Netizen yang Baik Sebarkan Berita Baik

Saat ini media sosial dan jaringan sosial seakan tak ada senyapnya. Berbagai topik hangat sampai panas muncul ke permukaan. Ada yang kemudian lenyap begitu saja dan ada yang dibahas panjang lebar tak berkesudahan. Berbagai issu pribadi hingga nasional mencuat dan viral. Sungguh dunia maya telah menjadi dunia kedua yang penuh gempita dengan suka duka dan baik buruknya. Kita sebagai warga net yang aktif sangat perlu memahami segala kondisi dunia maya agar bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya. Menjadi netizen yang baik adalah pilihan, dan setiap orang bebas memilih. Namun ingat, setiap pilihan ada resikonya.

Contoh Kasus 1

Saya ingat, sekitar dua tahun lalu menegur seorang teman di sebuah grup alumni karena membagikan sebuah broadcast yang berisi ajakan untuk membaca ayat-ayat tertentu atas perintah penjaga makan Rasulullah, jika kita tak membaca dan tak ikut menyebarkan maka akan datang musibah menimpa. Katanya penjaga makam tersebut memperoleh perintah itu lewat mimpinya bertemu Rasulullah. Oh my God!

Tak tahan mendiamkan, saya pun menegur untuk mengingatkan dia agar tak menyebarkan broadcast semacam itu karena memiliki beberapa kekeliruan yang berbahaya. Pertama, jelas itu menggiring kita kepada syirik dan merusak aqidah karena mempercayai sesuatu yang bukan berasal dari Allah dan rasul-Nya, sementara hanya Allah yang bisa memberi manfaat atau mudharat pada manusia. Kedua, broadcast itu sudah pernah saya baca sebelum ponsel Android masuk pasaran, artinya sudah sangat lama.  Ketiga, jelas tidak pernah ada pesan berantai dari penjaga makam Rasulullah seperti yang ditulis dalam broadcast tersebut.

Meskipun saya menegur lewat jalur pribadi dengan cara yang sopan, teman yang membagikan broadcast tersebut terlihat agak tersinggung dan memberi alasan bahwa niat dia baik dan ingin membagikan sesuatu yang baik ke teman-teman lain. Biasalah, di mana-mana orang memang sering merasa benar dan tak suka kesalahannya ditegur, terlebih jika dia yakin perbuatannya benar. Saya pun berusaha santai, bersikap seperti biasa, toh yang saya lakukan hanya meluruskan kesalahan dia, bukan mempermalukan atau menghakimi dia. Kita hanya perlu saling mengingatkan agar tak gampang membagikan dan menyebarkan sesuatu yang belum kita cek kebenarannya, sebagaimana diperintahkan dalam Al Qur’an. Sebagai seorang Muslim maka rujukan saya tentulah Al Quran, dan bagi kaum Nasrani rujukan mereka tentu Al Kitab, begitupun penganut agama lain akan merujuk kitab suci masing-masing.

Contoh Kasus 2

Contoh kedua yang masih hangat, terjadi beberapa hari setelah kasus teror bom Surabaya kemarin. Dan masih dilakukan oleh teman yang sama, sepertinya dia memang senang sekali (asal) membagikan sesuatu di grup WA. Waktu itu dia menyebarkan broadcast yang seolah-olah berasal dari aparat negara tentang himbauan, tips dan peringatan kepada masyarakat bagaimana cara mengantisipasi, mengenali dan menyelamatkan diri saat terjadi kasus teror. Salah satu paragraf dalam broadcast tersebut menyebutkan bahwa salah satu tanda adanya teroris di sekitar kita adalah jika kita mendengar suara-suara semacam doa dan takbir. Sungguh, paragraf ini telah dikritik oleh banyak orang karena sangat tendensius mengidentikkan doa dan takbir dengan teroris. Saya pun kembali menegur teman tersebut karena terbukti beberapa teman lain juga keberatan dengan paragraf tersebut.

Di saat kondisi negara masih panas, membaca broadcast seperti itu seperti menikam lagi hati masyarakat terutama ummat Islam. Sungguh tidak bijak menulis hal itu. Buat saya pribadi, membacanya menimbulkan rasa sedih karena kalimat di paragraf tersebut mengesankan betapa tak sensitifnya orang yang menulis dan menyebarkan terhadap kondisi negara yang tengah berduka. Ikut menyebarkannya akan memicu suasana semakin panas. Saya sendiri tak begitu yakin broadcast tersebut dibuat oleh aparat negara, namun kalaupun memang benar, saya pikir bagian paragraf yang tendensius itu kemungkinan adalah tambahan dari pihak tak bertanggung jawab yang memang ingin mendiskreditkan Islam dan kaum Muslim di Indonesia.

Pembenturan Aparat dan Masyarakat

Tak hanya itu, paragraf tersebut juga bisa membenturkan antara aparat negara dan kaum Muslim. Kaum Muslim bisa saja berpikir bahwa aparat negara telah mendiskreditkan doa dan kalimat takbir padahal negara ini dulu merdeka dengan pekikan takbir Bung Tomo dan Jenderal Soedirman yang mampu mengibarkan semangat nasionalisme para pejuang bangsa, sebab para pejuang itu paham bahwa cinta tanah air adalah salah satu bentuk keimanan. Maka membela dan memerdekakannya adalah kewajiban yang bernilai jihad. Itulah jihad yang benar, bukan dengan bom bunuh diri di tengah negara yang aman tanpa peperangan. Apalagi yang diledakkan adalah rumah ibadah, sungguh ini telah menjadi fitnah luar biasa yang mengadu domba antara pemeluk Islam dan pemeluk Nasrani. Jelas ini mengancam keutuhan NKRI.

Lihatlah bagaimana kemudian berita, broadcast, meme dan foto-foto yang memojokkan muslimah bercadar hanya karena pelaku bom bunuh diri memakai cadar, padahal sehari-harinya pelaku tersebut tidak memakai cadar menurut pengakuan tetangga mereka. Jika ada maling berbaju merah, bukan berarti semua orang berbaju merah boleh kita sebut maling, bukan? Di sini kita memerlukan kecerdasan dalam berpikir, menelaah dan menyimpulkan, bukan ikut-ikutan menyebarkan info yang tak di-recheck validitasnya. Dan sedihnya yang menyebarkan dan mengejek sebagian adalah orang Islam sendiri karena termakan berita yang tak benar. Di sinilah pentingnya menghimbau masyarakat agar tak mudah menelan mentah-mentah apapun yang mereka baca dan lihat di media sosial.

Nah, di tengah kecaman, cibiran dan intimidasi masyarakat terhadap muslimah bercadar ini, tiba-tiba suasana menjadi begitu berbeda saat muncul berita Kapolri menjenguk aparat polisi yang jadi korban bom Mapolda Riau di Rumah Sakit untuk memberikan penghargaan. Dan istri polisi yang jadi korban tersebut ternyata juga memakai cadar. Kemudian muncul pula headline di beberapa portal berita yang mengatakan bahwa MUI dan Kapolri menegaskan bahwa identifikasi teroris bukanlah dari cadar, jenggot dan celana cingkrang. Buat saya ini seperti sebuah oase di tengah suasana panas. Hoax dan pemberitaan miring yang sebelumnya banyak beredar seakan di-banned oleh fakta ini. Berita seperti inilah yang semestinya disebarluaskan karena membawa ketenteraman di tengah masyarakat.

Bersatunya Polisi dan Netizen

Beberapa waktu lalu Polda Metro Jaya mengundang para netizen untuk mengikuti serangkaian acara yang bertujuan mengajak masyarakat untuk lebih cerdas, lebih teliti dan lebih hati-hati dalam menyebarkan sebuah berita atau konten. Sebab menyebarkan sesuatu tanpa mengecek kebenarannya bisa berakibat fatal. Bisa menyesatkan dan beresiko terjerat UU ITE. Yang lebih berbahaya, bisa merusak keutuhan NKRI, merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Ini adalah sebuah acara yang sangat menarik dan positif dalam menciptakan suasana damai terutama di media sosial. Saya juga diundang dalam acara ini tapi sayang sekali karena saya kebagian jadwal mengunjungi anak saya yang sekolah di luar kota maka terpaksa saya berikan seat saya pada teman netizen lainnya. Namun saya tetap mengapresiasi dan mengikuti perkembangan acara tersebut melalui media dan jaringan sosial sebab apa yang dilakukan oleh Polda ini adalah sebuah langkah positif.

Polisi dan jajarannya adalah sebuah kekuatan dalam ketahanan dan ketentraman bernegara. Saya selalu bangga melihat aparat negara melakukan hal-hal positif yang menginspirasi masyarakat. Saya bahkan mengumpulkan video-video para polisi yang menginspirasi ini di laptop saya, seperti seorang Kapolda yang begitu rajin shalat berjamaah dan rajin membantu rakyat lemah, seorang polisi yang mendirikan pesantren di daerah terpencil, seorang polisi yang begitu pandai membaca Al Quran, polisi lalu lintas yang menggelar sajadah dan shalat di pinggir jalan dan masih banyak lagi. Ini tentu bukan iklan layanan masyarakat yang sering kita lihat di TV tapi fakta yang dipuji banyak warga net. Di sinilah kekuatan aparat itu sangat terasa. Betapa bangga dan rindunya masyarakat memiliki aparat keamanan yang mampu menciptakan suasana damai, nyaman dan tenteram.

Hashtag #SebarkanBeritaBaik #HormatiPerbedaan

Dengan menggandeng netizen dalam acara bertajuk “Bersatu Dalam Menjaga NKRI” dengan hashtag #SebarkanBeritaBaik dan #HormatiPerbedaan akan menjadi sebuah kekuatan yang besar di tengah masyarakat terutama masyarakat dunia maya yang memang sangat cepat dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi. Sebuah kerjasama yang tepat dan diharapkan berdampak jangka panjang.

Hashtag atau tagar #SebarkanBeritaBaik ini cakupannya luas, tak hanya sekadar hoax atau berita bohong. Fakta sekalipun tak boleh disebarkan jika itu dikhawatirkan mengancam kenyaman dan ketenteraman masyarakat. Seperti menyebarkan foto-foto korban penganiayaan, korban kecelakaan dan sebagainya. Dalam kode etik jurnalistik jelas memiliki aturan ketat ketika memosting foto-foto sejenis itu, misalnya dengan membuat blur bagian tertentu, tak boleh diposting apa adanya. Kita harus menjaga psikologis masyarakat.

Saya pernah melihat sebuah video penganiayaan balita oleh seorang pembantu, berminggu-minggu bayangan video itu terus memenuhi kepala saya. Sedih, geram dan perasaan tidak nyaman lainnya terus menghantui saya. Ya, itu adalah fakta, tapi memosting sebuah fakta harus ada etikanya juga. Oke, itu mengandung pelajaran bagi orang lain agar lebih berjaga-jaga namun memosting video itu bisa menimbulkan hal lain yang tak diinginkan, misalnya amuk massa pada pelaku, trauma psikologis bagi penonton dan sebagainya. Ini yang harus dipertimbangkan sebelum memosting sesuatu.

Media Massa Adalah Ujung Tombak

Saat ini media massa terutama yang online banyak melakukan kecurangan hanya demi angka visitor. Kita sama-sama paham bahwa jumlah visitor adalah napas bagi media online, sama seperti jumlah oplah bagi sebuah media cetak. Tapi semua tetap harus ada aturannya. Tak bisa membenarkan segala cara. Jika dilihat dari kode etik jurnalistik, banyak media online yang tak mematuhinya padahal sejatinya mereka adalah seorang jurnalis. Saya paham hal ini karena saya pernah belajar jurnalistik juga saat bekerja di sebuah media cetak awal tahun 2000-an. Kebetulan suami saya juga seorang pakar media sosial dan dosen jurnalistik yang sudah menulis beberapa buku terkait media sosial, dan buku-buku tersebut menjadi buku ajar atau buku pegangan di kampus-kampus.

 

Nah, apa misalnya pelanggaran yang sering dilakukan media massa online?

Click Bait

Ini adalah salah satu cara media online untuk mencari visitor atau pengunjung. Click Bait adalah Umpan Balik atau Jebakan Klik. Dari istilahnya saja sudah bisa dibayangkan bahwa antara judul belum tentu sesuai dengan isi. Judul dibuat sebombastis mungkin agar pembaca mengklik. Urusan pembaca akan kecewa itu nomor sekian. Yang penting diklik dulu. Saya pernah terjebak juga oleh judul yang sensasional begini, ketika dibuka ternyata isinya tidak seperti yang dibayangkan pada judul.

Foto Sensasional

Membuat foto atau gambar yang tak ada hubungannya namun mengundang rasa penasaran pembaca. Inipun pernah saya alami. Berita tentang pengungsi dari sebuah negara yang tengah bertikai, ternyata foto itu sudah pernah beredar di tahun sebelumnya dan tak ada hubungannya dengan kejadian yang sekarang. Ini menyalahi aturan jurnalistik karena sebuah foto harus memiliki keterangan foto yang jelas dan benar, apakah foto tersebut adalah foto yang sebenarnya atau hanya ilustrasi. Sebuah media massa harus teliti karena beritanya akan dibaca banyak orang.

Meme Negatif

Sangat disayangkan sebuah media massa atau portal berita memuat meme negatif baik terkait tokoh masyarakat, tokoh agama maupun kelompok tertentu. Berapa banyak karikatur dan foto-foto editan yang beredar di dunia maya yang isinya sangat merendahkan dan mendiskreditkan seseorang atau sekelompok orang. Dan ini banyak terjadi, sehingga masyarakat seakan disuguhi konten berisi kebencian, rasa sinis dan pesimis terhadap sesuatu, sesuai keinginan media tersebut. Masyarakat jadi terbiasa mengolok-olok tokoh masyarakat, tokoh agama dan kelompok tertentu. Masyarakat merasa wajar melakukan itu karena media massa pun melakukannya.

Copypaste

Salin tempel (copypaste) ini adalah hal yang paling memalukan (semestinya) bagi sebuah portal berita. Cukup sering saya membaca berita yang isinya sangat mirip, entah siapa yang menulis duluan dan entah siapa menyalin belakangan. Tak semua media online seperti ini tapi cukup banyak yang melakukan. Saya kurang tahu apakah itu disebabkan karena malas menulis atau karena dikejar deadline yang padat. Tapi apapun itu, semestinya sebuah media massa yang profesional tak melakukannya.

Itulah sebagian perilaku media massa yang sangat disayangkan karena tidak mendidik masyarakat untuk berpikir dan bersikap cerdas. Media-media seperti inipun perlu ditertibkan karena untuk bekerjasama dalam memberantas keburukan harus dilakukan oleh media yang paham akan fungsi mereka dan bisa bekerja secara profesional. Sejatinya media massa adalah sumber berita yang bisa dipercaya oleh masyarakat, bukan menghasut atau membohongi masyarakat. Sebab nantinya masyarakat akan ikut pula membagikan berita-berita tersebut ke media sosial masing-masing. Maka jangan sampai kita menjadi bagian yang memperburuk keadaan.

Netizen Sebagai Penyeimbang

Nah, di sinilah peran netizen dibutuhkan. Para penggiat dan pegiat media sosial harus jadi penyeimbang yang berperan meluruskan dan mengajak masyarakat dunia maya untuk kritis, cerdas dan berhati-hati sebelum menulis, memosting atau menyebarkan sesuatu. Netizen memiliki kekuatan ketika mereka bekerja sama hingga bisa memviralkan suatu topik atau kasus. Salah satu contohnyanya adalah menjadikan tagar #SebarkanBeritaBaik ini menjadi trending topic.

Seperti kisah teman saya di paragraf awal tadi, netizen kadang juga suka menyebarkan sesuatu tanpa dipikir, dibaca dengan teliti dan ditimbang baik buruknya sebelum memosting. Netizen di sini tak hanya blogger, youtuber, vlogger dan buzzer, tapi juga pengguna jaringan sosial biasa yang membuat akun hanya untuk pergaulan atau jualan online. Termasuk akun-akun personal yang suka menulis status penuh hujatan, fitnah, makian dan kalimat buruk lainnya yang tak jarang memancing netizen lain untuk menanggapi hingga terjadilah perang duia maya.

Ada semacam semangat yang sulit dikekang ketika mendapati sebuah berita, informasi, meme dan foto yang dianggap menarik. Ya, kadang alasannya memang cuma menarik menurut dia pribadi tapi tidak bermanfaat sebenarnya. Kadang diposting dan dibagikan dengan alasan kontroversinya, viralnya, dan alasan ‘wow’ lainnya, padahal bisa jadi postingan itu menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Nah, apa sebenarnya yang membuat para netizen suka melakukan hal ini?

1) Rendahnya Budaya Baca

Ternyata kebiasaan membagikan berita, broadcast, video dan meme tanpa menyaring ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan masyarakat yang malas membaca. Jika dibandingkan dengan negara lain, masyarakat Indonesia patut malu. The World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016 merilis daftar negara-negara dengan peringkat literasi di dunia. Hasilnya? Dari 61 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan ke 60, sangat jauh dibanding negara-negara lain. Dan ini adalah sebuah data yang secara gamblang bisa kita katakan sebagai penyebab maraknya pembuat dan penyebar berita hoax dan konten negatif di negeri ini. Ini adalah hasil studi yang dilakukan Presiden Central Connecticut State University, New Britain Jhon W. Miller. Kita patut prihatin atas kondisi ini.

Selengkapnya tentang Rendahnya Budaya Membaca Bangsa bisa dibaca di sini.

 

 

Rendahnya minat baca masyarakat ini akan berdampak pada rendahnya budaya baca bangsa. Ini nanti akan berdampak ke berbagai hal. Salah satunya adalah kebiasaan membaca sekilas, bahkan baru membaca judulnya saja, sudah buru-buru di-share. Kemudian efek rendahnya minat baca juga membuat masyarakat miskin ilmu pengetahuan dan wawasan. Mereka dengan mudah membagikan sebuah berita, broadcast, video, foto dan meme yang menurut pikiran mereka baik karena kurangnya pengetahuan dan wawasan padahal bisa saja itu sesuatu yang buruk dan berdampak buruk.

Berbeda dengan orang yang suka membaca, mereka akan membaca berbagai literatur, berbagai artikel dan buku-buku sehingga mereka memiliki cukup pengetahuan tentang sesuatu. Ketika akan membagikan sesuatu mereka akan menyaringnya terlebih dahulu. Ilmu pengetahuan yang mereka miliki dari banyak membaca membuat mereka kritis, berhati-hati dan bisa memilih mana yang patut dibagikan dan mana yang hanya masuk keranjang sampah tanpa perlu dibahas sama sekali.

Media massa dan para netizen haruslah memahami benar resiko dari sebuah postingan. Sebuah postingan yang baik akan menular dan menyebar menjadi sebuah kebaikan bersama. Begitupun sebuah postingan yang buruk akan menular dan menyebar menjadi keburukan pula, tak hanya bagi diri pribadi tapi juga bagi masyarakat dan bangsa kita.

2) Tidak Paham Undang-undang

Pemerintah sudah membuat undang-undang terkait Internet & Transaksi Elektronik (ITE) yang biasa kita sebut dengan UU ITE, agar masyarakat lebih berhati-hati. Namun sepertinya masyarakat belum begitu peduli dengan undang-undang tersebut. Selain (lagi-lagi) karena malas membaca apa saja point dalam undang-undang tersebut, mereka masih menganggap bahwa selagi apa yang mereka bagikan itu baik (menurut mereka) maka sah-sah saja membagikannya. Di sini masyarakat masih perlu diedukasi lagi terkait UU ITE ini. Sebelum terbitnya UU ITE, sudah terbit UU lain terkait penyebaran hal-hal negatif dalam cakupan yang lebih luas, tak semata di dunia maya.

 

 

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Hukum Pidana

Pasal 14 ayat 1:

“Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.”

Pasal 14 ayat 2:

“Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.”

Keonaran yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah lebih berat daripada sekadar kegelisahan, ia bisa menggoncangkan hati penduduk yang tidak sedikit jumlahnya atau biasa juga disebut sebagai sesuatu yang meresahkan masyarakat.

  • Undang-undang ITE Pasal 28 

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Setidaknya ada 6 konten yang perlu dihindari agar kita jangan sampai terjerat UU ITE:

 

Netizen atau warga net harus membaca undang-undang ini secara teliti agar paham apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh sehingga tidak terjerat oleh kasus pelanggaran undang-undang di atas.

3) Pemburu Like dan Follower

Tak bisa dipungkiri, sekarang para netizen seakan ‘menuhankan’ like dan follower. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan banyak like dan follower di postingannya. Alih-alih menulis sesuatu yang bermanfaat, yang ada mereka hanya mengejar like sebanyak-banyaknya tanpa peduli konten mereka melanggar UU ITE dan mencari sensasional belaka dan mengabaikan efek dari postingan tersebut. Maka tak perlu heran jika ada netizen yang melakukan pembohongan publik dengan memutarbalik fakta tentang dirinya. Beberapa netizen sempat populer kasusnya setelah ketahuan melakukan pembohongan publik alias hoax.

Oke, dia merasa tidak merugikan orang lain. Tapi apa benar demikian? Tidakkah merugikan ketika orang sudah begitu percaya dengan semua ceritanya tiba-tiba terhenyak mendapati realitanya. Perasaan dibohongi pasti ada. Marah, kecewa dan sebagainya bisa membuat orang jadi membenci pelakunya. Secara psikologi dia telah merugikan orang lain yang selama ini telah menghabiskan waktu untuk membaca dan mengikuti setiap postingannya yang ternyata bohong belaka demi menjaring like dan follower.

Bedakan Akun Pribadi dan Akun yang Di-Private (Akun yang diatur untuk diri pribadi)

Okelah dia bilang itu ranah pribadi, tapi sebenarnya setiap postingan di wilayah publik sudah tak bisa lagi dianggap ranah pribadi. Ia telah menjadi konsumsi publik maka tanggung jawab moralnya adalah kepada publik. Kecuali kalau dia mengatur akunnya menjadi private tentu bukan masalah. Di sinilah orang sering keliru menafsirkan makna ‘akun pribadi’. Akun pribadi bukan berarti bebas melakukan apapun sesuka hati, akun pribadi maknanya adalah bahwa akun tersebut dibuat oleh pribadi (personal) bukan berkelompok atau dalam bentuk perusahaan. Akun pribadi ketika dibuka ke ranah publik maka yang berlaku adalah hukum publik. Jadi tidak ada istilah, “Akun gue pribadi kok, terserah gue mau mosting apa. Kalau gak suka ya jangan dilihat!”

Tidak bisa begitu. Media dan jaringan sosial dibuat untuk bersosialisasi, saling berinteraksi satu sama lain. Jika memang ingin berbuat sesuka hati maka aturlah akun tersebut menjadi private agar orang lain tak melihatnya. Makanya hampir semua jaringan sosial saat ini menyediakan pengaturan akun apakah akan dibuat private, hanya teman tertentu yang bisa melihat atau dibuka menjadi akun publik. Semua bisa dipilih sesuai kebutuhan masing-masing dan masing-masing memiliki resiko sendiri.

Himbauan Serius

Dengan tampilnya Polda Metro Jaya dalam menghimbau masyarakat dunia maya untuk #SebarkanBeritaBaik maka tentu ini adalah sebuah himbauan yang serius agar tak ada lagi kasus-kasus seperti di atas. Dan himbauan ini tak hanya berlaku bagi blogger dan aktivis jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sejenisnya, tapi juga berlaku terhadap jaringan messenger seperti Whatsapp, SMS, Line dan sejenisnya. Jadi menyebarkan hal terlarang melalui SMS atau Whatsapp juga akan terjerat UU ITE. Yuk, teman-teman netizen yang baik, sebarkan berita baik! (NSR)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


16 thoughts on “Netizen yang Baik Sebarkan Berita Baik

  1. denik

    Betul Mba. Sebagai netizen kita harus bijak dan cerdas dalam menyampaikan informasi. Setuju dengan informasi ini.

    Reply
  2. Visya

    Setuju banget mba. Netizen baik sebarkan yang baik baik aja. Akupun kalo belum tahu kejelasannya lebih baik diam aja, hehe.

    Reply
  3. Elva Susanti

    Sudah menjadi keharusan mbak kita menyebar berita baik. Sayangnya masih ada aja oknum-oknum tertentu yg menyebarkn berita hoax utk mengadu domba. Moga masyarakat kita makin cerdas dalam menerima dan menyebarkan berita

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Memang selalau ada oknum di setiap usaha perbaikan. Di setiap kelompok oknum itu selalu menjadi biang keroknya. Sekarang bisa dijerat UU ITE biar kapok.

      Reply
  4. Dian Restu Agustina

    Paling kzl kalau ada yang broadcast aneh-aneh, enggak ketahuan kejelasan sumbernya di berbagai sosial media atau platform chatting…Kok ya enggak dipikir dulu sebelum nyebarin itu…

    Keren banget ulasannya ini, semoga kita semua bisa jadi netizen yang lebih baik lagi 🙂

    Reply
  5. Dwi Arum

    Setuju banget saring before sharing, atau istilahnya mah tabayun dulu. Besar harapan semoga semua sadar bahwa apa yang tertulis akan menjadi saksi, maka timbul rasa takut menulis yang unfaedah apalagi berita hoax. Senengg lihat tulisan menyejukkan kaya gini, terima kasih Uniii.

    Reply
  6. Leila

    Aku pun kadang bingung Uni, mau menegur itu bagusnya kan memang lewat japri ya, adabnya kan menasihati tidak di muka umum, tapi ya itu, kadang ybs malah tersinggung, trus nggak meralat pula hoax yang sudah dia sebarkan, jadi kadang terpaksa kasih link/penjelasannya langsung di grup juga. Ah tapi ini bahan introspeksi juga ya, apakah kita sedih karena hoax yang tersebar atau tersinggung secara pribadi karena saran kita yang tidak diterima dengan baik.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *