Gadis Lembah Tsang Po

22Musim dingin mulai merajai dataran tinggi Tibet yang terletak di ketinggian 4500 meter dari permukaan laut itu. Suhu daerah yang dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan tertinggi di dunia itu semakin menggigit tulang. Barisan pegunungan Kwen Lun di Utara, pegunungan Karakorum di Barat, sampai pegunungan Himalaya di Selatan seakan ingin membekukan wilayah tersebut dengan hamparan salju yang menutupi puncak-puncaknya.

“Kek..,” panggil Tritsun pelan, saat mereka sudah mulai menuju ke Selatan. Tangan kirinya asyik mengusap-usap kepala yak yang menarik gerobak di sampingnya.

“Ada apa, Tritsun?” tanya kakek Congka dari atas gerobak.

“Tadi waktu jalan-jalan ke Lhasa, aku bertemu dengan seorang wanita.”

“Lalu kenapa?”

“Waktu melihatnya…, aku jadi berhayal. Andai saja dia adalah ibuku.”

“Tritsun, sudahlah. Lupakan saja semua itu. Jangan membuat hatimu susah dengan pikiran-pikiran seperti itu,” kata kakek Congka prihatin. “Lebih baik kau naik saja ke gerobak. Apa kau tidak letih berjalan sejak tadi?” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Tapi, Kek, dia…dia nampak berbeda. Entahlah! Yang pasti aku merasa terkesan padanya. Dan aku jadi berpikir tentang ibuku.” Tritsun memandang kakeknya. Ada senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang nampak begitu berbeda!

Lelaki tua itu tertegun. Senyum itu…, meskipun tipis, ternyata sangat menakjubkan baginya. Adalah keajaiban melihat gadis belianya itu tersenyum dengan penuh perasaan. Dan apakah ia bermimpi melihat binar di mata itu? Ya, mata itu nampak berbinar! Binar yang tak pernah dilihatnya selama ini, selama hampir lima belas tahun Tritsun diasuhnya. Binar yang telah menepis kabut di bola mata kecil itu.

“Setelah musim dingin berakhir, mungkin aku akan kembali ke sana. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, Kek. Sekali saja!” kata gadis itu bersemangat.
Lelaki tua itu kian tertegun dalam diam. Belum pernah ia melihat cucunya itu begitu bersemangat seperti hari ini.

“Kek…, apakah mungkin wanita itu mau jadi ibuku?” tanya Tritsun lagi seperti berharap.

Lelaki tua itu masih membisu.

“Soalnya… dia seorang Kache, Kek.”

“Apa? Kache?!” Kakek Congka tersedak.

Catatan:

Saya sering terpesona ketika menemukan hal-hal unik dari kebudayaan suatu negeri yang masih asing buat saya. Hal itulah yang mendorong saya menulis antologi cerpen ini. Berisi 9 cerpen dengan berbagai latar belakang.

Terus-terang ini adalah kumpulan cerpen yang paling menguras tenaga. Bagaimana tidak, setiap cerpen menuntut satu referensi. Jadi untuk kesembilan cerpen ini saya juga harus membaca 9 referensi pula. Lumayan capek, kan? Tapi alhamdulillah saya menikmatinya.

Ada kisah cinta terlarang antara Nizam dan Melani di daerah Bengkalis Kepulauan Riau, ada kisah gadis belia bernama Tritsun di sebuah lembah bernama Tsang Po, Dataran Tinggi Tibet, yang sedang mencari keberadaan ibu kandungnya dan ada juga kisah Omar kecil yang harus menyaksikan tanah kelahirannya, Somalia, diobrak-abrik negara adikuasa.

Kemudian ada kisah Nowiye yang sangat berambisi menjadi pegulat nomor satu di pedalaman Nigeria, ada pula Salman seorang pemuda Thailand berdarah melayu yang terlibat peredaran candu terbesar di dunia, dan kisah Phat Khiem yang harus merasakan siksaan di dalam tahanan bawah tanah Vietnam.

Ada lagi kisah Ucok dari Sumatera Utara yang bertingkah seperti orang gila dan kisah Roju yang bertekad akan kembali ke kampung halamannya di Rai Hawu, NTB, setelah bertahun-tahun kabur akibat takut disunat.

Buat saya, antologi cerpen inilah yang paling saya sukai dari semua buku-buku saya, mungkin karena ini buku kumpulan cerpen saya yang pertama (V)