Muslimah Trip Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya (1)

Akhirnya setelah menunggu beberapa bulan, perjalanan saya bersama teman-teman Muslimah terwujud juga untuk mengunjungi negeri jiran Malaysia. Di bawah bendera MozTrip maka program Muslimah Trip yang digagas oleh komunitas Blogger Muslimah Indonesia ini berhasil merekam jejak melintasi empat provinsi yaitu Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya. Mendarat di KLIA2 pada waktu Subuh memang sudah direncanakan agar pagi itu rombongan bisa langsung menuju Melaka yang memakan jarak tempuh sekitar 2 jam.

Melaka yang Penuh Sejarah

Disambut oleh dua orang Muslimah yang bertugas sebagai travel guide kita, maka perjalanan menuju Melaka dimulai setelah shalat Subuh. Mengendarai dua mobil maka kami pun menuju Melaka dengan happy meskipun badan cukup lelah karena kurang tidur dan panjanganya proses pemeriksaan di bandara. Sampai di Melaka matahari belum terlihat karena cuaca agak mendung.

Pertama kami mengitari bangunan serba merah yang dikenal dengan nama Bangunan Stadhuys yang berwarna serba merah dan dilengkapi sebuah menara jam. Stadthuys  terletak bersebelahan dengan Gereja Christ di Jalan Laksamana, Melaka. Bangunan ini didirikan pada tahun 1650 sebagai kediaman resmi Gubernur Belanda di mana struktur bangunan ini melambangkan seni rekabentuk Belanda yang halus. Di dekat bangunan ini terdapat Bukit St. Paul yang pada bagian puncaknya masih terdapat sisa-sisa reruntuhan Gereja St. Paul sebagai peninggalan penjajahan Belanda dan Inggris.

Melaka sendiri merupakan daerah bersejarah bagi malaysia. Pada tahun 1641, Belanda menaklukkan Melaka dengan mengalahkan Portugis melalui bantuan Sultan Johor. Walau bagaimanapun, pihak Belanda tidak berminat menjadikan Melaka sebagai sebuah pusat perdagangan di antara Timur dan Barat tetapi mereka lebih mementingkan pembangunan Batavia (Jakarta) di Indonesia sebagai pusat pemerintahan mereka. Lalu Melaka diserahkan kepada Inggris. Jadi bisa dibilang Malaysia dan Indoensia yang dulu bersatu kemudian dipecah oleh Belanda dan Inggris sebagai daerah kekuasaan mereka.

Perpecahan itu terus mereka tanamkan sampai ke anak cucu, hingga sampai detik inipun kita sebagai orang Indonesia masih merasakan kesenjangan dengan Malaysia dan memang itulah yang diinginkan pihak penjajah. Sebab jika Malaysia dan Indonesia yang mayoritas Muslim bersatu padu maka akan muncul sebuah kekuatan besar di Asia Tenggara. Maka membaginya menjadi wilayah-wilayah kecil yang saling bertikai merupakan strategi untuk meredam kekuatan itu. Dan memang begitulah praktik pecah belah terhadap Islam sejak dulu hingga sekarang.

Kerajaan Melaka sendiri dikenal pada mula pemerintahan Parameswara yang merupakan putra Kerajaan Palembang yang diserang oleh Majapahit dan melarikan diri ke Singapura sebelum akhirnya mendirikan kerajaan di Melaka. Parameswara kemudian menikah dengan Putri Pasai (Aceh). Saat itu hubungan diplomatik antara Melaka dan China juga terbangun dengan baik, terbukti dengan menguatnya hubungan dagang yang dilakukan oleh Parameswara dengan Laksamana Cheng Ho yang kemudian melakukan pelayaran besar-besaran bersama ratusan pembesarnya menuju China. Kurang lebih begitulah sedikit sejarah Melaka di zaman dahulu.

Saya bersama rombongan MozTrip kemudian menyempatkan berkeliling kota Melaka, menyusuri Sungai Melaka dengan menumpangi perahu motor. Dalam perahu bermuatan sekitar 20 orang tersebut kami mendengar penjelasan dari awak perahu tentang sejarah tempat-tempat sepanjang aliran Sungai Melaka yang dilewati oleh perahu kami. Selesai berkeliling selama kurang lebih 45 menit, kami melanjutkan makan siang dan shalat Zuhur di Masjid Selat Melaka. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pulau Besar. Sayangnya air laut sedang surut sehingga kami gagal menuju Pulau Besar yang sarat dengan sejarah Islam. Baiklah, tidak mengapa, mudah-mudahan di lain kesempatan bisa ke sana. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Negeri Sembilan.

Negeri Sembilan, Kerajaan Minangkabau di Malaysia

Inilah salah satu yang menarik dari Malaysia. Negeri Sembilan, salah satu dari 13 provinsi yang ada di sana sangat identik dengan Indonesia. Yaitu sama-sama memiliki suku Minangkabau, selain suku Jawa di Kampung Jawa tentunya. Nama Negeri Sembilan pertama digunakan pada abad ke-16 merujuk pada persekutuan negeri-negeri yang telah dibuka oleh orang Minangkabau di Semenanjung Tanah Melayu yaitu Segamat yang kini menjadi bagian dari Johor, Naning yang kini menjadi sebahagian dari Melaka, Rembau, Sungai Ujong, Johol, Jelebu dan Jelai yang kini adalah bagaian dari Negeri Sembilan, Hulu Pahang yang kini jadi bagian dari Pahang, dan Kelang yang kini jadi bagian dari Selangor.

Asal pendirian Negeri Sembilan adalah oleh Datok Pepatih Nan Sebatang. Beliau juga merupakan dasar dari adat pepatih yang sangat dikenal luas. Seperti yang diketahui umum, adat pepatih lebih mementingkan kaum wanita daripada lelaki. Pada dasarnya, adat ini adalah adat yang terbaik yang didapat Negeri Melayu dari sistem masyarakat Minangkabau karena ia sangat memenuhi segala aspek. Keutamaan wanita di dalam adat pepatih sebenarnya lebih kepada mewarisi harta pusaka dan membawa darah keturunan. Berbeda dengan kesultanan Melayu di Malaysia pada umumnya, harta dan darah keturunan diwarisi oleh kaum lelaki. Menurut adat pepatih, wanita yang mengandung dan melahirkan anak maka wanita lah yang membawa darah keturunan kepada pewaris yaitu anaknya.

Dari segi harta pula, hanya harta pusaka yaitu termasuk tanah dan rumah induk diwarisi oleh wanita. Ini bertujuan agar kaum wanita tidak terabai seandainya dicerai oleh suami. Namun demikian harta sepencarian (gono-gini) adalah milik bersama dan dibagi mengikut hukum Islam. Hasil positif dari pelaksanaan adat pepatih ini, harta pusaka tidak tergadai karena tidak boleh dijual.

Negeri Melayu lain berpegang pada adat temenggong yang diwarisi dari Datok Temenggong. Tetapi Datok Perpatih dan Datok Temenggong adalah dua bersaudara di Sumatera dan terus berkembang di Malaysia. Kesultanan Melaka pada abad ke-15 menjadikan adat temenggong menjadi dominan di wilayah Melayu. Raja Melaka memberi perlindungan kepada pendatang dari Minangkabau untuk menetap di Naning. Setelah Portugis menguasai Melaka, perlindungan itu dilanjutkan oleh Kesultanan Johor sebagai pewaris Kesultanan Melaka. Begitulah kurang lebih sejarah Negeri Sembilan yang sangat kenal dengan bahasa dan budaya Minangkabau.

Sepulang dari Negeri Sembilan kami pun melanjutkan perjalanan menuju penginapan di daerah Kajang. Kami sempat singgah dulu di sebuah pasar malam untuk makan malam dan memilih menu sesuai selera masing-masing. Sampai di penginapan sekitar pukul 23.00, cukup larut dan melelahkan. Oya, kami menginap di sebuah homestay milik orang Indonesia.

Besok kami harus bersiap dengan pengalaman baru menjelajahi Kuala Lumpur, simak ceritanya di artikel Muslimah Trip Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya (2).

Salam MozTrip!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


2 thoughts on “Muslimah Trip Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur dan Putrajaya (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *