Karena Ibu Adalah Semangat Yang Tak Pernah Menua

“Saya di sini saja, nggak usah ikut foto-foto segala.”

“Saya di rumah aja, nggak usah ikut jalan-jalan.”

Kalimat ibu saya yang seperti ini sering saya dengar. Beliau seringkali menolak jika diajak jalan-jalan atau diajak tampil entah untuk berfoto, berkumpul dengan banyak orang dan sebagainya. Bukan, ibu saya bukan tak mau bergaul, bukan tak ingin jalan-jalan. Beliau sangat senang ketika kaum kerabat datang berkumpul. Beliau begitu gembira ketika anak cucu menjenguk di kediamannya. Beliau hanya tak ingin merepotkan. Beliau hanya tak ingin jadi tontonan.

Ya, ibu saya tak lagi bisa berjalan. Untuk melakukan sesuatu beliau terpaksa harus merangkak atau naik kursi roda. Tentu bisa dibayangkan betapa repotnya beliau jika bepergian. Mau ke toilet harus diantar, digendong dan dipapah. Untuk mandi dan berwudhu, harus merangkak ke kamar mandi. Bayangkan jika itu terjadi di tempat umum, beliau akan merasa segan harus jadi tontonan orang lain yang mungkin tak sekadar memandang dengan kasihan tapi juga kadang mentertawakan. Padahal entah di mana lucunya.

Ibu saya sudah bertahun-tahun mengidap osteoporosis yang menyebabkan kedua kakinya tak lagi berfungsi sebagai mana mestinya. Telah berkali-kali dirawat di Rumah Sakit karena kondisi jantungnya yang ikut bermasalah sejak tak mampu berjalan. Tahun ini, usia ibu saya menginjak 72 tahun. Sudah cukup sepuh memang. Namun saya tahu, semangat ibu saya tak pernah menua. Jika sebagian orang akan berkata “Lebih baik saya mati saja” saat tak kuat menahan sakitnya, ibu saya justru sebaliknya. Beliau akan berkata, “Saya belum mau mati, saya masih ingin melihat anak dan cucu saya tumbuh berkembang,”

Ya ibu saya tak pernah menyerah pada penyakitnya meskipun penyakit itu melumpuhkan fisiknya, meneror organ lainnya dan tak jarang mengecilkan perasaannya. Ibu saya tak suka membebani, tak suka merepotkan siapapun. Beliau akan mengurus dirinya sendiri, semampunya. Ia benci dikasihani.

Ibu saya bukan sosok super, bukan sosok yang jadi panutan orang banyak, dan bukan pula sosok terkenal yang dikagumi masyarakat. Beliau adalah sosok sederhana, yang di tengah sakitnya masih bersabar merawat almarhum bapak saya, yang di tengah keterbatasannya masih saja memikirkan nasib anak-anaknya. Sosok yang masih rajin turun memasak, rajin menyulam hiasan dinding untuk mengisi waktu senggangnya. Ibu saya tidak sudi jadi manusia pikun meskipun usianya sudah menapak senja dan panca indranya semakin menua.

Ibu saya, meski hatinya marah, namun saya tak pernah bisa mengingat kapan beliau terakhir memarahi saya. Entahlah, beliau tetap terlihat seperti orang paling sabar sedunia di mata saya. Yang terbayang tetaplah kehangatan pelukannya saat membujuk saya di kala kecil dulu, saat menghibur saya yang kesal diolok-olok oleh kakak-kakak saya.

Saat ini, yang sering terpikir oleh saya hanyalah perasaan bersalah karena jarang menengok beliau dengan alasan kesibukan mengurus pekerjaan, anak-anak dan suami. Alasan yang saya sendiri membencinya. Karena saya juga tahu, kelak ketika beliau tak ada lagi, saya pun pasti akan menyesali kenapa jarang menengok beliau di saat masih hidup. Kenapa jarang memberikan perhatian meskipun sekadar menelepon dan menanyakan kabar. Sementara saya bisa dengan begitu mudah menelepon, menyapa dan mengobrol dengan teman-teman saya. Padahal karena beliau lah saya ada.

Sepertinya ada yang salah di sini. Ada yang salah dengan sikap saya!

Di Hari Ibu, meskipun ingatan saya melayang pada sosok bersahaja itu, namun saya tak pernah punya kalimat-kalimat manis untuk diucapkan. Saya anak yang tak biasa berkata manis penuh bunga pada ibu saya. Saya hanyalah seorang anak yang mengungkapkan rasa sayang lewat doa di sepanjang waktu. Saya hanyalah seorang anak yang jika rindu menghentak di palung jiwa paling dasar, baru bergerak mengangkat ponsel dan…

“Assalaamualaikum. Bu, Ibu sehat?”

Dan segala rasa yang mendalam pun terwakili lewat lagu yang sering saya dengar sejak kecil ini….

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


34 thoughts on “Karena Ibu Adalah Semangat Yang Tak Pernah Menua

  1. Denik

    Hiks…hiks…jadi teringat dengan ibu saya. Beliau enggak pernah marah, apalagi setelah kita dewasa. Sabarnya luar biasan

    Reply
  2. Dian Restu Agustina

    Masya Allah ..salam hormat untuk Ibu ya, Mbak..

    Ibu yang selalu dirindu…Ibu yang semangatnya tak pernah menua.. Semoga kita bisa menjadi sosok Ibu seperti itu, bagi anak-anak kita nanti.. Aamiin

    Reply
  3. Mutia Faridah

    Kalau ngomongin sosok Ibu, baik itu yang masih hidup maupun seperti ibu saya yang sudah almarhum pasti membuat kita sedih.

    Seorang Ibu, bagaimanapun juga adalah sosok yang luar biasa bagi anak-anaknya. Semoga Ibunya sehat terus dan panjang umur ya mba ???

    Reply
  4. Helenamantra

    Ya Allah, perkataan ibu Uni persis seperti ibuku. Padahal ibuku suka jalan-jalan tapi biasanya memilih di rumah aja, mungkin karena lelah atau ga mau merepotkan anaknya.

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Iya ya, antara haru dan bahagia kalo begitu ya Mbak Angga. Bahagia karen sdh melihat kita nikah. Sedih karena malah kayak nunggu moment kepergiannya sendiri.

      Reply
  5. Nabila

    Uni.. saya jadi pengen nangis. MasyaAllah.. kasihan Ibu.. tapi semangat beliau itu yang bikin melting.. Semoga Allah menyayangi Ibu dan mengampuni dosa Beliau. Amiin.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *