Konflik dan Klimaks

konflik-dan-klimaksKonflik dan Klimaks adalah ibarat hati dan jantung dalam sebuah cerita. Tanpa kedua unsur tersebut sebuah cerita hanyalah omong kosong. Lalu apa sih yang dimaksud dengan Konflik dan Klimaks ini?

Konflik

Dalam sebuah cerita ada peralihan suatu keadaan menuju keadaan berikutnya. Dari peristiwa peralihan itulah bisa lahir konflik. Misalnya nih, ketika seseorang naik ke sebuah angkot, tiba-tiba kepalanya terbentur bagian atas pintu. Akibat benturan itu kepalanya jadi sakit, bengkak, infeksi dan seterusnya. Kondisi kepalanya yang sakit ini bisa menjadi konflik tersendiri bagi orang tersebut.

Konflik ini bisa berupa konflik fisik seperti contoh di atas, konflik batin dan konflik sosial. Bisa juga gabungan dari ketiganya.

Berikut beberapa macam peristiwa yang ikut membangun konflik:

a. Peristiwa Fungsional
Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi. Dengan demikian, kehadiran peristiwa fungsional adalah suatu keharusan. Jika dihilangkan salah satunya, maka jalan cerita jadi tidak logis.

b. Peristiwa Selingan
Peristiwa ini hanya sebagai jeda yang akan membuat cerita jadi berfariasi dan menarik, namun ia tak mempengaruhi jalan cerita secara umum. Boleh dibilang kehadirannya hanya sebagai pemanis dan pelengkap.

c. Peristiwa Acuan
Ini adalah peristiwa yang berkaitan dengan suasana batin tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Penggambaran suasana batin ini akan membantu pembaca untuk melihat lebih luas isi cerita. Meski tidak menjadi penyebab terjadinya sebuah peristiwa, namun ia bisa menjadi acuan atau isyarat terhadap peristiwa yang akan berlangsung.

Trus bagaimana cara membangun konflik?

Semua peristiwa di atas merupakan langkah awal untuk menimbulkan konflik. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa konflik meliputi: konflik fisik, konflik batin dan konflik sosial. Ada juga konflik utama dan konflik tambahan. Konflik fisik adalah konflik yang menimpa diri tokoh dalam cerita. Misalnya si Tokoh mengalami sakit, kecelakaan, dan sebagainya. Lalu konflik sosial, merupakan konflik yang terjadi antara tokoh cerita dengan orang-orang di sekelilingnya. Misalnya perkelahian, persaingan, dan sebagainya. Sementara konflik batin adalah konflik yang terjadi dalam jiwa si Tokoh berupa kesedihan, kekecewaan, sakit hati, dan sebagainya.

Ketiga macam konflik tersebut bisa saja terjadi pada diri satu orang tokoh atau lebih. Bisa pula terjadi dalam waktu yang bersamaan atau tidak. Ini tergantung pada bentuk bangunan konflik yang akan dibuat oleh penulis cerita. Namun kepiawaian penulis dalam menggabungkan ketiga jenis konflik di atas akan sangat menentukan menarik atau tidaknya sebuah cerita.

Dan boleh dikatakan bahwa membuat sebuah karya fiksi sesungguhnya adalah menciptakan kompleksitas konflik terhadap tokoh utama. Semakin kompleks sebuah konflik, maka pembaca akan semakin tertarik. Namun jangan lupa bahwa konflik yang berlebihan akan membuat sebuah cerita menjadi tidak logis. Maka di sini sangat diperlukan kejelian penulis dalam menyusun dan membangun konflik.

Klimaks

Ketika semua konflik sudah sampai pada tahap puncak, maka akan terjadilah klimaks dalam cerita. Pada saat klimaks, semua konflik akan diketahui muaranya, meski tak selalu bisa dipastikan endingnya. Pada saat klimaks juga nasib tokoh utama akan ditentukan. Klimaks itu sendiri mungkin akan muncul lebih dari sekali. Namun untuk sebuah cerpen, karena konfliknya yang sedikit, maka klimaks biasanya hanya terjadi sekali, yaitu menjelang bagian akhir cerita.

Kita ambil contoh di atas tadi, setelah kepala si Tokoh tersebut mengalami infeksi parah yang memakan waktu lama, maka klimaksnya dia meninggal karena infeksinya sudah menjalar kemana-mana. Tragis banget ya, cuma gara-gara kejedot pintu angkot, dia akhirnya meninggal. Pesan dari cerita ini adalah, hati-hati naik angkot, jangan lupa membungkuk, terutama kalau kamu berpostur lumayan tinggi, heheheโ€ฆ (Via)

Baca juga: Bagaimana cara memilih dan mengembangkan ide tulisan!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


6 thoughts on “Konflik dan Klimaks

  1. Liswanti

    Pelajaran penting neh buat saya..makasih infonya.
    Nah kalau membuat konflik itu bagusnya di awal atau pas pertengahan ya mbak?. Kadang suka kebinggungan saya, saat bikin langsung ada konflik, tepatnya di bab ke 2.

    Reply
  2. Kopiah Putih

    Wah.. Begitu ya.
    Padahal selama ini saya nulis tidak pernah memikirkan yang beginian. Setelah baca tulisan ini, akhirnya bisa tahu dan harus dipraktekkan.

    Terimakadih mbak dan salam…

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *