Nasruddin dan Seorang Filsuf

Nasruddin & Pencuri (2)Seorang filsuf dan moralitas terkenal singgah di kota tempat Nashruddin tinggal. Filsuf itu telah banyak mendengar tentang kebijaksanaan Nashruddin. Dia pun bermaksud untuk mengujinya. Untuk itu dia mengundang Nashruddin makan di sebuah restoran. Setelah memesan makanan mereka pun mulai berdiskusi.

Tak lama kemudian pelayan datang menghidangkan dua ekor ikan bakar. Salah satu ikan itu berukuran sangat besar dibanding ikan lainnya.

Tanpa ragu-ragu Nashruddin mengambil ikan yang besar. Sang filsuf mengerutkan kening tak percaya. Beginikah orang yang terkenal bijaksana?

Kemudian sang filsuf mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nashruddin itu adalah suatu hal yang hina dan egois, bertentangan dengan prinsip-prinsip moral, etika dan kebijaksanaan. Nashruddin mendengarkan khotbah sang filsuf yang panjang lebar itu sampai selesai.

“Kalau begitu apa yang seharusnya saya lakukan, Tuan?” tanya Nashruddin.

“Saya, sebagai orang yang bijak, tidak akan mementingkan diri sendiri dan tentu akan mengambil ikan yang lebih kecil untuk diri saya,” jawab sang filsuf.

“Silakan kalau begitu. Berarti tidak ada masalah bukan? Semuanya sudah sesuai dengan yang Tuan katakan. Ini, ambillah ikan kecilnya!” kata Nashruddin sambil menyodorkan ikan yang kecil pada sang filsuf, lalu melanjutkan makannya dengan tenang. (V)

Judul: Nasruddin dan seorang Filsuf

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


3 thoughts on “Nasruddin dan Seorang Filsuf

  1. Hani S

    hehe.. humor namun bermakna, semacam warning utk selalu apa adanya, tidak menjadi pribadi munafik. Cerita pendek tapi punchline-nya kena banget ya mba :))

    Salam silaturahmi Mba, ini perdana saya berkunjung kesini 🙂

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *