Kontroversi dan Perang Opini Para Ibu

Sering kita baca di media sosial dan jejaring sosial perang opini di kalangan kaum ibu tanah air. Antara ibu ASI dan Ibu SuFor. Antara Ibu Kantoran dan Ibu Rumahan. Antara Ibu Lahiran Normal dan Ibu Lahiran Cesar. Sampai antara Ibu Pro Vaksin dan Ibu Anti Vaksin. Oh iya, satu lagi yang paling heboh, antara Ibu Pro Poligami dan Ibu Anti Poligami. Banyak sekali kontroversi dan perang opini para ibu yang terjadi.

Kenapa perang opini (mom war) ini bisa terjadi dan menajam di media sosial? Penyebabnya karena masing-masing punya alasan yang kuat dan masing-masing ingin orang lain sependapat dengannya. Egois, itulah kadang yang menjangkiti kita. Merasa paling tahu, paling paham dan paling benar sendiri. Dan terlalu bernafsu memaksakan pendapat kita pada orang lain.

Padahal, kita hanya tahu dari sisi kita saja. Kita tak pernah benar-benar mau menyelami kondisi orang lain. Kebiasaan buruk lainnya adalah memukul rata. Yang pro dianggap sama alasannya, begitupun yang kontra. Kita lupa, bahwa di antara yang pro itu punya alasan yang berbeda, begitupun yang kontra juga memiliki alasan berbeda pula. Tapi kita sering menutup mata, maunya memukul rata begitu saja.

Oke, biar makin jelas, mari kita lihat beberapa contoh berikut ini.

Contoh Kasus 1

Ibu A memiliki masalah dengan ASI-nya sehingga qadarullah, ASI tak kunjung keluar meskipun sudah diupayakan sedemikian rupa. Lalu apakah bayinya akan terus dibiarkan berhari-hari tanpa meminum atau memakan apapun? Salahkah memberi bayinya susu formula? Bandingkan dengan Ibu B, yang ASI-nya lancar, namun ia enggan menyusui bayinya karena khawatir payudaranya tidak menarik lagi. Kedua ibu ini memiliki alasan yang berbeda, di mana kita tak bisa memukul rata keduanya. Kita harus melihat kondisi dan kasus masing-masing sebelum menyimpulkan.

Contoh Kasus 2

Contoh berikutnya. Ibu C, memilih bekerja di luar rumah karena statusnya yang janda, sementara ada anak-anak yang harus ia biayai hidupnya. Bikin usaha di rumah sudah dicoba namun belum menghasilkan apa-apa. Sementara kebutuhan anak-anak tak bisa ditunda lama. Salahkah ia bekerja di luar? Tentu berbeda dengan Ibu D yang bekerja di luar rumah bukan karena janda, sebab ia masih punya suami yang bekerja mapan. Secara materi ia tak kekurangan. Namun Ibu D ini memiliki potensi sebagai dokter kandungan. Salahkah ia bekerja di luar rumah? Sementara para ibu zaman sekarang sudah mulai enggan melahirkan dengan dokter laki-laki, apalagi para ibu muslimah. Kebutuhan akan dokter perempuan menajdi urgent di zaman sekarang.

Contoh Kasus 3

Oke, satu contoh lagi. Ibu E, sudah berniat melahirkan secara normal, namun qadarullah di hari persalinan bayinya tak kunjung keluar. Induksi sudah dilakukan hingga menghabiskan banyak tenaga dan menyisakan keletihan panjang. Dengan apa lagi mengeluarkan si bayi jika bukan dengan operasi? Apakah ada yang mau mengambil resiko menunggu bayinya keluar sendiri tanpa kepastian? Mungkin berbeda dengan sebagian ibu yang memilih cesar karena takut melahirkan normal, padahal ia belum mencoba. Jauh-jauh hari sudah berniat melahirkan lewat operasi cesar misalnya. Ada kok yang begitu. Ini adalah dua kondisi yang berbeda, dan harus dilihat lagi masing-masing kasusnya sebelum kita menyimpulkan.

Fakta Saya Sebagai Ibu

Saya Ibu ASI, tapi memahami ketika ibu lain memberi SuFor disebabkan kondisi yang gak bisa dipaksakan. Saya Ibu Kantoran, tapi tetap mendukung para ibu yang memilih full time di rumah untuk mengasuh anak-anak mereka. Saya mendukung kelahiran normal, namun tetap menyarankan cesar pada ibu dengan resiko tinggi.

Kenapa saya memilih posisi di tengah?

Karena saya pernah mengalami kedua kondisi tersebut. Meskipun sebenarnya untuk bisa bersikap netral, kita gak perlu mengalami keduanya. Cukup memahami saja bahwa setiap orang punya kondisi yang berbeda. Sangat tidak adil memukul rata untuk semua kondisi di atas. Kita harus belajar memahami kondisi orang lain. Kalaupun ingin menjudge, maka kumpulkanlah fakta dan data secara lengkap, urai masalahnya kasus perkasus, agar tidak menimbulkan kemarahan pihak yang berseberangan. Karena sebenarnya jika kita tahu kasus perkasus, pasti kita bisa menilai dari posisi yang sama, tidak akan ada pro kontra berlebihan.

Oke, para ibu sekalian, stop perang saudaranya ya, belajar bijak menilai sesuatu. Para ibu harus kompak, karena kita punya musuh bersama, yaitu para pelakor dan valakor yang bisa ibu-ibu intip artikelnya di sini 😀 Fenomena Pelakor dan Valakor 

Salam Persaudaraan!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


7 thoughts on “Kontroversi dan Perang Opini Para Ibu

  1. Dian Restu Agustina

    Suka baper kalo ibu pekerja pasang status seperti ini misalnya : meski kerja, masak juga dong, memang ibu rumah tangga aja yang bisa. hahaha
    Tapi, memang lebih baik di tengah-tengah saja..berdebat nggak bakal ada habisnya 😀

    Reply
  2. Ratih Sophie Azizah

    Setujuuuu….. Ada beberapa contoh kasus di atas saya pernah mengalami dua-duanya…apapun itu peranan Ibu tetap tak tergantikan sebagai guardian angel untuk anak-anaknya…..peace, love, and viva Ibu² hehehe…

    Reply
  3. April Hamsa

    Sesama ibu kok saling “nyinyir” ya mbak.
    Kalau saya menahan diri untuk gak komentar tentang gaya pengasuhan sesama ibu, kecuali kalau ada ibu bertanya saya baru bersedia sharing tanpa menggurui.
    Cuma kalau tentang hal2 yg membahayakan misal ada anak bayi dikasi teh atau makan pakai kuah bakso mungkin saya akan “berkomentar” jg, tentu saja dgn bantuan buku dan media lainnya… khawatir jg dianggap sok keminter hehe 😛

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *