Negeri Orang-orang Berani

NegeriPedalaman Afrika di penghujung musim kemarau…

Hari itu lapangan nampak penuh sesak oleh penduduk yang ingin menyaksikan pertandingan gulat terbesar di sepanjang sejarah bangsa Ibo. Para peserta yang ikut bertanding ada sembilan orang terkuat yang diundang dari sembilan kampung di Ibo. Dan lapangan yang dipilih adalah lapangan di kampung Mbaino, sebab Mbaino memiliki lapangan paling luas.

Wanita-wanita muda nampak menyesak di keempat pojok lapangan. Rok dari rafia panggang menutupi sampai ke lutut mereka. Dan di pinggang mereka nampak berjuntaian jigida berwarna-warni, juga di leher dan pergelangan kaki. Rambut mereka yang panjang keriting sebagian dibiarkan tergerai dan sebagian lagi dijalin dengan tali berwarna-warni.

Di salah satu sisi lapangan duduk pemuda-pemuda belia, asyik menabuh ogene dengan keras. Dan di sisi satunya lagi terdengar suara udu yang dipukul tak kalah keras oleh laki-laki dewasa. Mereka seperti berlomba memekakkan telinga para pengunjung yang hadir di lapangan. Matahari yang kini mulai meninggalkan titik zenith merupakan isyarat pertandingan akan segera dimulai. Keringat pun telah mengucur di tubuh-tubuh legam mereka yang dipenuhi coretan-coretan arang dan uli. Rok tali rafia yang mereka pakai nampak berombak-ombak saat mereka melompat-lompat mengikuti suara ogene dan udu.

Kini telah hadir tujuh orang pegulat dari masing-masing kampung. Termasuk Nowiye, pegulat Mbaino yang sangat berambisi untuk jadi pemenang setelah tahun lalu dikalahkan oleh Abane, pegulat asal Umoria. Apalagi ini adalah pertandingan gulat terbesar yang pernah diadakan. Dan kini yang belum hadir adalah pegulat dari Umoria dan Qoryata.

Pegulat Umoria yang bernama Abane itu adalah pegulat yang tahun lalu memenangkan pertandingan dan merebut gelar orang terkuat di Ibo. Sementara Qoryata sudah lama tidak ikut dalam pertandingan gulat antar kampung. Sebab setelah orang-orang Qoryata meninggalkan keyakinan terhadap para dewa dan roh-roh keramat, mereka dikucilkan dari segala urusan.

Namun untuk pertandingan kali ini mereka diundang karena Agbala atau Juru Ramal Ibo sendiri yang menyuruhnya. Dan di Ibo tak seorang pun yang berani menentang perkataan wanita tua bernama Aknefi itu. Sebenarnya Aknefi adalah manusia biasa seperti perempuan-perempuan yang lain, tapi ketika ia menjelma jadi Juru Ramal, wanita tua itu dirasuki oleh roh Dewa Bumi.

Suara ogene dan udu terdengar kian keras ketika dari arah Utara muncul sesosok tubuh tinggi hitam dengan hidung besar dan rambut keriting seperti khasnya orang-orang Afrika. Kalung dari gigi-gigi beruang nampak menghiasi lehernya. Tubuh besar itu tak lain adalah milik Abane, pegulat tersohor dari kampung Umoria yang sejak tadi ditunggu-tunggu.

“Abane kwenu!”
“Yaaa..!”
“Abane kwenu!”
“Yaaa..!”
“Umoria kwenu!”
“Yaaa..!”

Teriakan-teriakan pendukung Abane terdengar bersahutan mengelilingi tubuhnya diiringi tari-tarian khas Ibo.

Tidak lama setelah itu, muncul pula pegulat terakhir dari Qoryata, namanya Zaidani. Ia datang bersama beberapa orang lelaki dengan pakaian yang membuat orang-orang langsung mencibir. Mereka memakai baju yang melewati lutut dengan sebuah ikatan di pinggang mereka. Lalu kepala mereka juga diikat dengan selembar kain yang menggelung dan dianggap lucu oleh orang-orang yang hadir di lapangan.

Sebagian penonton yang berdiri di sisi lapangan nampak menyindir dengan mengibas-ngibaskan lengan mereka seperti orang kepanasan. Namun para tamu dari Qoryata tersebut sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap dan kata-kata saudara sebangsa mereka yang masih primitif itu. Mereka tetap terlihat tenang dengan mimik wajah ramah.

Setelah mengucapkan salam pada para sesepuh yang duduk di garis depan, mereka mengambil tempat di sisi lapangan.

“Lihat, musuh-musuh Dewa itu tidak merasa bersalah sama sekali menginjakkan kaki mereka di tanah yang dikuasai para Dewa ini,” celetuk salah seorang dari penonton perempuan.

Matahari mulai miring ke Barat. Mereka pun mulai tidak sabar menunggu pertandingan dimulai. Dan yang paling mereka inginkan adalah melihat pegulat dari Qoryata itu terguling di tengah lapangan. Lihat, tubuhnya saja tidak begitu besar dan tampangnya juga tidak terkesan garang.

“Apakah orang Qoryata itu punya tenaga untuk melawan?”
“Kurasa dia lebih cocok jadi pengupas ubi saja.”

Celetukan-celetukan sumbang masih saja terdengar ketika pertandingan sudah dibuka oleh seorang lelaki gemuk, diselingi cekikikan bernada mengejek.

Kini sinar matahari kian meredup. Pertandingan pun sudah berlangsung cukup lama. Kini pertandingan itu mulai memasuki tahap akhir, yaitu tahap diadunya dua pegulat terkuat. Dan dari dua pegulat itu akan dipilih satu orang pemenang untuk dinobatkan sebagai orang terkuat di Ibo.
Penonton berteriak histeris ketika mengetahui siapa dua orang yang terpilih untuk memperebutkan gelar orang terkuat itu. Mereka adalah Nowiye dari Mbaino dan Zaidani dari Qoryata. Mereka benar-benar sulit percaya tubuh berukuran sedang milik Zaidani itu bisa menumbangkan lawan-lawannya yang kekar, termasuk Abane, pegulat dari Umoria.

Genderang kian menggila dan para sesepuh yang duduk di garis depan nampak menggoyang-goyangkan kepala dan kaki mereka mengikuti irama gendang. Mereka seakan melihat sosok diri mereka ketika muda, saat masih jadi pegulat di zaman dulu.

Nowiye maju ke tengah lapangan dengan penuh percaya diri. Semua orang tahu lelaki itu paling benci melihat orang-orang Qoryata. Dia selalu terdengar memaki-maki sesuatu dan mengait-ngaitkannya dengan Qoryata. Dia juga menganggap setiap kesialan yang menimpa penduduk Mbaino adalah akibat kutukan Dewa terhadap orang-orang Qoryata, sebab kampung mereka sangat berdekatan.

Tubuh Nowiye yang tinggi besar itu nampak tidak seimbang dengan Zaidani. Namun siapa sangka, Zaidani ternyata juga memiliki kelihaian yang luar biasa. Mereka melihat sendiri ketika tadi Zaidani menggulingkan lawan-lawannya dengan cepat. Padahal sejak awal mereka sudah mengira bahwa baju yang dipakai pemuda itu akan membuat gerakannya jadi kaku.

Nowiye menyipitkan matanya. Zaidani mulai terlihat kecil di matanya dan ia sudah tidak sabar ingin mematahkan tulang leher pemuda itu. Angin di Mbaino bertiup sepoi menjemput datangnya sore ketika orang-orang dengan mata tak percaya melihat kaki Zaidani mengait kaki Nowiye dan dengan gerakan yang sangat cepat tubuh Nowiye terhempas di tanah. Tertelentang dengan kepala pening.

Para penonton nampak histeris, berkaok-kaok menyengat gendang telinga. Tubuh-tubuh mereka merangsek ke depan membuat dua orang pemuda penjaga garis terpaksa bolak-balik di depan mereka sembari mengayun-ayunkan daun palem untuk menghalau mereka ke pinggir.

Dan ketika lelaki gemuk yang tadi membuka pertandingan masuk ke tengah lapangan seraya mengangkat tangan kiri Zaidani, maka mereka pun sadar, bahwa pemuda dari Qoryata itulah yang kini memegang gelar orang terkuat di Ibo. Tepuk tangan dan jeritan melengking sebagai tanda ucapan selamat menggema riuh. Orang-orang itu sesaat lupa bahwa Zaidani adalah orang Qoryata, orang yang telah mereka musuhi selama bertahun-tahun.

@@@

Orang-orang di Mbaino mulai sibuk membersihkan semak-semak untuk membuka ladang baru. Namun seorang lelaki yang tengah duduk berteduh di bawah pohon murbei nampak tak bergairah melakukan hal yang sama. Ia lebih suka melihat anak lelakinya membersihkan sendiri semak-semak itu dan membakarnya di tengah ladang yang panas. Dialah Nowiye, pegulat Mbaino yang tempo hari dikalahkan oleh pemuda dari Qoryata.

Burung-burung rajawali dan nza mulai berdatangan, meliuk-liuk di angkasa mengelilingi kepulan asap unggun yang membubung ke langit. Sebentar lagi musim hujan akan tiba. Dan para penduduk harus secepatnya menyiapkan benih-benih ubi untuk ditanami sebelum musim hujan datang. Sulur-sulur ubi yang masih muda harus dilindungi dari sengatan matahari dengan melingkarkan daun sisal di atasnya. Dan jika musim hujan tiba ubi-ubi itu harus pula dilindungi dari curahan hujan dengan cara memancangkan kayu-kayu di sekitarnya.

Memikirkan pekerjaan berat itu kepala Nowiye terasa kian pusing.

“Hei, Ayah jangan pergi! Bantu aku dulu! Pekerjaanku masih banyak! Ayah mau melakukan apa?” teriak anaknya nyaring ketika melihat Nowiye berjalan menjauhi ladang mereka.

“Aku mau mencekik lehermu kalau kau masih saja mengurusi urusan orang dewasa!” jawab Nowiye galak. Namun ia tak menghentikan langkahnya yang nampak gontai. Saat itu Nowiye sedang masgul. Hatinya sakit sekali atas kekalahannya tempo hari. Ia sudah hampir merebut gelar orang terkuat kalau saja kesialan tidak menimpanya.

Celakanya lagi, ia dikalahkan oleh pemuda dari Qoryata! Kampung yang sangat dibencinya karena sikap penduduknya yang ia anggap terlalu sok hebat itu. Orang-orang yang telah mengkhianati para dewa dan membual tentang tuhan mereka yang maha ini dan maha itu. Cuih! Nowiye meludah geram.

Ia melangkah masuk ke dalam obi-nya. Diambilnya tanduk tempat minumnya dan sekali teguk saja isi tanduk itupun tandas.

“Keparat! Kenapa isinya sedikit sekali?!” makinya geram. Ia melempar tanduk itu ke pojok obi. Lalu dengan kasar menghempaskankan tubuh di atas tempat tidur bambunya. Suara deritan bambu itu membuatnya kian jengkel.

“Bedebah! Tidak tahu menghargai tuanmu, ya!!” makinya lagi marah. Dan begitulah Nowiye selama berminggu-minggu. Termenung, marah-marah dan malas melakukan apa saja. Hingga suatu hari di awal musim hujan…

Agbala do-o-o-o! Agbala do-o-o-o!”

Di luar terdengar suara hiruk pikuk. Meski sedang marah, Nowiye mencoba mengintip lewat celah dinding. Nampak Juru Ramal Ibo meneriakkan salam seraya menari-nari dengan gerakan aneh. Suara yang keluar dari mulut tuanya begitu berisik, apalagi di belakangnya mengikut pula beberapa anak kecil sambil meniup seruling.

“Hei, ada apa ini? Berisik saja! Kalian sudah gila, ya?!” hardik Nowiye sambil menjulurkan lehernya di pintu obi.

“Berbicaralah yang sopan pada dewamu, wahai tubuh busuk! Sebentar lagi kampung ini akan diserang oleh orang-orang Umoria, dan mereka akan memancung nyawamu di ujung parang mereka! Agbala do-o-o-o!” balas Agbala dengan suara keras.

Nowiye tertegun di tempatnya. Orang-orang Umoria akan menyerang kampung ini? Berarti perang lagi? Rupanya orang-orang Umoria keparat itu masih belum berniat menghentikan kebiasaan buruk mereka. Huh!

Secepat kilat Nowiye turun dan berlari ke arah pasar. Ia mendahului Juru Ramal, memberitahu penduduk kampung bahwa bahaya sedang di depan hidung.

@@@

“Aku letakkan di mana uli ini?” tanya Obiage, istri muda Nowiye.
“Letakkan saja di sana, dan suruh Azeni ke sini untuk memakaikannya,” jawab Nowiye tegas.

Obiage bergegas keluar dari obi, memanggil Azeni, istri pertama Nowiye yang sedang merangkai jigida di dekat tangga rumah mereka. Dan memang Azeni lah yang selalu memakaikan uli itu ke tubuh Nowiye. Sebab dia sangat pandai membuat motif-motif yang indah di sekujur tubuh dan wajah Nowiye.

“Apakah uli itu akan kau pakai sekarang?” tanya Azeni sesaat setelah ia naik ke atas obi.

“Belum. Aku mau makan dulu,” jawab Nowiye sambil menyuruh Azeni duduk di sampingnya. Dan dengan lahap ia mulai mengunyah foo-foo yang telah dihidangkan Obiage sebelumnya. Azeni merasa heran melihat suaminya menikmati foo-foo sambil meminum tuak untuk makan tengah harinya kali ini.

“Kau nampak aneh hari ini. Memakan foo-foo dengan tuak. Jangan-jangan besok kau akan menelan biji kola bulat-bulat tanpa mengunyahnya,” komentar Azeni.

“Kalau apa yang kurencanakan berhasil, aku bahkan akan meminum tuak ini dengan tanduk-tanduknya,” jawab Nowiye membuat Azeni tersenyum geli. Kadang suaminya itu memang lucu disamping sifatnya yang pemarah.

Namun siapa yang menduga kalau kali ini Nowiye tidak sedang bercanda. Tadi Agbala telah meramalkan, bahwa untuk menghadapi serangan orang Umoria, mereka harus minta bantuan pada orang-orang Qoryata. Di samping kampung mereka berdekatan dengan Mbaino, orang-orang Qoryata juga terkenal pemberani seperti orang-orang Umoria. Mereka lihai dalam berperang dan pandai mengatur siasat. Karena itulah sejak dulu Qoryata disebut juga Obodo Dike yang artinya, Negeri Orang-orang berani.

Saat itulah muncul ide cemerlang di kepala Nowiye. Kesempatan itu akan dipergunakannya untuk melampiaskan dendam pribadinya pada Zaidani. Ia akan menikam pemuda itu dari belakang. Ya, itu adalah tekad Nowiye. Dan serentetan rencana mulai ia susun agar ia tidak terkesan membunuh Zaidani dengan sengaja. Apalagi sejak kejadian di lapangan tempo hari, orang-orang bisa saja mencurigainya.

@@@

Sesepuh-sesepuh Mbaino mulai melakukan negosiasi dengan pihak Qoryata. Mereka sengaja datang ke perkampungan yang dulu mereka haramkan untuk diinjak itu. Tapi karena kali ini Agbala sendiri yang menyuruhnya, maka mereka tidak perlu khawatir akan mendapat kutukan Dewa. Sebenarnya mereka dulu sangat akrab satu sama lain. Saling berkunjung dan saling membantu.

Tapi sejak orang-orang Maroko mulai berdatangan ke Qoryata dan menyihir penduduk dengan ‘mantra-mantra’ dari kitab mereka, maka hubungan itu perlahan merenggang. Orang-orang Qoryata mulai nampak aneh dan mengada-ada. Mereka sering membual dan mengatakan sesuatu yang tak bisa dipercaya. Mereka juga tidak lagi mempercayai para Dewa dan roh leluhur mereka.

@@@

Keesokan harinya, saat matahari yang tertutup mendung tebal mulai tergelincir ke Barat, suara genderang terdengar bertalu-talu dari ujung kampung. Itu bukan suara ogene atau udu, melainkan suara ekwe! Nowiye terlonjak dari duduknya. Itu adalah isyarat bahwa bahaya sedang mengancam kampung. Suara ekwe itu terdengar kian keras.

“Orang-orang Umoria sudah sampai di perbatasan. Beritahu orang-orang Qoryata! Cepat!” Suara teriakan seorang lelaki di luar obi-nya membuat Nowiye tak sabar untuk keluar. Ternyata benar. Peperangan sudah di depan mata.

Nowiye segera bergabung dengan kerumunan laki-laki yang sudah berkumpul di ilo. Sekujur tubuh dan muka mereka telah dipenuhi motif-motif tajam sebagai isyarat peperangan. Kini mereka tinggal menunggu rombongan dari Qoryata di tempat tersebut. Baru kemudian bergerak bersama-sama menghalau para penyerang dari Umoria yang hobi berperang itu. Parang dan golok panjang sudah terhunus di genggaman masing-masing.

Tidak menunggu lama, rombongan dari Qoryata itu sudah sampai di ilo. Termasuk di dalamnya Zaidani! Nowiye tersenyum kecil saat mengelus goloknya yang tajam.

Lalu mereka secara serentak berjalan menuju perbatasan kampung, dimana orang-orang Umoria telah menunggu dengan penuh nafsu. Mereka akan menghadapi musuh bebuyutan itu dengan berani. Kuping Nowiye menangkap suara-suara setengah berbisik yang keluar dari mulut orang-orang Qoryata itu. “Allahu Akbar! Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah!”

Itu pasti mantra peperangan mereka, bisik hati Nowiye sinis.

@@@

Serbuan orang-orang Umoria sangat luar biasa. Begitu melihat orang-orang Mbaino datang, pekikan maut mereka langsung mengangkasa, seakan hendak meruntuhkan langit yang mulai gelap. Terutama ketika mereka melihat orang-orang Qoryata yang berbaju aneh itu juga ikut membantu. Mendung yang menggantung di atas kepala mereka seperti Dewa Langit yang siap memuntahkan amarahnya. Golok-golok terangkat dan mulai saling beradu, menciptakan suara dentingan yang memekakkan.

Dalam suasana hiruk pikuk itulah Nowiye mencari kesempatan untuk melaksanakan niatnya. Sayang, Zaidani berada di depan, sementara musuh terlalu ramai di bagian tersebut. Dengan jantung berdentam Nowiye menunggu suasana sedikit melonggar.

Pasukan Umoria mulai terdesak. Ternyata Agbala benar, orang-orang Qoryata sangat pemberani dan tangkas di medan perang. ‘Mantra-mantra’ yang mereka ucapkan tanpa henti seperti menyedot nyali orang-orang Umoria. Nowiye terus memperhatikan dari jauh. Sumpah! Ia tak peduli dengan peperangan ini, sebab yang diincarnya sejak tadi hanyalah kepala Zaidani!

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Zaidani sedang terdesak oleh seorang pasukan Umoria. Tanpa membuang waktu lagi, Nowiye meleset ke depan. Berpura-pura hendak menyerang orang Umoria tersebut.

“Awas! Kucincang kau, Umoria terkutuk!!” pekiknya geram. Goloknya terangkat dan siap melayang ke leher Zaidani. Tapi…

“Ooouuu!!!” Nowiye menjerit kesakitan. Bukan goloknya yang menebas leher Zaidani, tapi malah golok seorang pasukan Umoria yang membabat lengan kanannya. Dan wajah Nowiye langsung pasi ketika untuk kedua kalinya golok tersebut siap menghantam mukanya. Apalagi ketika ia tahu siapa pemilik golok tersebut. Abane! Pegulat Umoria yang bertubuh besar itu.

“Allahu Akbar!” Pekikan Zaidani yang disertai tangkisan kilatnya ke arah Abane telah membuat lelaki bertubuh besar itu langsung roboh. Nowiye ternganga tak percaya melihat pegulat Umoria itu roboh dengan leher nyaris putus.

“Bangsat!! Mampus kau, Qoryata keparat!!” Seorang pasukan Umoria menerjang ke arah Zaidani secara tiba-tiba. Dan sebelum Zaidani bisa berbuat apa-apa golok pasukan Umoria itu telah menusuk rusuk kirinya. Tak puas sampai di situ, orang tersebut kembali mengayunkan goloknya tinggi-tinggi, siap memenggal kepala Zaidani. Dan dalam detik-detik yang menentukan itu Nowiye hanya diam terpaku. Hatinya bimbang untuk menolong.

Tiba-tiba sesosok tubuh mencelat menerjang orang Umoria tersebut, membuatnya terpental ke samping. Nowiye terbelalak. Itu Iweka, sahabatnya! Dan…crassh!! Secepat kilat golok Iweka menancap di perut orang tersebut. Setelah itu ia menoleh pada Nowiye dengan mata menyala.

“Nowiye!! Kenapa kau jadi tolol begitu?! Orang ini hampir saja memenggal kepala Zaidani!! Dan kau diam saja! Dasar efulefu!!” bentak Iweka marah. “Lebih baik kau di rumah saja! Merangkai jigida untuk istrimu!!” sembur Iweka lagi. Nowiye mematung tak bersuara.

Sementara pasukan Umoria mulai berlarian meninggalkan daerah perbatasan. Meninggalkan teman-teman mereka yang sebagian sudah jadi mayat.

“Bedebah! Masih hidup kau rupanya!!” Seorang pasukan Mbaino bermaksud memenggal kepala musuhnya yang nampak masih bergerak-gerak di tanah. Wajah lelaki Umoria itu terlihat pucat ketakutan. Ia seakan memohon agar diampuni.

“Jangan!! Dia sudah tidak berdaya. Kita tidak boleh menyerang musuh yang sudah menyerah. Itu adalah tindakan biadab dan pengecut!” Seorang lelaki tua dari Qoryata mencegah tegas.

Lelaki yang sudah mengayunkan goloknya itu terpaksa menurut. Cuih! Ia meludahi tubuh pasukan Umoria itu sebagai ungkapan ketidak-puasannya. Namun orang-orang Mbaino dan Umoria yang masih berada di tempat tersebut bisa merasakan betapa sikap lelaki Qoryata itu sangat mengagumkan, meski juga terasa mengherankan.

Nowiye masih terpaku di tempatnya, hingga sesaat kemudian lengannya yang robek terasa sakit sekali. Namun rasa sakit itu belum seberapa dibandingkan rasa malunya atas penghinaan Iweka.

@@@

Nowiye termenung di tangga obi-nya. Menatap butiran-butiran hujan yang jatuh ke bumi. Nampak lengannya dibalut daun-daunan yang ditumbuk. Sudah sehari semalam ia berpikir tentang Zaidani. Musuh yang telah menyelamatkan nyawanya dalam pertempuran kemaren. Permusuhan yang ia bangun secara sepihak itu telah membuat Nowiye malu pada dirinya sendiri. Ia telah berhutang nyawa dan hal itu sangat mengusiknya. Di Ibo, hutang nyawa harus dibayar nyawa.

Nowiye juga sangat malu pada Iweka. Walaupun Iweka tidak pernah menang dalam pertandingan gulat, tapi ternyata ia lebih ksatria dari dirinya. Bayangkan, Iweka sampai memakinya dengan sebutan efulefu. Memalukan sekali. Tapi ia sadar, Iweka memang benar.

Dan kini…, Nowiye ingin sekali menemui Zaidani dan dengan jantan mengucapkan rasa terima kasih atas pembelaan pemuda itu. Tapi ia ragu, apakah orang-orang tidak akan mentertawakannya? Bukankah selama ini dialah yang paling sering menghasut penduduk untuk memusuhi orang-orang Qoryata?

“Ayah! Orang-orang kampung akan pergi ke ilo, merayakan kemenangan kita atas Umoria. Mereka akan menari di tengah derasnya hujan! Apakah Ayah tidak akan ikut?” Teriakan anak lelakinya yang cukup keras itu membuat Nowiye terperanjat. Tubuh bocah itu telah basah kuyub.

“Hei, anak tak berguna! Apakah kau tidak bisa berbicara pelan padaku?!!” bentak Nowiye melotot.

“Ayah juga selalu bicara keras padaku. Jadi tidak perlu melotot seperti itu. Baiklah, aku akan pergi. Selamat menghitung hujan, Pegulat Mbaino,” jawab anak itu setengah mengejek. Lalu cepat-cepat ia berbalik, meninggalkan Nowiye dalam kejengkelannya. Anak itu semakin kurang ajar saja, rutuk hati Nowiye sambil mendengus keras.

Namun sesaat kemudian ia seperti tersentak. Lalu secepat kilat melompat dari pintu obi. Diayunnya langkah dengan cepat, tak peduli pada guyuran hujan di sekujur tubuhnya. Ia pun tak peduli ketika orang-orang Mbaino menatapnya penuh keheranan.

“Qoryata kwenu! Obodo dike, kwenu!” Teriakan Nowiye menghalau deru hujan. Dan ia terus berteriak tiap kali bertemu dengan orang-orang Mbaino. Juga setiap kali ia melihat orang-orang berdiri di depan pintu rumah mereka. Teriakannya hanya dijawab tatapan heran penduduk. Mereka melihat Nowiye aneh sekali hari ini. Dia meneriakkan dukungan untuk Qoryata. Apakah ini berarti menara permusuhan itu sudah saatnya roboh?

Satu persatu anak-anak kecil mulai mengikuti dan menyahutinya.

“Qoryata kwenu!”
“Yaaa..!”
“Obodo dike kwenu!”
“Yaaa..!”

Teriakan-teriakan itu terus membelah derasnya hujan diselingi sorak-sorai para bocah yang menari mengelilingi Nowiye. Para penduduk yang sedang berkumpul di ilo, nampak tak kalah heran saat rombongan kecil Nowiye lewat di dekat mereka.

Namun hanya sesaat, kemudian merekapun mengerti arti semua itu.

“Tak ada gunanya permusuhan ini kita pertahankan! Qoryata telah menolong menyelamatkan nyawa dan harga diri kita tanpa meminta imbalan apapun selain agar kita tetap mau bersaudara dengan mereka! Mereka tidak meminta kita untuk mempercayai keyakinan mereka! Mereka tulus membantu kita, dan aku adalah jaminannya!” seru Nowiye lantang.

Semua yang hadir tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk membenarkan. Ya, peperangan itu telah membuka mata mereka untuk melihat arti persaudaraan sejati bagi bangsa Ibo.

“Hidup Qoryata!”
“Yaa..!”
“Hidup, Negeri orang-orang berani!”
“Yaa..!”

Mereka kini ikut meneriakkan kata-kata yang sama, berarakan mengelilingi kampung, lengkap dengan tarian dan genderang yang bertalu-talu. Tujuan terakhir mereka adalah ke kampung sebelah. Qoryata! (V)
______________________________________________________

Kosa Kata :
• ibo = salah satu suku primitif di Afrika
• ilo = lapangan
• obodo dike = negeri orang-orang berani
• jigida = untaian manik-manik
• ogene = sejenis gong
• udu = genderang dari gerabah
• ekwe = genderang dari kayu
• agbala = perempuan tua Juru Ramal
• kwenu! = pekikan tanda salam atau setuju
• nza = burung yang sangat kecil
• obi = rumah khusus kepala keluarga
• uli = bahan celupan untuk menggambar tubuh
• foo-foo = makanan dari ubi tumbuk
• efulefu = manusia tak berguna

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *