Menulis Fiksi Berlatar Budaya

menulis-cerpen-berlatar-budayaTerlanjur identik sebagai penulis fiksi dengan muatan lokal, sering membuat saya ditanya oleh pembaca bagaimana cara saya menulis fiksi berlatar budaya. Kadang mereka heran, kok saya bisa menulis sesuatu yang jauh dari keseharian saya.

Sebenarnya banyak penulis telah melakukan hal yang sama. Mereka biasa menulis sebuah cerita dengan latar budaya yang berbeda. Dan nyaris tak terendus unsur tempelan di dalam setting yang mereka bangun. Apa rahasianya? Berikut saya bagikan sedikit tipsnya.

Pertama

Jika kita berangkat dari tema yang umum dan ingin memasukkan tema tersebut ke dalam unsur budaya maka pastikan temanya tidak mustahil berada di lingkaran budaya tersebut. Misalnya temanya tentang seseorang yang dijodohkan dengan sepupunya, maka jika dimasukkan ke dalam unsur budaya Minang maka tema tersebut bisa diangkat sebagai budaya ‘pulang ka bako‘ yang memang cukup populer di daerah Minang. Artinya tema ini cocok.

Kedua

Jika kita berangkat dari unsur budayanya terlebih dahulu, maka pastikan ada sesuatu yang menarik dari budaya tersebut untuk kita pilih sebagai tema cerita. Sejatinya sih setiap budaya pasti ada keunikan yang menarik untuk diangkat, tinggal bagaimana kreatifitas kita dalam memilihnya. Ketika kita sudah menemukan sesuatu yang unik dan menarik maka kembangkan menuju konflik yang (sebisa mungkin) tetap berkaitan dengan budaya daerah tersebut dan pastikan itu terbangun hingga ending cerita. Jangan seperti sinetron yang uniknya hanya di opening, selanjutnya sangat umum, konfliknya tak lepas dari perebutan kekasih, perebutan harta dan…amnesia hehehe…

Ketiga

Pelajari lebih detail tentang bahasa, cara berpakaian, pemakaian nama dan jenis makanan misalnya yang akan tervisualkan lewat tokoh yang memerankan. Penggunaan bahasa daerah dalam porsi yang wajar akan sangat membantu terbangunnya setting yang kuat. Ingat, porsi yang wajar, jangan berlebihan karena akan membuat pembaca jadi mumet. Logika pembaca akan sangat terbantu untuk memasuki jalan cerita dengan adanya unsur bahasa, cara berpakaian, pemakaian nama, bahkan jenis makanan sekalipun.

Keempat

Carilah rujukan sebanyak mungkin, jangan hanya mengandalkan satu sumber referensi. Kumpulkan buku-buku terkait, bahkan jika perlu lakukan diskusi dengan penduduk di daerah tersebut. Carilah teman sebanyak mungkin dari daerah yang bersangkutan agar kita punya banyak sumber referensi. Minimalisirlah kejanggalan, ketidakwajaran dan kelemahan dalam cerita yang kita buat dengan meminta pendapat mereka.

Kelima

Menulis sambil mendengar musik daerah. Ini sih tidak begitu penting namun bisa membantu kita dalam menulis. Saya sangat terbantu merasakan suasana dan budaya melayu saat menulis cerpen Lancang Kuning Berlayar Petang karena sambil menulis saya mendengarkan musik-musik tradisional melayu. Ingat ya, musiknya harus sesuai dengan tema lokal yang kita buat. Jangan sampai nulisnya tentang budaya Betawi tapi musiknya Sunda hehehe…

Nah, kurang lebih itulah tips saya saat menulis fiksi berlatar budaya. Repot mungkin iya tapi hasilnya pun membuat kita bahagia karena berhasil mengenal sebuah budaya dan memvisualkannya lewat cerita. Kamu mau mencoba? (NSR)

Baca juga: Cara mulai ngeblog di WordPress

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


9 thoughts on “Menulis Fiksi Berlatar Budaya

  1. Irly

    Saya kayaknya susah banget menulis fiksi, dari dulu bikin tulisan gak pernah selesai, padahal masih yang biasa saja belum pakai latar budaya yang harus disertai “riset mendalam” 😀

    Reply
  2. Leyla hana

    Sebagai orang Kota, aku termasuk kesulitan nulis dengan setting lokal hehe.. Tapi sekarang sudah perlahan memasukkan budaya lokal, supaya lebih kaya seperti cerpen2 Uni.

    Reply
  3. Syardash

    Menambah referensi untuk membuat tulisan yang bermuatan budaya, terkadang sulit ketika latar belakang budaya, karena jika tidak sesuai maka intisari dari cerita jadi tak tersampaikan oleh pembaca, tanks for a lot of

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *