Inilah 5 Syarat Rezeki yang Berkah

Membaca postingan suami saya di blognya tentang cerita kenapa dia bisa nyemplung jadi copy writer, saya pun agak menarik napas. Teringat masa-masa awal kami menikah.

Memang benar seperti cerita di postingan itu, bahwa saya tidak merestui dia bekerja sebagai jurnalis infotainment di sebuah stasiun TV karena bidang pekerjaan itu sangat jelas mudharatnya. Sedikit bocoran, saat itu dia sedang jadi ‘pengangguran’, maklum mahasiswa yang lagi menyelesaikan tesis ceritanya. Begitu menikah, mencari pekerjaan pun jadi tuntutan. Dan tawaran dari TV itu satu-satunya pilihan saat itu.

Sambil tersenyum waktu itu saya bilang padanya, “Sudah tertutupkah pintu rezeki yang halal hingga dirimu harus mencari rezeki dengan cara yang haram? Yang subhat aja harus dihindari apalagi yang haram. Ayolah, jangan berpikir dirimu gak mampu mencari yang halal. Dirimu pasti bisa. Masa tamatan S2 gak bisa?”

Yes, waktu itu dia masih S2. Setelah lulus S3 kayak sekarang tentu harusnya lebih bisa lagi dong. Itu keyakinan saya. Dan harus diakui, kadang keyakinan saya lebih kuat dibanding keyakinan dia terhadap dirinya sendiri. Makanya saya sering bercanda meledek, “Nilai jualmu itu tinggi lho, sayangnya dirimu gak menyadari itu hingga menghargai dirimu terlalu rendah.” Iya dong, secara dia doktor bidang kajian media dan cyber lulusan UGM, bidang yang langka dan banyak dicari di zaman digital ini. Masa iya gak bisa nyari duit dengan cara yang berkah? Impossible

Ledekan saya gak sampai di situ, pernah juga saya becandain begini, “Please deh, Yah, dirimu tuh gak usah ikut-ikutan narsis di media sosial, itu kerjaan receh untuk seorang doktor. Biarlah itu jadi bagian temen-temenmu. Dirimu itu harusnya berada di tatanan pemikiran, planner, konseptor.”

Back to topic! Saya hadir sebagai penyemangat dan pengoreksi (yang kadang sadis memang) bagi pasangan saya, tak hanya sekali dua kali. Saat-saat dia terpuruk, saat dia galau, saya selalu berusaha jadi sosok yang kuat dan penuh keyakinan. Entahlah, mungkin memang begitu settingan kami. Saya termasuk orang yang tak gampang panik soal rezeki. Bahkan ketika uang di tangan habis sementara tanggal gajian masih jauh, saya biasanya akan sibuk mikir, nyari jalan sendiri. Kalau mentok baru ngomong ke suami.

Suami saya tipe orang yang sibuk berpikir jauh ke depan, jadi kadang lupa sama uang belanja, hahaha. Bahkan tawaran ngisi pelatihan dengan gratis atau merugi pun diambilnya. Jadi makelar naskah buku pun pernah, dengan pembayaran yang mundur jauh hingga dimaki teman sendiri karena bayaran mereka tak kunjung dikasih. Padahal penerbitnya yang gak kunjung membayar. Yah, nasiblah. 😁

Saya sendiri berprinsip, selagi masih ada nyawa, saya yakin rezeki kita pasti ada. Dunia belum akan kiamat hanya karena berhenti bekerja, hanya karena usaha merugi, musibah, kehilangan, gajian jauh dan sebagainya.

Makanya doa saya terkait rezeki ini cukup spesifik. Saya tak hanya berdoa diberi rezeki yang banyak dan berkah, saya juga berdoa agar suami saya dibimbing dalam mencari rezeki yang berkah. Jika rezeki itu gak berkah, sebanyak apapun maka jauhkanlah.

Karena itu jugalah saya menjadi bawel jika mulai melihat ada indikasi pekerjaan suami saya yang tak masuk kriteria barokah (menurut saya). Kadang bagi seorang suami, mencari rezeki sebanyak mungkin, mengambil segala peluang di depan mata adalah satu-satunya pilihan demi masa depan anak dan istri. Mereka seperti pasang kacamata kuda. Alhamdulillah, mungkin itu bentuk tanggung jawab yang besar terhadap masa depan keluarga. Tapi mata para suami itu jadi siwer menelaah kadar halal dan haramnya. Banyak para suami yang seperti itu, termasuk suami saya.

Maka di situlah mata saya menajam. Mulailah bawel saya muncul. Mulailah cerita lama itu saya putar ulang. Mengingatkan dia pada pangkal jalan kami melangkah. Ya, terkadang saya memang sangat bawel.

“Hadeuh, nyari duit gak perlu segitunya. Gak perlu sezalim itu sama diri sendiri. Gak perlu sampai nabrak rambu-rambu agama, bla..bla..bla…”

Begitulah. Menyebalkan gak sih? Mungkin suami saya kadang dongkol juga saya baweli. Tapi gapapa, sebagai istri itu sudah kewajiban saya. Saya hanya membantu meringankan hisabnya di akhirat. Minimal kewajiban saya gugur dan kelak tidak saling menyalahkan di akhirat. Jangan salah, di akhirat itu kita tak lagi kenal saudara, jangankan dengan pasangan, dengan anak pun kita bisa cakar-cakaran saling menyalahkan, saling berebut amalan. Hanya mereka yang dalam kebaikan yang bisa saling menyelamatkan. Maka perbanyaklah teman yang baik, yang shaleh shalehah. Karena teman yang shaleh shalehah itulah kelak yang akan datang mencari kita dan memohonkan syafaat bagi kita di hadapan Allah.

Kebawelan saya dalam soal rezeki bukan karena mau sok ngatur. Toh rezeki yang didapat itu untuk membelanjai hidup saya dan anak-anak juga, wajar doang kalau saya selektif dan mengharapkan keberkahan? Justru kasihan para suami yang istrinya hanya sibuk menuntut ini itu, gak peduli dapatnya dari mana, dengan cara apa, “Yang penting lu pulang bawa duit!” Kasian, alangkah hebatnya nanti pertengkaran mereka di akhirat karena saling menyalahkan.

Percayalah, keberkahan hidup akan sulit didapat jika rezeki kita didapat dengan cara yang salah, dengan cara yang Allah gak ridhai. Bahkan sampai sekarang saya masih keukeuh gak mau beli rumah dengan sistem riba. Karena rumah adalah tempat kita bernaung setiap hari, segala aktifitas ibadah kita lakukan di situ. Prinsip saya, ngontrak rumah bukan dosa, bukan sesuatu yang hina, memang itulah baru batas kemampuan kita. Jika memang benar-benar ingin punya rumah sendiri, ya silakan naikkan target penghasilan, silakan upgrade keimanan dan keyakinan kepada Allah. Allah Maha Kaya kok. Minta saja sama Allah.

Sementara beli rumah dengan sistem riba jelas dosanya. Buat apa? Rumah dunia yang hanya kita tempati sekian tahun saja harus kita pikul dosanya hingga ke akhirat nanti. Betapa beratnya hisab kita soal harta doang, sementara hisab shalat yang sering dilalaikan, hisab puasa yang sering ditinggalkan, hisab tingkah laku yang sering menyakitkan, hisab ibadah yang banyak pamernya, dan hisab lainnya yang mungkin sudah tak tertanggungkan beratnya.

Oke, jadi seperti apa dong rezeki yang berkah itu? Kata almarhum guru saya, rezeki itu harus memenuhi lima syarat keberkahan. Jangan asal nyaplok pekerjaan apalagi jika bayarannya gak seberapa. Jangankan tujuh turunan, dua hari saja sudah habis saking recehnya. Sementara keberkahan akan abadi hingga ke akhirat. Makanya beliau berpesan, rezeki itu intinya bukan pada jumlah tapi pada keberkahannya.

Beuh! Dari tadi muter-muter terus. Jadiii… apa saja 5 syarat rezeki yang berkah itu, Kakak? (Haha, sengaja bikin kezel) Apakah cukup jika ia tidak mengandung riba? Apakah cukup jika ia didapat tidak dengan mencuri dan menipu? Ternyata belum cukup.

Perlu dicatat dulu, bahwa berkah itu beda dengan halal. Rezeki yang berkah insya Allah pasti halal namun rezeki yang halal belum tentu berkah. Ini kata guru saya lho ya. Yang kemaren kepo berat ayo merapat, tapi jaga-jaga jarak bagi yang non mahram ya. 😄

Pertama: Niat

Segala sesuatu tergantung pada niatnya. Maka dalam mencari rezeki niatnya harus diluruskan. Bukan untuk pamer ketika punya rezeki melimpah, “Ntar liat, kalo gue udah banyak duit, gue lempar tuh duit ke muka dia!” Eits, ini contohnya sangar banget ya. Tapi beneran lho ada yang begitu.  Ada orang yang dendam banget ketika miskin, suka sakit hati ngeliat orang lain punya ini itu, apalagi liat tetangga pamer TV, kulkas dan mobil. Nah pas sudah kaya kerjanya pamer melulu, balas dendam ceritanya. Itu hanya satu contoh aja sih, banyak contoh niat yang lain.

“Kalau niatnya nyari rezeki yang banyak biar bisa nikah lagi, boleh gak, Kakak?”

Ah, gak usah dibahas, takut ibu-ibu ngambek bacanya. 😄Pokoknya gitu deh, niatkan mencari rezeki itu untuk hal-hal yang Allah ridhai, itu ukurannya.

Kedua: Cara

Cara mendapatkan rezeki tersebut harus dengan cara yang dibenarkan Allah, gak nyopet, gak riba, gak menipu dan hal-hal buruk lainya. Dalam mencari rezeki tersebut kita juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dimurkai Allah. Misalnya harus membuka aurat saat bekerja, melalaikan atau meninggalkan shalat, bercampur baur secara bebas lelaki dan perempuan (ikhtilat) serta hal-hal lain yang sekiranya keluar dari jalur syariat.

Ketiga: Objek

Nah objek dari pekerjaan itu sendiri bukan hal yang dilarang agama. Misalnya menjual narkoba, minuman keras, memamerkan aurat, menyebarluaskan riba, memproduksi barang-barang yang tidak halal dan lain sebagainya. Ini disebut objek pekerjaan.

Keempat: Hasil

Rezeki yang didapat harus digunakan untuk hal-hal yang Allah ridhai. Bukan buat maksiat, mabuk-mabukan, foya-foya, traktir selingkuhan misalnya (weeiisss, contohnya parah) dan lain sebagainya.

Kelima: Zakat, Infaq, Sedekah

Nah ini kunci terakhir. Jangan lupa mengeluarkan hak orang miskin dari harta yang kita dapat. Ada zakat harta, ada infaq di jalan Allah serta sedekah sebagai bentuk kesyukuran pada Allah. Jadi bersyukur itu gak cukup dengan mengucap ‘Alhamdulillah’ saja, harus dibuktikan dengan perbuatan juga.

Setelah kelima unsur di atas terpenuhi, insya Allah rezeki kita akan penuh berkah. Seperti apa sih rezeki yang berkah itu? Kata guru saya, rezeki yang berkah akan memberi minimal lima efek pada pemiliknya. Lima efek tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memberikan ketenangan hati.

2. Membuat keluarga rukun dan bahagia.

3. Semakin taat dan mendekatkan kita kepada Allah.

4. Semakin senang berbagi pada sesama.

5. Tetap bersyukur berapapun rezeki yang diberikan Allah.

Nah tinggal kita cek satu persatu apakah semua syarat sudah terpenuhi dan apakah efek keberkahannya sudah terasa dalam hidup kita. Sebab tingkah laku kita biasanya sangat dipengaruhi oleh apa yang kita makan dan apa yang kita pakai.

Semoga bermanfaat!

 

Attention!

Mungkin kamu ingin tahu juga komunitas para Muslimah berniqab (bercadar) yang digagas oleh Mbak Indadari? Silakan dibaca di sini: Niqab Squad, Agar Muslimah Tak Merasa Sendiri.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


16 thoughts on “Inilah 5 Syarat Rezeki yang Berkah

  1. Rahayu

    Aku pernah ada di kriteria 3 mbak, yg cara itu… Menyebar luaskan riba. Jadi aku milih brenti, soale nggak tenang. Padahal kerjaannya enteng, tiap bulan 5 lembar dapat lah… Tapinya itu, was was yerus.di protes temen “kamu yakin nggak jerumusin orang?” Wkwkk. Akhire nyerah, aku lepasin dah.

    Tapi meski gitu, yo, diuji lho, mbak, nggak.terus langsung enak gitu.
    Btw, ini komen apa curhat sih… 😁

    Kan kuingat slalu, 5 tandanya mbak. Nuwun sdh berbagi

    Reply
  2. El-lisa

    Hehehe.. Saya kuga suka bawel kalau suami agak melenceng jualannya. Mungkin suami melihat temannya yang memdapatkan untung banyak dengan cara ‘aneh’. Di sini saya suka menjelma kadi istri nyebelin. Tapi itulah tugas kita ya uni. Terima kasih uni, diingatkan terus dalam kebaikan.

    Reply
  3. Elva Susanti

    Setuju banget mbak. Yang terpenting niat, yakin. Saya pun pernah alami dimana kondisi keuangan sangat minim, nmun yakin alhamdulillah ada aja rezki yg masuk dari sumber yg tak disangka2 yang penting halal

    Reply
  4. Leila

    Noted, Uni… Bacanya enak sekaligus makjleb sih, hehehe. Iya ya, mengingatkan suami itu juga perlu. Kadang rasa sungkan harus ditebas jika memang yang diperjuangkan itu baik.

    Reply
  5. Dwi Arum

    Whuaa bacaan yang sangat menarik soal rezeki ini. Setuju selama hayat masih di kandung badan artinya rezeki kita masih ada. Terima kasih uni sudah mengingatkan.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *