Gadget dan Dilema Yang Menyertainya

Sebuah iklan produksi Thailand tentang efek buruk gadget sempat viral beberapa waktu silam. Saya yang menonton video itupun merasa tergugah, terdiam dan berpikir lama. Betapa gadget telah merampas banyak hal dari kita. Obrolan ringan yang dulu biasa menghangatkan keluarga, kini digantikan oleh kebisuan karena orang dewasanya sibuk dengan gadget, ditingkahi suara game dari gadget anak-anaknya. Miris, itu yang saya rasakan.

Gadget Mendekatkan yang Jauh dan Menjauhkan Yang Dekat

Mungkin kamu juga pernah membaca banyaknya kalimat keprihatinan terkait maraknya gadget saat ini. Kalimat paling viral misalnya; Gadget mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ketika mendekatkan yang jauh mungkin kita akan tersenyum. Namun saat menjauhkan yang dekat hati seakan tercubit ngilu. Kita semua pasti merasakannya, betapa gadget telah merampas indahnya bercengkerama, asyiknya bersenda gurau, dan serunya bermain dengan pandangan yang lepas jauh, tak terfokus pada sempitnya layar gadget.

Tak hanya merampas kebersamaan dan kemesraan dalam interaksi, gadget juga begitu mudahnya menyebarkan racun pornografi, menularkan virus kebohongan, hoax dan berbagai hal negatif lainnya. Belum lagi anak-anak yang lepas dari kendali dan pengawasan orang tua karena orang tuanya sibuk dengan gadget. Sungguh banyak berita buruk yang kita baca akibat dari penggunaan gadget yang semakin kebablasan.

Suami saya suka menegur jika saya memegang gadget saat di rumah, “Bun, perhatikan anak-anak, taruh dulu HP-nya.”

Ya, kadang tanpa sadar tangan dengan otomatis bergerak mengambil ponsel ketika mendengar suara notifikasi. Dalam hati sontak bergumam, jangan-jangan ada yang penting.

“Kalau ada yang penting banget pasti orangnya akan menelepon,” kata suami saya. Dan kami berdua memang selalu begitu. Kadang kalau suami saya yang mulai asyik dengan ponselnya, maka saya yang mengingatkan. Sebab walau bagaimanapun perkejaan kami berdua sangat erat kaitannya dengan gadget. Sudah nyaris mustahil rasanya menyingkirkan benda itu dari pekerjaan kami.

Gadget di Tangan Orang Yang Tepat

Tapi benarkah gadget hanya menyisakan keresahan? Benarkah gadget tak memberi ruang positif bagi kita untuk berinteraksi sesama manusia? Ternyata tidak juga, lho!

Saya bergabung dalam sebuah grup, di mana anggotanya terus saling mengingatkan betapa pentingnya menyeimbangi pengaruh negatif gadget. Menegaskan pada diri masing-masing kapan gadget harus ditutup dan kapan boleh dibuka. Kemudian juga mengedukasi anak-anak akan bahaya game jika sudah berlebihan. Anak-anak pun harus dibatasi lebih ketat lagi. Jadi di grup ini kita berusaha menyebarkan antivirus penangkalnya. Tak mudah memang, tapi perlu ditanamkan terus kesadaran iniĀ  ke sekitar kita, minimal di lingkungan keluarga sendiri.

Tak hanya itu. Kita juga bisa melihat banyak kemudahan yang didapat melalui gadget. Mulai dari permainan edukasi buat anak-anak, menyimak kajian-kajian agama melalui gadget juga sudah semakin umum dilakukan, entah melalui video ataupun artikel di internet. Anak-anak muda yang kreatif juga bisa menjadikan gadget sebagai sarana edukasi dengan membuat konten-konten positif dan menyebarkannya melalui gadget. Mulai dari broadcast berisi nasehat, motivasi, infromasi kegiatan, jadwal kajian dan sebagainya. Game-game dan aplikasi edukatif pun dibuat oleh anak-anak muda yang kreatif. Jadi, gadget jika berada di tangan orang yang tepat maka pengaruhnya justru positif bagi sebuah perubahan.

Gadget dari Zaman ke Zaman

Betapa zaman terus bergerak dari web base ke bentuk aplikasi. Manusia semakin memilih yang bersifat aplikatif karena mudah dan cepat penggunaannya. Maka berbagai produk atau jasa berlomba-lomba menciptakan aplikasi demi kemudahan. Sebagai pengguna kita jelas merasa terbantu. Lihat saja berbagai aplikasi market place, majalah dan portal berita, transaksi perbankan, hingga pemesanan tiket pun tersedia aplikasinya. Dari genggaman segalanya bisa dilakukan. Hidup terasa sangat mudah.

Salah satu contoh market place yang memberikan banyak kemudahan sekaligus keuntungan misalnya Excite Point yang bisa diakses melalui web base dan aplikasi. Saya intip banyak promo yang ditawarkan mencapai 60%, mulai dari HP Android sampai kebutuhan Ibu dan Anak. Jadi tak hanya kemudahan yang didapat tapi juga harga yang murah. Ini hanya contoh betapa gadget semakin memanjakan para penggunanya.

Bandingkan dengan gadget atau ponsel di awal tahun 2000-an, masih berbentuk batangan, warnanya pun hanya hitam putih, Hanya bisa untuk menelepon dan berkirim SMS. Maju sedikit, ponsel mulai berwarna layarnya. Kemudian meningkat lagi, bisa untuk memotret, dari kualitas yang tadinya seadanya, lalu berubah menjadi lebih tajam dan bagus. Tak bisa dihentikan, ponsel terus berinovasi, bentuknya semakin bervariasi dan fungsinya kian beragam. Konsumen semakin dibuat asyik dan terpesona dengan inovasi-inovasi yang terjadi pada telepon genggam dan tablet. Ya, dunia tak mampu mengekang kemajuan yang tersaji di depan mata. Maka pilihannya benar-benar kembali ke pengguna, untuk apa gadget ini akan digunakan?

Foto: Illuminea (dimodifikasi oleh Tinta Perak)

Jadi kalau saya melihat hal ini, semua kembali ke diri kita masing-masing. Kita bisa menjadikan gadget sebagai alat untuk menciptakan hal-hal positif dan bisa juga sebagai alat untuk merusak diri dan orang lain. Candu gadget tak kalah membius dibanding candu narkotik, maka yang terpenting adalah mengimunisasi diri kita sendiri agar tidak terbawa arus negatif.

Memagari diri dan keluarga kita dengan terus melakukan edukasi, saling mengingatkan dan tetap saling peduli. Sebagai seorang ibu, maka mengontrol dan mengarahkan anak-anak menjadi pilihan saya ketimbang mengisolasi mereka dari pengaruh gadget. Kita tak akan pernah bisa melawan sebuah perubahan sebab perubahan itu adalah keniscayaan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. (NSR)

 

(Salam Edukasi)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


10 thoughts on “Gadget dan Dilema Yang Menyertainya

  1. Annisa

    Gadget hanya sebuah fasilitas. Yang menjadi tuannya adalah diri kita sendiri. Jangan sampai kita yang justru diperbudak oleh gadget. Setuju sama ulasannya uni.

    Reply
  2. Bang Aswi | @bangaswi

    Gadget itu alat, dan sudah selayaknya kalau alat itu dipergunakan sebagaimana mestinya. Kalau berlebihan jelas akan tidak bermanfaat dan malah berefek sebaliknya. Jadi tidak hanya gadget, semua alat juga akan seperti itu. Hanya seja, gadget itu nuansanya “keren” dan “kekinian”. That’s it!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *