Para Malaikat Penolong

malaikat penolongTetangga saya yang sudah sepuh bilang, “Menolong orang itu sebenarnya bukan masalah banyaknya yang kita beri. Tapi seberapa tepat pemberian itu. Orang yang tak punya uang receh di angkot akan sangat merasa ditolong ketika kita bayarkan ongkosnya dengan memberi uang recehan.”

Terkait ini saya punya pengalaman. Ketika naik angkot dari terminal Kampung Melayu menuju Halim, saya lupa menyiapkan uang receh. Uang saya 50 ribuan. Tahu sendirilah, supir angkot paling kesal dikasih uang gede. Apesnya lagi, sepanjang jalan supirnya banyak mengomel, salah satunya gara-gara ada penumpang yang membayar dengan uang bernilai besar seperti yang saya punya. Saya pun rada ketar-ketir. Merasa sial. Saya lalu mencoba menanyai penumpang lain apakah mereka punya tukeran uang 50 ribuan saya. Lagi-lagi gak ada hasilnya. Lokasi rumah saya semakin dekat.  Saya pun mulai panik campur pasrah.

Lalu tiba-tiba seorang perempuan muda yang duduk dekat pintu berkata, “Turun aja, Mbak. Nanti saya bayarin.”

Berasa dapat malaikat penolong! Pemberian yang mungkin buat dia tak seberapa tapi buat saya yang lagi membutuhkan terasa sangat berharga. Semoga si Mbak yang baik itu dimurahkan rezekinya dan dimudahkan segala urusannya.

Di angkot lain saya kembali bertemu malaikat penolong.  Gimana ceritanya?

Waktu itu saya naik angkot dari pasar Jatinegara menuju Otista. Rencana, saya mau turun di lampu merah Otista yang dilewati jalur Mikrolet 26 yang menuju Halim,  tempat saya tinggal. Saya menumpangi mikrolet arah Cililitan.  Lagi-lagi persoalannya sama, saya lupa menyiapkan uang receh. Dan lagi-lagi supirnya terlihat sangar. Bedanya,  dia gak kedengaran mengomel karena penumpang angkot hanya saya.

Saya mulai galau mengingat pecahan uang yang saya pagang saat itu sering membuat supir angkot mengomel apalagi jika penumpang sepi seperti saat itu.  Duh,  apa yang harus saya perbuat? Saya gak mau begitu saya membayar dengan uang 50 ribuan,  lalu dengan kasar pak supir melemparnya kembali ke saya sambil berteriak,  “Gak ada kembalian! Udah tau sepi gini!”

Huhuuuu bergidik, saya pernah melihat kejadian seperti itu,  gak sekali dua kali.

Akhirnya saya yang semula duduk dekat pintu bergeser duduk ke belakang supir. Lalu dengan jantung berdebar menegur, “Pak,  maaf nih.  Saya lupa menukar uang tadi di terminal.  Uang saya 50 ribuan. Kalau Bapak gak ada kembaliannya, turunin aja saya deket loper koran ntar,  biar saya tuker di situ.”

“Emangnya mau kemana?” beliau bertanya datar.

“Tadinya mau turun di lampu merah depan itu tapi gapapa,  terus aja dulu sampe ketemu loper koran,” jawab saya agak tenang karena saya lihat wajahnya tidak kesal.

Supir itu diam saja.  Begitu sampai di lampu merah ia berhenti.

“Sudah turun aja,  Mbak,” katanya sambil menoleh sedikit.

Saya masih ragu,  “Ongkosnya,  Pak? “

“Udah,  gak usah bayar,” tegasnya, masih dengan nada dan raut datar.  Tak ada senyum memang.  Namun yang terpenting buat saya tak ada kemarahan di wajahnya. Alhamdulillah.

“Terimakasih ya,  Pak.  Sekali lagi mohon maaf,” kata saya sambil turun.

Pak supir itu,  dengan penumpang yang sepi,  masih mau membiarkan saya turun tanpa membayar.  Tanpa mengomel, juga tanpa bermuka masam. Sekali lagi,  alhamdulillah. Buat saya ini pertolongan yang besar nilainya. Saya seperti melihat para malaikat penolong senantiasa bekerja melalui tangan-tangan manusia yang tulus.

Dari dua kejadian di atas,  apa yang terpikir olehmu?  Apakah seperti komentar di FB saya?  Bahwa semua itu adalah buah dari kebaikan yang saya tanam?

Jujur saja menurut saya bukan.  Itu adalah peristiwa-peristiwa dimana Allah sedang memberi saya sebuah pelajaran bahwa menolong orang tak perlu melihat penampilan, tak perlu menunggu kesiapan,  tak perlu berbagai alasan. Allah ingin saya belajar melakukan hal yang mungkin terlihat kecil di mata saya namun bernilai besar bagi orang lain.  Ini semua mengajarkan saya arti berbagi.

Ya,  bisa dibilang ini adalah pelajaran buat saya untuk melakukan hal yang sama karena mungkin selama ini saya masih kurang peduli. (NSR)

Baca juga: Inspirasi tak bertepi.

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


8 thoughts on “Para Malaikat Penolong

  1. amy

    Alhamdulillah, tapi kadang suka ada yang memanfaatkan sikon ya mba. Pernah saya ketemu ibu-ibu. Awalnya dia nanyain arah jalan raya. Saya kasih tau, terus tiba-tiba bilang abis dari rumah adeknya, tapi ternyata adeknya nggak ada. Dia bilang dia sering kedaerah situ buat ketemu adeknya, biasanya kalau dia ke situ dikasih ongkos sama adeknya. Ujung-ujungnya curhat minta ongkos 🙁

    Lha klo sering kedaerah situ, ngapain nanyain jalan? 🙁

    Reply
  2. Mia

    Inspiratif , makasih sharenya uni 🙂 pernah ngalamin juga he he he, di sekitar kita banyak malaikat penolong yang Allah gerakkan hati mereka penuh ketulusan, sy kudu terus belajar nih:-)makasih yah

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *