Kursi Goyang Ayah

Kursi Goyang“Aduh, aku lagi sibuk, Ra! Belum sempat ngurusin yang begituan.” Dian, kakak sulungku memberi alasan.

“Ayah kok aneh-aneh aja, sih? Nggak biasanya kayak begitu! Entar aja deh, Ra, aku lagi nggak punya uang nih buat beli kursi goyang segala!” jawab Dedi, abang semata wayangku.

“Ra, bilang sama Ayah, bulan depan aja. Biar nanti aku kirim uangnya ke rekeningmu, ya!” Dewi, kakakku yang tinggal di Bandung memberi jawaban paling lunak.

Kini, aku terpaksa berusaha keras membujuk Ayah agar mau bersabar. “Kursi goyang idaman Ayah itu pasti akan Dara belikan, tapi bukan hari ini.”

“Kalian memang keterlaluan! Masa cuma sebuah kursi goyang saja tidak mau membelikan?!” kata Ayah kesal. Aku tahu beliau kecewa, tapi aku bisa apa? Uang kuliahku saja masih ditanggung kakak-kakakku.

“Bukannya tidak mau, Yah. Tapi kakak-kakak itu belum punya uang. Mereka kan sudah janji, bulan depan mau urunan membelikan kursi goyang itu,” jelasku berusaha sabar.

Ayah mendengus. “Berapa sih belinya? Pakai urunan segala?”

“Yaaa… tergantung model dan bahannya, Yah. Kalau yang bagus bisa di atas sejuta. Kalau yang biasa mungkin setengahnya. Mereka sengaja urunan karena ingin membelikan kursi itu bersama-sama, bukan karena nggak mau keluar uang banyak.,” jawabku sambil melirik Ayah yang tengah duduk di ruang tengah dengan koran di tangannya. Tiba-tiba aku merasa kasihan melihat beliau. Sejak Ibu meninggal dua tahun silam, Ayah sering terlihat murung. Mungkin beliau kesepian, tidak ada lagi yang bisa diajak bicara dari hati ke hati.

Ketiga kakakku tak seorang pun yang tinggal di rumah ini, mereka sudah punya rumah dan keluarga sendiri. Tinggal aku yang masih setia menemani Ayah, tapi itupun tak cukup untuk mengobati kesepian beliau. Sebab aku juga lebih banyak menghabiskan waktu di kampus dan berbagai kegiatan lainnya.

“Kamu itu perempuan, Ra. Tapi kok kegiatanmu sangat banyak di luar rumah? Seperti laki-laki saja,” komentar Ayah suatu hari.

“Namanya juga anak muda, Yah. Hidup harus diisi dengan hal-hal positif sebanyak mungkin,” jawabku berkilah.

“Tapi kamu jangan lupa, bahwa kamu itu anak perempuan yang seharusnya lebih banyak di rumah daripada di luar.”

“Iya, Dara ngerti. Ayah tenang aja, Dara bisa jaga diri, kok.”

“Bukan soal menjaga diri. Tapi soal kodrat!” tegas Ayah. Aku pun langsung terdiam. Jika berdebat dengan Ayah, aku pasti akan selalu kalah. Ayah seperti seorang filosof yang memiliki banyak teori-teori tentang kehidupan.

Tapi kini, pembicaraan dengan Ayah itu membuatku jadi bepikir lain. Tidakkah semua itu mengisyaratkan bahwa Ayah bosan sendirian terus di rumah, tanpa ada yang bisa diajak bicara selain Nunung, pembantu kami? Malah kata Ayah pembantu muda itu lebih sering ngobrol dengan pembantu sebelah jika pekerjaannnya sudah selesai.

Ah, benarkah Ayah ingin aku lebih banyak di rumah menemaninya? Bertukar pikiran dan menghibur kesepiannya yang mungkin sudah mencapai garis batas. Tidakkah kursi goyang itu merupakan alasan saja untuk menarik perhatian anak-anaknya, terutama aku? Jika memang demikian sungguh kasihan Ayah. Sepertinya aku harus mulai memikirkan cara membagi waktu yang baik agar waktu untuk Ayah tetap jadi prioritas.

@@@

“Aduh gimana sih, Kak? Dara kan udah nggak enak sama Ayah,” sungutku pada Kak Dian saat siang itu mampir ke rumahnya di Depok.

“Kakak benar-benar lagi nggak punya uang, Ra. Kemarin habis untuk berobat Mas Firman. Kamu tahu kan, Mas Firman sakit typus dan harus check up terus sampai dokter bilang sembuh total,” jawab Kak Dian dengan raut serius.

“Belum lagi biaya masuk sekolah Sarah dan Nadia. Sarah aja habis dua juta untuk masuk TK, sementara Nadia habis lima juta untuk daftar di SD. Kamu bisa bayangkan sendiri kesulitan Kakak, kan? Kamu ke Dedi deh, bilang kalau Kakak pinjam uang dia dulu. Ntar bulan depan Kakak ganti, ” imbuhnya lagi.

Aku cuma mengangguk dalam diam. Aku maklum keadaannya, tapi masa janji pada Ayah harus mungkir lagi? Akhirnya siang itu juga aku langsung ke rumah Bang Dedi, berharap dia bisa memberi solusi yang lebih baik.

“Yaaah telat, Ra! Barusan aja Abang beli komputer baru. Kamu sih, nggak ngomong dari kemarin.” Bang Dedi mengerutkan alis. Aku menatap komputer barunya yang cukup keren itu dengan pandangan nanar.

“Nggak ngomong gimana sih, Bang? Sudah sejak sebulan yang lalu Dara ngomong soal kursi goyang itu, masa bisa lupa, sih?” sanggahku kecewa.

“Aduh kamu ini, Ra, kaya nggak tahu aja kalau Abang tuh pelupanya minta ampun. Kalau nggak sering-sering diingatkan, mana ingat?” Ia membela diri. Aku menelan ludah yang terasa kesat.

“Oya, kamu tanya Kak Dian dulu, deh. Bilang kalau bagian Abang ditombokin dulu. Ntar Abang ganti.”

“Barusan kan Dara ke sana. Dan Kak Dian justru minta Abang dulu yang nombokin bagian dia!” ketusku. Bang Dedi terdiam mendengar penjelasanku.

“Gini aja deh, Ra. Bulan depan aja, ya! Pas Abang gajian, kamu langsung bilang. Jadi Abang kan nggak lupa. Kalau perlu Abang yang tanggung sendiri, nggak usah urunan segala,” ujarnya kemudian dengan nada menghibur. Aku masih diam.

“Ok, ya? Nggak apa-apa kan bulan depan? Ya, Ra, ya?”

“Kalau Dara sih nggak ada masalah, Bang. Tapi Ayah? Kan nggak enak mungkir lagi. Ini udah ketiga kalinya kita menunda permintaan Ayah. Tapi masa sih nggak ada uang seratus-duaratus ribu? Ntar kurangnya biar Kak Dewi yang nambahin,” ujarku memohon.

“Sungguh, Ra! Kecuali kalau kamu mau lihat Abang nggak makan sebulan ini. Di Bank cuma ada uang tabungan rutin, dan kamu tahu sendiri kan, uang itu nggak boleh diusik-usik. Soalnya buat modal beli rumah, biar Abang nggak ngontrak lagi.” Bang Dedi meyakinkan.

“Mbak Sinta barangkali punya?” Aku mengalihkan ke istrinya.

“Wah, dia jangan diharap, Ra. Biaya ke salonnnya aja bisa nguras gaji dia sebulan. Pokoknya jangan, deh! Kali ini Abang janji banget, bulan depan kursi goyang itu pasti Abang belikan. Bilang kayak gitu ke Ayah, ya!”

Aku tak lagi bisa berkata apa-apa. Mentok sudah ke Bang Dedi. Kini tinggal ke Kak Dewi, harapan terakhirku. Inipun bukan lagi dengan konsep urunan, tapi ditanggung sendiri. Begitu pulang dari rumah Bang Dedi di Pasar Minggu, aku langsung pulang dan menuju wartel dekat rumah.

“Ya, ampun, Ra! Kakak janjinya bulan ini transfer ke kamu, ya? Waduh, kok bisa lupa, sih?” Itulah kalimat pertama Kak Dewi saat aku menagih janjinya.

“Tapi uangnya ada kan, Kak?” tanyaku memastikan.

“Ada, tapi dipinjam Mas Tomi untuk nambah modal bengkel yang nanggung. Mungkin paling cepat dipulangin bulan depan. Gimana ya, Ra?”

Aku kembali menelan ludah yang terasa semakin kesat. Ada rasa sakit di tenggorokanku. Terbayang wajah kecewa Ayah karena harapannya kembali pupus. Terbayang kesepiannya yang panjang dan menjenuhkan. Mungkin keberadaan kursi goyang itu sedikit menghiburnya, tapi kini…?

“Ra, mungkin Kakak bisa usahakan minggu depan. Tapi belinya tetap urunan dengan Kak Dian dan Bang Dedi, kan?”

“Tapi… mereka juga nggak bisa. Dara sudah ke rumah mereka barusan,” jawabku nyaris menangis.

@@@

Aku tak berani menatap wajah Ayah yang sedang duduk di teras depan. Langkahku terasa sangat berat. Apa yang harus kukatakan pada Ayah? Sementara aku sudah berjanji akan membelikan kursi goyang itu besok pagi.

“Dari mana saja sih, Ra? Sore begini baru pulang. Ini kan Sabtu, kamu nggak kuliah kan hari ini?” tanya Ayah seperti biasa.
Aku mengangguk. “Dara ada perlu mendadak, Yah.”

“Yang tidak mendadak saja sudah sangat menyita waktumu, apalagi ditambah dengan yang mendadak begini,” komentar Ayah sambil membolak-balik majalah di tangannya.

“Maaf, Yah. Tadi Dara lupa bilang ke Ayah kalau pergi sampai sore.”

“Ya sudah, sana mandi dan istirahat! Jangan lupa minum vitamin yang Ayah belikan kemarin biar badan kamu tetap segar.”
Aku mengangguk sambil cepat-cepat melangkah ke dalam. Ada keharuan menyusupi hatiku melihat betapa perhatiannya Ayah padaku. Sementara aku? Aku masih saja belum bisa mengurangi aktifitasku di luar. Malah sepertinya akan bertambah karena kemarin ada tawaran menarik untuk menjadi pengelola perpustakaan buku-buku langka. Aku kan paling suka menguber buku-buku langka dan unik.

Namun di sisi lain, lega juga rasanya Ayah tidak menanyakan soal kursi goyang itu. Meski demikian, malam ini aku harus berpikir keras, bagaimana caranya agar kursi goyang itu tetap bisa kubelikan besok pagi. Aku tidak sanggup mungkir lagi. Pokoknya, kursi goyang itu harus dapat!

Malam harinya aku bergerilya dari nomor telepon yang satu ke nomor telepon yang lain. Teman-teman kuliahku adalah tumpuan harapanku berikutnya. Baru kali ini aku menyingkirkan rasa malu sejauh-jauhnya, demi mendapatkan kursi goyang idaman Ayah.
Dari puluhan nomor yang kuhubungi, ternyata tak satu pun yang bisa mengabulkan permintaanku untuk meminjam uang tunai sebanyak ratusan ribu rupiah. Maklum, mereka rata-rata anak kos yang uang bulanannya sangat dijatah. SMS dari beberapa teman juga tidak ada yang menggembirakan. Sungguh, kali ini aku benar-benar buntu.

@@@

“Wah, bagus sekali! Berapa harganya, Ra?” Ayah memandang takjub kursi goyang dari rotan yang baru saja diturunkan dari mobil pick up itu. Aku hanya tersenyum. Bahagia rasanya melihat wajah Ayah begitu berseri. Beliau langsung menggotong kursi itu ke dalam, dibantu Nunung, pembantu kami.

Akhirnya, Ayah bisa juga menikmati kebahagiaannya duduk di atas kursi goyang. Aku nyaris tak percaya melihat kegembiraan yang terpancar nyata di wajah tua itu. Sebegitu berartikah kursi goyang itu bagi Ayah? Entahlah. Yang pasti, melihat kebahagiaan Ayah itu rasanya jauh lebih berarti bagiku dibanding memiliki sebuah benda bernama handphone.

Ya, aku telah menjual handphone-ku yang lumayan keren seharga tujuh ratus ribu rupiah. Handphone pemberian Bang Dedi tiga bulan lalu. Tidak apa-apa, toh nanti aku bisa membelinya lagi dengan uang yang dijanjikan kakak-kakakku bulan depan. Sebulan tanpa handphone tidak ada masalah, kan? Setelah berpikir dan menimbang semalaman, maka itulah keputusanku. Aku tidak tega melihat raut kecewa terus membayangi wajah Ayah, dan aku juga tidak mau perasaanku tertekan terus-menerus.

@@@

Pagi ini aku bangun dengan hati ringan. Terus terang, urusan kursi goyang itu memang sempat memberati pikiranku akhir-akhir ini. Kini lega rasanya bebas dari bayang-bayang benda itu. Ayah pun tentu tidak akan cerewet lagi mengomentari menejemen waktuku yang menurut beliau amburadul itu. Dan sepertinya, aku sudah bisa menerima tawaran mengelola perpustakaan buku-buku langka itu. Yap! Ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

“Pagi, Ayah!” sapaku begitu selesai mandi dan bersiap ke kampus. Kulihat Ayah tengah asyik di kursi goyangnya. Hm, Kursi goyang Ayah  tampak bergoyang-goyang perlahan menghadap jendela.

Aku baru menyadari kalau hal itu memang sangat mengasyikkan bagi orang seusia Ayah. Pagi-pagi duduk di kursi goyang sambil menikmati udara segar yang bertiup dari jendela, ditemani secangkir teh hangat dan sepiring biskuit, seperti yang sedang dinikmati Ayah saat ini. Hm, pasti akan lebih asyik lagi kalau ada Ibu di sisi beliau.

“Wah, Ayah asyik banget, nih. Pagi-pagi sudah nyantai ditemani teh hangat dan biskuit,” godaku sambil memegang sandaran kursi goyangnya. Ayah tak menyahut. Ups! Jangan-jangan beliau ketiduran saking asyiknya.

Kuintip wajahnya dari samping. Aha, dugaanku benar. Mata Ayah terpejam rapat dengan mimik yang begitu tenang. Kacamatanya hampir melorot. Sambil tersenyum kulepas kacamata tersebut, penuh hati-hati. Jangan sampai beliau terbangun. Dan sebelum berlalu, kuelus lembut tangannya yang mulai dipenuhi keriput.

Tapi tunggu! Kenapa tangan Ayah begitu dingin? Kembali kuamati sosok itu dengan seksama. Wajah itu… sebenarnya putih atau pucat? Spontan kuraih pergelangan tangan Ayah dan… denyut itu tidak kurasakan! Apakah Ayah…? Tidak! Aku tidak percaya semua ini!

“Kamu memang anak Ayah yang paling perhatian sama Ayah. Ayah tahu kamu membeli kursi goyang ini dengan uangmu sendiri. Andai saja Ayah bisa menunggu lebih lama, mungkin kamu tidak perlu menjual handphone itu. Maafkan Ayah ya, Ra…” Kalimat Ayah semalam kembali terngiang di telingaku. Bergema menghantam ruang-ruang hatiku. Seperti inkah kematian yang dijanjikan untuk ayah? Di atas kursi goyang!

Andai saja Ayah bisa menunggu lebih lama…
Andai saja Ayah bisa menunggu lebih lama…
Andai saja Ayah bisa menunggu lebih lama…
“Ayaaahhh!!!” (NoS)

Rumah Shion, April 2004

(Cerpen ini telah dibukukan dalam buku kumcer Sepotong Kata Cinta)

Baca juga cerpen lain: Ketika Damai Tercabik

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


2 thoughts on “Kursi Goyang Ayah

  1. rina

    maasya Allah……terharu +_+
    jadi keinget papa saya yang meninggal dua bulan yg lalu….
    terkadang kita suka menyia2kan mereka….dan suka ngga sadar, kl mereka sdh tua, perlu perhatian, dan, bisa jadi mereka berpulang lebih cepat dari yang kita sangka :'(

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *