Hilangnya Tumakninah Dari Rukun Shalat

Shalat Tarawih yang 20 rakaat plus Witir 3 rakaat seperti sebuah perburuan adanya. Bukan berburu pahala namun berburu waktu.

Nenek-nenek, kakek-kakek dan manusia paruh baya yang datang ke masjid dengan langkah tertatih sungguh mengundang miris di hati. Belum sempat punggung mereka lurus rukuk sempurna, imam sudah menyuruh untuk bangkit i’tidal. Belum tegak tubuh mereka dalam i’tidal imam sudah menyuruh sujud pula. Sungguh derit persendian mereka seakan melumpuhkan lutut mengikuti gerakan imam.

Aduhai…, shalat macam apa ini? Apa yang kita baca di setiap gerakan itu? Bahkan lidah pun belum akan selesai melafazkan bacaannya, tubuh kita sudah bergegas menuju gerakan yang lain. Jika memang 20 rakaat kepanjangan, ya sudah, lakukan 8 rakaat saja tapi dengan tumakninah. Itu jauh lebih baik.
“Yang 8 rakaat bukan aliran kita.”
Owmaigat! Okelah, itu kan cuma saran. Sebab shalat Tarawih ini hukumnya sunnat sementara menjaga tumakninah hukumnya wajib sebab ia adalah rukun shalat yang jika ditinggalkan akan membatalkan shalat kita. Lebih penting mana menjaga jumlah rakaat dibanding menjaga tumakninah?

Dalil Shalat Tarawih

Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

Tentang shalat Tarawih 20 rakaat dijelaskan oleh beberapa ulama bahwa itu mulai dilakukan ketika zaman khalifah Umar bin Khaththab karena shalat Tarawih yang 8 rakaat biasanya disertai bacaan surat yang panjang. Umar khawatir dengan kondisi ummat Islam pada masa itu yang semakin menurun semangatnya untuk shalat Tarawih dengan bacaan yang panjang. Maka beliau memerintahkan untuk membaca surat-surat yang lebih pendek namun rakaatnya ditambah. Perintah ini tak disanggah oleh para sahabat, artinya ini tidak menyimpang atau menyalahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah pertama kalinya shalat tarawih dilakukan 20 rakaat.

Dan dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az Zubair dari Abdurrahman bin Abdul Qariy bahwa dia berkata, “Aku keluar bersama Umar bin Al Khatthab radhiyallahu anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka Umar berkata, “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jamaah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jamaah dengan dipimpin seorang imam, lalu Umar berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam.” Yang beliau maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam.” (HR. Bukhari no. 2010)

Jadi 11 Rakaat atau 23 Rakaat?

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari As-Sa`ib bin Yazid dia berkata, “Umar bin Khatthab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang, dengan sebelas rakaat.”

As Sa`ib berkata, “Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar.” (HR. Malik dalam Al Muwaththo’ 1/115).

Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya (2/163). Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Sa’id, ia berkata, “Umar bin Al Khottob pernah memerintah seseorang shalat dengan mereka sebanyak 20 rakaat.”

Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro mengatakan, “Dan mungkin saja kita menggabungkan dua riwayat (yang membicarakan 11 raka’at dan 23 raka’at), kita katakan bahwa dulu para sahabat terkadang melakukan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat. Di kesempatan lain, mereka lakukan 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.”

Ibnu Hajar Al Asqolani juga menjelaskan hal yang serupa. Beliau rahimahullah mengatakan, “Kompromi antara riwayat (yang menyebutkan 11 dan 23 raka’at) amat memungkinkan dengan kita katakan bahwa mereka melaksanakan shalat tarawih tersebut dilihat dari kondisinya. Kita bisa memahami bahwa perbedaan (jumlah rakaat tersebut) dikarenakan kadangkala bacaan tiap rakaatnya panjang dan kadangkala pendek. Ketika bacaan tersebut dipanjangkan, maka jumlah rakaatnya semakin sedikit. Demikian sebaliknya. Inilah yang ditegaskan oleh Ad Dawudi dan ulama lainnya.”

Jadi masalahnya bukan pada jumlah rakaat, tapi pada cara melakukannya. Yaitu antara yang terburu-buru dan yang tumakninah. Kita seharusnya mulai melafazkan bacaan di setiap rukun itu setelah posisi kita sempurna, dan baru boleh berpindah rukun setelah bacaan kita selesai dengan sempurna pula. Dilafazkan, bukan dibisikkan dalam hati saja, karena Rasulullah shalat melafazkan dengan lidahnya sehingga terlihat gerakan jenggot beliau. Begitu kata hadits. Dan lidah itulah yang kelak akan bersaksi untuk kita karena ia ikut beribadah.

Namun yang kita dapati dalam Tarawih kita saat ini adalah ketergopohan yang luar biasa. Lupakah para imam itu bahwa salah satu rukun shalat adalah tumakninah? Saya rasa seorang imam mestinya paham akan tumakninah.

Oke, ini penjelasan Rasulullah:

“Jika kamu hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu.” (HR Bukhari 757 dan Muslim 397 dari sahabat Abu Hurairah)

Penjelasan lain mengatakan lewat perumpamaan, tumakninah itu perkiraan lamanya kira-kira diamnya kita bisa membuat burung bertengger sejenak di pundak kita. Saking tenang dan tidak terburu-burunya. Sekarang? Jangankan berani bertengger, burung kabur melihat kita shalat saking buru-burunya.

Teringat ucapan almarhum guru saya, “Kita tergopoh dalam shalat seakan dunia hendak lari meninggalkan kita. Kita lupa pada kebesaran Allah yang kita sembah. Kalaulah kita sadar bahwa yang kita sembah itu adalah Dzat yang Maha Besar maka mustahil kita berani shalat dengan tergopoh, tak peduli apakah itu shalat sunnat atau shalat wajib.”

Dan yang membuat saya malas kadang shalat Tarawih ke masjid adalah hal ini, hilangnya tumakninah di antara rukun-rukun shalat kita, sementara tumakninah adalah rukun yang jika tidak dilakukan maka batallah shalat kita. Masjid yang bagus tumakninahnya jauh pula dari rumah. Jika saya katakan ini menyebabkan saya malas shalat ke masjid tentu bukan untuk diikuti. Meramaikan masjid tetap penting karena itu adalah syiar Islam. Namun penekanan saya di sini adalah bahwa mengembalikan tumakninah ke dalam rukun-rukun shalat kita itu penting dan wajib dilakukan.

Hilangnya tumakninah bisa membatalkan shalat kita, lalu buat apa kita shalat sepanjang bulan Ramadhan jika berujung kesia-siaan? Membangun rasa khusyuk dalam shalat sangatlah sulit, apalagi jika dilakukan dengan terburu-buru. Lalu bagaimana bisa kita mengayati rasa kehambaan kita jika demikian? Maka tak heran jika semakin lama ummat Islam semakin jauh dari agama mereka, semakin kehilangan kenikmatan dalam ibadah mereka, sebab hakikat dari ibadah itu sendiri sudah hilang.

Nah, kapan tumakninah ini wajib dilakukan. Tumakninah itu dilakukan dalam 4 rukun: Rukuk, I’tidal, Sujud, Duduk Antara Dua Sujud. Itulah 4 rukun yang wajib disertakan tumakninah di dalamnya. Bukan berarti di luar rukun yang 4 itu kita bisa terburu-buru lho ya. Tetap harus dijaga adab kita terhadap Allah yang sedang kita sembah. Bacalah ayat perayat dengan perlahan dan penuh penghayatan.

Ketika di hadapan pejabat negara saja kita begitu tunduk, santun dan ingin berlama-lama, kenapa di hadapan Allah kita terburu-buru? Karena Allah gak keliatan? Yakinlah, meskipun kita gak melihat Allah tapi Allah melihat kita! Allah melihat setiap gerakan kita, Allah mendengar setiap ucapan kita dan Allah tahu apa yang tengah berkelindan dalam benak kita saat itu. Jika ini kita sadari maka kita tentu akan takut terburu-buru dalam shalat. (NSR)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *