Halo, Agus Kuncoro!

Ayang memang aneh! Setiap orang yang datang melamarnya harus memenuhi satu kriteria tambahan setelah pintar dan alim, yaitu harus mirip Agus Kuncoro! Konyol kedengarannya memang, tapi itulah maunya Ayang. Padahal untuk ukuran gadis seperti Ayang, mendapatkan pendamping yang lebih ganteng dari Agus Kuncoro pun bukanlah perkara sulit. Dia gadis yang cantik, pintar, dan juga alim.

“Wah, kamu udah ngada-ngada nih, Yang! Masa syaratnya nyeleneh begitu? Harus mirip Agus Kuncoro segala?” komentar Indah, teman sekantornya di sebuah media cetak.

“Lho? Apa salahnya? Kalau memang ada pemuda yang baik, pintar, mapan, dan mirip Agus Kuncoro, kenapa tidak?” balas Ayang santai.

“Tapi kamu nggak boleh menolak seorang pemuda hanya karena dia nggak mirip Agus Kuncoro! Lagian, apanya sih yang menarik dari Agus Kuncoro? Udah gondrong, gayanya kayak penyair urakan, kayak…”

“Ups! Kamu nggak boleh menghina orang seperti itu,” potong Ayang sambil meletakkan telunjuknya di bibir Indah. “Menarik atau tidaknya seseorang, itu sangat subyektif, Non!”

“Iya, tapi…”

“Tapi aku tetap menentukan kriteria seperti itu!” Ayang mengedipkan matanya dan berlalu dari hadapan Indah yang masih penasaran ingin protes.

@@@

“Pertama, kamu menolak Irwan, padahal dia adalah orang penting di kantor ini dan jelas punya masa depan cerah. Sayang, aku nggak secantik kamu, sementara dia menginginkan calon istri yang kayak kamu.” Indah memulai obrolan lagi saat mereka makan siang di kantin kantor.

“Kedua, kamu menolak Fandi, padahal dia nggak kalah ganteng dibanding Anjasmara. Terus, kamu juga menolak Herman, padahal dia anak seorang anggota DPR, lho. Kemudian yang terakhir kamu menolak Anton, padahal dia adalah pemuda yang sangat sabar dan kalem. Kamu tau nggak sih, mereka semua adalah tipe lelaki idamanku!”

Ayang hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Indah.

“Yang penting untuk dicatat di sini adalah, kamu menolak mereka semua dengan satu alasan, yaitu karena mereka tidak mirip Agus Kuncoro! Kamu ngerasa nggak sih, kalau kamu tuh udah gila? Sampai ke ujung dunia pun, nggak bakal ketemu orang yang mirip dia!”

Ayang nyaris tersedak karena geli. “Udah deh, Ndah. Kita ngomongin yang lain aja, oke?”

“Nggak bisa! Ini masalah penting yang harus kita bicarakan dengan serius. Kamu itu udah ada kelainan, Yang! Sadar nggak sih kamu?” Indah terlihat sangat serius.

“Ndah, aku tuh masih normal. Sekali lagi, normal! Apanya sih yang salah? Memangnya nggak boleh kalau aku ingin punya suami yang mirip Agus Kuncoro? Boleh dong, wong itu hak azasi, kok!”

“Enggak! Ini sudah nggak normal! Kamu itu cewek jempolan, alim, cantik, pintar dan juga seorang penulis!  Jadi please, jangan terobsesi lagi sama yang namanya Agus Kuncoro itu, oke? Ayo, berjanjilah padaku!” Indah meraih tangan Ayang yang mulai mengaduk nasi goreng pesanannya. Tapi Ayang hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

@@@

 “Kamu itu kelewatan, Yang!” protes Sofi, kakak Ayang. “Masa kriterianya begitu? Seumur hidup kamu nggak bakal dapat suami, tau!”

“Lho? Memangnya Kak Sofi yang ngatur jodoh orang? Kalau Tuhan berkehendak, apa sih yang nggak mungkin?” jawab Ayang dengan senyum simpul.

“Bukan begitu. Tapi niat kamu itu udah nggak bener! Masa syaratnya harus mirip Agus Kuncoro? Yang bener aja?” Sofi terlihat gemas.

Ayang tertawa kecil. “Kok Kak Sofi sewot, sih? Para lelaki aja sering ngajuin syarat dan kriteria yang berjejer, harus begini, harus begitu. Masa Ayang nggak boleh sih? Nggak adil, dong!”

“Tapi kriteria wajib itu kan patokannya agama, bukan bentuk fisik seseorang!”

“Ah, banyak juga kok para lelaki yang menetapkan kriteria secara fisik. Pengen istri yang cantik, putih, tinggi, langsing dan lain sebagainya. Sementara Ayang nggak minta seribet itu, cuma yang mirip Agus Kuncoro doang!” Ayang kukuh.

Sofi melotot.

“Lagian, itu bukan syarat wajib, kok. Cuma syarat tambahan aja.”

“Iya! Syarat tambahan yang menurut kamu harus ada! Sama aja, kan?”

“Ya nggak sama dong, Kak! Syarat tambahan itu cuma sebatas usaha. Kalau nggak dapet-dapet juga sementara kita udah capek usaha, ya nggak usah dipaksain, gitu. Lain kalau syarat wajib, yang dalam keadaan apapun harus tetap ada. Nah, dalam konteks ini, kalau Ayang masih mampu mengusahakan calon suami yang mirip Agus Kuncoro, kenapa harus dimentahkan?”

“Idih, kamu ngeyel, ya! Lagian apa kamu nggak malu jalan bareng sama suami yang gondrong dan seniman banget gitu? Kamu kan pake jilbab, Yang! Nggak matching lagi!”

“Yeee… matching aja lagi, Kak! Lagian matching itu bukan cuma di tampilan fisik, kan? Tapi juga di hati.”

“Ya, udah! Sekalian aja kamu nikah sama Agus Kuncoro, sana! Sampai kiamat nggak bakal ketemu orang yang mirip dia! Yang namanya Agus Kuncoro itu, ya cuma satu di dunia!” Sofi gemas habis. Ditinggalkannya Ayang yang masih tersenyum-senyum simpul di kamarnya.

@@@

“Kita mau kemana, sih?” tanya Indah bingung, saat mereka sudah naik ke dalam taksi.

“Nonton parade puisi di TIM,” jawab Ayang dengan wajah ceria.

“Parade puisi? Sejak kapan kamu suka puisi?” Indah tampak makin bingung.

“Santai aja, friend. Aku kan penulis, jadi nggak usah heran. Puisi itu bagian dari sastra, dan sastra itu bagian dari dunia kepenulisan. Nanti kamu juga bakal suka.”

“Wah, nggak janji deh!” Indah melengos.

Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di TIM. Keduanya langsung menuju ruang Galeri Cipta, tempat pertunjukan puisi digelar. Tapi baru selangkah memasuki pintu ruangan yang remang-remang itu, langkah Indah tertahan mendadak.

“Kenapa? Ayo masuk!  Nggak apa-apa, kok. Mereka cuma gayanya aja yang gila-gilaan, tapi hatinya pada baik, kok,” kata Ayang menenangkan.

“Bukan! Bukan itu! Aku juga tahu ini sarangnya orang-orang sableng. Tapi…” Kalimat Indah menggantung. Ayang mengikuti arah pandang sahabatnya itu, mencari sesuatu yang mungkin mengejutkan bagi Indah.

“Kamu ngeliat apaan, sih? Nggak ada apa-apa, kok,” ujar Ayang heran.

“Masa kamu nggak ngeliat, sih? Itu yang pakai kemeja kotak-kotak merah…” bisik Indah tak berkedip. Ayang kembali mengedarkan padangannya ke dalam ruangan yang agak gelap itu. Dan… ups! Apakah ini bukan mimpi? Agus Kuncoro ada di sana! Ya, Agus Kuncoro! Dia sedang bercakap-cakap dengan seseorang yang juga berambut gondrong seperti dirinya.

Ayang menutup mulutnya tak percaya. Indah yang berdiri di sampingnya langsung menggamit tangan Ayang kuat. “Kita pulang aja deh, Yang! Aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama kamu kalau kita tetap di sini. Bisa-bisa kamu semakin gila!” bisik Indah.

“Tidak! Jangan harap aku akan kehilangan moment berharga ini! Ini adalah acara di mana aku bisa mengenal langsung para penyair tanah air,” balas Ayang sambil menarik tangan Indah menuju kursi penonton. Dari sana mereka jadi lebih leluasa mengamati pertunjukan.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Menemui dia? Kenalan? Minta tanda tangan, atau…?”

“Kamu apa-apaan, sih? Ngapain aku minta tanda tangan segala? Aku bukan ABG, tau!”

“Yang bener? Bukannya dia telah membuatmu begitu terobsesi?” bisik Indah tak yakin.

Ayang tertawa kecil. “Kamu itu lho sebenarnya yang aneh. Aku terobsesi ingin dapat suami yang mirip dia, bukan dianya! Catat itu baik-baik!”

“Lho? Kok gitu?” Indah mengerutkan alis tak mengerti.

“Ya, ampun, Ndah! Aku tuh nggak kepengen punya suami aktor ngetop. Sama sekali enggak! Agus Kuncoro pun belum tentu menyukai sosok seperti aku, wong dia tiap hari dikelilingi cewek-cewek cantik dan seksi. Aku tuh pengennya yang biasa-biasa aja. Tapi…  yang tampilan luarnya mirip dia. Begitu maksudku.”

“Idih! Kamu bikin aku tambah bingung aja, sih?”

“Udah deh, kamu jangan mikir yang enggak-enggak lagi, ok! Aku mau konsentrasi nonton, nih.”

Indah manyun, namun matanya tertuju juga ke arah panggung. Detik yang berlalu terasa begitu lama baginya.

“Cukup sekali ini aja deh aku diajak ke sini!” sungutnya begitu acara selesai. Ia langsung menyeret Ayang keluar ruangan.

“Kamu antipati banget, sih? Biasanya, sesuatu yang sangat kita benci itu, suatu saat akan menjadi sesuatu yang paling kita cintai, lho,” kata Ayang tersenyum. Indah cuma memonyongkan bibirnya.

“Mbak! Maaf, Mbak!” Seseorang menghadang langkah mereka.

Indah dan Ayang tertegun. Langkah mereka spontan terhenti.

“Maaf, kalau saya mengganggu. Saya hanya ingin berkenalan sekalian minta tanda tangan Mbak Ayang Bestary.”

“Apa? Tanda tangan saya?” Ayang mengerutkan alis. Jantungnya jadi berdebar juga melihat sosok di hadapannya itu. Sosok dengan kemeja kotak-kotak merah yang tadi ia lihat saat masuk ruang Galeri Cipta. Agus Kuncoro!

“Iya, saya sangat suka membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Tadi seorang teman memberitahu saya bahwa ia melihat Mbak masuk ke ruang pertunjukan. Dia tahu kalau saya sangat ngefans sama Mbak. Makanya saya menunggu Mbak di sini,” jelas pemuda gondrong itu santun. Senyumnya… benar-benar sudah akrab di mata Ayang. Senyum yang sangat disukainya. Juga suaranya. Ah, Ayang menelan ludah, andai saja dia bukan Agus Kuncoro…

“Ingat! Kamu hanya menginginkan orang yang mirip dia! Bukan dia! Jangan lupa itu, friend!” Bisikan Indah yang bernada menyindir di telinganya membuat Ayang jadi salah tingkah. Akhirnya dengan perasaan tak menentu ia membuat sedikit tulisan di dalam buku kumpulan cerpen yang disodorkan pemuda gondrong itu.

Halo, Agus Kuncoro!

Semoga buku ini memberi inspirasi dan manfaat bagimu. Keep writing!

(Ayang Bestary)

Ia lalu membubuhkan tanda tangan dan kembali menyerahkan buku tersebut dengan segaris senyum jengah. Ayang tiba-tiba merasa dunia sedang terbalik. Seharusnya ia yang meminta tanda tangan pada aktor top itu, bukan malah sebaliknya. Nama Ayang Bestary belum ada apa-apanya dibanding nama Agus Kuncoro. Mungkin baru segelintir pembaca yang mengenalnya sebagai penulis cerita fiksi. Ah, apakah dunia memang sudah mau kiamat?

“Lho? Kok Agus Kuncoro sih, Mbak? Saya kan bukan Agus Kuncoro!” protes pemuda itu tiba-tiba.

“Apa?!” Ayang berseru kaget. Indah ikut-ikutan terkejut.

“Mbak sih, nggak nanya-nanya dulu. Tapi memang banyak kok yang nyangka saya Agus Kuncoro. Tapi masa pada nggak tahu bedanya, sih? Saya kan lebih ganteng.” Pemuda itu tersenyum jenaka, mencairkan suasana yang mendadak tegang.

Indah dan Ayang saling berpandangan. Wajah mereka justru makin tegang. Indah sampai bergumam tak percaya, “Bukan Agus Kuncoro? Jadi… dia adalah orang lain yang mirip Agus Kuncoro?”

“Kalau nggak percaya, ini KTP saya!” Pemuda itu mengeluarkan KTP-nya.  Ayang dan Indah menatap KTP itu tak berkedip. Benar, dia bukan Agus Kuncoro! Tangan Ayang tiba-tiba terasa dingin ketika meralat nama yang tadi ia tulis dengan begitu yakin. Bahkan ketika pemuda itu telah lenyap di antara keramaian, Ayang masih terlihat gemetar.

“Sungguh… begitu tahu dia bukan Agus Kuncoro, kukira aku sudah menemukan calon pendamping idamanku, Ndah. Tapi ternyata… kamu lihat sendiri kan tadi di KTP dia? Statusnya sudah menikah…” desah Ayang dengan raut kecewa.

“Gila! Aku juga nyaris nggak percaya, ternyata sosok yang mirip Agus Kuncoro itu benar-benar ada. Kali ini aku benar-benar nggak tahu lagi apa yang akan terjadi sama kamu setelah ini!” seru Indah sambil menarik lengan Ayang meninggalkan halaman Galeri Cipta.

“Aku… aku sekarang makin percaya, Ndah. Percaya bahwa Tuhan itu Mahakuasa. Sekarang terserah deh, aku nyerah. Mau dilamar siapa pun, asalkan orangnya baik, insya Allah aku terima,” desah Ayang lemah. Wajahnya terlihat memelas.

“Bener, nih? Berarti kamu udah nggak ngotot lagi, kan? Sebab terbukti nggak gampang mendapatkan orang yang mirip Agus Kuncoro. Sekalinya ada, eh, ternyata udah menikah,” olok Indah sambil tertawa.

“Tapi setidaknya kan aku jadi yakin, bahwa di dunia ini memang ada orang yang mirip Agus Kuncoro. Dan mungkin nggak cuma satu orang itu aja yang mirip Agus Kuncoro, kan? Jadi, terbukti juga kalau pendapat kamu dan Kak Sofi itu keliru!”

“Iya. Itu memang mungkin saja. Tapi sekarang yang penting, kamu udah nyerah, kan?”

Ayang mengangguk pelan. “Iya. Aku nggak akan menolak lagi, yang penting agamanya baik seperti kata Kak Sofi. Juga pintar dan mapan seperti kata kamu. Tapi… akan lebih bahagia lagi kalau dia mirip…”

“Cukup!” potong Indah cepat. “Aku nggak mau dengar lagi!”  (NoS)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *