Nyinyir di Media Sosial

nyinyirDua teman saya pernah beradu status di media sosial, saling menyindir di postingan. Awalnya sih masih agak mendingan, tapi lama-lama mulai main emosi.

 Teman 1: Heran, gara-gara habis cerai kenapa malah jilbabnya yang dibuka ya. Ceritanya dia mau protes sama Tuhan gitu? Kecewa sama diri sendiri? Harusnya dia makin mendekat sama Tuhan bukannya makin menjauh. Ya sekedar saran aja sih, sebagai teman kita ikut prihatin.
 
Teman 2: Heran, pake jilbab mulutnya kok anyir banget sih. Gue mau pake atau buka jilbab apa ruginya buat dia? Mending kayak gue, sekalian dibuka jilbabnya, dari pada dia pake jilbab tapi mulut kayak comberan.
 
Beberapa hari kemudian suasana kian panas.
 
Teman 1: Repot ya nasehatin orang yang hatinya udah gak nerima nasehat. Ya udah, dari pada makin runyam mending kita diem deh. Kasian aja sama perempuan kayak gitu, pola pikirnya cetek. Iman kayak gak ada harganya, tugas kita mah cuma menyampaikan, diterima atau enggak itu urusan dia.
 
Teman 2: Ya ampuuun, gue makin gak habis pikir sama orang yang lagunya kayak makhluk paling baik sedunia itu. Gue tau persis tuh orang kayak apa. Bermuka dua! Bencana banget deh gue berteman sama dia. Kalo emang dia ngerasa paling sholehah, jawab dulu deh pertanyaan gue, itu jilbabnya yang dulu panjang sekarang kenapa jd pendek? Kadang gak nutup dada juga. Itu alisnya kenapa pake pensil segala? Kenapa pake lipstik juga? Tabbarruj tuh katanya dulu, sekarang apa ya namanya saat dia ngelakuin sendiri? Geli aja gue liat orang munafik kayak gitu mah. Ngaca sono, ngaca!
 
Saya hampir keselek baca status mereka. Ini perang beneran yang membawa-bawa soal jilbab. Dan sungguh, ini bermula dari tidak sanggupnya kita menahan diri untuk tidak menulis dengan nada negatif di media sosial. Ehm, tak terkecuali diri saya sendiri tentunya yang kadang suka kebablasan juga mosting sesuatu.
 
Tidak lama setelah itu, saya inbox teman pertama, “Maaf, untuk sementara kita tidak berteman dulu ya di medsos tapi tetap berteman secara offline. Status kamu dan X terlalu mengajak perang dan saya gak mau ikut terciprat aura negatifnya. Saya sedang belajar untuk tidak nyinyir atau nyindir siapapun di medsos. Dan saya rasa gak begitu cara menasehati teman. Menasehati di media sosial secara terbuka sama aja dengan ngajak berantem. Itu mempermalukan. Dan seorang teman tidak akan melakukan itu. “
 
Selesai. Saya pamit. Saya blokir dulu. Tidak cukup dengan unfollow ternyata karena saya juga ketemu mereka beradu komentar di status teman yang lain. Pusing, kan?
 
Kenapa ke teman pertama saya kirim inbox itu?
Karena menurut saya dialah yang memantik api. Jika ingin menasehati harusnya tidak dengan cara seperti itu. Dan menurut saya, lagi-lagi dia berlakon seperti orang yang tahu persis kondisi orang lain. Seolah-olah semua orang memiliki jalan hidup, pemikiran dan ketahan hati sama sepeti dirinya. Meski sebenarnya jika hal itu terjadi pada dirinya, kita juga gak tahu akan seperti apa reaksi dan efeknya.
Ya ya, saya tahu perempuan memang nyinyir, tapi jangan sampai seperti itu juga. Ingat, jangan sampai kita mengaku teman tapi lebih layak disebut musuh. Nyinyir di media sosial ini sangat luas efeknya. Saya saja yang pernah menulis status bercandaan terkait teman-teman di medsos sempat dibaperin oleh teman dekat saya, dia pikir status itu untuk dirinya. Ya minimal dia menganggap saya serius dengan status itu padahal saya menulis itu bermula dari banyaknya meme lucu seputar kebiasaan orang di medsos. Jadi sama sekali tidak ada maksud menyerang atau menyindir siapapun, tapi kenyataannya ada yang tersinggung dan itu saya anggap kesalahan saya karena bercandanya kelewatan. Oke, saya pun minta maaf dan saya anggap clear.
 
Lalu kenapa saya memosting ini di blog saya? Agar para pembaca tidak pernah lupa bahwa media sosial ini sadis ketika ia berada di tangan orang yang salah dan sangat bermanfaat ketika berada di tangan orang yang tepat. Dan saya termasuk yang tidak suka jika jilbab dikait-kaitkan dengan hal lain, entah itu perilaku atau apapun yang efeknya justru berbalik menghina jilbab yang kita pakai.
 
Semoga kita para perempuan ini bisa belajar untuk nyinyir pada tempatnya. Misalnya nyinyir saat suami mulai jarang ngasih perhatian, saat si dia cuma PHP tapi gak pernah action, saat mantan ngajak balikan tapi gak kunjung lamaran, saat…ah, kamu tahulah waktu yang tepat untuk nyinyir! 😀

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


3 thoughts on “Nyinyir di Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *