Kepo!

“Ya wajarlah kalo sesekali saya mosting apa yang kamu gak suka. Emangnya saya kudu mosting semua yang kamu suka? Itu namanya memaksakan leburnya perbedaan. Impossible!”

Kalimat di atas sudah biasa kita baca. Kontroversi selalu terjadi di semua belahan dunia, termasuk media sosial yang penuh hiruk pikuk. Ini selalu saya dapati di timeline Facebook yang memang paling sering digunakan untuk berdialog, berdebat, saling hujat dan sebagainya. Sangat sulit meniadakan kondisi yang sudah terlanjut terbentuk tersebut. Banyak akun abal-abal dibuat hanya untuk melakukan hal-hal negatif di media sosial. Tak sedikit grup-grup yang isinya para pembenci, pembully dan pelaku fitnah, baik terhadap personal maupun kelompok dan agama tertentu.

Saya sampai geleng-geleng kepala membaca beberapa postingan di grup berlabel agama yang justru isinya menjelek-jelekkan agama itu sendiri. Sungguh memprihatinkan. Belum lagi yang terkait politik, kian menambah panas kepala membacanya. Lalu apa efek semua itu pada saya? Pada kamu? Dan pada netizen di jagad maya ini?

Pertama adalah PERPECAHAN dalam berbangsa dan bernegara.

Caci maki adalah hal biasa. Teman saling serang, sesama alumni saling hujat, antar kelompok saling menjatuhkan. Sampai yang paling anyar ketika seorang artis cantik melontarkan jargonnya yang viral, “Pergi sana, ke Arab!”
Kalimat yang menuai bully-an, serangan balik yang tak terbendung. Ada juga serangan balik yang cantik ala Ippo Santoso yang saya posting ulang di status Facebook saya.

Kedua adalah KESADARAN dalam bersosial media.

Banyak juga teman-teman di Facebook yang mulai menyadari efek buruk dari media sosial hingga pelan-pelan mengubah mindset mereka tentang sebuah postingan. Mereka tak lagi sembarangan memosting sesuatu, tak lagi sembarangan mengomentari. Mulai menjauhi postingan-postingan yang hanya memancing emosi dan perdebatan.

Saya pribadi juga begitu. Saya memilih lebih selektif dalam memosting sesuatu dan juga yang tak kalah penting adalah menjauhi postingan orang yang berisi caci maki atau olok-olok terhadap agama. Jangankan agama saya, agama lainpun saya gak suka mengolok-oloknya atau membaca postingan orang lain yang mengoloknya. Menjauh di sini bukan berarti saya memblokir atau unfriend ya, saya hanya mengurangi aktifitas membaca timeline dan tidak begitu menaruh perhatian pada postingan orang-orang tertentu. Untuk mereka yang memang sudah saya kenal suka memosting hal-hal buruk yang memancing emosi, biasanya hanya saya unfollow.

Bayangkan, ada jutaan kepala lho di media sosial itu. Masa iya semua mau kita baca, kita ambil hati dan kita seriusi membacanya? Cukuplah kita mengambil informasi positif (edukasi) dari media sosial, sementara yang sifatnya pendapat pribadi apalagi curhat mungkin kita baca sekadarnya saja. Kalau semua kita seriusi, orang curhat kita yang baper, orang pamer kita yang sirik, orang narsis kita yang sakit hati. Capek kan kalau hidup bermedia sosial kita seperti itu? Sementara membuat mereka menjadi seperti yang kita inginkan jelas mustahil. Ehm, kok kayak lagu Chrisye ya 😀

Unfollow bagi saya sudah cukup aman. Saya sangat jarang memblokir atau melakukan unfriend pada seseorang, kecuali kalau dia membuat rusuh di wall saya hehe… Percayalah, saya pun sangat sering menahan diri untuk tidak mengomentari postingan orang yang sebenernya bikin saya gregetan pengen komen, itu karena menghargai dia sebagai teman yang kebetulan sedang berbeda pandangan dengan saya.

Hindari Debat!

Perlu dicatat, berdebat panjang lebar dengan orang yang jelas-jelas berbeda sudut pandang dengan kita itu gak bakal ada hasilnya. Hanya bikin urat leher kita sakit. Berbeda bukan berarti kita harus berdebat panjang lebar. Ada satu contoh menarik dari kisah Asy Syahid Hasan Al Banna yang sangat menarik dan menyentuh hati, bagaimana jauhnya pandangan beliau ke depan sehingga menghindari berdebat dengan orang yang jelas-jelas pola pikirnya berseberangan dengan kita. Dan alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Silakan baca di sini: Bu’dunnazar Seorang Syahid.

Jika kamu tipe orang yang kepo maka sebaiknya kurangi kepomu mulai sekarang. Biasanya berbanding lurus, orang yang keponya tingkat tinggi itu juga cenderung susah menahan diri untuk tidak berkomentar, untuk tidak bereaksi. Biasanya orang-orang tipe ini ekspresif sekali. Ada sesuatu yang mengganjal langsung ditumpahkan di media sosial, tanpa mengemasnya terlebih dahulu dengan bahasa yang lebih baik untuk dibaca oleh umum. Begitupun ketika berkomentar, sulit menahan diri untuk tidak mendebat atau menyerang balik. Maka terjadilah sindir-sindiran di status yang membuat hubungan kian runyam.

Saya termasuk yang belajar banyak dari pengalaman bermedia sosial sejak aktif di Facebook tahun 2008. Sebelumnya saya hanya terhubung dengan email, multiply, YM dan millis-millis kepenulisan. Jadi gak heboh seperti sekarang. Nah, dari pengalaman itu pelan-pelan saya belajar, mengubah pola pikir dan cara saya berinteraksi dengan orang-orang di dunia maya. Ya, tentu belum sepenuhnya sesuai harapan karena saya manusia yang terkadang juga ingin mengungkapkan sesuatu yang bisa jadi masih ada saja orang lain yang tidak suka. Ini bisa dimaklumi, karena ada jutaan kepala, mustahil bisa seragam semua.

Tips Sederhana

Nah mungkin salah satu cara yang bisa kamu coba adalah membiasakan diri seperti saya. Yaitu menghindari membaca timeline berlama-lama. Wah, bisa kudet dong? Gak juga tuh. Sekudet apa sih kita jika tiap hari masih tetap bisa membuka media sosial? Apapun pasti heboh dibicarakan di media sosial, satu dua info pasti akan terbaca juga oleh kita. Saya tiap hari hanya membaca paling banyak 20 postingan status di Facebook, kadang cuma sekitar 10 postingan. Toh gak kudet-kudet amat. Intinya sih saya memang malas membaca banyak status yang ditulis di timeline, karena saya lebih suka menulis status hehehe…

Cara kedua, ketika ada sebuah kasus atau peristiwa kontroversial, jangan buru-buru menulisnya di status dan membuat opini sendiri. Itu bukan kekinian tapi terburu-buru. Cari tahu dulu dari berbagai sumber terpercaya, second opinion, third opinion, the fourth opinion dan seterusnya hehe… Nah, sesudah itu silakan ditulis, dengan bahasa yang baik, menarik dan siap untuk dikritik. Jadi di sini kita bukannya tidak boleh berbeda pendapat. Hanya soal cara dan kemahiran mengendalikan diri.

Ingat, sebagian besar masalah itu bermula dari kepo! Jadi kalau mau kepo maka kepolah pada tempatnya. Kepo pada hal-hal positif, kepo pada ilmu yang bertaburan di jagad maya ini mulai dari ilmu agama sampai ilmu antariksa ada semua, kepolah pada berita-berita dan issu yang bisa mengancam keselamatkan bangsa (aih, politik banget!), kepo pada lomba-lomba blog, lomba menulis biar kamu terpacu untuk menulis yang baik dan benar.

Jangan melulu yang dikepoin status teman, gosip artis dan seleb blog, postingan para haters, apalagi kepo sama akun medsos mantan, wah itu cari penyakit namanya hehe…

Salam hangat!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


4 thoughts on “Kepo!

  1. Chahakim

    Aku pernah dikepoin cebong un. Tau2 dia muncul d banyak stat n komen2 yg gak substansial. Un pasti tau karakter komen cebong magang kya apa. Aku gak suka kepoin orang n komen ngajak berantem. Tp kalo diserang y ngelawan. Lama2 mikir, y mending unfriend aj dah. Tadinya aku berteman, tapi krn stat2nya “nyebong” banget, aku unfol. Masalahnya, dia masi bisa liat stat2 aku, krn aku doang yg unfol dia. Mending aku unfriend aj

    Reply
  2. Ade Delina Putri

    Kadang aku masih kepo sama berita terkini hehe. Tapi ya nyaringlah yang mana yang layak dibikin status, yang mana yang layak dikomentari. Yang ada malah jarang tuh berkomentar soal berita-berita itu haha. Kalopun ditulis, sebisa mungkin dg bahasa yg halus dan positif-positif aja 🙂

    Reply
  3. Munasyaroh

    Sejak gabung dengan beberapa grup wa, saya sudah jarang banget baca status awal fb. Yang dibaca itu potongan grup ama pemberitahuan saja. Sudah gak sempat baca yang aneh2

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *