Mencegah Fitnah Dari Diri Sendiri

Omongan buruk, baik berupa gunjingan atau fitnah, ibarat asap. Menyebar tanpa bisa dicegah. Tahu sendirilah kata pepatah, serapat-rapat menyimpan bangkai akhirnya akan tercium juga. Memang begitulah manusia.

Sanggupkah kita mencegah setiap mulut untuk berbicara? Sanggupkah kita mengatur setiap pikiran untuk menilai? Tidak akan pernah!

Yang bisa kita lakukan hanya satu, menjaga tingkah laku agar tak menjadi gunjingan dan bahan fitnah orang lain. Nah yang merasa difitnah atau menuding orang lain memfitnah, monggo introspeksi diri. Bagaimana kelakuannya selama ini? Sudah cukup terjagakah? Atau memang suka memancing gunjingan dan fitnah. Ingat, bumerang itu akan selalu kembali pada pelemparnya.

Karena gunjingan dan fitnah itu seperti asap, maka jelas tak bisa dicegah penyebarannya sesuai kehendak kita. Yang tepat adalah mematikan titik apinya.

Jadi percuma menghasut angin untuk menghalau asapnya jika titik apinya tetap tak dipadamkan. Itu hanya akan membuat lelah dan sia-sia. Yang ada semakin parah, semakin banyak orang menuai asapnya. Masa sih kita gak belajar dari kebakaran hutan yang hampir tiap tahun terjadi.

Ehm, kenapa saya menulis tetag hal ini? Karena belakangan ini cukup banyak di timeline yang menulis tentang fitnah memfitnah. Ada yang difitnah oleh teman, ada yang difitnah oleh keluarga pasangan, ada yang difitnah oleh lawan kerja dan sebagainya. Banyak sekali.

Ada pula teman yang dituduh menyebar fitnah padahal kenyataannya tuduhan itu tak berdasar, hanya tuduhan untuk menyelamatkan diri sendiri. Ibaratnya, lempar batu sembunyi tangan. Jadi yang dituduh memfitnah inilah yang sebenarnya difitnah. Namun orang-orang terlanjur percaya pada tuduhan itu tanpa bertanya ke teman saya. Diajak ketemuan untuk menyelesaikan masalahnya, tak ada tanggapan. Hanya tanggapan berlagak bodoh yang menurut saya sangat menggelikan.

Bagi saya, kembali ke kajian dasarnya saja. Tak ada asap jika tak ada api. Jika tingkah laku kita sendiri tak dijaga dan mengundang fitnah maka jangan menyalahkan orang lain. Kita lah yang harus mengoreksi diri sendiri. Bagi yang membela, coba buka mata dan telinga, perhatikan teman yang kamu bela, bagaimana kelakuannya.  Makanya guru saya sangat menekankan soal ini, bahwa bergunjing itu memang dosa, tapi menjadi penyebab timbulnya gunjingan lebih berdosa lagi. Sebab akibat perbuatan kita banyak orang yang bergunjing. Gara-gara tingkah laku kita banyak persangkaan negatif dari orang sekitar.

Jadi buat yang masih sibuk menuding kesana kemari, lebih baik mengoreksi diri dulu. Jika memang merasa difitnah lebih baik langsung bicarakan dengan yang bersangkutan, tidak perlu curhat ke sana ke mari, karena itu hanya akan membuat fitnah itu kian menyebar. Mencegah fitnah harus dimulai dari diri sendiri, dengan menjaga perilaku kita sehari-hari.

Kamu merasa difitnah, tapi kamu tak melakukan apapun selain mengeluh dan curhat. Perlu dipertanyakan, ada apa dengan kamu? Semoga semua yang punya masalah bisa segera diselesaikan dengan baik ya 🙂

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *