Ketika Damai Tercabik

girl-67694_640Aku memperhatikan ayah membongkar aqals yang kami tempati selama seminggu ini. Sementara ibu nampak sibuk membenahi peralatan dapur yang bertebaran di dekat aqals.

“Cepat sedikit, Omar! Matahari sudah tinggi!” seru ayah sambil mengikat kayu-kayu penyangga aqals yang telah selesai dibongkarnya.

Aku menepuk-nepuk kepala unta di hadapanku agar cepat menghabiskan minumnya. Setelah binatang tersebut mengangkat kepalanya, cepat-cepat kuambil ember tempat minumnya dan menyerahkannya pada ibu.

“Ayah, sekarang kita akan kemana? Kita kan baru seminggu di sini,” kataku bingung. Aku memang tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayah mengajak kami pindah padahal rumput di sekitar tempat ini masih cukup subur dan banyak untuk makanan domba-domba kami.

“Sekarang keadaan sudah tidak aman, Nak. Kita tidak bisa lagi bepergian atau menetap lama seperti dulu,” jawab ayah yang tengah mengikatkan kayu-kayu penyangga itu di punggung unta paling besar. Unta jantan bertubuh tinggi itu memang bertugas mengangkut barang-barang kami. Sementara unta yang dua lagi, kami jadikan kendaraan di perjalanan, sekaligus penghalau domba-domba milik kami.

“Tidak aman kenapa?” tanyaku makin tak mengerti.

“Omar, jangan bertanya terus. Nanti kita ditinggal oleh yang lain,” sela ibu dengan suaranya yang lembut. Aku jadi diam, menelan kembali segala rasa heran yang mengusik hatiku.

Akhirnya siang itu, saat matahari membakar bumi dengan sinarnya yang terik, kami kembali melakukan perjalanan panjang, beriringan di belakang keluarga-keluarga lain. Perjalanan panjang yang sudah biasa kami lakukan karena memang beginilah cara hidup kami, orang-orang Somalia dari klan Samaale. Mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

Kutatap pohon-pohon Akasia yang meliuk-liuk ditiup angin padang rumput. Sesekali debu nampak beterbangan ketika angin nakal itu menghembus dataran kering berdebu yang membentang di sebagian besar negeri Somalia ini. Suhu yang panas akibat kemarau panjang telah membuat kulitku terasa terpanggang dan mengkilap. Mataku menyipit menahan panas yang luar biasa.

Ibu yang duduk berhadap-hadapan denganku menatap iba. “Sabar ya, Nak. Panas ini belum seberapa jika dibandingkan dengan panasnya neraka Allah.” Beliau menyampirkan ujung garbasaar-nya ke atas kepalaku.

Aku hanya mengangguk kecil. Ibu memang selalu begitu. Selalu mengucapkan kalimat-kalimat sejuk untuk menghiburku. Sama seperti kakek yang meninggal setahun lalu. Beliau juga sangat suka menghibur anggota klan lain dengan cerita dan nasehat berhikmah. Sampai-sampai kakek dipanggil Syaikh Samaale oleh klan kami.

@@@

Perjalanan panjang dari Utara ke Selatan itu akhirnya sampai di pinggir sungai Shabeelle, tidak jauh dari Mogadishu, ibukota Somalia. Dari jarak ratusan meter, aku sudah bisa melihat sebuah perkampungan nun jauh di sana.

“Ibu, apakah kita akan ke kampung itu?” tanyaku menunjuk perkampungan tersebut.

“Iya. Apakah Omar senang?”

Aku tak menjawab. Terus terang aku sendiri tidak tahu apakah aku akan suka tinggal di sana. “Berapa minggu kita di sana, Bu?” tanyaku lagi.

Ibu nampak berpikir sejenak. “Entahlah, Nak. Mungkin untuk waktu yang agak lama,” jawabnya tanpa senyum. Ada kilatan sedih di bola matanya.

“Ibu tidak senang tinggal di sana?” tanyaku mencoba menebak isi hatinya.

Ibu tersenyum tipis sambil mengelus kepalaku. “Omar, dimana pun kita tinggal, di situ tetap bumi Allah. Jadi kita tidak boleh merasa tidak suka. Allah tahu yang terbaik buat kita.”

“Tapi kenapa Ibu nampak sedih?” kejarku tidak puas.

Sejenak beliau menatapku dalam. Sorot matanya yang lembut menembus bola mataku. “Allah sedang menguji kita, Omar. Ibu khawatir jika tidak cukup sabar menerimanya,” jawab Ibu.

Aku jadi kian bingung. “Menguji kita?”

“Sudahlah, Sayang. Lihat, kita sudah dekat!” Ibu cepat-cepat mengalihkan perhatianku. Kuikuti pandangannya. Benar. Kami sudah sangat dekat dengan perkampungan itu.

Kutoleh ayah yang menunggangi untanya sendirian di belakang kami, mengawal domba-domba. Binatang-binatang berbulu keriting itu nampak begitu gembira melihat hamparan rerumputan di sekitar perkampungan. Mereka mulai berlompatan riang.

@@@

Aku mengitari perkampungan kecil itu dengan penuh takjub. Jarang sekali aku melihat-lihat perkampungan seperti ini, karena klan kami memang jarang singgah di tempat pemukiman penduduk yang biasa dihuni oleh klan Sab seperti ini. Kuamati rumah-rumah mundols milik penduduk dengan mata membesar. Bentuknya mirip aqals, tapi yang ini lebih bagus.

Perkampungan ini memang unik dan menyenangkan. Kurasa aku betah tinggal di sini. Ada ladang millet dan jagung di sebelah Timur. Juga ladang tebu di sebelah Barat. Sementara di sebelah Selatan, di sepanjang aliran sungai Shabeelle, terdapat perkebunan pisang. Kata ayah, kebun itu milik orang Italia. Di sana lah kini ayah bekerja sebagai petani.

“Omar! Ayo masuk!” Ibu melambai di pintu aqals begitu melihat aku datang. Setengah berlari aku menemuinya.

“Sudah hampir Magrib, Omar harus belajar lagi,” kata ibu sambil mengulurkan masawis-ku.

Aku menurut dan dengan malas-malasan kupakai masawis itu, juga kopiah putih penutup kepala. Ya, tiap sore, sebelum shalat Magrib, ibu selalu mengajariku membaca al-Quran. Dan setelah shalat Isya, beliau akan mengajariku tentang abtrisirno.

“Jangan malas begitu, Sayang. Katanya ingin seperti Bilal, sahabat Nabi. Oya, Ibu telah sediakan daging dan selai kesukaan Omar. Tapi nanti makannya, setelah belajar.”

“Benar, Bu?” tanyaku girang. Ibu mengangguk. Maka mulailah kuikuti ibu mengeja huruf-huruf hijaiyah itu dengan penuh semangat. Kusimak baik-baik uraiannya tentang makna ayat-ayat suci tersebut. Kuakui, ibu memang sangat pintar. Apalagi jika beliau sedang mengajarkan tentang abtrisirno, maka semangat dan kecintaanku terhadap Somalia jadi kian membara.
Pernah aku bilang bahwa ibu lebih pintar dari ayah, yang tiap hari hanya sibuk dengan domba-domba dan pekerjaannya. Tidak pernah mengajariku seperti ibu.

“Omar tidak boleh bilang begitu. Ayah memang tugasnya bekerja, mencari nafkah untuk kita. Jadi tidak bisa mengajari Omar tiap hari. Maka Ibu lah yang harus mengajari Omar, sebab mendidik anak itu adalah tugas seorang Ibu. Omar paham?” kata ibu bijak.

“Tapi ibunya Ali tidak pernah mengajarinya membaca al-Quran,” kataku dengan alis berkerut. Aku jadi ingat pada ibu temanku itu. Setiap hari ia nampak sibuk menguliti kacang untuk membuat digger. Pakaiannya juga tidak seperti ibu. Ibunya Ali hanya menutup kepalanya dengan kain kecil hingga rambutnya tetap terlihat. Sementara bajunya yang panjang malah tidak berlengan, hanya menutupi dada dan punggung saja.

Berbeda dengan ibu yang selalu mengikatkan garbasaar-nya di bawah dagu sebelum melilitkan kain lebar tersebut ke tubuh bagian atasnya. Guntimo yang dipakainya juga sangat panjang melilit baju bagian dalamnya yang berlengan panjang. Dan di klan kami, sangat sedikit wanita yang seperti beliau. Apalagi yang pintar membaca dan menulis seperti ibu.

“Sudahlah, jangan membicarakan orang lain. Yang penting Omar tidak boleh jadi orang bodoh. Omar harus pintar dan shaleh!” kata ibu waktu itu. Dan kalimat itu dulu juga sering kudengar dari mulut kakek.

@@@

Setelah beberapa bulan tinggal di perkampungan klan Sab ini, aku pun mulai terbiasa dengan cara hidup mereka. Namun ada sesuatu yang tetap mengganjal pikiranku. Kenapa dulu ayah bilang bahwa keadaan sudah tidak aman lagi? Lalu kenapa ibu juga bilang bahwa kami sedang diuji Allah? Itukah sebabnya sehingga kami tidak lagi bisa hidup seperti layaknya klan Samaale?

Pikiran itu tak juga hilang dari kepalaku, hingga suatu hari kampung yang kami tempati didatangi oleh segerombolan manusia asing berkulit putih. Mereka datang dengan menggunakan kendaraan besar yang suaranya sangat bising. Mereka memakai pakaian loreng-loreng dan topi baja. Di punggung mereka tersampir sebuah senjata berat.

Aku dan penduduk yang lain tertegun melihat kedatangan mereka. Pun ketika mereka mengatakan bahwa kedatangan mereka membawa misi perdamaian. Seorang lelaki berkulit hitam berdiri paling depan, menjadi juru bicara mereka.

“Amerika dan PBB akan menerapkan Operation Restore Hope di sini. Operasi Pengembalian Harapan untuk seluruh rakyat Somalia! Jadi sambutlah kedatangan mereka! Kuu Soodhowow Soomaaliya!” seru juru bicara itu dengan lantang.

Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan lelaki itu. Operasi Pengembalian Harapan? Bingung, kutoleh ibu yang berdiri di sampingku. Nampak matanya menatap tajam ke arah orang-orang asing itu. Ada gurat yang tak kumengerti di raut wajahnya.

@@@

“Mogadishu sedang rusuh! Pemerintahan Komunis Siad Barre sudah digulingkan.” Seorang lelaki dari klan Sab berbicara setengah berbisik.

“Syukurlah. Sudah 30 tahun ia memerintah secara diktator. Somalia yang hijau telah dirubahnya menjadi kering kerontang karena sistem pertanian dan ekonomi yang keliru.”

“Klan-klan di desa sekitar Kismaayo juga sedang terlibat pertikaian dan saling menyerang,” timpal lelaki yang satunya lagi.

“Aku dengar tentara-tentara asing itu datang untuk mendamaikan mereka.”

“Asal bukan menambah keruh keadaan saja,” celetuk seorang lelaki tua yang memakai sarung coklat kotak-kotak. Wajahnya nampak sinis.

“Katanya orang-orang asing itu akan membentuk pemerintahan baru yang lebih mengutamakan kemakmuran rakyat.”

“Huh! Maksudmu Ali Mahdi? Rakyat tidak menyukainya. Aku sendiri lebih suka Jenderal Farah Aidid yang memimpin kita. Orangnya shaleh dan sangat merakyat!”

“Tapi Amerika tidak menyukainya.”

“Ya, karena Amerika hanya akan menyukai orang-orang yang bisa mereka kendalikan seperti Ali Mahdi. Mereka takut jika Jenderal Aidid mengembalikan kejayaan Islam di Somalia. Dan kau sendiri, mana yang kau pilih?”

“Entahlah.”

Aku manahan napas yang tiba-tiba terasa sesak. Firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sedang melanda negeri ini. Kupacu langkah menuju aqals.

“Omar! Dari mana saja seharian?” tanya ibu menyambut kedatanganku yang terengah-engah. Beliau nampak heran menatapku.

“Bu! Ayah mana?” seruku dengan napas memburu.

“Ke kota, menemui temannya. Kenapa? Tumben Omar mencari ayah?” tanya ibu dengan kening berkerut.

“Bu, orang-orang di pasar bilang bahwa Mogadishu sedang rusuh. Ayah dalam bahaya!” kataku cemas.

Sesaat ibu menatapku. “Ibu tahu.”

“Ibu tahu?”

Ibu mengangguk pelan. “ Tapi Allah akan menjaga ayah.”

“Ibu tidak bohong? Ibu yakin?”

“Insya Allah.”

Aku pun diam. Kata ibu, jika Allah yang menjaga maka tidak akan ada seorang pun yang bisa membuatnya celaka. Dan aku percaya itu.

Suasana kemudian berubah hening. Napasku mulai reda. Perlahan aku duduk di pintu aqals, mencoba mencerna apa-apa yang kudengar di pasar tadi. Amerika? Dari klan mana orang-orang itu? Siapa pula Ali Mahdi dan Jenderal Farah Aidid itu? Makin lama berpikir, makin banyak tanda tanya di kepalaku.

Tidak lama kemudian kudengar suara ibu yang lembut memecah keheningan dengan bacaan Qurannya yang merdu, memantulkan keteduhan di dalam aqals kami yang sederhana. Untuk beberapa saat kurasakan kedamaian mengaliri ruang rasaku.

Ah, aku jadi rindu mengembara lagi. Membelah padang tandus dan sesekali menikmati hembusan angin dari pohon-pohon Akasia. Menyimak cerita-cerita ibu di atas punggung unta tentang Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Atau menggoda ayah yang selalu mengawal di belakang kami. Dan jika malam tiba, dekapan hangat ibu akan membuatku nyaman hingga tertidur pulas.

“Omar masih di situ?” Tiba-tiba teguran ibu mengejutkanku. Aku menoleh memandang ibu yang sedang menyelipkan mushafnya di antara kayu penyangga aqals.

“Masih merisaukan ayah?” Ibu tersenyum sambil mendekatiku.

Aku menggeleng.

“Omar lapar?”

Lagi-lagi aku menggeleng.

“Lalu apa yang dipikirkan oleh pejuang kecil ini?” Dielusnya rambut ikalku penuh sayang. Senyum teduhnya terukir manis. Ah, ibu…, warna kulitnya yang legam seperti orang-orang Somalia pada umumnya, tidak memudarkan gemerlapnya di mataku.

“Bu…” Kutatap matanya lurus-lurus. “Siapa sebenarnya orang-orang asing itu, Bu? Apakah mereka orang-orang jahat?” tanyaku penasaran. Ibu menatapku dalam diam. Hanya senyumnya yang nampak menyurut.

“Kenapa klan-klan jadi saling bertengkar, Bu? Apakah nanti kita dan klan Sab di kampung ini juga akan bertengkar?” tanyaku lagi.

Bibir ibu terlihat bergetar.

“Benarkah orang-orang asing itu akan mendamaikan mereka, Bu?” Aku terus bertanya meski belum satu jawaban pun kudengar dari beliau. Hanya kerutan di keningnya yang menandakan bahwa ibu sedang berpikir serius.

“Omar…” Akhirnya ibu bersuara juga setelah tertegun sekian lama. “Ibu tidak bisa katakan apakah mereka jahat atau baik. Yang Ibu tahu, mereka selalu ada di setiap kerusuhan yang menimpa suatu negeri. Terutama negeri-negeri Muslim seperti kita. Entah untuk mendamaikan atau memperkeruh keadaan. Yang jelas, mereka punya kekuatan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Mereka punya kekuasaan, Nak…” Mata ibu nampak menerawang.

“Tapi Omar jangan takut, apapun maksud yang mereka sembunyikan, percayalah bahwa Allah memiliki kekuasaan dan kekuatan yang melebihi semua itu. Suatu saat, jika Omar sudah besar, Omar akan mengerti dan bisa melihat sendiri, apakah mereka orang jahat atau orang baik,” tambah ibu dengan wajah mendung.

“Yang penting, Omar harus terus belajar dan rajin membaca al-Quran. Tidak boleh malas-malasan lagi. Omar mau berjanji, bahwa Omar akan selalu rajin membacanya?”

Aku mengangguk pelan.

“Al-Quran jugalah yang akan melindungi kita dari pemurtadan yang selalu mengiringi peristiwa-peristiwa semacam ini. Aqidah kita akan ditukar dengan bantuan dalam berbagai bentuk. Omar mau imannya ditukar dengan makanan yang enak? Atau pakaian yang bagus?”

Aku menggeleng cepat. “Tidak! Kata kakek, biarlah kita mati kelaparan, yang penting kita tetap beriman pada Allah dan Rasul-Nya,” jawabku tegas.

Ibu tersenyum lega. Direngkuhnya kepalaku dalam dekapannya yang hangat.

Meski aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini, tapi aku bisa merasakan terusiknya kedamaian yang selama ini menaungi kami. Dan meski tidak sepenuhnya kupahami maksud kalimat ibu, tapi aku yakin ibu bicara benar. Aku percaya, ibu tidak pernah berbohong. Dan aku akan terus mempercayainya demi negeri yang sangat kucintai ini. Juga demi kedamaian yang menjadi hak kami, rakyat Somalia.

@@@

Epilog:

Ternyata aku tidak perlu menunggu sampai dewasa untuk bisa mengerti semua itu. Cukup dua tahun saja! Karena saat ini, saat usiaku menginjak 10 tahun, aku telah dipaksa untuk memahami setiap kejadian yang menimpa negeriku.

Bulan Agustus lalu, Amerika telah menurunkan pasukan khusus Delta Force sebanyak 400 orang untuk menangkap Jenderal Farah Aidid. Tokoh heroik yang dipuja rakyat Somalia. Dibantu oleh dua kompi pasukan Pakistan dan Italia.

Namun apa yang terjadi? Berondongan senapan mesin, lontaran granat dan tembakan roket telah meluluh-lantakkan Mogadishu dan perkampungan di sekitarnya. Dan para missionaris yang dulu dicemaskan ibu kini telah berseliweran di depan hidungku. Di depan hidung rakyat Somalia yang hampir seratus persen Muslim ini.

“Aku menyesal, Omar…” Suara Ahmed Zakky terdengar bergetar di belakangku.
“Amerika telah menghianati misi perdamaian. Kami hanya dijadikan tameng mereka di medan tempur. Pengecut! Kita telah dihasut untuk saling membunuh sesama Muslim! Aku benar-benar menyesal…!” Lelaki berseragam militer itu tergugu sambil mendekap punggungku erat.

Aku hanya diam. Entah mengapa, mulutku terasa enggan untuk bersuara. Terutama sejak melihat tubuh ibuku hancur berserakan, ketika sebuah roket menghantam Rumah Sakit Benadir, tempat ibu dirawat. Amerika mengira Jenderal Aidid bersembunyi di sana. Perkiraan yang meleset! Padahal sebelumnya aku harus pula menerima kenyataan bahwa ayahku telah ditangkap polisi karena dianggap menghasut klan Samaale untuk mendukung Jenderal Aidid.

“Aku bersumpah, Omar! Kau jadi saksiku di hadapan Allah kelak. Mulai detik ini aku akan mendukung Jenderal Aidid! Ali Mahdi tidak pantas menduduki kursi kepemimpinan karena ia sama sekali tidak berperan apa-apa dalam menggulingkan Siad Barre. Dia hanya pecundang yang mencuri kesempatan di tengah kekacauan ini dengan memanfaatkan kekayaannya!” Geram nada suara lelaki asal Pakistan itu di telingaku.

Aku tetap diam saat kurasakan dekapannya kian erat di tubuhku. Cukup. Cukup sudah lelaki itu menghibur dan menemaniku selama beberapa hari di tenda pengungsian ini. Aku sangat menghargainya. Dia memang seorang perwira yang baik. Perwira yang mulai menyadari kekeliruan dari tugas yang diembannya. Tapi semua itu tidak akan mengembalikan keceriaan hatiku. Aku benar-benar terluka.

Nanar kutatap gugusan pohon-pohon Akasia nun jauh di sana. Kurasa mereka lebih bisa mengungkapkan apa yang kini aku rasakan, lewat daun-daunnya yang seakan enggan untuk bergoyang. Bahkan angin pun seperti kehilangan gairah untuk bercanda dengan debu-debu. Ya, semua bisa merasakan, betapa kedamaian itu kini tak hanya terusik, tapi sudah tercabik-cabik! (NS)

Baca juga cerpen: Pindahan

Kosa Kata Cerpen Ketika Damai Tercabik :

• aqals = tenda kecil berbentuk bundar yang bagian luarnya dilapisi kulit hewan
• klan = suku
• samaale = suku yang mengembara dan biasa disebut sebagai bangsa nomad
• sab = suku yang menetap
• abtrisirno = sejarah klan dan negeri Somalia
• millet = sejenis gandum
• mundols = rumah berbentuk bundar dari alang-alang dan lumpur
• guntimo = baju tradisional yang mirip sari India
• garbasaar = selendang lebar dan panjang
• masawis = sarung warna-warni khas Somalia
• digger = makanan dari campuran kacang rebus dan jagung
• Ku Soodhowow Soomaaliya! = Selamat Datang di Somalia!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih senang jadi relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


One thought on “Ketika Damai Tercabik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *