Muslimah Trip Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya (2)

Perjalanan saya bersama teman-teman Muslimah di hari kedua adalah mengelilingi bandar Kuala Lumpur. Namun sebelum menuju pusat  Kuala Lumpur rombongan MozTrip singgah dulu ke Batu Cave, lokasi wisata yang kental nuansa Hindu Tamil. Ada sebuah patung besar berwarna emas setinggi 42 meter berdiri di kaki tangga menuju goa. Tentu tak ada niat untuk ikut menyebarkan syiar agama Hindu dengan mengunjungi lokasi ini sebab sebagai Muslimah kami sadar ini bukanlah tempat yang tepat untuk dikunjungi, kecuali cukup sebagai penjawab rasa ingin tahu saja karena tempat ini sudah menjadi salah satu kawasan wisata terkenal di Malaysia.

Tak berlama-lama di Batu Cave, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Kuala Lumpur yang merupakan destinasi utama dari rangkaian perjalanan ini. Sebagai ibukota negara, Kuala Lumpur tergolong seru dan nyaman untuk dijadikan destinasi wisata. Pertama kami menuju Lapangan Merdeka yang dipenuhi bangunan megah ala Eropa. Yang menarik di tengah bangunan-bangunan tersebut terdapat sebuah perpustakaan kanak-kanak. Saya langsung berpikir, alngkah serunya mengajak anak-anak ke sana.

Kuala Lumpur, Dulu dan Kini

Sejarah modern Kuala Lumpur dimulai pada tahun 1850-an, ketika Raja Abdullah membayar buruh Cina untuk membuka tambang timah yang baru dan lebih besar. Mereka tiba di muara Sungai Gombak dan Sungai Klang untuk membuka tambang di Ampang. Tambang-tambang ini berkembang menjadi kawasan perdagangan yang semakin diterima sebagai kota perbatasan. Di penghujung abad ke-19, Mohamed Taib bin Haji Abdul Samad seorang saudagar Melayu asal Minangkabau, membuka kawasan Chow Kit dan Kampung Bahru sebagai kawasan permukiman masyarakat Melayu.

Pada tahun 1880, ibukota Selangor dipindah dari Klang ke Kuala Lumpur yang jauh lebih strategis. Pada tahun 1881, kebakaran dan banjir menghancurkan struktur kayu dan atap Kuala Lumpur. Residen Inggris di Selangor, Frank Swettenham, bertindak dengan mewajibkan semua bangunan dibangun dari batu bata dan ubin saja. Berbagai komunitas datang menetap di Kuala Lumpur. Kaum Cina menetap di sekitar pusat perdagangan Medan Pasar di sebelah timur Sungai Klang. Orang Melayu dan India Muslim menetap di sepanjang Java Street (kini Jalan Tun Perak). Lapangan yang kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka, merupakan pusat kantor pemerintahan Inggris.

Pada masa Perang Dunia Kedua, Kuala Lumpur dikuasai oleh tentara Jepang dari tahun 1942 hingga tahun 1945. Pada tahun 1957, Federasi Malaya berhasil meraih kemerdekaan dari Britania Raya, dan Kuala Lumpur dipilih menjadi ibukota. Setelah pembentukan Malaysia pada tahun 1963, kota ini juga dipilih sebagai ibukota negara. Kota ini menjadi saksi dari kerusuhan etnis yang meletus antara orang Melayu dengan orang Cina pada tanggal tahun 1969. Kerusuhan ini disebabkan oleh ketidakpuasan orang Melayu terhadap keadaan sosio-politik mereka saat itu. Kerusuhan ini menewaskan sekitar 196 jiwa, dan memicu perubahan kebijakan ekonomi negara.

Sama seperti di Jakarta, pada tahun 1998, sebuah gerakan politik yang dikenal sebagai “reformasi” berlangsung di kota ini. Gerakan ini disebabkan oleh pemecatan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Pendukung Anwar turun ke jalan dan meminta reformasi di tubuh pemerintahan. Sementara di Indonesia reformasi terjadi untuk menurunkan Presiden Soeharto dari pucuk pimpinan setelah berkuasa selama 30 tahun. Kemudian Putrajaya dinyatakan sebagai Wilayah Persekutuan dan pusat pemerintahan Malaysia pada tanggal tahun 2001. Fungsi-fungsi eksekutif dan yudikatif dipindah dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Namun, Parlemen Malaysia dan kediaman resmi yang di-Pertuan Agong masih berada di Kuala Lumpur.

Nah di kota inilah saya bersama rombongan  Moztrip menghabiskan hari kedua. Dari Lapangan Merdeka kami mencoba transportasi umum yang terkenal di sana yaitu LRT, Monorail dan MRT menuju Sungai Wang dan makan siang di sana sekaligus shalat Zuhur jamak Ashar. Setelah itu kami mengelilingi Pasar Seni, pusat oleh-oleh yang cukup besar di Kuala Lumpur. Oya, di sinilah saya bersama seorang teman sempat ‘kalap’ karena menemukan toko khusus produk Upin Ipin dan Boboiboy yang terkenal dengan film animasinya. Tentu saja barang yang dijual original semua. Jadilah saya membeli celengan Upin Ipin yang tahan banting untuk dua putri kecil saya di rumah.

Dari Pasar Seni, kami menuju Menara Kembar (Twin Tower) dan duduk-dudk santai menunggu waktu malam. Konon menara ini sangat indah di waktu malam. Teman-teman pun asyik berkeliling taman, berfoto-foto dan beristirahat. Seperti menunggu matahari terbenam di tepi laut, kami pun menyaksikan matahari pelan-pelan hilang di balik menara kembar. Lalu satu persatu lampu pun menyala. Seiring itu kumandnag adzan Magrib pun menggema. Setelah berfoto sejenak, kami pun beranjak meninggalkan area Menara Kembar dan melanjutkan perjalanan pulang menuju homestay dan mampir sebentar di sebuah restoran untuk membeli makan malam.

Putrajaya, Sebuah Contoh Pusat Pemerintahan Moderen

Hari terakhir saya dan teman-teman di Malaysia tak kalah berkesan. Kami menuju Putrajaya, wilayah pusat pemerintahan Malaysia. Putrajaya adalah pusat administrasi Malaysia yang baru, menggantikan posisi Kuala Lumpur. Didirikan pada 19 Oktober 1995, namanya diambil dari nama Perdana Menteri Malaysia yang pertama, Tunku Abdul Rahman Putra dan juga menjadi wilayah persekutuan Malaysia yang ketiga, wilayah lainnya adalah Kuala Lumpur dan Labuan. Wilayah Putrajaya sekarang ini diambil dari Selangor sebesar 46 km² sehingga membuat Selangor memiliki dua buah wilayah persekutuan dalam batas-batasnya yaitu Kuala Lumpur dan Putrajaya. Kota ini terhubung dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA1 dan KLIA2) serta Kuala Lumpur dengan KLIA Transit.

Sumpah, wilayah ini membuat saya berdecak kagum, begitu rapi, teratur dan tentu saja jauh dari macet. Kami pun shalat Zuhur jamak Ashar di Masjid Putra yang dikunjungi banyak pelancong dari berbagai negara.Uniknya, di sini sudah disediakan baju jubah merah dengan kupluk (tutup kepala) bagi para pelancong yang tidak mengenakan busana muslim. Mereka nampak senang mengenakan jubah tersebut.

Kami makan siang di restoran yang terletak di bagian bawah masjid Putra. Karena harus mempersiapkan kepulangan ke Jakarta, maka habis Zuhur kami berangkat menuju KLIA2. Kami diantar oleh salah satu travel guide kami masuk ke dalam bandara (karena travel guide yang satu lagi harus segera balik ke Kuala Lumpur) untuk melakukan check in. Di sini kami pun berpisah dengan hati penuh kesan dan harapan kelak bisa kembali ke sini untuk trip-trip yang lebih seru. Untuk trip di Melaka dan Negeri Sembilan bisa dibaca di Muslimah Trip Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya.

Salam MozTrip!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di PT. Khalifa International Business, juga relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *