Pasanga Ri Kajang

Pasanga Ri Kajang“Ammatoa! Ammatoa!” Sebuah panggilan cukup keras terdengar di luar rumah Ammatoa Romana. Serentak penghuni rumah panggung itu memburu ke pintu. Di bawah tampak Tandoru berdiri dengan wajah tegang. Nafasnya masih tersengal-sengal.

“Ada apa, Tandoru?” tanya Ammatoa heran. Kakinya melangkah menuruni anak tangga.

“Ada orang hanyut di pantai, Ammatoa! Nampaknya dia bukan orang dari daerah sini,” jawab Tandoru sambil menunjuk ke arah pantai.

Kening Ammatoa berkerut, menambah keriput di wajahnya.

“Apakah dia masih hidup?” tanyanya khawatir.

Tandoru mengangguk cepat. “Masih. Tapi kondisinya sangat lemah. Kartiu dan Ridong sedang membawanya kemari,” jelas Tandoru yang langsung disambut anggukan lega Ammatoa.

“Kalau begitu, siapkan tempat peristirahatan yang layak!” perintah Ammatoa sambil memberi isyarat pada istrinya yang masih berdiri di pintu. Wanita gemuk setengah baya itu mengangguk sembari berbalik. Rinanga, anak gadisnya yang sejak tadi mengintip dari jendela juga langsung menarik kepalanya ke dalam.

Tidak berapa lama, muncullah Kartiu dan Ridong tertatih-tatih membopong seorang lelaki muda. Wajahnya nampak sangat pucat dengan mata tertutup rapat. Ammatoa langsung menyuruh mereka membawanya ke atas rumah. Penduduk yang mendengar kejadian itu kini mulai merubung di halaman rumah Ammatoa Romana, kepala suku mereka. Rasa penasaran jelas tersirat di wajah-wajah mereka.

“Sebaiknya kalian pulang saja! Orang itu sudah diselamatkan,” seru Ammatoa dari pintu rumahnya. Dan dengan patuh, para penduduk itupun bubar. Tak seorang pun berani membantah perintah kepala suku yang mereka panggil Ammatoa itu. Ammatoa Romana memang sangat berwibawa, hingga untuk menatap matanya pun kadang terasa sangat segan. Wibawanya melebihi Ammatoa Markun, kepala suku mereka yang telah meninggal.

@@@

“Bagaimana keadaannya?” tanya Ammatoa ketika malam telah menyelimuti perkampungan Tanatoa.

Istrinya tersenyum kecil. “Sepertinya sudah mau sadar,” jawab wanita itu sambil beranjak ke dapur.

Ammatoa mendekati pembaringan lelaki yang kini jadi tamu di rumahnya itu. Istrinya benar. Tubuh pemuda itu nampak mulai bergerak-gerak. Ammatoa duduk di sisinya. Perlahan dirabanya kening lelaki itu dan dengan mata terpejam mulutnya terlihat komat-kamit membaca sesuatu.

Beberapa detik kemudian, lelaki muda itu mulai mengerjapkan matanya. Namun begitu melihat Ammatoa, ia nampak terkejut.

“Tenanglah, anak muda. Kau aman di sini karena kau berada di Tanatoa,” Ammatoa tersenyum ramah, “Kau ditemukan tidak sadar di tepi pantai. Lalu orang-orangku membawamu ke sini. Aku Romana. Penduduk di sini memanggilku Ammatoa Romana.”

Pemuda itu nampak lega. Ia sudah pernah mendengar tentang masyarakat Tanatoa ini, yang sangat teguh memegang adat mereka. Mahmud Sulaiman, sahabatnya dari Makassar sering bercerita padanya perihal penduduk di wilayah ini. Ya, ia yakin kini telah berada di tengah-tengah masyarakat Tanatoa. Bahasa yang dipakai oleh Ammatoa ini adalah bahasa konjo, yang pernah dipelajarinya dari Mahmud. Ah, akhirnya ia bisa juga bertemu dengan Ammatoa yang disegani itu. Walaupun dengan cara yang tak terduga seperti ini.

“Ammatoa..,” bibir pemuda itu bergerak pelan. Ammatoa tersenyum menyahuti.

“Maafkan saya telah merepotkan. Saya sangat berterima kasih atas pertolongan ini dan saya juga sangat senang bisa bertemu dengan seorang pemimpin agung seperti Ammatoa ini,” ucapnya sungguh-sungguh.

Ammatoa menggeleng tanpa melepas senyum di bibirnya. “Jangan menyebut saya setinggi itu, anak muda. Oya, siapa namamu? Dan dari mana kau berasal?” tanyanya. Sejenak pemuda itu terdiam. Matanya seakan menerawang.

“Saya bernama Tunggawijaya. Saya baru saja melarikan diri dari Sriwijaya, karena Kedatuan kami diserang oleh Raja Cola,” jawab pemuda bernama Tunggawijaya itu dengan nada sedih.

Ammatoa mengerutkan kening.

“Sriwijaya? Dimana itu?” tanyanya bingung.

“Letaknya sangat jauh dari sini, Ammatoa. Memerlukan waktu berhari-hari, bahkan kadang berminggu-minggu jika hendak berlayar ke sana. Ia terletak di pulau Sumatera bagian tengah, dengan raja bernama Gramawijaya Tunggawarman. Kami memanggilnya Datu Gramawijaya.”

Ammatoa mengangguk-angguk seperti mengingat sesuatu. “Ya, ya. Saya pernah mendengar nama itu dari orang-orang Makassar. Berarti anak muda ini masih keluarganya?”

Tunggawijaya mengangguk, “Saya adalah salah seorang anggota Kedatuan Sriwijaya yang terletak di Kampar,” jawabnya.

”Saya senang sekali bisa bertemu dengan keluarga Kedatuan Sriwijaya, walaupun saya baru mengenalnya. Lalu.., siapa Raja Cola itu?” tanya Ammatoa lagi.

Tunggawijaya menarik nafas dalam. “Dia adalah raja yang berasal dari India. Beberapa hari yang lalu dia menyerang Kedatuan Sriwijaya, hingga seluruh ahli waris Kedatuan terpaksa melarikan diri. Dan…, Datu Gramawijaya tertangkap. Entah bagaimana nasibnya kini,” Getir suara Tunggawijaya.

Ammatoa ikut merasa prihatin. “Bersabarlah, Tuan Muda,” katanya tulus.

Tunggawijaya tersenyum tipis, “Terima kasih, Ammatoa. Anda baik sekali.”

@@@

Keesokan harinya, seluruh perkampungan Tanatoa sibuk membicarakan tentang pemuda dari Sriwijaya itu. Mereka sangat jarang menerima tamu asing di daerah mereka yang terpencil ini, lalu tiba-tiba saja datang seorang tamu dari negeri yang sangat jauh. Dengan gaya dan penampilannya yang sangat berbeda. Kini Tunggawijaya benar-benar jadi pusat perhatian masyarakat Tanatoa.

“Kalau boleh saya tahu, kemana sebenarnya tujuanmu, Tuan Muda?” tanya Ammatoa ketika mereka sedang menikmati makan pagi.

“Ke tempat sahabat saya, namanya Mahmud Sulaiman. Dia tinggal di Makassar,” jawab Tunggawijaya sambil menyantap aneka makanan di atas kappara yang ada di hadapannya.

“Apakah dia orang Makassar?” tanya Ammatoa.

Tunggawijaya mengangguk. “Dialah yang telah mengajari saya bahasa konjo. Kalau tidak, mungkin kita tidak akan bisa berbicara satu sama lain,” jawab Tunggawijaya sambil tersenyum.

Ammatoa ikut tersenyum. “Ya, berarti dia sangat berjasa pada kita,” kata lelaki tua itu sedikit tergelak.

“Bagaimana Tuan Muda bisa berkenalan dengannya?” tanya Ammatoa lagi.

“Panjang ceritanya, Ammatoa. Mahmud adalah seorang saudagar yang kaya. Dia telah bertahun-tahun berlayar. Dan hampir seluruh pulau di lautan Hindia ini pernah disinggahinya. Tapi yang membuat kami benar-benar dekat adalah keyakinan kami.”

Ammatoa menghentikan suapannya, “Keyakinan apa itu?”

Tunggawijaya tersenyum arif.

“Kami belajar agama pada guru yang sama, yaitu Imam Burhanuddin Nan Sabatang,” jawabnya. Ammatoa makin mengerutkan alisnya, kian tak mengerti.

“Agama? Agama apa yang kalian pelajari? Dan siapa Imam Burhanuddin itu?” tanya Ammatoa dengan nada lugu. Dan ia tidak berusaha menyembunyikan keluguan itu demi rasa penasarannya.

Tunggawijaya jadi menarik napas panjang. “Maafkan saya, Ammatoa. Saya telah membuat Ammatoa bingung. Agama yang kami pelajari itu adalah Islam. Dan Imam Burhanuddin itu adalah seorang ulama besar yang sangat luas pengetahuan agamanya. Beliau berasal dari Sumatera bagian Barat. Kami menyebutnya orang Minang. Beliau sendiri belajar agama dari seorang ulama di Samudera Pasai, namanya Syaikh Teuku Abdullah, yang berasal dari Gujarat,” jelas Tunggawijaya panjang lebar.

Ammatoa mengangguk-angguk, mulai memahami maksud pembicaraan tamunya itu. Namun ia tidak mau bertanya lagi, khawatir akan mengganggu kenyamanan Tunggawijaya. Baginya menghormati tamu adalah sesuatu yang sangat ia utamakan. Sementara Tunggawijaya telah menangkap sesuatu di mata kepala suku tersebut. Sesuatu yang membuatnya ingin bertahan lebih lama di Tanatoa ini.

@@@

Hari itu Ammatoa mengumpulkan semua pemangku adat di Tanatoa. Ia ingin memperkenalkan Tunggawijaya secara resmi pada rakyatnya sebagai tamu kehormatan di Tanatoa. Tepat ketika matahari berada di ubun-ubun, seluruh rakyat Tanatoa sudah tumpah ke halaman baruga yang luas. Mereka membawa segunung rasa ingin tahu yang telah terpendam selama beberapa hari ini.

Ammatoa maju ke tengah lapangan. Di sampingnya ikut serta Tunggawijaya yang nampak tersenyum ramah menyapa wajah-wajah penduduk. Dan hampir seluruh yang hadir mengakui bahwa tamu Ammatoa itu sangat tampan. Mereka menatapnya takjub. Kecuali pemilik sepasang mata tajam di barisan depan, jelas ia terlihat sinis.

“Rakyatku sekalian,” Ammatoa membuka pertemuan itu. “Saya ingin memperkenalkan tamu kita ini pada kalian semua. Namanya adalah Tunggawijaya, dan dia berasal dari Kedatuan Sriwijaya, yang letaknya sangat jauh dari sini. Beliau sebenarnya hendak menuju Makassar, tapi kapal yang ditumpanginya mengalami musibah hingga tenggelam beberapa kilo meter dari pantai. Untunglah beliau selamat. Jadi tamu kita ini adalah salah seorang anggota keluarga kerajaan. Karena itulah, kita harus menghormatinya,” kata Ammatoa penuh wibawa.

Tunggawijaya membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat. Seluruh yang hadir hanya terdiam, menatapnya tak berkedip.

“Baiklah. Tuan Muda Tunggawijaya, sekarang saya akan memperkenalkan para pemangku adat di sini pada Tuan Muda,” Ammatoa menepuk pundak Tunggawijaya lembut.

“Barisan paling depan itu adalah para Galla yang membantu saya menjalankan pemerintahan di Tanatoa ini,” ujar Ammatoa. Semua yang berdiri di barisan paling depan tersenyum padanya, kecuali satu orang.

“Yang paling kiri adalah Galla Puto, tugasnya di sini sebagai wakil saya. Kemudian di sampingnya, Galla Lombo, yang bertugas mengatur segala urusan di dalam dan di luar kawasan ini. Lalu selanjutnya Galla Pantana, yang bertugas mengurus pertanian di Tanatoa. Terakhir adalah Galla Meleleng yang mengatur urusan perikanan,” jelas Ammatoa yang dianggukkan oleh Tunggawijaya.

Namun ada suatu perasaan tidak enak menyusupi hatinya, ketika matanya bertatapan dengan Galla Lombo tadi. Mata itu seperti menatapnya penuh kebencian. Dan Tunggawijaya berusaha menepis perasaan gelisah yang tiba-tiba menyelinapi hatinya.

“Disamping itu masih ada 26 orang pemangku adat yang lain. Dan yang tidak kalah penting, pemerintahan di Tanatoa ini juga didampingi oleh dua orang Anronta yang dijabat oleh wanita. Yaitu Anronta Ribungkina dan Anronta Ripangi. Itu mereka!” Ammatoa menunjuk dua orang wanita yang berdiri di pojok halaman. Kedua wanita itu mengangguk sambil tersenyum pada Tunggawijaya.

Setelah acara perkenalan itu selesai, akhirnya Ammatoa membubarkan pertemuan tersebut dengan wajah gembira. Semua yang hadir pun puas, karena rasa ingin tahu mereka selama ini sudah terjawab. Satu-satunya yang nampak tidak puas adalah Galla Lombo. Ia masih menunjukkan wajah tidak sukanya dan itu bisa dirasakan oleh Tunggawijaya saat berlalu dari halaman baruga.

@@@

“Ada apa Ammatoa memanggil saya?” tanya Galla Lombo saat ia tiba di halaman rumah Ammatoa.

“Sebagai Galla Lombo, maka kamulah yang paling tepat mendampingi tamu kita, Tunggawijaya. Untuk berkeliling, melihat-lihat keadaan di Tanatoa. Dia ingin mengenal negeri ini lebih dekat lagi,” kata Ammatoa yang langsung disambut raut kecut Galla Lombo.

“Saya?” Pemuda itu bertanya tak percaya.
“Iya, kamu! Kenapa? Bukankah itu memang tugasmu, Galla Lombo?” kata Ammatoa dengan nada agak tinggi.

“Maaf, Ammatoa. Saya tidak bisa. Saya harus ke Bulukumba sekarang juga. Ada pekerjaan penting yang harus saya kerjakan,” jawab Galla Lombo mengelak.

Ammatoa menatapnya tajam. “Bondang! Apakah ada yang lebih penting dari perintah Ammatoa?!” bentaknya murka. Galla Lombo yang bernama Bondang itu menunduk dalam.

“Sekarang lakukan apa yang kuperintahkan!” Ammatoa mengakhiri kalimatnya dengan hentakan kaki yang membuat Bondang tak berani membantah lagi. Ia hanya menatap punggung Ammatoa yang melangkah cepat ke atas rumahnya. Untunglah saat itu hanya mereka berdua saja yang ada di halaman, hingga ia tak perlu merasa dipermalukan atas kejadian ini.

Akhirnya berangkatlah Tunggawijaya bersama Bondang, sebagai Galla Lombo. Selama dalam perjalanan itu Tunggawijaya bisa merasakan betapa sikap Bondang sangat sinis padanya.

“Bondang, apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak menyukaiku?” tanya Tunggawijaya hati-hati. “Kalau ada sesuatu yang tidak kau sukai, katakanlah,” lanjutnya.

Bondang menghentikan langkahnya. Dengan tajam ditatapnya Tunggawijaya. “Kalau kau ingin tahu, dengarkan aku baik-baik! Aku tidak suka ada seorang tamu yang dihormati secara berlebihan di Tanatoa ini. Apalagi kalau tamu itu adalah orang yang tidak jelas asal-usulnya seperti dirimu! Dan aku juga tidak suka melihat seorang tamu berlagak hebat di depanku!”

Setelah mengucapkan kalimat padas itu, Bondang langsung membalik dan dengan langkah lebar-lebar ditinggalkannya Tunggawijaya yang sama sekali tidak berusaha mencegahnya. Keturunan Kedatuan Sriwijaya itu sadar, Galla Lombo sedang emosi.

@@@

“Tuan Muda..,” Ammatoa mendekati Tunggawijaya yang sedang melipat selembar kain, yang selalu dijadikannya sebagai alas beribadah. Ia baru saja menyelesaikan sembahyang Isya.

“Ada apa, Ammatoa?” Tunggawijaya menoleh sambil tersenyum. Untuk beberapa saat nampak keraguan di bola mata Ammatoa yang mulai menapak usia senja itu. Perlahan Tunggawijaya duduk di hadapannya.

“Saya ingin meminta Tuan melakukan sesuatu,” kata Ammatoa akhirnya.

“Katakan saja, Ammatoa. Apa yang bisa saya lakukan? Setidaknya mungkin itu bisa sedikit membayar hutang jasa saya terhadap Ammatoa,” jawab Tunggawijaya bersemangat.

“Tolong, jangan anggap ini sebagai balas jasa. Saya tidak ingin Tuan Muda merasa berhutang apapun pada saya,” sergah Ammatoa cepat.
Tunggawijaya tersenyum. “Baiklah, sekarang katakanlah apa yang bisa saya lakukan.”

Ammatoa menatapnya lurus-lurus. “Ceritakanlah tentang agama yang Tuan pelajari pada Imam Burhanuddin itu,” ujarnya pelan.

Tunggawijaya terpana mendengar permintaan Ammatoa itu.

“Apakah Tuan Muda keberatan?” tanya Ammatoa bimbang.

Tunggawijaya tersadar dari keterpanaannya. Dengan cepat ia menggeleng. “Tidak. Saya hanya tidak menyangka Ammatoa ingin mengenal agama saya. Dan saya tentu akan menceritakannya dengan senang hati,” jawabnya dengan raut sumringah.

Tentu saja. Bagi Tunggawijaya ini adalah permintaan yang sangat menyenangkan. Seketika terbayang di matanya wajah teduh Imam Burhanuddin yang selalu berpesan pada setiap muridnya agar menyampaikan kebenaran Islam pada siapapun yang mereka jumpai. Diminta ataupun tidak. Nah, sekarang apa lagi yang ia tunggu? Pintu telah dibukakan sendiri oleh Ammatoa, kepala suku di Tanatoa ini.

“Kalau begitu ceritakanlah, dari mana asal agama tersebut? Dan siapa yang membawanya ke dunia ini? Lalu siapa nama dewa yang kalian sembah?” Pertanyaan beruntun itu diucapkan Ammatoa dengan tidak sabar. Tunggawijaya berusaha menahan senyumnya melihat kepolosan lelaki yang sangat disegani itu.

“Islam adalah agama yang diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan sekalian alam ini. Orang yang dipilih sebagai penerima ajaran ini adalah seorang Nabi bernama Muhammad. Kami menyebutnya Rasulullah, yang berarti utusan Allah. Jadi Tuhan kami adalah Allah, bukan dewa,” Tunggawijaya memulai penjelasannya. Ia terus bercerita seiring beranjaknya malam ke titik nadir.

Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin bagi kaum Muslimin. Pemimpin dalam segala segi kehidupan. Beliau hidup dalam kesederhanaan, lebih sederhana dari rakyatnya sendiri. Beliau pernah berkata, jika ada yang miskin, maka beliaulah orang pertama yang harus mengalaminya. Dan jika ada yang kaya, maka beliaulah orang terakhir yang akan menikmatinya,” kalimat Tunggawijaya itu seperti menusuk dalam ke jantung Ammatoa. Membuatnya tak mampu bergeming di tempat duduknya. Sosok bernama Muhammad itu seakan hadir di hadapannya.

“Ammatoa..?” panggil Tunggawijaya pelan.

Ammatoa tersentak dari kebisuannya. “Oh, Tuan Muda. Maaf, saya jadi terhanyut oleh cerita Tuan. Ayo, ceritakan lagi, apa yang beliau ajarkan pada ummatnya?” kata Ammatoa dengan wajah penasaran.

Tunggawijaya tersenyum kecil dan melanjutkan ceritanya. Tiap kali Tunggawijaya berhenti bercerita ia pun menyahuti, “Lanjutkan Tuan Muda!”

Malam kian larut menyelimuti perkampungan Tanatoa. Suara binatang malam sangat terasa mewarnai kegelapan alam, seperti sebuah senandung pengantar tidur. Udara yang kian dingin membuat siapa saja merasa enggan untuk keluar dari selimutnya. Sementara di sebuah rumah panggung yang terletak paling Utara, tengah berkumpul tiga orang lelaki dengan wajah tegang. Satu di antaranya adalah Bondang, Gallo Lombo yang sedang dibakar api kemarahan. Lampu minyak yang mengepulkan asap hitam cukup menerangi wajahnya yang merah padam.

“Pokoknya aku tidak mau melihat dia lebih lama lagi di kampung ini!” ujarnya sengit. Cerutu yang terselip di bibirnya mengepulkan asap dengan kasar, menyiratkan perasaan Bondang yang sedang geram.

“Tapi bagaimana caranya? Dia telah menjadi tamu agung bagi Ammatoa,” sela Ridong, salah satu lelaki yang ikut membopong tubuh Tunggawijaya waktu itu.

“Itulah kebodohanmu! Kenapa tidak kau buang saja dia kembali ke laut. Berlagak jadi orang baik!” sembur Bondang kesal. Ridong terdiam.

“Tapi saya rasa dia tidak akan lama tinggal di sini. Paling sebentar lagi juga pergi,” kali ini Torka yang menyahut.

Bondang langsung menatapnya tajam. “Heh, apa aku harus menunggu sampai dia berhasil menarik hati Rinanga? Sementara aku sudah begitu lama mengidamkan gadis itu!” kata Bondang penuh nada cemburu.

Torka tersenyum kecil. “Tenang, kawan. Kalau soal cemburu, kurasa pasti ada jalan keluarnya.”

Lalu ia meminta Bondang dan Ridong mendekat. Untuk beberapa puluh detik Bondang dan Ridong nampak begitu serius mendengar bisikan Torka, yang memang terkenal kaya siasat.

@@@

“Ammatoa, saya rasa sudah saatnya saya berangkat ke Makassar,” kata Tunggawijaya sambil mendekati Ammatoa yang sedang mengikatkan kain di kepalanya. Kepala suku itu menoleh cepat.

“Kenapa, Tuan Muda? Tuan tidak betah di sini?” ia bertanya kaget. Tapi sejurus kemudian wajahnya nampak menekur. “Ya, saya mengerti. Tempat ini pasti sangat tidak cocok untuk orang seperti Tuan.”

Tunggawijaya tersenyum sambil menggeleng.

“Tidak demikian, Ammatoa. Saya senang di sini. Tapi saya juga harus mengingat tujuan saya semula, yaitu menemui sahabat saya Mahmud di Makassar. Beliau pasti sudah gelisah menunggu saya,” jawab Tunggawijaya menjelaskan.

Ammatoa menatapnya agak lama, “Tuan Muda…”

Ada gurat keraguan di wajah tuanya. “Saya.., saya tidak akan mencegah Tuan. Tapi bagaimana dengan saya? Saya… ingin menjadi pengikut agama Tuan.”

Tunggawijaya tersentak tak percaya. “Ammatoa? Ammatoa sungguh-sungguh?”

Kepala suku itu mengangguk pelan, “Setelah mendengar cerita Tuan Muda selama beberapa malam ini, hati saya tidak bisa berdusta lagi.”

Mata Ammatoa menerawang menembus jendela.

“Muhammmad…! Setiap kali mendengar namanya, hati saya seperti diliputi oleh kedamaian. Dan mata saya seakan diterangi oleh sinar yang terpancar dari wajah teduhnya. Sungguh, Tuan, saya selalu ingin menangis memikirkannya,” kata Ammatoa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tunggawijaya berdiri penuh rasa takjub. Dan untuk beberapa saat ia hanya bisa terpaku memandang Ammatoa.

“Tuan Muda, kenapa Tuan memandang saya seperti itu? Apakah saya tidak layak menjadi penganut agama Tuan?” Pertanyaan itu menyentakkan keterpanaan Tunggawijaya.

“Ammatoa, saya merasa sangat terkejut. Ini luar biasa! Saya bahagia sekali mendengarnya. Ketahuilah, Ammatoa, Islam adalah agama bagi seluruh ummat manusia. Siapa pun berhak mengikuti jalan lurus ini, termasuk Ammatoa,” Suara Tunggawijaya bergetar penuh haru.

@@@

Hari ini barulah Tunggawijaya benar-benar bisa berangkat, setelah mengislamkan Ammatoa tadi malam dengan disaksikan anak serta istrinya. Dan kepergian Tunggawijaya membuat keluarga Ammatoa merasa kehilangan. Mata Rinanga nampak berlinang sedih, saat melihat Tunggawijaya menuruni anak tangga. Hatinya telah merasa dekat dengan pemuda dari pulau Sumatera itu. Tapi ia juga sadar, sangat tidak pantas baginya untuk berharap.

Setelah kepergian Tunggawijaya, Ammatoa merasa agak sedih. Ia merasa kehilangan. Dan untuk menghibur hatinya, ia berjalan-jalan menelusuri hutan pusaka, tidak jauh dari pemukiman penduduk. Hutan yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Bahkan meludah di sekitar tempat itupun dilarang. Hutan yang jadi kebanggaan di Tanatoa, karena itu adalah lambang penghormatan rakyat di sana terhadap alam yang telah menghidupi mereka selama ini.

Disanalah Ammatoa bertemu dengan Galla Puto, yang memang  ditugaskan untuk menjaga hutan tersebut. Galla Puto menyambutnya dengan hormat. “Ada hal apa Ammatoa ke sini?” sapanya ramah.

Ammatoa hanya tersenyum. Ditatapnya kerimbunan hutan itu dengan mata berbinar. “Galla Puto, kau adalah orang yang paling dekat denganku. Maukah kau mendengar sesuatu dariku?” tanya Ammatoa beberapa saat kemudian.

“Tentu, Ammatoa. Saya akan mendengarkan dengan senang hati, “ jawab Galla Puto bersemangat. Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam sambil terus menyusuri tepian hutan pusaka itu.

“Galla Puto, ada lima hal yang ingin kusampaikan padamu, dan aku ingin kau mengingatnya selalu,” Ammatoa diam lagi. Sementara Galla Puto menunggu dengan hati berdebar.

“Yang pertama. Ta’ngu’rangi mange ri turiea a’ra’na. Senantiasa ingat pada Tuhan yang Maha Berkehendak, agar kita tidak melanggar aturan-Nya,” suara Ammatoa terdengar dalam.

“Yang kedua. A’lemo sibatang, a’bulo sipappa, tallang sipolua, manyu siparampe, sipakatau tang sipakasiri. Memupuk perasatuan dan kesatuan di antara kita dengan penuh kekeluargaan dan saling memuliakan. Lalu yang ketiga. Lambuau kigattang sa’bara ki peso’na. Bertindaklah tegas tapi juga sabar dan tawakkal.”

Galla Puto terus menyimak dan berusaha mengingat kata-kata itu di kepalanya.

“Kemudian yang keempat. Sallu riajuka, ammulu riaddakang ammaca’ere anreppe’batu, alla’buirurung, alla’batu cideng. Maksudnya, kita harus taat pada peraturan yang telah dibuat bersama meski harus menahan gelombang dan memecahkan batu gunung,” kalimat itu agak ditekankan oleh Ammatoa. Galla Puto mengangguk mengerti.

“Dan yang terakhir. Nan digaukung sikontu passuroang to ma’buttayya. Melaksanakan segala aturan secara murni dan penuh tanggung jawab,” Ammatoa menutup kalimatnya dengan menarik nafas panjang.

“Maaf, Ammatoa. Kenapa Ammatoa mengungkapkan semua ini?” tanya Galla Puto hati-hati.

Ammatoa tersenyum sambil menebar pandangan ke arah hutan pusaka, “Karena mulai saat ini, kelima pesan itu akan menjadi pegangan bagi rakyat Tanatoa ini. Bahkan kalau bisa, untuk seluruh wilayah Kajang. Sebagai pemimpin, aku wajib menyampaikannya.”

Galla Puto melihat riak kecil berpendar di mata Ammatoa. Sepertinya kepala suku itu sedang terhanyut oleh perasaannya sendiri.

“Tahukah kau Galla Puto, jika Tanatoa ditakdirkan menjadi daerah kaya, maka yang harus kaya terlebih dahulu adalah rakyatnya. Kalaupun pemimpinnya juga ditakdirkan kaya, maka dia adalah orang terakhir yang akan menikmatinya. Dan jika Tanatoa ditakdirkan miskin, maka yang pertama kali harus miskin adalah pemimpinnya. Kalau rakyat juga ditakdirkan miskin, maka mereka adalah yang terakhir merasakan kemiskinan itu,” kata Ammatoa penuh perasaan.

“Kalimat Ammatoa itu sangat bijak dan mendalam. Saya terharu mendengarnya,” kata Galla Puto sungguh-sungguh.

“Itu adalah pesan dari seorang manusia yang sangat mulia, Galla Puto. Suatu saat kau akan mengenalnya. Dia adalah kekasih Tuhan yang sangat dimuliakan. Orang yang menyuruh kita untuk selalu kamase-mase, agar tidak saling membenci dan tidak saling memusuhi satu sama lain.”

Galla Puto hanya diam mendengar penjelasan Ammatoa. Dia sangat tahu, bahwa Ammatoa bukanlah orang sembarangan. Dia adalah manusia terpilih yang telah ditakdirkan untuk jadi pemimpin mereka, begitu menurut keyakinan masyarakat Tanatoa selama ini. Sebab pemilihan seorang Ammatoa tidaklah mudah. Dan tidak pernah pula seseorang mengangkat dirinya jadi Ammatoa. Itu sangat tabu di Tanatoa.

“Ammatoa! Ammatoa!” Sebuah teriakan mengejutkan Ammatoa dan Galla Puto.
“Ada apa, Galla Pantana?” tanya Ammatoa saat Galla Pantana sudah berhenti tepat di depannya.

“Ammatoa! Tuan Muda Tunggawijaya ditemukan tewas dibunuh! Tidak jauh dari perbatasan hutan rakyat,” lapor Galla Pantana terengah-engah. Seketika wajah Ammatoa tersentak pucat. Namun sesaat kemudian wajah berwibawa itu berubah menjadi merah padam. Gerahamnya beradu dengan suara gemeretuk. Galla Pantana sampai tak berani menatap matanya yang penuh kilatan api itu. Tak sepatah kata pun diucapkan Ammatoa, saat melangkah cepat meninggalkan pinggiran hutan pusaka itu. Di belakangnya mengikuti Galla Puto dan Galla Pantana yang sesekali saling berpandangan, cemas.

Sesampainya di perbatasan hutan rakyat, Ammatoa melihat sudah banyak orang berdatangan. Mereka mengelilingi sesosok mayat yang berlumuran darah. Mayat Tunggawijaya, yang baru saja pamit padanya untuk melanjutkan perjalanannya. Ammatoa tegak mematung di sisi mayat Tunggawijaya. Wajahnya nampak beku, membuat orang-orang jadi takut untuk mengeluarkan suara, meskipun hanya sekedar helaan napas.

“Dengar! Hari ini tidak seorang pun boleh keluar dari wilayah Tanatoa! Kecuali orang-orang yang aku pilih untuk membawa jenazah Tunggawijaya ke Makassar!” Lalu dengan isyarat tangan Ammatoa menunjuk empat orang yang hadir di sana untuk mengusung jenazah tersebut.

“Ambil keranda terbaik, dan bawalah jenazah ini dengan hati-hati. Karena ini adalah jenazah yang sangat aku hormati!” Ammatoa menunduk dalam untuk beberapa detik, sebelum kemudian mengangkat kepalanya kembali.

“Carilah seorang saudagar kaya bernama Mahmud Sulaiman di daerah Makassar bagian Timur. Lalu serahkan jenazah ini padanya. Dan sampaikan padanya rasa duka yang teramat dalam dari Ammatoa dan rakyat Tanatoa,” kalimat itu diakhiri Ammatoa dengan suara bergetar. Lalu ia merunduk, bersimpuh di sisi jenazah Tunggawijaya. Ditatapnya wajah yang nampak tenang itu dengan perasaan tersayat.
Segunung rasa bersalah menyesak di dadanya karena merasa tidak mampu melindungi pemuda itu dalam wilayah kekuasaannya. Perlahan Ammatoa meraih tangan Tunggawijaya yang telah berubah dingin, lalu penuh takzim ia menciumnya. Setelah itu dengan perlahan ia bangkit kembali dan berbalik. Meninggalkan kerumunan rakyatnya yang terpaku melihat sikap pemimpin mereka itu.

Siang harinya, saat matahari berada tepat di ubun-ubun, rakyat Tanatoa kembali berkumpul menyesakkan halaman baruga. Ammatoa Romana, pemimpin yang disegani itu kini berdiri tegap di kaki tangga Baruga. Wajahnya mendung.

“Dengar baik-baik!” Ammatoa membuka kalimatnya dengan suara lantang, “Hari ini aku akan melaksanakan Tunu Passau! Untuk membalas kematian Tunggawijaya!” Seluruh yang hadir nampak terkejut. Tunu Passau! Itu adalah hukum tertinggi di Tanatoa, yang dijalankan langsung oleh Ammatoa. Hukum yang tidak ada tawar menawar lagi. Dan tak seorang pun mampu mengelak darinya.
@@@
Ammatoa berdiri mematung di depan jendela rumahnya yang sangat sederhana. Matanya kini sudah tak mampu lagi membendung butiran-butiran bening yang kemudian mengalir membasahi pipi keriputnya. Baru saja ia mendengar kabar dari Galla Puto bahwa Bondang yang menjabat sebagai Galla Lombo telah ditemukan mati di samping rumahnya, dengan tubuh membiru dan mulut penuh busa.
Ya, Tunu Passau telah mengakhiri riwayat lelaki culas itu. Dan dahsyatnya lagi, Ridong dan Torka juga telah ditemukan menjadi mayat dengan kondisi yang sama. Tanatoa benar-benar dibuat gempar. Namun mereka semua tahu bahwa ketiga lelaki itu memang merupakan teman sekongkol dalam segala hal. Setidaknya, disamping ada yang sedih, ada juga yang merasa lega atas kematian mereka.

Ammatoa menarik napas dalam. Ia bukanlah orang bodoh yang tidak bisa melihat kebencian di mata Bondang terhadap tamunya, Tunggawijaya. Dan apa yang menimpa Tunggawijaya tidak boleh terjadi lagi pada Mahmud, tamu dari Makassar yang akan datang besok pagi. Ammatoa menyapu air mata yang terasa kian mengaburkan pandangannya.

“Selamat jalan, Tuan Muda. Berbahagialah, karena Tuan akan segera bertemu dengan-Nya. Juga dengan lelaki mulia itu.., Muhammad! Lelaki yang akan selalu jadi panutan bagi saya, dan bagi seluruh pemimpin di dunia ini. Tahukah Tuan, bahwa jasa Tuan tidak akan saya lupakan selamanya. Saya akan mengangkat seorang Galla lagi untuk mengenang Tuan. Galla Kajang! Dan sahabat Tuan, Mahmud Sulaiman, akan jadi Galla Kajang pertama di Tanatoa ini,” bisik Ammatoa sambil beranjak dari jendela.

(Selesai)

Baca juga cerpen lainnya: Jimat Pemikat

Kosa Kata:

Tanatoa = Sebuah kampung terpencil di kecamatan Kajang, kabupaten Bulukumba.
Pasanga Ri Kajang = Pesan Di Kajang, yang sampai saat ini masih jadi pegangan rakyat
Tanatoa.
Galla Kajang = Pembantu Ammatoa yang bertugas mengurusi persoalan agama.
Kappara = Baki besar berisi beberapa buah piring batok kelapa.
Kamase-mase = Saling sayang menyayangi.
Tunu Passau = Upacara untuk menghukum seseorang dengan membakar kemenyan
sambil membacakan mantra-mantra.
Baruga = Balai adat.
Kedatuan = Berasal dari kata ke-Datu-an dan biasa dilafazkan dengan Kedaton.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


10 thoughts on “Pasanga Ri Kajang

  1. Mugniar

    Terima kasih Mbak Via …. saya sangat mengapresiasi. Selalu saja saya senang ketika tahu ada yang bisa menulis dengan memakai latar belakang daerah Sulawesi Selatan padahal dia bukan orang sini. Pasti tidak mudah. SUmbang saran …. hm … sepertinya tidak ada, Mbak 🙂

    Reply
  2. ruli retno

    Cerita ini nampak nyata.. meski seperti cerita sejarah tp byk terjadi saat ini. Sulit menerima org baru, sulit menerima org lain lbh baik, cinta yg licik dan perjuangan para mujahid.. terimakasih ceritanya uni

    Reply
  3. Sitti Rabiah

    Cerita Budaya yang sangat inspiratif,saya sangat salut dan bangga ama Bunda Novia bisa menulis dengan baik cerita budaya ini. Saya sendiri orang asli Bugis Makssar belum pernah menulis cerita budaya saya sendiri. Hanya saja dalam cerita ini kok Ammatoa dengan sangat mudah menerima orang asing, pada hal setahu saya orang Kajang itu sangat kuat adat istiadatnya, bahkan terkadang tidak mau menyentuh orang yang belum dikenal. Begitupun dengan baju yang dipakai, kalau bukan warna hitam tidak boleh masuk ke perkampungan Ammatoa.Hanya itu saja Bunda, sukses buat bunda Novia.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *