus, jd pengen nonton seluruhnya -_-

    Reply
  2. jaka

    saat nobar di UNJ, feb 2016, anggy bilang bahwa aslinya film tersebut berdurasi 2 jam 45 menit.
    mungkin suatu saat ini kita bisa nonton yang benar2 full durasi tersebut

    Reply
  3. XanSisBoy

    Sangat berharap untuk dapat melihat sequel dari film ini, karna hal seperti ini sangat mendidik. Mampu membuat anak bangsa untuk berfikir maju ke masa depan. Sayang’nya pemerintah harus’nya mendukung untuk hal seperti ini, kualitas penonton terlihat dari apa yang ia tonton. Dan tentu kualitas rakyat suatu negara terlihat dari pemerintahan yang ada di dalam’nya. Bijak lah dalam menetapkan suatu aturan.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *