Menutup Akses Dari Berita Kejamnya Peperangan?

Berita kejamnya peperangan

Susah ya menghindar dari berita-berita mengerikan.  Berita kejamnya peperangan. Takut dan paranoid jadinya. Apalagi jika itu menyangkut masa depan anak-anak kita. Saya tahu, banyak ibu-ibu yang benci membaca postingan-postingan mengerikan tentang dunia luar. Ada yang karena gak tega melihatnya, ada juga yang menganggap itu hoax.

Maka gelombang penolakan terhadap postingan korban peperangan bermunculan. Ya, bisa dimaklumi karena sebagian besar foto-foto itu adalah foto anak-anak yang sangat membuat hati teriris melihatnya. Saya sendiri kalau melihat foto bayi dan anak-anak korban peperangan selalu merasa lemas, lutut goyah dan selera makan hilang. Tapi yakinlah, itu pertanda kita masih punya rasa simpati dan empati, masih punya nurani. Jadi tak perlu menghindari banget menurut saya. Lucunya, ada segelintir kaum bapak yang juga paranoid melihatnya. Hmmm, gak perlu menutup medsos kan? 🙂
 

Belajarlah Melawan Rasa Takut!

Nah, saran saya sih, mending belajar melawan rasa takut. Karena mau ngumpet kemanapun, realita tetaplah akan bicara. Kita menutup akses, mengunci diri dalam kamar kedap sekalipun, jika memang perang akan berkobar maka tetap saja kita akan jadi bagian di dalamnya. Sikap menutup akses inilah yang sering dipilih oleh ibu-ibu (termasuk saya) demi tetap bisa menjalani hidup dengan hepi dan tanpa rasa parno.

Namun sodara-sodara, setelah saya pikir lebih dalam, sikap ini justru tidak bagus. Ini sikap yang tidak realistis sebenarnya. Egois pada akhirnya. Sikap menutup akses akan membuat kita kehilangan waktu untuk bersiaga karena kita menganggap keadaan baik-baik saja. Padahal jika kita dari awal siaga, kita mungkin malah bisa mencegahnya. Bersama kita pasti bisa, demikian motto di training-training motivasi. Kita harus sadar, bahwa hidup tak selalu hepi-hepi. Ada kalanya hidup harus realistis meskipun berhadapan dengan kemungkinan terburuk.

(Foto asli: independent.co.uk)

Ibu-ibu yang memiliki anak (termasuk saya tentunya) memiliki kekhawatiran luar biasa akan keselamatan anak-anaknya. Terbayang bagaimana di sebuah negara yang terjadi peperangan, anak-anak dan kaum lansia dibunuh tanpa perikemanusiaan. Dimana kaum wanita muda dijadikan pelampiasan nafsu bejat para tentaranya hingga terpaksa melahirkan di kamar-kamar penjara. Ini realita, fakta. Jika tak percaya, maka mulailah rajin membaca berita yang sumbernya terpercaya. Bukan sumber yang memang sengaja memutarbalikkan fakta.

Wanita dan Anak-anak Jadi Sasaran Kebiadaban

Ya, kaum wanita dan anak-anak memang sering jadi sasaran dan korban dalam peperangan, karena mereka makhluk yang dianggap lemah dan penakut. Tak hanya jadi korban pembunuhan, mereka seringkali jadi korban pelampiasan nafsu hewani. Bahkan yang lebih keji, para gadis muda ini diperkosa di depan orang tuanya. Siapakah yang sanggup menyaksikannya? Sangat wajar jika akhirnya para suami dan para ayah meminta fatwa halal membunuh anak dan istri mereka dari pada orang yang mereka cintai hidup dalam penderitaan tak terperi. Perkosaan itu sendiri dilakukan secara brutal, sesuai kehendak nafsu hewani. Sungguh tak berperikemanusiaan.

Ini bukan dongeng tentunya. Ini adalah fakta yang ingin sekali kita tolak kebenarannya. Banyak sudah para jurnalis yang memberitakan kekejian dalam sebuah peperangan, apalagi perang memusnahkan sebuah agama tapi dibungkus sebagai perang biasa. Kita ingin  mengatakan ini hoax. Kalau pun benar, kita tak mau mendengarnya. Kita maunya hidup normal, hidup tanpa beban kekhawatiran berlebihan. Kita maunya Indonesia baik-baik saja. Everything is ok.

Hmmm, mungkin postingan saya ini terkesan lebay. Tapi ketahuilah, seringkali musibah besar itu datang saat kita luput atau lalai, alias saat kita tidak siap dan tidak sadar akan kedatangannya. Jika mau membuka mata dan wawasan, banyak sekali contoh di luar sana, negeri yang tadinya aman sentosa, tiba-tiba dalam waktu singkat berubah jadi neraka dunia. Seolah-olah ada yang mendesainnya sedemikian rupa. Kehausan akan harta dan kuasa serta sentimen agama adalah sesuatu yang tak bisa dinafikan sebagai pemicunya. Dan itu ada hingga hari ini. Kita kadang terlalu lugu memaknai bisik-bisik tetangga sehingga tak sadar bahaya sudah mengancam di depan mata. Belajarlah peka.

Makanya saya sarankan, sebaiknya kita belajar melawan rasa takut. Bungkam rasa paranoid yang berlebihan itu. Karena Indonesia tidak akan pernah merdeka jika modalnya adalah rasa takut atau menutup akses dari kenyataan. Indonesia juga tidak akan selalu baik-baik saja kalau kita tak berusaha menjaga eksistensinya. Saya tidak bicara tentang politik. Ini soal masa depan kita, masa depan bangsa kita, masa depan anak-anak kita. Sekali lagi, masa depan anak-anak kita! (NSR)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


3 thoughts on “Menutup Akses Dari Berita Kejamnya Peperangan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *