Ini Tentang Cinta Laki-laki Biasa

Cinta Laki-laki BiasaMeski sudah beredar dalam bentuk buku sebelum difilmkan, Cinta Laki-laki Biasa ini adalah sebuah cerpen, bukan novel. Jadi bukunya berisi kumpulan cerpen pemenang lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Asma Nadia Publishing House, dan telah disaring sebanyak 12 cerpen dari sekitar 5000-an cerpen yang masuk. Termasuk cerpen saya sebagai juara ke-2 lomba tersebut. Ehm! Nah salah satu cerpen di dalamnya adalah cerpen Cinta Laki-laki Biasa karya Asma Nadia sendiri.

Oke, lalu seperti apa cerpen yang diangkat ke layar lebar ini? Mendapat undangan khusus untuk menghadiri gala premier film Cinta Laki-laki Biasa memang sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Saya penasaran, apakah film ini akan sesuai dengan ekspektasi saya saat membaca cerpennya yang mengharukan. Acara yang digelar tanggal 25 November 2016 di Epicentrum Kuningan ini dihadiri cukup ramai penonton. Disambung sesudahnya dengan jumpa pers bersama aktor dan aktrisnya.

Hal pertama yang perlu dicatat adalah bahwa film ini agak berbeda dengan versi cerpennya. Cerpennya menggambarkan kehidupan Nania dan Rafli hingga anak-anak mereka dewasa, namun di film lebih pendek. Beberapa perbedaan lain juga ada seperti penyebab kecelakaan yang dialami Nania dan masih ada yang lainnya. Namun masing-masing menurut saya punya kelebihan tersendiri. Saya menikmati versi cerpennya dengan bahasa-bahasa romantis ala Asma Nadia sehingga tergambar betapa luar biasanya cinta antara Rafli dan Nania. Saya juga menikmati versi filmnya dengan kejutan-kejutan baru dalam alur ceritanya.

Film yang dibintangi oleh Velove Vexia (Nania) dan Deva Mahenra (Rafli) ini agak membuat harapan saya goyah. Sosok Velove Vexia terasa kurang meyakinkan karena dalam pandangan saya dia lebih cocok jadi bintang sinetron. Ditambah sosok Deva yang di mata saya kurang familiar. Kedua pemeran utama ini belum pernah saya lihat film layar lebarnya. Maklum, film-film Asma Nadia yang lain biasanya dibintangi oleh artis-artis semacam Revalina S. Temat, Laudya Cintya Bella, Ralinsyah, BCL, Reza Rahadian, Morgan dll, yang memang sudah ngetop banget aktingnya. Ah tapi sudahlah, pokoknya saya mau nonton dulu. Titik.

Opening film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini cukup menggelitik dengan menampilkan keakraban Nania dengan Si Mbok pembantunya. Hubungan sosial yang selalu saya sukai nilai-nilainya. Lalu penggambaran keluarga besar Nania melalui sosok Mama (Ira Wibowo), Papa (Cok Simbara), ketiga kakaknya (Dewi Rezer, Donita, Fanny Febriana) cukup menunjukkan kelas sosial mereka yang borjuis, segala sesuatu dinilai dari harta dan pangkat. Ditambah sosok kakak-kakak iparnya yang diperankan dengan sangat baik oleh Agus Kuncoro, Adi Nugroho dan Uli Herdinansyah.

Keluarga Besar Nania

Keluarga Besar Nania

Wajar jika kemudian penolakan keras pun terjadi saat Nania mengenalkan Rafli sebagai calon suaminya, seorang lelaki biasa dengan pekerjaan ‘hanya’ kepala mandor proyek properti. Nania yang seorang sarjana arsitektur dan memiliki idealis tinggi merasa sangat cocok dengan Rafli yang punya rasa sosial tinggi. Intinya begitulah, mereka memutuskan menikah meski diiringi rasa tak rela di hati keluarga besar Nania. Maklum, Mama Nania sudah berniat banget menjodohkan Nania dengan Tyo (Nino Frenandez), anak sahabatnya sendiri.

Baik, di sini saya tidak akan bercerita tentang jalan cerita filmnya. Saya sarankan kamu baca aja bukunya biar dapat gambaran seperti apa cerpennya sebelum divisualkan ke layar lebar. Saya hanya akan mengulas bagaimana film ini pada akhirnya mampu membuat saya melihat sosok Velove yang lain. Ternyata Velove memang cocok memerankan Nania. Gaya Velove yang agak manja namun keras sangat masuk ke karakter Nania. Sebagaimana Deva yang juga cocok memerankan sosok lelaki pekerja keras dan banyak berada di lapangan. Kulit gelap dan struktur wajah Deva sangat mendukung. Bukan berarti Deva gak ganteng lho yaaa…! Hehe, Deva tetap keren tentunya, dan laki-laki banget!

Kenapa judulnya Cinta Laki-laki Biasa? Ya, karena ceritanya memang tentang luar biasanya cinta Rafli terhadap Nania. Tanggung jawabnya, perhatiannya dan cita-citanya untuk masuk surga bersama Nania adalah cinta yang sangat disyukuri oleh Nania dan tentunya diimpikan oleh wanita manapun di dunia. Romantisnya Rafli juga membuat para penonton gala premier serentak berseru di setiap adegannya, “Aaawww…!”
Hahaha…, sepertinya banyak jomblo yang nonton bareng di Epicentrum Kuningan kemaren itu.

Cinta luar biasa dari seorang laki-laki biasa, itulah gambaran sosok Rafli di film ini. Para wanita akan baper melihat bagaimana Rafli memperlakukan Nania. Nania layak jadi wanita paling bahagia. Lihatlah bagaimana setia dan penuh cintanya Rafli menemani Nania saat dalam masa perawatan akibat kecelakaan yang menyebabkannya amnesia dan lumpuh.

Amnesia? Lumpuh? Kamu mungkin akan berkomentar, “Ah sinetron banget!”

Ya, jika amnesia dan kelumpuhan itu hanya untuk memperpanjang cerita seperti di sinetron-sinetron. Di film ini amnesia dan kelumpuhan menjadi penguat cerita tentang cinta luar biasa dari seorang Rafli. Bagaimana pergulatan batin dan emosinya sebagai suami yang tak lagi dikenali oleh istri tercinta. Bagaimana anak mereka yang masih kecil-kecil menangis kecewa melihat Sang Bunda tak menyapa dan memeluk mereka seperti biasa, namun justru menolak mereka. Bagaimana mereka berusaha bersama mengembalikan ingatan Nania. Asli, di sini saya nangis bombay deh, hehehe…

Oya, ada satu lagi yang saya catat dari film ini. Sosok Tyo yang sepertinya akan menjadi sosok antagonis karena bersaing dengan Rafli untuk mendapatkan Nania, ternyata tidak dipaksakan untuk tetap antagonis. Saya suka sekali dengan karakter Tyo di sini yang meskipun berpeluang untuk menjadi ‘jahat’ namun ternyata memilih ‘berbesar hati’ atas pernikahan Nania dan Rafli. Sampai akhir film, sosok Tyo ini terus mencuri perhatian saya. Dan saya rasa, ending Tyo dan sahabat Nania yang bernama Lulu (Dini Aminarti) adalah ending yang manis untuk film ini 😀

Sosok lain yang juga mencuri perhatian saya adalah Tole (Mudadkly Acho) dan Yasmin (Messi Gusti). Asli, aktingnya keren! Sementara Dewi Yull sebagai ibunda Rafli tentu sudah tak diragukan lagi aktingnya, dan peran beliau di film ini sangat menyejukkan hati.

Film ini cukup spesial menurut saya, lebih saya sukai dari film-film Asma Nadia sebelumnya. Film ini tak hanya melulu berisi air mata, tapi dibalut juga dengan kelucuan-kelucuan yang membuat penonton sulit menahan tawa. Baru kali ini saya nonton film sambil tertawa sementara air mata masih merebak di pelupuk mata. Haha, memang film ini bikin baper banget! Menguras emosi. Jadi kalau mau nonton jangan lupa bawa tissue ya hehe…

Oke, lalu apa pesan akhir dari film ini?

Pesannya (versi saya pribadi), di tengah banyaknya pasangan yang menjadikan materi dan pangkat sebagai tolok ukur kesuksesan, masih ada kok pasangan yang menjadikan kebahagiaan sebagai ukuran kesuksesan berumah tangga. Cinta sejati yang dibangun di atas ketulusan, ketaatan dan kesetiaan adalah sumber kebahagiaan. Film Cinta Laki-laki Biasa ini akan mulai tayang serentak di bioskop tanggal 1 Desember besok, jadi patut kamu tunggu kehadirannya dan pastikan kamu nonton di hari pertama agar tak keduluan serunya. Happy watching!

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


3 thoughts on “Ini Tentang Cinta Laki-laki Biasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *