Gaya Bertutur Cantik

gaya-bertuturKamu pasti baru tau nih kalo saya suka berkeliling dari web ke web, dari blog ke blog untuk membaca berbagai tips menulis. Meski kata orang saya sudah ‘jadi penulis’ namun saya masih senang mencari tips-tips menulis. Dari pengalaman ngider itu saya mendapat banyak pengalaman. Ada beberapa tulisan yang membuat saya betah berlama-lama namun ada yang hanya satu alinea sudah saya tinggalkan. Memang gak mudah membuat orang bertahan hingga alinea terakhir, namun bukan berarti tak mungkin.

Disinilah kekuatan gaya bertutur perlu diperhatikan. Kamu tahu apa itu gaya bertutur? Jika berjalan surut ke belakang (Hei, surut mana ada yang maju? Hehehe) maka akan kita dapati seni bertutur nenek moyang kita melalui bahasa lisan. Di kampung saya Minangkabau, ada saluang yang merupakan seni bertutur dengan diringi musik. Beda orang, beda pula cara mereka membawakannya.

Nah, bertutur melalui lisan ini juga berlaku dalam tulisan. Sejatinya setiap tulisan adalah penuturan, setiap penuturan memiliki gaya bertutur. Masing-masing penulis memiliki kemampuan berbeda-beda dalam bertutur. Memiliki gaya masing-masing yang akan menjadi ciri khas mereka.

Kamu bisa contek beberapa gaya bertutur penulis yang menurut saya kece-kece badai. Nyontek disini bukan berarti copy paste lho ya, tapi dipelajari cara dan gaya mereka menulis, lalu kreasikan dengan gaya menulismu. Setiap orang pasti pernah melakukan itu, mempelajari tulisan orang lain lalu membuat gayanya sendiri.

Saya suka dengan gaya bertutur Asma Nadia yang pendek-pendek. Karena kalimat pendek-pendek ini membuat kita cepat memahami maksud sebuah kalimat. Terkesan cepat (cut to cut) sehingga tidak membosankan. Tak perlu membuat kening berkerut untuk memahami sebuah kalimat saking panjangnya hehe…

Atau kamu bisa lihat gaya tulisan Dewi Lestari yang kaya diksi. Kekayaan diksi adalah salah satu yang wajib dimiliki oleh seorang penulis, karena selain memperkaya wawasan pembaca, juga membuat sebuah tulisan jadi cerdas dan berisi. Pembaca sering dibuat takjub dengan munculnya diksi dan istilah-istilah baru.

Lihat juga cara bertutur Tere Liye yang memilih gaya bertutur puitis magnetis (aih, apa itu?) yang membuat pembaca selalu tertarik untuk terus menyimak setiap tulisannya. Tak jarang pembaca jadi jatuh cinta pada setiap penggal kalimatnya.

Kamu bisa perhatikan juga gaya tulisan Arham Rasyid yang tulisannya di-like dan di-share ribuan orang karena gaya bertuturnya yang sangat akrab dengan keseharian, blak-blakan dan kekinian. Ehm, meskipun tanda bacanya banyak yang ngaco hehehe…

Nah, carilah dan perhatikan sebanyak mungkin tulisan para penulis yang sudah cukup malang melintang di dunia kepenulisan. Pelajari cara mereka bertutur. Jika kamu hanya sibuk menulis tanpa mau sejenak mengamati tulisan para penulis lain dengan berbagai gaya bertutur mereka, maka tulisanmu akan terasa garing tanpa seni bertutur.

Itulah yang saya temukan pada beberapa tulisan teman-teman penulis. Tulisan mereka secara EYD sudah bagus, tips-tips mereka juga beragam, namun saya tidak menikmati membacanya. Karena gaya bertuturnya yang tidak asyik menurut saya. Jadi membacanya pun jadi gak asyik. Gak perlu Sik-Asyik kayak lagu Ayu Tingting sih tapi minimal jangan membuat pembaca jadi bosan dan malas membacanya.

Jadi apa sih gaya bertutur itu? Sederhananya, gaya bertutur adalah gaya kita menyampaikan sebuah topik baik itu cerita, opini, berita dan sebaginya. Seni menyampaikannya itulah yang disebut gaya bertutur. Santai, serius, humoris, adalah label yang biasa disematkan pada gaya bertutur tersebut. Nah sudah paham kan?

Jadi sekali lagi, belajarlah cara bertutur! (V)

Note: Sssttt ini yang nulis kayak sudah asyik aja gaya bertuturnya hehehe…

Baca juga: Apa saja point-point penting dalam menulis?

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


6 thoughts on “Gaya Bertutur Cantik

  1. eva arlini

    Kmungkinan besar tulisan saya termasuk yang membosankan ya mbak..mesti sering baca tulisan para ahli bertutur termasuk mbak novia..syukron mbak..bermanfaat 😊

    Reply
  2. Rotun DF

    Aiih..makasih tipsnya Uni. Aku suka gaya bertutur Ifa Afianty dan Bebi Haryanti Dewi. Santai dan renyah. Tapi aku juga suka gaya bertutur Uni di novel2 karya Uni yg beda banget sama gaya bertutur status2 FB Uni, wkwkwk…Mohon masukannya dong buat tulisanku, hihi..

    Reply
  3. Annisa

    Untuk bisa menjadi penulis yang handal, ternyata salah satu kuncinya adalah sering-sering membaca tulisan orang lain ya Mak, hehehe.

    Jadi berpikir, gaya penulisan saya seperti apa yah?

    thanks mbak.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *