Interaksi dan Sensitivitas

Judul ini saya pilih karena seringnya saya mengamati sekeliling. Antara Interaksi dan  Sensitivitas ada hubungan yang unik. Saya pun sebagai manusia biasa, mengalami dan merasakan hal ini. Nah seperti apa sih hubungan antara interaksi dan sensitivitas?

Seringnya Interaksi dengan Maksiat

Ketika kita terbiasa berinterkasi dengan sesuatu maka sensitivitas kita terhadap hal itu akan berkurang bahkan hilang. Ini khusus untuk aktivitas yang mengandung unsur dosa. Misalnya ketika kita terbiasa meninggalkan shalat maka lama-lama kita gak akan merasa berdosa lagi meninggalkan shalat. Ketika kita biasa bergaul akrab dengan lawan jenis maka kita tidak lagi merasa kalau itu ikhtilat yang dilarang oleh agama. Ketika kita terbiasa melontarkan kata-kata kotor maka kita tak akan malu lagi mengucapkannya di depan umum. Ketika kita biasa menikmati pornografi maka kita tak lagi merasa berdosa melihat konten-konten porno.

Sudah biasa, enggak jadi beban lagi. Bahkan enggak lagi merasa kalau itu adalah dosa. Intinya, apapun perbuatan dosa yang jika dilakukan terus menerus maka akan menggerus sensitivitas kita, mengikis rasa berdosa kita dan pada akhirnya membuat kita menganggap itu biasa.

Contoh yang sangat umum saja. Musik misalnya. Musik yang mengandung syahwat, yang isinya tentang hubungan  cinta lelaki dan perempuan yang belum sah (pacaran), yang mengundang hayalan dan menghanyutkan perasaan pada lawan jenis, oleh mayoritas ulama dianggap haram. Namun karena musik sudah menjadi sesuatu yang biasa di zaman sekarang maka tak ada lagi perasaan bahwa itu haram didengarkan, sebagaimana haramnya hubungan antara lelaki dan perempuan yang belum sah (pacaran). Justru terdengar aneh jika dikatakan musik seperti itu haram. Secara, yang namanya musik sudah sangat biasa di mana-mana. Betul, kan? Silakan cek kitab fiqih.

Begitulah dosa. Jika kita biasa melihat dan melakukannya maka sensitivitas kita pun akan hilang. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa, saya pun merasakan hal itu. Ketika saya mulai biasa dengan suatu kondisi yang melalaikan maka sensitivitas saya berkurang. Awalnya mungkin masih merasa berdosa, lama-lama jadi biasa. Ini sangat terasa dalam hal pergaulan dengan lawan jenis. Apalagi di zaman medsos ini, bercanda gurau dengan lawan jenis sudah biasa. Tak ada perasaan berdosa. Akhirnya terbawa ke dunia nyata. Sensitivitas terhadap dosa hilang.

Mengundur-undur waktu shalat pun begitu juga. Ketika kita terbiasa menunda-nundanya maka kita tidak lagi akan merasa berdosa melakukannya padahal kebiasaan mengundur-undur waktu shalat disebut dalam Al Quran sebagai shalat orang yang lalai. Cek Al Quran surat Al Ma’un. Ini semua hanya contoh kebiasaan yang secara syariat masuk kategori maksiat namun sudah kita anggap biasa di zaman sekarang. Dan hadits Rasulullah sudah menggambarkan ini jauh-jauh hari, bahwa kelak di akhir zaman, orang tidak lagi menganggap dosa sebuah perbuatan maksiat padahal di zaman Rasulullah itu dianggap dosa besar. Semua sudah nyata saat ini. Semoga Allah ampuni kita dan Allah bimbing langkah kita ke depannya.

Contoh Kasus

Jujur saja, media sosial membuat saya merasa jadi manusia yang berbeda. Makanya sekarang saya mengurangi banget aktivitas di media sosial. Mungkin bukan salah media sosialnya tapi salah saya yang tak mampu membentengi diri. Dulu, saya malu jika foto saya dilihat oleh lawan jenis. Album foto di rumah tak pernah boleh dilihat oleh teman-teman kakak lelaki saya atau oleh tamu lelaki lainnya. Sekarang? Saya dengan santai dan bangga memajang foto saya di media sosial, foto paling cantik yang saya punya. Itulah awal saya mulai terbiasa dengan sesuatu yang sejatinya bertentangan dengan hati nurani saya. Saya jadi senang ketika banyak yang memuji foto itu, makin biasa berbalas komentar dengan lawan jenis dan bercanda dengan mereka.

Pernah suatu ketika, seorang teman lelaki mengirim balik sebuah foto saya, foto yang sudah saya posting beberapa tahun silam. Katanya dia masih menyimpannya karena foto itu paling dia sukai dari saya. Saat itu saya seperti terhenyak. Mungkin jika tak ada ilmunya, saya akan bangga punya pengagum rahasia. Tapi tidak, saya tahu tak semestinya seorang lelaki menyimpan foto perempuan yang bukan mahramnya. Apalagi saya tahu dia sudah beristri. Perasaan dosa mendera saya. Saya adalah orang pertama yang punya andil dalam alur dosa ini. Makanya sejak setahun yang lalu saya menghapus semua foto-foto saya di media sosial. Saya takut setiap lelaki memandangnya, satu dosa dilemparkan ke muka saya. Sebab seharusnya para lelaki tak menikmati kecantikan perempuan yang tak halal baginya meskipun dilabeli sebagai ‘teman’. Ini bukan ekstrim tapi ini syariat.

Ya, mungkin bagi sebagian orang itu tak berlebihan tapi dalam syariat Islam itu seharusnya dihindari. Sebab dari sini pula saya mulai mengenal pacaran padahal saya tahu itu tak dibenarkan dalam Islam. Dulu saya heran melihat orang berjilbab pacaran, tapi sekarang sudah biasa banget, bahkan saya pun mengalaminya. Ini sungguh menggelisahkan saya, merasa diri saya munafik terhadap Islam. Saya merasa menjadi orang yang punya andil dalam mencoreng nama baik Islam.”

Terus-terang, curhatan teman ini terasa menampar juga bagi saya. Ada hikmah dan pelajaran yang saya ambil dari kisah ini. Dan mungkin banyak kisah lain yang lebih parah namun sudah dianggap biasa saja. Beruntung mereka yang kemudian sadar dan berusaha memperbaiki kesalahan. Kadang tak bisa dipungkiri, kelemahan hati membuat kita menyerah. Kekurangan ilmu membuat kita pongah. Hal yang sudah biasa terjadi di sekitar kita pada akhirnya kita anggap lumrah, bukan dosa lagi. Dan kita malas untuk belajar ilmu agama karena belajar agama sudah dianggap tidak lazim lagi terlebih setelah kita menikah dan sibuk mengurus anak-anak. Kita hanya sibuk memburu ilmu-imu dunia dengan satu dalil: Ilmu apapun akan bermanfaat di akhirat jika kita niatkan untuk kebaikan.

Dalil itu tidak salah, asalkan kita sudah khatam ilmu tahsin (bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar), sudah khatam ilmu Al Quran dan ilmu hadits, sudah khatam ilmu fiqih, ilmu tauhid dan akhlaq. Namun jika belum, maka mempelajari ilmu-ilmu tersebut adalah wajib hukumnya. Berat? Tidak mengapa, pelan-pelan saja, yang penting diniatkan dan dimulai dari skearang. Jangan salah, mempelajari ilmu agama itu adalah salah satu jihad ummat Islam. Makanya menuntut ilmu tak ada batasnya bagi setiap Muslim, sampai kelak kita masuk ke liang lahat. Ilmu-ilmu duniawi tak kan bisa menggantikan kewajiban mempelajari ilmu agama.

Hubungannya apa dengan interaksi di atas? Nah, dengan mempelajari ilmu agama maka kita akan tahu interaksi mana yang masuk kategori maksiat. Jika kita tak tahu ilmunya maka selamanya kita tak akan paham bahwa apa yang kita anggap biasa itu ternyata maksiat di mata Allah. Makanya dalam dalil yang mengatakan, bahwa di akhirat kelak banyak orang yang tercengang melihat catatan amalnya, sebab ia tak menyangka ternyata perbuatannya itu dicatat sebagai sebuah dosa padahal dia pikir itu biasa saja, bahkan dia pikir itu adalah perbuatan baik. Begitulah gambaran kita kelak.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Al Kahfi 103-105)

Seringnya Interaksi dengan Amal Shaleh

Menariknya, ini berlawanan dengan interaksi kita terhadap perbuatan baik atau amal shaleh. Semakin sering kita berinteraksi dengan kebaikan maka sensitivitas kita justru kian terasah. Orang yang terbiasa shalat malam akan merasa berdosa ketika meninggalkannya. Orang yang biasa membaca Al Quran akan merasa ada yang hilang saat sekali saja tak membacanya. Begitupun orang yang biasa menjaga pergaulannya akan merasa tidak nyaman saat bercampur baur dengan lawan jenisnya. Begitupun amalan yang lain.

Begitu ajaib Allah menciptakan segumpal hati dalam diri manusia. Meski Allah Maha Membolakbalikkan hati, namun manusia bisa mengawal dan mengarahkannya apakah akan cenderung pada kebaikan atau cenderung pada kemaksiatan. Dan di dalam hati manusia itu tak bisa berkumpul antara kebaikan dan kebatilan, salah satunya pasti akan kalah. Maka pada diri orang tersebut akan terlihat kecenderungannya, apakah cenderung pada kebaikan atau cenderung pada kemaksiatan. Mungkin saja orang yang suka melakukan dosa masih shalat tapi shalatnya lalai, diundur-undur, tidak memenuhi rukunnya dan sebagainya. Sebab di hatinya itulah yang lebih dominan. Maka paksalah diri kita untuk melakukan amal kebaikan jika rasa malas masih menggoda.

Hal yang patut kita takutkan adalah ketika hati kita sudah terlanjur cenderung pada kemaksiatan, lalu Allah biarkan kita di dalamnya tanpa rasa berdosa sama sekali. Itulah bentuk kemurkaan Allah yang paling kita takuti seharusnya. Jika Allah masih sentil kita dengan sakit, dengan bangkrut, dan dengan musibah lainnya, itu artinya Allah masih sayang sama kita. Allah masih pengen kita sadar, maka pandai-pandailah membaca isyarat dari Allah. Buru-buru perbaiki diri kita sebelum Allah biarkan kita dalam dosa berkepanjangan. (NSR)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


3 thoughts on “Interaksi dan Sensitivitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *