Ibu Kantoran atau Ibu Rumahan, Tetap Ibu!

ibu-kantoran-dan-ibu-rumahanSejujurnya saya tidak tertarik untuk memihak antara Ibu Kantoran yang part time dengan anak-anaknya, dan Ibu Rumahan yang full time mengurus anak. Ini ada alasannya.

Pertama

Karena di sekitar saya banyak sekali ibu kantoran yang sulit menampik alasan mereka bekerja. Sangat masuk akal. Karena mereka single parent misalnya, siapa yang bisa menyalahkan? Faktor ekonomi benar-benar mengharuskan mereka berkerja di luar rumah. Hati mereka sudah cukup perih karena harus meninggalkan anak-anak di rumah, jadi jangan ditambah lagi dengan komentar, “Ibunya sekolah tinggi, tapi pengasuhan anak diserahkan pada pembantu yang cuma tamatan SD.” Sakit sodara-sodara!

Saran saya sih, dari pada menyalahkan mending cariin suami aja yuk, hehe… *ini solusi 😉

Kedua

Di sekitar saya banyak ibu-ibu rumah tangga yang full time di rumah. Sulit juga menyayangkan meski ijazah mereka dianggap sia-sia. Masuk akal juga soalnya. Mereka ingin sepenuhnya mengasuh anak karena memiliki suami yang berpenghasilan cukup. Malah ada yang dilarang bekerja oleh suaminya dengan berbagai pertimbangan. Istri ya harus manut suami dong. Gak usah juga kita nyinyirin, “Ortu dah ngeluarin duit banyak buat nguliahin, eh ijazah cuma dibawa tidur.”

Kelak, jika takdir menetapkan suaminya (maaf) meninggal misalnya, apakah masih memilih gak bekerja? Tentu tidak.

Ketiga

Karena saya sendiri adalah gabungan keduanya. Dulu saya full time di rumah dan menikmatinya, meski sering bosan dan galau karena merasa hidup saya monoton. Saya mempertanyakan eksistensi diri (cieee) dan me time yang hilang dari hidup saya. Saya yang dulu biasa terbang bebas saat gadis, kini suntuk berjumud-jumud di rumah. Saya jadi sensi dan cengeng. Ibu Rumahan macam saya inilah mungkin yang ingin diejek oleh para Ibu Kantoran, hihihi… please deh lo!

Sudah beberapa tahun ini saya ngantor dan saya juga menikmatinya, meski hati didera rasa bersalah karena sering meninggalkan anak-anak. Saya bekerja lebih disebabkan keinginan memberdayakan diri dan menimba pengalaman bisnis (ehm!), jadi bukan karena suami saya tak sanggup menafkahi keluarga. Nah, Ibu Kantoran yang tipe saya ini jugalah mungkin yang ingin di-bully oleh para Ibu Rumahan, hehehe… wis, aku rapopo!

Tapi tunggu dulu!

Setelah menjalani dua episode kehidupan sebagai ibu, saya benar-benar banyak belajar. Saya belajar bagaimana membunuh perasaan bosan dan jenuh yang mendera para Ibu Rumahan. Saya pun belajar banyak bagaimana pentingnya waktu bersama anak-anak bagi Ibu Kantoran. Semua ini membuat saya melihat kedua kondisi ini tampak sama saja, keduanya adalah ibu, selamanya tetaplah seorang ibu! Lebih baik atau lebih buruk itu hanya tergantung siapa yang menilai dan seberapa dewasa ia berpikir dan mencerna sebuah keadaan.

Kita tak tahu bahwa ternyata anak-anak yang sering ditinggal ibunya bekerja juga bisa tumbuh dengan sangat baik. Kita juga bisa melihat anak-anak yang selalu di bawah ketiak ibunya pun tak sedikit yang tumbuh kolokan dan tidak mandiri. Sorry, Mom, ini bukan upaya pembenaran. Ini hanya fakta yang bisa saja terjadi kapan dan di manapun. Semua sangat tergantung pada pola pendidikan keluarga, pola pendidikan di sekolah dan lingkungan, serta yang tak kalah berperan adalah pola genetik setiap individu. Tak selalu anak sulung lebih dewasa dalam bersikap, dan tak selalu anak bungsu kalah mandiri. Artinya, kita ini adalah makhluk yang sangat dinamis, bisa berubah karena berbagai faktor.

Antara Ibu Kantoran dan Ibu Rumahan sebenarnya tak perlu dipertentangkan karena memang tidak patut dibandingkan. Kondisi setiap orang berbeda dan hasilnya pun berbeda-beda. Saya misalnya, hari ini ngantor, besok atau lusa bisa jadi saya kembali full time di rumah. Menurut saya dari pada meributkan mana yang benar dan mana yang salah, mungkin lebih baik kita menulis bagaimana cara membuat Ibu Rumahan bisa mengusir rasa bosan mereka dan tetap berdayaguna bagi lingkungan atau menulis kiat-kiat bagi Ibu Kantoran agar waktu mereka yang tidak full untuk anak-anak bisa lebih berkualitas lagi saat berada di rumah. Ini keren menurut saya.

Saya sendiri menganggap bahwa yang terpenting bagi seorang ibu itu bukan ngantor atau full time di rumah, melainkan memahami bahwa setiap ibu memiliki peran penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya (sebanyak dan sesedikit apapun waktunya), bahwa setiap ibu seharusnya punya bekal kemandirian finansial sedini mungkin. Itu yang penting.

Tak selamanya suami kita ada dan tak selamanya pula ngantor itu membahagiakan. Seharusnya, di kantor atau di rumah, seorang ibu itu harus terus mengasah diri baik secara wawasan atau pun kemampuan agar selalu siap jadi ibu yang baik serta siap menjadi tulang punggung ketika peran sebagai tulang rusuk selesai. Sementara soal pengasuhan anak, semua ibu sudah dibekali naluri yang peka, bagaimana cara memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tinggal menggali ilmu tambahan sebanyak-banyaknya bagaimana cara menjadi ibu yang baik dan bahagia tanpa perlu cemburu melihat ibu-ibu lain.

Jadi, hargailah peran setiap ibu karena setiap ibu berbeda. Ibu Kantoran atau Ibu Rumahan, tetap Ibu!

Baca juga: 10 Fakta tentang Kang Arul

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


One thought on “Ibu Kantoran atau Ibu Rumahan, Tetap Ibu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *