Mengemas Rindu

25Azis diam saja menatap laut. Selalu saja ada nyeri tiap kali nama Amoy disebut. Kalimat-kalimat yang ditulis Amoy dalam surat yang ia titipkan pada Mak, kembali terbentang di matanya.

Bang, lama sudah kita tak berjumpa.
Entah apa yang terjadi pada Abang sekarang, Amoy tak pernah tahu. Tapi Amoy nak berkabar pada Abang tentang keadaan Amoy sekarang. Selama di Singapura, Amoy telah mencoba membunuh rasa cinta Amoy terhadap Abang, namun gagal. Akhirnya Amoy disadarkan, bahwa ternyata cinta tak harus dibunuh. Ia hanya perlu diletakkan pada tempat yang benar.

Namun di atas semua itu, Amoy percaya, bahwa Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi kita. Dan untuk saat ini, Amoy merasa bahwa hal yang paling utama untuk Amoy lakukan adalah mencari Tuhan, tempat berlabuhnya keyakinan Amoy. Baru setelah itu Amoy akan memohon pada-Nya untuk mencarikan cinta yang tepat bagi Amoy. Cinta yang tak egois dan tak menggelisahkan.

Itulah yang ditulis Amoy dalam suratnya. Sesuatu yang Azis juga ingin sampaikan pada gadis itu, tapi sayang Amoy kini sudah tak di kampung ini lagi. Ia sedang melanjutkan pendidikannya di Pekanbaru. Tapi ia tetap bersyukur, akhirnya Amoy memilih jalannya yang sekarang. Jalan yang ia tempuh untuk mencari hakikat dirinya sebagai manusia. Setidaknya ia lega, Amoy berada dalam keadaan yang lebih baik dari dugaannya.

“Eh, macam mana? Kau tak nak tengok anak Haji Kasim tu?” Pakcik Zalman menepuk pundaknya.

Azis perlahan menggeleng. “Belum saatnya, Pakcik.”

“Apa dikau masih mengharapkan gadis Cina tu?”

Azis menghela napas seraya kembali menggeleng. “Itupun sudah bukan masanya.”

“Amboi, dikau ni buat Pakcik bingung saja, Zis.” Alis Pakcik Zalman mengerut.
Azis hanya tersenyum tipis. Matanya menatap jauh ke tengah laut. Seekor burung laut menukik, lalu dalam bilangan detik kembali mengepak naik. Dan seekor ikan terjepit kokoh di paruhnya.

Catatan:

Novel berlatar Melayu Riau ini merupakan pengembangan dari cerpen saya yang berjudul Lancang Kuning Berlayar Petang (termuat dalam buku antologi Gadis Lembah Tsang Po). Ternyata mengubah sebuah cerpen menjadi novel tidak semudah yang saya bayangkan. Mungkin karena kita sudah tersekat oleh alur cerpen yang begitu padat. Sehingga ketika hendak mengembangkannya lebih luas lagi menimbulkan semacam kekhawatiran jika nanti idealisme yang ada dalam cerpen jadi berubah. Tapi saya masih berminat dan berniat untuk mencobanya lagi pada cerpen yang lain. (V)