Kemeriahan Festival Siti Nurbaya 2016

fsnSejak 2011, pemerintah Kota Padang melakukan sebuah terobosan baru dalam rangka menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Minangkabau. Terobosan ini bisa dibilang sangat fenomenal karena melibatkan segala unsur masyarakat dan disambut meriah oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Padang khususnya dan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya. Sebuah kebanggaan tentunya bisa menggelar perhelatan segempita ini. Perhelatan yang dimaksud adalah Festival Siti Nurbaya 2016 yang baru saja berlangsung.

Saya sebagai perantau yang tinggal jauh dari Kota Padang merasakan manfaat tersendiri dari diselenggarakannya festival ini. Gegap-gempitanya memunculkan semacam euforia yang mampu meluluhkan rasa rindu pada kampung halaman. Di tahun 2016 ini berarti sudah kali ke-6 Festival Siti Nurbaya diselenggarakan. Berbagai kegiatan positif diadakan demi memeriahkan festival ini. Taman Muaro Lasak kali ini dipilih sebagai tempat dibukanya event penting Kota Padang tersebut pada tanggal 7 September 2016 kemaren. Festival ini berlangsung 3 hari yaitu sampai tanggal 10 September 2016.

tujuan-fsn

Apa saja kegiatan dalam Festival Siti Nurbaya kali ini?

Sangat banyak kegiatan seru yang diadakan dalam festival ini, mulai dari berbagai lomba, berbagai kegiatan seni dan budaya. Di Festival Siti Nurbaya 2106 ini pemerintah lebih menekankan ikut berpartisipasinya anak-anak muda sebagai generasi penerus. Agar generasi muda kembali mengetahui apa saja budaya yang berkembang di Ranah Minang sejak dulu. Diharapkan kelak mereka juga bisa menarik para wisatawan untuk lebih mengenal adat dan budaya Minang secara dekat.

Sumber: Youtube

Gathering Komunitas Kota Padang

Ada sejumlah 24 komunitas ikut meramaikan Festival Siti Nurbaya 2016 ini dengan tema The Harmony Collaboration. Komunitas ini rata-rata berisi kaum muda yang memang menjadi titik sasaran festival tahun ini. Mulai dari komunitas pecinta motor gede sampai komunitas pecinta reptil berkumpul di sini. Berbagai kreatifitas yang melibatkan kaum muda Minang juga dipertunjukkan.

Lomba Selaju Sampan

Kegiatan yang mengangkat filosofi “Badunsanak” yang bermakna Bersaudara ini diadakan di Banjir Kanal GOR KH. Agus Salim Kota Padang, diikuti oleh 32 tim Selaju Sampan. Ini adalah salah satu kegiatan unggulan di Festival Siti Nurbaya 2016 karena merupakan tradisi yang sudah ada sejak tahun 1960 dan bertujuan mempererat rasa persaudaraan antar masyarakat suku Minang.

Pawai Bendi

Bendi adalah kendaraan tradisional Minangkabau yang umumnya disebut dengan delman. Kendaraan yang dihela seekor kuda ini sangat umum dikenal oleh masyarakat Minangkabau dan masih digunakan hingga saat ini. Bendi menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan. Arak-arakan menggunakan bendi ini akan menjadi salah satu pemandangan menarik di Festival Siti Nurbaya kali ini.

Maarak Jamba

Jamba adalah sejenis tempat makanan berbentuk nampan besar. Tradisi orang Minang yang disebut dengan “Makan Bajamba” merupakan tradisi yang mengusung rasa kebersamaan karena satu jamba itu bisa digunakan oleh 4 atau 5 orang untuk makan bersama. Kebiasaan ini juga diyakini akan mendatangkan lebih banyak keberkahan dari apa yang kita makan. Nah, Maarak Jamba ini maksudnya mengarak jamba bersama-sama dan menjadi salah satu kegiatan seru di Festival Siti Nurbaya 2016.

Festival Randai

Randai merupakan salah satu seni tradisional Minang yang menggabungkan antara seni tari, seni suara, seni musik, drama dan silat. Inti dari pertunjukan ini adalah menyampaikan cerita rakyat yang sudah hidup di tengah masyarakat sejak zaman dahulu, mislanya Kaba Cindua Mato yang cukup sering dibawakan dalam randai. Maka kegiatan lain seperti musik, lagu, tari dan silat akan mengikuti alur cerita tersebut.

Lomba Baju Kuruang Basiba

Baju Kuruang Basiba ini adalah baju perempuan tradisional Minang yang berbentuk longgar, panjang sampai menutupi lutut dan dipadankan dengan kain sarung yang menutupi mata kaki. Bentuk jahitannya khas dengan adanya kikiek (tiga tanda jahitan yang berawal dari ujung ketiak) dan bentuk lengan yang longgar dan panjang hingga ke pergelangan tangan. Baju Kuruang Basiba ini tidak menggunakan kopnat yang membentuk tubuh, tapi berpola lurus ke bawah sehingga benar-benar longgar.

Lomba Manggiliang Lado

Manggiliang Lado artinya Menggiling Cabe. Masyarakat Minang memiliki bentuk penggilingan cabe sendiri yang agak berbeda dengan daerah lain. Batu gilingannya berbentuk bulat sebesar kepalan tangan atau lebih, dengan landasan batu berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran 50 cm atau lebih. Lomba Manggiliang Lado ini diikuti dengan bersemangat oleh kaum perempuan karena teknik menggiling cabe ini juga butuh keahlian khusus agar cabe cepat halus dan tidak bertebaran kemana-mana.

Lomba Kuliner

Lomba bertema kuliner yang digelar diantaranya Lomba Jus Pinang. Kenapa jus pinang? Karena masyarakat Minang sejak dulu sudah tahu khasiat dari buah pinang yang biasa digunakan saat menyirih dan memasak. Jus pinang ini menggunakan bahan dasar pinang muda yang ditambah dengan bermacam resep lain hingga lebih nikmat.

Lomba bertema kuliner lainnya adalah Lomba Mangukua Karambia (Memarut Kelapa) yang menggunakan alat parut kelapa khas Minang yang penggunaannya dengan cara diduduki dan parutannya ada di bagian depan.

Kemudian ada lagi Lomba Malamang (Membuat Lemang) yang tak kalah serunya. Lamang adalah makanan khas Minang yang terbuat dari beras pulut dicampur santan yang memasaknya dengan cara dibakar dalam tabung buluh atau bambu. Makanan ini terkenal sangat gurih dan digemari oleh masyarakat luar Minang juga.

Ada lagi Lomba Teh Talua, dimana teh talua ini merupakan salah satu minuman khas Minang yang mencampurkan teh dan telor yang dikocok dalam gelas dan diberi air panas.

Lomba Maelo Pukek

Maelo Pukek ini adalah istilah yang digunakan saat menangkap ikan secara tradisional yang berarti Menarik Jala. Jala berukuran besar ini biasanya ditarik oleh beberapa orang setelah dilempar ke kolam, sungai atau danau. Cara melempar jala ini mempunyai teknik sendiri agar mengembang dengan sempurna. Begitupun saat menariknya, agar ikan yang sudah terperangkap dalam jala tidak lepas kembali. Ini mengandung unsur strategi dan kerjasama yang baik dalam kelompok.

Lomba Panjat Pinang

Ada 10 pohon pinang yang sudah diolesi oli dan siap jadi ajang lomba para pemanjat pinang di Festival Siti Nurbaya 2016 ini. Berbagai hadiah menarik pun sudah menanti. Kegiatan panjat pinang ini juga sudah menjadi kegiatan masyarakat Minang sejak zaman dahulu dan sangat menekankan unsur kerjasama dan strategi yang baik dalam kelompok.

Lomba di Media Sosial

Selain berbagai lomba tradisional di atas, Festival Siti Nurbaya 2016 juga menggelar lomba yang berhubungan dengan media sosial yang tentunya tak kalah penting perannya dalam menyosialisasikan Festival Siti Nurbaya kepada masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Lomba-lomba tersebut adalah Lomba Instagram, Lomba Twitter, Lomba Facebook dan Lomba Blog. Ada juga Lomba Fotografi dari kegiatan Festival Siti Nurbaya ini.

Lomba Permainan Anak Nagari

Dalam perhelatan ini anak-anak juga mendapat tempat tersendiri. Mereka sebagai generasi penerus budaya daerah bisa ikut andil dalam Lomba Enggrang, Lomba Sipak Rago (Sepak Takraw) dan Lomba Tampuruang yaitu berjalan dengan menggunakan tempurung kelapa yang diberi tali sebagai alas pijakan.

Nah, dari semua rangkaian kegiatan Festival Siti Nurbaya ini, ada satu yang tak kalah menarik yaitu Karnaval Siti Nurbaya dan Perahu Hias. Dipastikan ini akan menjadi pertunjukan yang sangat dinantikan oleh seluruh masyarakat Kota Padang. Hal lain yang juga tak kalah menarik adalah Nonton Bareng Film Anak Nagari. Film yang diputar adalah film-film yang dibuat oleh putra-putri Minangkabau sendiri.

Yang tak kalah seru, salah satu kecamatan yang ikut dalam festival ini mencoba menghadirkan pasangan Siti Nurbaya dan Datuak Maringgih. Nah, asyik kan perhelatan akbar tahuan Kota Padang? Jika kamu penasaran maka jangan lewatkan untuk hadir di festival-festival berikutnya yang tentu semakin meriah dan penuh kesan.

Go Minangkabau! Bravo Sumatera Barat!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *